
“Kak Bayu kesini ikut Latihan…” Ajak Nalini.
Nalini memanggil Bayu dengan sebutan kakak memang pada dasarnya dia lebih muda dari pemuda itu. Bayu yang sudah menginjak umur tujuh belas tahun, sedangkan Nalini maih berumur lima belas tahunan. Jadi wajar saja Nalini memanggil kakak kepada Bayu, walau dia sendiri sebenarnya tidak mengetahui umur pemuda tersebut.
Bayu pun tersenyum mendengar ajakan Nalini. Perlahan Pemuda itu turun dari rumah menuju lapangan. Dia menghampiri ki Farja yang sedang memberi petunjuk pada Nalini. Bayu pun menjura memberi hormat.
“Bagaimana keadaanmu nak Bayu?” Tanya ki Farja setelah membalas penghormatan Bayu.
“Agak segeran ki setelah mandi.” Jawab Bayu seraya tersenyum.
Kemudian keduanya mengalihkan pandangan ke arah Nalini yang sedang Latihan. Terlihat-gerakan-demi Gerakan yang dilakukan Nalini sudah sangat lincah. Ini membuktikan bahwa apa yang diajarkan oleh ki Farja sudah sangat dikuasainya.
“Bagaimana menurutmu nak Bayu gerakan Nalini tadi?” tanya ki Farja kepada Bayu. Sekilas tadi dia melihat ke arah Bayu saat Nalini memperagakan gerakan-gerakan ilmu silat pedang yang di ajarkannya. Yang ia lihat reaksi dari bayu yang beberapa kali mengerutkan kening seolah melihat ilmu pedangnya bermasalah.
Ilmu pedang yang diperagakan Nalini bernama Pedang Pembelah Mega. Warisan guru ki Farja sendiri pendekar sakti yang bergelar Pedang Sakti dari Utara. Itu sebabnya ada perasaan tersinggung saat melihat reaksi Bayu seperti itu.
"Bagus ki" jawab Bayu singkat.
Ada ketidak puasan yang dirasakan ki Farja mendengar jawaban Bayu. Dia dapat merasakan jawaban anak muda itu tidak bersungguh-sungguh.
"Anak muda, apakah dulu kau pernah belajar ilmu bela diri?" tanya ki Farja Serius.
"Entahlah ki, aku tidak bisa mengingat apa-apa." jawab Bayu jujur.
"Hahaha... maaf kan aku nak Bayu, aku lupa kau sedang kehilangan ingatanmu. Baiklah nak Bayu, kalau kau juga ingin belajar ilmu pedang, silakan bergabung dengan Nalini." ucap ki Farja.
"Terima kasih ki" sahut Bayu.
Bukannya menghampiri Nalini untuk bergabung, Bayu malah duduk dipinggiran halaman beralasan tanah. Pemuda itu malah asik sendiri dengan lamunannya. Melihat itu ki Farja hanya geleng-geleng.
...***...
__ADS_1
"Tahukah apa tujuanku mengajak kalian ke sini?" tanya Dewa Iblis kegelapan kepada tiga orang bawahannya. Jari Pedang dan sepasang Iblis Api.
"Maafkan kebodohan kami ketua" ucap Jari pedang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Menurut kalian apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Dewa Iblis kegelapan lagi
"Saatnya kita menguasai daratan luas ketua. Dengan keadaan ketua sekarang, tentu tak akan ada yang bisa menghalangi kita" jawab Jari Pedang.
"Hmmm.. aku juga berpikir demikian. Namun ternyata kita masih harus menunggu."
"Maksud ketua? Maafkan hamba kurang memahami." Tanya Dewa Pedang lagi.
Sedangkan sepasang iblis api hanya mengikuti pembicaraan dua tokoh utama penghuni pulau iblis berkabut itu. mereka pun dengan seksama mendengarkan percakapan demi percakapan kedua orang itu. Sebagaimana yang dialami Jari Pedang, mereka berdua pun kurang memahami maksud dari sang ketua.
"Coba lihat ini"
Kemudian Dewa Iblis Kegelapan mengerahkan tenaga saktinya. Seketika di lengan kanannya mengalir tenaga petir berwarna hitam dan kemerahan. Nampak tenaga itu sungguh dahsyat.
Duaaarrr...
Sebongkahan batu besar hancur berkeping-keping terkena sambaran halilintar yang diarahkan Dewi Iblis Kegelapan. Namun hal tak terduga terjadi. Ketua Perkumpulan Iblis Berkabut itu terlempar sejauh empat tombak. Dari mulutnya pun menyemburkan darah segar.
"Ketua..."
