
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 260...
Tak butuh waktu yang lama bagi para demit mayat hidup untuk menghabisi manusia racun kelabang. Hanya sekitar sepeminuman teh kesepuluh prajurit kelabang hitam milik kerajaan barat itupun tewas seketika. Manusia iblis mayat hidup terlalu tangguh untuk menjadi lawan pasukan kelabang Hitam.
“Mereka sama sekali tidak muncul kembali. Sudah lebih sepeminuman teh kita menunggu tidak ada pertanda dari mereka bahwa benteng sudah dikuasai,” ucap Panglima Maludra mulai khawatir.
“Benar sekali panglima saya rasanya ini sudah diluar batas kewajaran,” jawab Karjo.
“Apa mungkin pasukan kita kalah?” tanya Panglima Maludra.
“Maafkan saya tuan, saya tidak berani berkesimpulan apa-apa. Sebaiknya kita kirim kembali lima orang kesana, sesampainya di sana apabila menemukan sesuatu yang tidak beres suruh mereka untuk kembali memberi kabar kepada kita. Kalau memang dalam keadaan terdesak luncurkan saja pertanda kembang api udara ke atas langit,” usul Karjo kepada panglima Maludra.
Usulan anak buahnya itu disetujui oleh panglima Maludra. Panglima itupun menunjuk lima orang pasukan kelabang hitam untuk menyerang. Setelah lima orang terpilih untuk kembali menyerang sambil menyelidiki keadaan, panglima Maludra menyuruh mereka bersiap-siap. Dengan di bekali beberapa senjata rahasia dan juga kembang api udara pertanda apabila mereka tidak memungkinkan untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah mendapatkan arahan dan bekal dari Panglima Maludra, kelima orang pasukan kelabang Hitam itupun langsung melesat menuju benteng kota Sedaha. Setelah sampai, ke limanya langsung menaiki benteng seperti yang dilakukan kawan-kawan mereka sebelumnya. Seperti juga sepuluh orang teman mereka sebelumnya, ke lima orang itu langsung disambut oleh sepuluh orang dedemit mayat hidup.
Ke lima pasukan kerajaan barat itu langsung terlibat pertarungan dengan sepuluh orang dedemit mayat hidup. Setelah beberapa jurus berlalu nampak para pasukan kelabang hitam mengalami mulai terdesak. Dua orang diantaranya sudah tewas terkena kuku-kuku tajam dedemit mayat hidup. Ke tiga orang sisanya mencoba untuk lari dari tempat itu namun selalu dihalangi oleh dedemit mayat hidup.
__ADS_1
Sadar bahwa keadaan memang tidak menguntungkan dan sulit untuk mereka kabur dari tempat itu salah satu dari tiga orang tersisa melepaskan kembang api udara tanda bahaya. Benar saja tak lama setelah mereka melepaskan tanda bahaya itu, ketiga nya tewas terkena serangan mayat hidup. Ke lima orang pasukan kelabang itu tewas dengan kondisi yang sama, dada berlubang, jantung diambil dan di oleh para demit itu.
“Hmmmm.. sepertinya benar dugaan kita, ada kekuatan tersembunyi di balik benteng itu. Entah apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana menurutmu Karjo, apa kita lanjutkan penyerangan atau hentikan dulu untuk sementara waktu,” tanya Panglima Maludra meminta pendapat anak buahnya.
“Tidak mungkin untuk menunda penyerangan tuan. Apabila itu kita lakukan apa yang tuan khawatirkan tadi akan terjadi. Kepemimpinan tuan dalam pasukan perang akan di ambil alih Braja Pasupata,” jawab Karjo.
“Kau benar sekali Karjo. Kalau begitu baik, kita akan melakukan serangan besar-besaran dengan pasukan panah, pedang, dan juga pasukan kelabang. Gempur mereka habis-habisan. Menang, atau gugur di medan perang. Aku tak sudi kalau kalah nantinya harus menjadi pembantu Pasupata itu.”
Panglima Maludra pun sudah memantapkan hatinya untuk melakukan penyerangan besar-besaran. Ia mengumpulkan pasukan menjadi Tiga bagian. Masing-masing dipimpin oleh seorang perwira. Panglima Maludra sendiri memimpin bagian tengah.
Di dalam benteng kota sedaha, panglima prajurit perang yang berjaga disana melihat persiapan musuh untuk menyerang benteng secara besar-besaran. Mereka tidak ingin tinggal diam, para pemimpin yang ada disana pun berkumpul untuk melakukan siasat. Dalam waktu singkat mereka sudah menyepakati apa rencana yang akan dilakukan untuk menghadapi lawan.
