
"Bagaimana kakang? kau dapatkan penawarnya?" tanya Cempaka saat melihat suaminya sudah kembali.
Saat Pendekar Halilintar kembali nampak semua anak buah Setan Tengkorak Putih yang tertinggal di sana sudah tewas semua. Sepeninggal Jaka, Putri Pulau Es Manika di bantu Cempaka membasmi kawanan yang menamakan diri mereka Partai Iblis berkabut. Hanya dengan waktu singkat saja kedua nya berhasil menumpas kawanan penjahat itu.
"Ini" jawab Pendekar Halilintar singkat sambil menyerahkan botol kecil yang diambil dari balik bajunya. Kemudian Pendekar Halilintar menceritakan apa yang dialaminya kepada istri dan kedua orang penghuni pulau es tersebut.
Setelah itu Pangeran Pulau Es dan adiknya secara bergantian menceritakan kejadian yang dialami penghuni Pulau Es kepada sepasang pendekar tersebut. Ternyata Pulau Es kini dikuasai oleh Dewa Iblis Kegelapan setelah melakukan penyerangan dan berhasil melumpuhkan perlawanan penghuni pulau itu.
"Setahuku Pulau Es banyak di huni oleh pendekar pendekar sakti pilihan. Pernah beberapa tahun yang lalu aku kesana, Raja Pulau Es dan dua orang anaknya yang sebaya denganku memiliki kesaktian yang tinggi. Bagaimana dengan mudah bisa di taklukan?" tutur Pendekar Halilintar.
Ke empat orang itu memutuskan beristirahat sejenak di bawah pohon rindang yang tak jauh dari tempat mereka berada. Panjang lebar mereka bercerita sambil menunggu reaksi obat penawar yang didapatkan Pendekar Halilintar.
"Kedua orang yang kau maksud sebagai anak Raja Pulau Es itu adalah kakak kami" timpal Manika. Sebenarnya anak Raja Pulau Es ada empat orang, tetapi di luaran lebih dikenal dua orang kakak kami itu." Tambah Manika.
"Ada empat orang tokoh yang sangat sakti di Partai Iblis Berkabut. Dewa Iblis Kegelapan yang menjadi ketua mereka. Orangnya masih sangat muda, berusia sekitar dua puluh tahunan namun kesaktiannya bagaikan dewa saja" Tutur Pangeran Pulau Es menggantikan adiknya bercerita.
"Yang kedua seorang kakek-kakek yang biasa menggunakan baju berwarna hijau. Ayah kami bilang dia dikenal dengan julukan Jari Pedang. Orang itu merupakan wakil dari sang ketua perkumpulan"
"Hmmm.. Jari Pedang. Menurut cerita dari mendiang guruku, dulu di dunia persilatan terdapat seorang tokoh sakti yang memiliki kemampuan ilmu pedang sangat tinggi. Sampai-sampai dia berhasil menciptakan sebuah ilmu yang menjadikan hawa sakti di jarinya setajam pedang." sela Jaka.
"Yang ke tiga dan ke empat adalah Sepasang Iblis Api suami istri. Oleh sang ketua mereka diangkat sebagai pelindung partai." tambah Pangeran Pulau Es.
"Apakah orang itu memiliki ciri-ciri menggunakan pakaian serba merah, dengan rambut, alis, kumis dan jambangnya semua berwarna merah" tanya Jaka.
__ADS_1
"Benar seperti itu tuan pendekar" jawab pangeran Pulau Es.
"Jangan memanggil kami dengan sebutan tuan pendekar. Panggil saja nama kami, Jaka dan Cempaka." ucap Jaka.
"Baik kak Jaka, kalau begitu panggil kami dengan sebutan nama saja. Aku Tanaka dan adik ku ini Manika." balas Pangeran Pulau Es yang bernama Tanaka itu.
"Lalu selanjutnya akan kemanakah kalian berdua?" tanya Cempaka.
"Kami di tugaskan Ayah pergi ke Benteng Dewa untuk menyampaikan pesan dan menceritakan kejadian yang menimpa pulau es kepada ketua perguruan Tangan Dewa." jawab Manika.
