
Masing-masing perwakilan sudah berhadap-hadapan di arena pertarungan. Dewi Selendang Ungu berhadapan dengan Gurunya sendiri, Dewi Pedang Khayangan. Arya Sona Berhadapan dengan Pendekar Tongkat Emas, sedangkan Rupaksa Berhadapan dengan Datuk Sesat Seribu Wisa.
"Sudah siap?" Tanya Setan hitam kepada kedua belah pihak.
"Sebentar!" sela Cempaka. "Izinkan sebentar aku menyampaikan sesuatu pada guruku." tambahnya lagi.
"Guru, selayaknya murid aku harus berbakti padamu. Mendengarkan segala perintah dan berdiri membela kehormatanmu," ucap Cempaka pada gurunya. "Namun karena kau kini berdiri di jalan yang salah, seperti apa yang sering kau ajarkan, siapapun orangnya maka kejahatan adalah musuh. Maka maafkan bila aku berlaku lancang" tambahnya lagi dengan suara bergetar menahan isak.
Dewi Pedang Khayangan menatap muridnya itu tanpa berkedip. Dari raut wajahnya tampak sedikitpun tak terpengaruh atas kata-kata cempaka. Bahkan wanita separuh baya itu hanya mendengus dingin menunjukkan kekurang sukaannya.
Melihat tanggapan gurunya yang sedikitpun tak perduli, Dewi Selendang Ungu pun merasakan sesak di hatinya. Dengan menarik nafas dalam, dikuatkannya tekad untuk bertarung. Sesekali Istri Pendekar Halilintar itu menghela nafas berat.
"Baiklah kita mulai pertandingan. Silakan!" seru Setan Beruang Hitam.
Ke enam orang yang bertanding mempersiapkan kuda-kudanya masing-masing. beberapa saat lamanya tak ada satupun yang memulai serangan. mereka sama menantikan lawan yang memulai duluan. Lalu Cempaka pun berseru.
"Guru, aku akan mengalah padamu dua pukulan. tanpa melawan ataupun menghindar. Pukulan pertama sebagai tanda baktimu sebagai muridmu. Pukulan kedua sebagai tanda berakhirnya hubungan kita murid dan guru."
Saat mengatakan itu tak mampu lagi hatinya membendung kesedihan. Tampak butir air mata jatuh mengalir di pipinya. Setelah itu iapun mengganti kuda-kudanya menjadi sikap bertahan.
Sekilas tampak terjadi perubahan pada raut wajah Dewi Pedang Khayangan. Namun cepat saja wajah itu berubah menjadi dingin kembali. Dengan sekali hentakan guru cempaka itu melesat kearah Cempaka. Diapun menyarangkan satu pukulan yang telak mengenai dada istri pendekar Halilintar itu.
bukkkk..
Cempaka terdorong sebanyak tiga langkah. Dadanya terasa seperti di pukul palu besar. Untung saja dia sempat melindungi seluruh tubuhnya dengan tenaga sakti. Kalau tidak tentu ia akan tewas. Setidaknya terluka dalam.
__ADS_1
Dewi Pedang Khayangan yang melihat Cempaka hanya terdorong beberapa langkah terlihat tersenyum. Entah apa arti senyum yang ditunjukan oleh Guru Cempaka tersebut. lalu diapun berseru
"Terimalah ini..."
Sekali lagi Dewi Pedang Khayangan menyerang dengan telapak tangannya. Kali ini nampak tenaga yang dikerahkan lebih besar dari pukulan sebelumnya.
"Hiyaaaattt"
bukkkk
Satu pukulan lagi bersarang ke dada Cempaka. Ternyata memang tenaga yang keluar dari telapak tangan wanita separuh baya itu lebih besar dari sebelumnya. Terbukti Cempaka terjungkal beberapa tombak dari tempatnya.
"Cempaka..." pekik Jaka keadaan melihat istrinya. Hampir saja ia melompat kearah istrinya. Namun hatinya lega melihat istrinya masih bisa bangkit dan terlihat masih segar walaupun dari sela bibirnya mengalir darah segar.
"Aku tidak apa-apa kakang."
"Baiklah Dewi Pedang Khayangan. Mari kita mulai pertandingan ini, kita tunjukan aliran lurus atau sesat yang akan menang. Bersiaplah, karena aku akan menyerang tanpa sungkan-sungkan" ucap Cempaka tanpa menggunakan sebutan guru lagi kepada Dewi Selendang Ungu.
