
"Eh... Sepertinya aku mengenalmu" ucap Pengemis tua itu dengan raut wajah terkejut. "Bukankah kau Pendekar Halilintar" Tambahnya lagi sambil melangkah mendekati Jaka.
"Salam hormat ku Raja Pengemis Selatan!" ucap Jaka tanpa mempedulikan pertanyaan orang.
"Ah ternyata benar... tuan Pendekar Halilintar. maaf kan aku yang tua ini berlaku tidak sopan tadi. Ketuaan ku ini membuat aku tak bisa melihat tingginya gunung di depan mata" ucap Pengemis itu masih sungkan.
"Mohon jangan berlebihan orang tua." Pinta Jaka yang tak enak hati mendengar pujian pengemis tua itu. "Sebenarnya ada apa gerangan sehingga kau mengejar-ngejar tiga orang itu.
"Ahh... Ceritanya panjang nak Jaka. Singkatnya ke tiga orang ini telah membuat puluhan anak buahku menderita racun kelabang hitam."
"Racun kelabang hitam" seru Intan dan cempaka bersamaan.
"Ya begitulah. Mereka bertiga dengan pukulan kelabang hitamnya telah melukai puluhan anak buahku. Bahkan beberapa orang diantaranya telah tewas." tutur Raja Pengemis Selatan.
"Aaaaaakhh..."
Saat mereka asik mengobrol tiba-tiba terdengar teriakan memilukan dari ke tiga orang buruan Raja Pengemis Selatan itu. Tubuh mereka berkelojotan. Bau amis mulai tercium dari tubuh mereka. Sedang warna kulit mereka sudah berubah menghitam. sebentar kemudian ketiganya diam tak bergerak lagi.
Langsung saja Jaka dan Raja Pengemis Selatan melesat mendekati tiga orang itu. Saat dekat, bau amis dari tubuh ketiganya semakin kuat tercium. Ketiganya benar-benar tewas keracunan.
"Awas jangan sentuh." Cegah Jaka saat Raja Pengemis Selatan ingin menyentuh salah satu dari tiga mayat hang keracunan itu. "Tubuhnya beracun" tambah Jaka lagi.
"Hmmmm... Rupanya nasib puluhan anak buahku itu benar-benar malang. Satu-satunya harapan mereka hidup sudah tewas." ucap Raja Pengemis Selatan Sedih.
"Apa sebenarnya yang terjadi ki?" tanya Jaka heran melihat perubahan wajah Raja Pengemis Selatan yang tiba-tiba murung.
__ADS_1
"Baru pagi tadi kediaman kami disantroni sepuluh orang pemuda berpakaian serba hitam. Mereka mengaku utusan dari Partai Iblis Berkabut. Ke sepuluh pemuda itu menguasai Ilmu Pukulan Kelabang Hitam." ungkap Raja Pengemis Selatan.
"Hmmm aneh sekali." gumam Jaka.
"Begitulah, memang rasanya sulit dipercaya, ilmu langka itu seperti ilmu pasaran saja dikuasai oleh banyak orang." timpal Raja Pengemis Selatan.
"Apa tujuan mereka ki datang ke perkumpulan Pengemis Selatan?" tanya Jaka lagi.
"Melakukan perekrutan paksa. Mereka memaksa pemuda-pemuda di perkumpulan kami untuk bergabung dengan Partai Iblis Berkabut. Bagi yang tidak mau akan mereka hajar dengan pukulan itu. Saat itu aku masih berada di luar sehingga tak bisa melindungi anak buahku" sesal Raja Pengemis Selatan.
Seketika semua terdiam. Jaka Sendiri merasa tidak enak menanggapi ucapan orang tua itu barusan. Ia memilih menunggu.
"Yang aku herankan walaupun pukulan Kelabang Hitam yang mereka miliki sangat mematikan, tapi bisa dengan mudah dipatahkan asalkan tenaga kita berada di atas mereka. Padahal di tangan Raja Iblis Kelabang, pukulan itu benar-benar harus di hindari." tutur Raja Pemgemis Selatan. "Oh iya nak Jaka, kalian sendiri hendak kemana?" tanyanya lagi.
Lalu secara singkat Jaka menceritakan kejadian di kota Rambalangan. Raja Pengemis Selatan pun mendengarkan dengan seksama. Sesekali pimpinan Perkumpulan Pengemis Selatan itu bertanya apabila ada sesuatu yang membuat di penasaran.