Seru tiga orang anak buah Dewa Iblis kegelapan berbarengan. Serentak ke tiga orang itu meluruk ke arah terlemparnya sang pemimpin. Kekhawatiran mereka timbul melihat keadaan samg ketua.
"Aku tidak apa-apa. Hanya luka dalam sedikit" ujar Dewa Iblis Kegelapan.
"Apa yang sebenarnya terjadi ketua?" tanya Raja Iblis Api saat membantu ketua mereka bangkit.
"Inilah yang mau ku katakan." Sejenak Dewa Iblis Kegelapan diam. Tak lama kemudian ia pun melanjutkan ucapannya. "Walaupun perpindahan jiwaku telah berhasil, dan kekuatanku juga telah kembali, bahkan lebih hebat dari sebelumnya, namun ternyata tetap ada kekurangannya.
__ADS_1
"Apa itu ketua?" tanya Jari Pedang tak sabaran.
"Ternyata tubuh baruku ini belum mampu menopang tenaga besar yang aku miliki. Makanya setiap aku menggunakan tenaga sakti untuk menyerang, sebagian dari tenaga itu membalik menyerangku." tutur Dewa Iblis Kegelapan.
"Bagaima mungkin ada kejadian seperti itu?" gumam Jari Pedang.
"Hmmmm... Begitulah adanya. Jadi untuk sementara kita tunda dulu rencana kita untuk menguasai daratan. Mungkin butuh satu tahun untukku melatih raga baru ini untuk cepat menyesuaikan."
"Baik ketua" jawab ketiga anak buah Dewa Iblis Kegelapan serentak.
"Aku akan berlatih di pulau Es, siapkan penyerangan kesana. Berikan pilihan, tunduk pada kita atau musnah bagi penduduk di sana."
"Baik ketua..."
Dewa Iblis Kegelapan pun lenyap dari pandangan mereka. Dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan mata sang pimpinan melesat meninggalkan ketiga abak buahnya. Bahkan sepasang Iblis Api saja sampai bergidik melihat kemampuan ketua mereka.
Lama kita tinggalkan Jaka si Pendekar Halilintar dan Istrinya Cempaka si Dewi Selendang ungu. Ternyata sesudah pertarungan di bukit kosong usai, dan pemakaman para pendekar yang tewas selesai keduanya bertekat untuk pulang ke kediaman mendiang Malaikat Petir dulu semasa hidupnya. Kini Bukit Batu Hitam menjadi kediaman sepasang pendekar sakti dunia persilatan.
Harii itu Jaka sedang melamun di depan pintu memandang halaman depan. Ia teringat masa-masa kecilnya saat berlatih bersama gurunya Malaikat Petir. Kala itu seandainya bukan sang guru yang menyelamatkannya dari gangguan orang-orang jahat, tentu saat ini dia tak ada didunia. Tangan sakti gurunya lah yang membuatnya menjadi pendekar besar seperti sekarang.
"Kakang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Cempaka sambil memeluk suaminya dari belakang. "Bukankah kaya eyang Empu Adhiyak Sona akan datang kegelapan melanda dunia persilatan. Dan kita disuruh mencari cahaya untuk menyingkirkan kegelapan itu."
"Hmmm..." hanya gumaman yang terdengar menjadi jawaban sang suami. Namun Pendekar Halilintar memegang tangan istri yang memeluknya sambil membelai lembut rangan halus itu.
"Apakah maksud Cahaya itu?" tanya Cempaka lagi.
"Entahlah istriku. Sesungguhnya aku sendiri merasa lelah akan urusan dunia persilatan ini. Rasanya ingin mengundurkan diri saja, dan hidup damai di sini, mempunyai anak yang banyak, bertani, dan berkebun." ungkap Pendekar Halilintar.
Cempaka memeluk suaminya lebih erat lagi. Ia tau kekasih hatinya itu masih terpukul dan bersedih atas kematian gurunya. Ia pun tak ingin membantah perkataan sang suami.
"Namun apabila aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, bagaimana nanti bila bertemu dengan guru di alam baka. Apa yang harus ku katakan. Tentu ia akan sangat marah melihatku tak lagi memperdulikan keadaan dunia persilatan" Tutur Bayu lagi.
__ADS_1
Sesaat keduanya terdiam. Merela larut dalam pikirannya masing-masing. Sebenarnya Cempaka pun masih sangat penasaran akan gurunya yang bergabung dengan Istana Lembah Neraka. Apalagi saat pertarungan yang lalu, ia berhasil mengalahkan sang guru. Ada perasaan menyesal di hatinya. Tapi di sisi lain iapun marah melihat gurunya yang berpihak pada aliran hitam.