“Baik tuan!” sahut salah seorang perwira yang kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.
Kemudian panglima itu menyusun strategi bersama perwira yang lain dalam waktu singkat. Setelah itu semuanya berpencar menuju tempat tugasnya masing-masing. Sementara sepuluh orang demit mayat hidup masih berada di tempat utama benteng penjaga kota Sedaha.
“Serangg!” pekik Panglima Maludra.
Seluruh pasukan yang disiapkan oleh panglima Maludra menuju benteng kota sedaha. Di belakang hanya tersisa seratus orang pemanah yang langsung melepaskan anak panah apinya mengiringi serangan hebat yang dilakukan oleh panglima Maludra. Serangan tiga arah pun dilancarkan untuk menghancurkan pertahanan kota sedaha.
__ADS_1
Seperti penyerangan sebelumnya saat Panglima Maludra melakukan serangan menggunakan pasukan biasa waktu itu, kini dari dalam tanah muncul pasukan-pasukan dari kota sedaha yang langsung menyerang. Sementara dari atas juga bermunculan pasukan-pasukan pemanah beracun. Pertempuran sengit pun tak dapat di elakkan.
Pasukan kelabang hitam mulai melompat menaiki benteng. Sesampainya di atas, mereka langsung di sambut oleh para dedemit mayat hidup. Pertarungan pun terjadi, namun tentu saja yang memenangkan pertandingan itu adalah pasukan para dedemit. Walaupun beberapa kali terkena serangan beracun, semua itu tidak berguna bagi mereka. Berbeda dengan mereka para pasukan kelabang yang sejatinya hanyalah manusia biasa, hanya dengan sekali cengkraman di dada langsung tewas seketika.
Panah-panah yang dilepaskan oleh pasukan pemanah kerajaan barat yang dipimpin panglima maludra tidak banyak memberikan arti. Hanya dalam waktu singkat api-api yang membakar dapat dipadamkan. Sementara pasukan pasukan pemanah yang berada di benteng kota Sedaha berhasil melukai beberapa orang anak buah panglima Maludra.
Sementara itu di luar benteng pun pertempuran semakin sengit. Pasukan-pasukan bawah tanah bermunculan mencegat serbuan pasukan yang dipimpin panglima Maludra. Kini pasukan penghadang itu bertambah dengan munculnya dua puluh orang pasukan demit mayat hidup yang berasal dari rumah pemimpin kota. Mereka muncul dari bawah tanah melalui terowongan rahasia yang di buat. Lima orang diantaranya bergerak menyerang pasukan pemanah milik panglima Maludra yang berada di belakang.
Kedatangan para demit mati hidup ke tempat pasukan pemanah Panglima Maludra membuat mereka menjadi kacau balau. Dicegah dengan ratusan anak panah agar mereka tidak sampai ke tempat, tetap saja hal itu sia-sia. Selain dengan mudah mereka bisa menghindari serangan anak panah itu, walau mereka terkena pun tidak memiliki efek sama sekali. Anak panah itu hanya menembus badan mereka namun tidak bisa membunuh para dedemit itu.
Hanya dalam waktu singkat sekitar seratus orang pasukan anak panah tewas. Sementara pasukan dedemit hanya satu orang yang tidak bisa lagi bangkit setelah kepala dan tubuh mereka terpisah oleh serangan membabi buta dari pasukan anak panah yang membela diri. Empat orang sisa dari dedemit itupun kembali ke belakang membantu mengatasi para penyerang.
Keadaan pasukan Pangeran Maludra sudah sangat payah. Sudah tiga perempat dari jumlah seluruh pasukan yang tewas di depan benteng. Walaupun dari pihak kota Sedaha juga terdapat korban tewas, namun jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah yang tewas dari pihak panglima Maludra.
Saat keadaan sangat genting bagi panglima Maludra, ketika dua orang dedemit akan menghampirinya, tiba-tiba saja melesat sebuah bayangan berwarna keemasan. Bayangan itu langsung menyerang dua orang dedemit yang akan menyerang panglima Maludra dengan pukulan jarak jauh hingga terjadi ledakan dahsyat. Seketika demit itu hancur berantakan. Orang itu mampu melayang di udara, sehingga terlihat bagaikan terbang. Ia tidak lain adalah Braja Pasupata atau Raja Iblis Kelelawar.
**Bersambung..
ditunggu like dan komentar nya**.
__ADS_1