Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
82. Ditolong Pendekar Halilintar


__ADS_3

"Berhenti!" bentak Garba. Seketika kedua bayangan itu berhenti dan berbalik badan dan tersenyum sinis. "Siapa kalian, mau apa di desa ini?" tanya nya lagi penuh curiga.


Setelah mendapati keberadaan musuh, Garba menyuruh satu orang temannya untuk pergi ke gerbang penjagaan memperingatkan orang-orang di sana siapa tau ada yang berusaha menerobos lembah.


Tak lama kemudian Jaka, Cempaka dan Intan tiba tak jauh dari tempat itu. Hanya saja mereka tak mau menampakkan diri. Karena Ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi, kehadiran mereka tidak disadari oleh orang-orang Istana Lembah Neraka maupun kedua orang penyusup itu.


"Kami adalah maut kalian" sahut salah seorang dari penyusup.


Kemudian kedua orang penyusup itu langsung menerjang ke arah Garba dan kawan-kawannya. Mudah saja bagi ketiga orang itu menghindari terjangan lawan. Bahkan dua orang teman Garba yang lain sempat memberikan tendangan kepada lawan sehingga kedua orang penyusup itu terjengkang.


Bukkk... buukk


Karena tendangan itu hanya berupa peringatan, sehingga tak menimbulkan luka bagi lawan. Hanya saja kedua penyusup itu berpandangan lain. Keduanya merasa diremehkan oleh orang-orang Istana Lembah Neraka itu.


Kemudian kedua orang itu saling pandang. Lalu salah satu mengangguk duluan dan dibalas anggukkan orang satunya. Kemudian mereka membuat gerakan sedemikian rupa selanjutnya kedua telapak sampai ke pergelangan tangan mereka berubah menjadi hitam. Bau amis seketika menyebar di tempat itu.


"Hati-hati, mereka menggunakan pukulan Kelabang Hitam." seru Garba mengingatkan temannya.


Hiyaa..


Kedua orang penyusup itu kembali menyerang dengan pukulan andalannya. Dua orang anggota Istana Lembah Neraka itu hanya mampu menghindar setiap serangan tangan lawan. Sehingga pada serangan belasan jurus, keduanya terkena serangan lawan.


Buukkk... Bukkk...


Keduanya terjungkal hingga lima tombak dari tempatnya. Untung saja serangan yang mengenai mereka hanyalah tendangan lawan. Sehingga hanya luka luar yang mereka terima.

__ADS_1


"Tenaga inti api..." seru Garba menyuruh teman-temanya mengganti serangan.


Kedua orang anggota Istana Lembah Neraka itupun mulai mengerahkan tenaga saktinya. Sepintas terlihat cahaya pijaran api berwarna kuning memancar di tubuh mereka, sebentar kemudian cahaya itu hilang, sebentar kemudian muncul. Itulah tenaga inti api pada tingkatan pertama.


Melihat musuhnya telah bersiap, dua orang penyusup kembali menyerang. Kali ini keadaan berbalik. Orang-orang Istana Lembah Neraka yang berada di atas angin. Setiap pukulan beracun mereka bertemu dengan tangan lawan, setiap itu juga mereka tersudut mundur beberapa langkah. Nampak dari segi tenaga dalam mereka masih berada di bawah orang-orang Istana Lembah Neraka.


Buukk...


Satu orang penyusup berhasil terkena pukulan temannya Garba. Seketika orang itu langsung terjengkang jatuh ketanah. Dari mulutnya menyemburkan darah segar. Di dadanya ada bekas menghitam terbakar. Tak lama kemudian orang itu kelojotan dan meregang nyawa.


"Yang satunya jangan dibunuh" seru Garba.


Pertarungan tak imbang pun terjadi. Dua orang Istana Lembah Neraka melawan satu orang penyusup. Sehingga pada satu kesempatan penyusup itu berhasil dipukul bagian pundaknya hingga tersuruk ke depan. Kemudian dengan sigap orang Istana Lembah Neraka satunya memberi totokan melumpuhkan.


Namun baru saja akan mendekat tiba-tiba...


"Awas..." Jaka yang dari arah lain berteriak memperingatkan. Tiga bayangan melesat menerjang ketiga orang Istana Lembah Neraka dari belakang.


Blaammmm...


"Uhukkk..."