"Saat aku bertarung dengan mereka, dapat ku simpulkan tenaga dalam yang mereka miliki cukup rendah. Hanya saja mereka dibekali pukulan yang sangat beracun itu. Dan satu lagi, ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki bisa dikatakan ilmu tingkatan tinggi, karena aku sendiri tak mampu menandingi" ungkap Raja Pengemis Selatan.
"Akupun merasakannya ki" timpal Jaka.
"Baiklah aku tidak ingin mengganggu kalian lama-lama. Pesanku berhati-hatilah dengan Iblis penguasa di utara itu. Apalagi belum tentu kejadian ini ada hubungannya dengan dia, jangan sampai membuatnya gusar, bisaibisa kau sendiri yang akan repot" ucap Raja Pengemis Selatan.
"Terima kasih ki atas petunjuknya" jawab Jaka seraya merangkupkan kedua tangannya.
Setelah berpamitan, Raja Pengemis Selatan pun meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian Jaka dan yang lainnya pun beranjak dari tempat itu. Mereka memutuskan untuk mencari tempat penginapan.
__ADS_1
Kali ini mereka memutuskan menginap di sebuah desa yang sangat berdekatan dengan Lembah Neraka. Nama desa itu adalah Desa Aramia. Bisa di katakan desa ini merupakan satu-satunya jalan menuju lembah neraka. Sehingga tak heran, tempat ini sering dilalui orang-orang yang pakaiannya berlambang Istana di kelilingi api.
Seperti malam ini, saat Jaka, Cempaka, dan Intan sedang makan malam rumah makan tempat mereka menginap. Empat orang berpakaian serba hitam dengan gambar Istana Lembah Neraka di dada mereka. Ke empat orang itu memilih sebuah meja yang bersebelahan dengan Jaka dan yang lainnya.
"Sepertinya kabar tentang pergerakan Partai Iblis Berkabut benar adanya. Sebagai wilayah terdekat dengan Istana Lembah Neraka, Desa ini harus kita jaga agar terhindar dari gangguan mereka" ucap salah seorang dari anggota Istana lembah neraka itu.
"Benar Garba. Apalagi salah satu anggota kita melihat beberapa orang mencurigakan mondar-mandir di depan pintu gerbang desa." Jawab temannya yang lain
Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi hidangan. Sepertinya pelayan tersebut sudah hafal benar dengan kebiasaan mereka ber empat.
Memang bagi penduduk desa keberadaan orang-orang Istana Lembah Neraka sangat menguntungkan bagi mereka. Tidak jarang para anggota Istana lembah neraka itu membantu para penduduk yang membutuhkan. Dari para anggota sendiri tidak berani bertindak diluar aturan, karena pimpinan mereka sendiri sudah mengumumkan kepada para penduduk apabila anggotanya melakukan hal yang dianggap tidak pantas untuk melaporkannya ke Istana Lembah Neraka.
"Silakan tuan" ucap pelayan itu dengan senyumnya yang sumringah.
"Terima kasih mang" sahut orang yang bernama Garba. "Mang apakah beberapa hari ini ada orang luar yang datang ke desa ini?" tanya nya lagi.
"Tidak ada tuan, kecuali rombongan yang membawa orang sakit. Katanya mau ke Negeri Utara" Sahut si mamang.
Jaka, dan yang lainnya saling pandang. Mereka tau yang di maksud pelayan itu tidak lain adalah rombongan mereka sendiri. Intan yang memang orangnya penceria, langsung geli sendiri melihat kepolosan pelayan itu.
Garba langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jaka dan yang lainnya. Kebetulan sekali saat itu Jaka juga sedang melihat ke arahnya. Jaka pun melemparkan senyumnya kepada Garba. Anggota Istana Lembah Neraka itupun membalas senyumannya sambil merangkapkan tangannya di depan dada.
Saat mereka sedang asik menikmati hidangan, dua buah bayangan melesat melewati tempat itu. Hal itu tak lepas dari perhatian Garba dan yang lainnya. Sesaat mereka saling pandang, lalu melesat meninggalkan tempat itu setelah meninggalkan beberapa keping uang perak.
Kejadian tadi tak lepas dari pandangan Jaka dan yang lainnya. Setelah saling pandang dan sudah mengerti akan maksud hati masing-masing merekapun melesat menyusul orang-orang tadi.
__ADS_1