Dewi Selendang Ungu melesat kearah gurunya. Selendang ungu yang menjadi senjata andalannya meliuk-liuk menyerang lawan. Menggunakan ilmu gabungan Tenaga Inti Es milik keluarganya dan tenaga Sakti Dewi Rembulan milik sang guru ia pun bergerak lincah mencecar lawan.
Dewi Pedang Khayangan yang diserang sedemikian rupa mau tidak mau langsung mencabut pedangnya lalu menggunakan segenap kemampuannya menghadapi Cempaka. Keduanya pun bergerak saling menyerang saling bertahan. Sekilas jurus-jurus yang mereka perlihatkan terlihat seperti seorang penari, sehingga nampak serasi dengan penampilan mereka yang anggun.
blammm..
Terjadi ledakan saat dua pasang tapak tangan beradu. Keduanya sama-sama terdorong dua langkah kebelakang. Kemudian kembali mereka saling serang dengan jurus andalan masing-masing.
__ADS_1
Hampir saja empat orang yang lain di pihak Istana Lembah Neraka maupun Benteng Dewa lupa akan pertarungan mereka sendiri. Saking asiknya menonton pertarungan guru dan murid itu, sampai-sampai mereka lupa sedang berhadapan dengan musuh.
"Hai bocah macan ompong, ayo kita main-main sebentar. Jangan seperti kemarin, belom apa-apa sudah keok" ejek Datuk Sesat Seribu Wisa kepada Rupaksa.
Rupaksa yang diejek seperti itu tidak menjadi marah. Ia malah cengar cengir sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak kusangka ada kakek-kakek sudah bau tanah yang doyan mengajak seorang bocah main-main" jengek nya.
Datuk Sesat Seribu Wisa menjadi berang mendapat balasan ejekan dari lawan. Kulit mukanya yang hitam bertambah hitam menahan dongkol.
"Bocah kurang ajar, ku kirim kau keneraka" bentak Datuk Sesat Seribu Wisa sambil melempar senjata rahasianya ke arah Rupaksa.
Rupaksapun melompat menghindari jarum-jarum kecil yang di lemparkan lawannya. Kemudian dengan gagah berani ia menerjang lawan memberi serangan mencakar ke arah Datuk Sesat Seribu Wisa. Orang tua itupun melompat kebelakang sambil mengirim tendangan kearah Rupaksa, namun berhasil dihindari pemuda itu.
Agak kaget juga Datuk Sesat Seribu Wisa melihat kemajuan yang diperlihatkan lawan. Dari serangan Rupaksa tadi ia merasakan semilir angin kuat yang ditimbulkannya. Sukar dipercayainya hanya dalam waktu beberapa hari saja pemuda itu sudah mengalami kemajuan yang pesat dalam hal tenaga dalam.
Sebenarnya apa yang dialami oleh Rupaksa tidak lain dikarenakan kemahiran si Dewa Obat. Dengan keahliannya meramu obat-obatan, ia berhasil membuat obat penambah tenaga yang khasiatnya membuat orang yg meminum meningkat tenaga dalamnya. Hanya saja obat ini reaksinya hanya sementara saja dan tidak lama. Dari tiga orang yang bertarung itu hanya Cempaka yang merasa tidak perlu meminumnya.
Di pertarungan lain Pendekar Tongkat Emas dan Arya Sona sudah turun gelanggang. Beberapa jurus sudah berlalu. Walaupun terlihat Pendekar Tongkat Emas lebih unggul, namun tak sekalipun orang tua itu mampu melukai Arya Sona. Selain dikarenakan sudah meminum ramuan yang diberikan Dewa Obat, seperti yang kita ketahui Pendekar Tongkat Emas pun sebenarnya berada di pihak Benteng Dewa.
Lain dengan pertarungan Dewi Selendang Ungu melawan gurunya. Terlihat pertarungan semakin sengit. Kepulan debu akibat tanah yang terhantam pukulan keduanya semakin tebal berterbangan. Bentakan-bentakan yang keluar dari mulut keduanya menggelegar mendebarkan jantung mereka yang ada di sana.
"Kasihan Cempaka" desah Jaka. "Pasti dia sangat terluka dan kecewa terhadap gurunya" gumamnya lagi. Tak terasa air matanya mengalir mengingat gurunya yang kini sudah tiada. Dia merasa betapa malangnya nasib mereka suami istri hari ini.
Blammm...
__ADS_1
Ledakan Dahsyat kembali terjadi. Kini nampak satu orang mengungguli yang lainnya. Dewi Pedang Khayangan terlempar beberapa tombak dan terjatuh. Bahkan dari mulutnya menyemburkan darah segar. Berbeda dengan Cempaka yang hanya terdorong beberapa langkah kebelakang.