Ketiga orang Istana Lembah Neraka yang mendengar teriakan Jaka langsung melompat menghindar sebisanya. Untung saja Jaka berteriak seraya mengirimkan pukulan halilintar nya ke arah tiga orang pembokong. Kalau tidak, biarpun sudah melompat, niscaya ketiga orang anggota Istana Lembah Neraka itu tak akan sempat menghindari pukulan pembokongnya.


Sementara tiga orang pembokong itu langsung terlempar puluhan tombak. Seketika tubuhnya menghitam karena gosong tersambar pukulan Halilintar nya Jaka. Tanpa sempat melihat siapa penyerangnya, ketiga orang itupun tewas dengan kondisi yang menggenaskan.

__ADS_1


Jaka pun melompat keluar dari persembunyiannya. Lalu Ia pun menghampiri ke tiga orang anggota Istana Lembah Neraka itu. tak lama kemudian Intan dan Cempaka Menyusul ketempat itu.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Jaka kepada tiga orang itu.


Ketiganya menggelengkan kepala seraya melemparkan senyum. Kemudian Garba menghampiri pendekar Halilintar.


"Terima kasih atas pertolongan tuan pendekar, sehingga kami terlepas dari maut." ucap Garba seraya merangkapkan kedua tangannya menjura. "Kalau tidak salah bukankan tadi pukulan halilintar, berarti saya yang rendah ini sedang berhadapan dengan seorang pendekar besar, Pendekar Halilintar?" tanya Garba lagi.


"Ahh... tidak perlu di besar-besarkan" ucap Jaka yang tidak enak bila orang terlalu memujinya. "Apakah kisanak bertiga anggota Istana Lembah Neraka?" tanya Jaka lagi.


"Benar sekali pandangan tuan Pendekar." sahut Garba. Jikalau pendekar bertiga tidak keberatan, sudilah kiranya berkunjung ke lembah. Para pimpinan kami sering berpesan apabila bertemu denga tuan pendekar, agar menyampaikan undangan mereka kepada tuan untuk bertandang ke Istana Lembah Neraka." ucapnya lagi penuh hormat.


Saat itu Jaka bingung hendak menjawab apa akan tawaran Garba. Dia sendiri masih enggan berurusan dengan orang-orang Istana Lembah Neraka. Apalagi bila harus menjalin persahabatan. Masih segar di ingatannya saat-saat sang guru harus tewas menghadapi Raja Iblis Bukit Tengkorak salah satu jagoan dari perkumpulan tersebut.


Lain Jaka lain lagi yang di rasakan Intan dan Cempaka. Keduanya saling pandang dan tersenyum. Menurut mereka inilah yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa harus meminta izin masuk, tuan rumah sendiri yang mengundang.


Walau Cempaka masih merasakan kekecewaan yang besar terhadap gurunya, namun di hati perempuan itu masih menganggap Dewi Pedang Khayangan itu sebagai guru. Bahkan besar harapannya untuk bisa kembali menjalin hubungan dengan guru yang berjasa membimbingnya itu. Terlebih lagi mendengar perkembangan Istana Lembah Neraka yang kabarnya berubah haluan menjadi perkumpulan yang lurus. ditambah lagi istri pendekar halilintar itu melihat sendiri apa yang terjadi barusan.


"Baiklah ki sanak, kami akan berkunjung ke sana" jawab Cempaka tanpa meminta persetujuan dulu dengan suaminya.


Jaka yang merasa kecolongan segera mengalihkan pandangan ke wajah istrinya. Namun betapa tak berdayanya dia saat melihat sang istri mendelik kepadanya sambil tersenyum penuh pesan tersirat. Pendekar halilintar pun mau tak mau mengikuti kemauan Istrinya.


"Syukurlah kalian tidak keberatan" ucap Garba. "Raji, Dorma, kalian bereskan mayat-mayat itu. Biar aku membawa pendekar-pendekar ini ke Istana, sekalian membawa tawanan ini menghadap." tambahnya lagi.


Kedua teman Garba pun mengiyakan perintah Garba. Rupanya lelaki itu merupakan pimpinan kelompoknya. Saat ini anggota tingkat keempat Istana Lembah Neraka yang hanya berjumlah tiga puluhan orang itu dibagi menjadi enam kelompok, Sehingga satu kelompok terdiri lima orang. Namun malam ini, Garba hanya membawa tiga orang rekannya, sedangkan satunya lagi berjaga di pintu gerbang bersama kelompok yang lain.

__ADS_1


__ADS_2