"Oh.. baiklah kalau begitu. Sepertinya penawar racun yang diberikan Setan Tengkorak Putih memang asli. Kami pamitan dulu, ada urusan yang hendak kami selesaikan. Sampaikan salam kami kepada paman Malaikat Bertangan Sakti. Mungkin dalam waktu dekat kami akan mengunjungi beliau." ucap Jaka.
Keempatnya pun berdiri bersamaan. Kedua penghuni pulau es itupun membungkuk sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Mereka berterima kasih kepada suami istri itu atas bantuan keduanya. Kemudian keempat orang itu berpamitan beranjak ketempat tujuannya masing-masing.
"Selamat datang Ki Farja dan anak muda sekalian!" sapa Ki Rambang kepala Desa Karang wangi seraya merangkapkan kedua tangannya memberi hormat.
Serentak Bayu, dan dua orang lainnya berdiri membalas penghormatan kepala desa. Kemudian pimpinan Desa Karang Wangi itupun bergabung di meja. Setelah dipersilahkan kepala desa, semuanya kembali duduk di mejanya masing-masing.
"Terima kasih kalian mau datang atas undangan kami. Ada sedikit permasalahan yang kami hadapi yang membutuhkan bantuan kalian." Ungkap sang kepala desa tanpa basa-basi.
"Ada permasalahan apa Ki?" tanya Ki Farja.
"Beberapa pekan ini desa kami mendapatkan gangguan dari sekelompok penjahat yang menamakan diri mereka Partai Seribu Racun. kelompok ini terdiri dari sekitar dua puluh orang. Mereka dipimpin seseorang yang menggelari dirinya sendiri dengan sebutan Siluman Racun." tutur kepala desa.
__ADS_1
"Lalu apa yang mereka lakukan terhadap desa Karang Wangi ini Ki?"
"Mereka meracuni semua sumur yang ada di desa ini. Sehingga banyak penduduk yang terserang penyakit. Lalu mereka datang memberikan penawar dengan syarat kami setiap pekan menyiapkan sejumlah uang dan beberapa orang wanita untuk mereka."
"Hmmm.. sungguh bejat kelakuan mereka." geram Nalini.
"Lalu apakah dari penduduk sendri sudah berusaha mengusir mereka Ki?"
"Sudah ada beberapa pendekar dari desa kami yang berusaha mengusir mereka, hasilnya malah mereka semua yang tewas dengan kondisi keracunan. Semenjak itu tak ada satupun yang berani mengganggu mereka." terang Ki Rambang.
"Apakah pendekar dari tempat lain pernah kau panggil sebelumnya Ki? tanya Ki Farja.
"Belum Ki. Namun beberapa hari yang lalu pernah datang seorang Pendekar dari aliran putih ke desa ini. Lalu aku pun memanggilnya ke sini dan menceritakan semua yang terjadi di desa ini. Kemudian akupun meminta bantuannya untuk membasmi para penjahat itu. Keesokan harinya tepat di depan rumahku ini mayat pendekar itu dalam keadaan biru keracunan.
"Hmmm... tahu sudah banyak korban dari kalangan pendekar, dari mana kau berkeyakinan aku mampu membasmi mereka? Atau kau juga ingin aku bernasib sama seperti mereka." tanya Ki Farja Mulai sinis.
Kepala Desa itu mulai menangkap adanya reaksi kurang bersahabat dari Ki Farja. Iapun menjadi serba salah. Laki-laki itu hanya mengikuti nalurinya saja meminta bantuan ke desa terdekat.
"Bukan begitu Ki, aku mengikuti naluriku saja untuk meminta bantuan ke Desa Bojana. Entah kenapa aku berkeyakinan dengan meminta bantuan kalian masalah ini dapat terpecahkan. Apalagi yang ku tahu di desa kalian terkenal aman dan damai dikarenakan banyaknya penduduk yang memiliki kemampuan bela diri."
"Lalu apakah pernah masalah ini di laporkan ke kota raja Ki?" tanya Nalini.
"Hmmm... untuk yang satu itu belum pernah berhasil kami lakukan. Karena setiap kali kami mengutus orang keluar desa ini menuju kota raja, selalu saja utusan itu bernasib sama dengan korban yang lain. Mati dalam keadaan keracunan. Sehingga setelah itu tidak ada lagi yang berani melakukannya." terang Ki Rambang.
__ADS_1