Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Pembantaian di Kuil Agung


__ADS_3

Episode 316


Tepat pada siang hari rombongan Bayu dan yang lainnya tiba di kawasan sekitar lembah Neraka yang kini menjadi sebuah negara kecil bernama Negeri Ganendra. Di tempat itu pula kini Bayu menjadi raja kecil memimpin negeri tersebut. Hanya saja Bayu yang kurang begitu tertarik dengan hal seperti itu memilih untuk tidak menjadikan tempat itu seperti sebuah kerajaan.


Dibantu oleh Pranggala,  anggota utama perkumpulan istana lembah neraka membuat pengaturan-pengaturan. Atas keinginan Bayu sendiri negeri itu tidak dibuat seperti pemerintahan kerajaan. Tetap seperti dulu saat masih terbatas di lembah neraka, tempat yang diatur berdasarkan aturan dunia persilatan, dengan Bayu sebagai majikannya. Orang kedua dan ketiga ditempat itu adalah Intan dan Nalini. Sedangkan selanjutnya dipimpin oleh empat orang utama anggota istana lembah neraka yang sudah berubah beberapa posisinya.


Atas perintah Bayu, kawasan negeri kecil Ganendra dibuat sebuah sungai mengelilingi. Sehingga Negeri Ganendra mirip sebuah pulau yang dikelilingi oleh sungai. Hal ini bertujuan agar tidak sembarang orang yang bisa masuk kesana.


Tepat satu purnama setelah pengaturan wilayah negeri kecil Ganendra, sungai buatan yang mengelilingi Negeri itupun selesai. Apalagi Bayu dan yang lainnya turun langsung membantu penggalian. Dengan turunnya orang-orang sakti di negeri itu, hanya dalam waktu satu purnama sudah selesai dibuat. Sungai itu diberi nama sungai Tabukan.


Hanya dalam waktu singkat keberadaan negeri kecil itu terdengar keseluruh empat negara besar. Tidak sedikit dari mereka yang berkeinginan untuk mengunjungi tempat itu. Untuk menyeberang ke negeri itu orang harus menggunakan perahu atau kapal. Banyak dari mereka yang berkeinginan menetap di sana, karena merasa keadaan di sana aman dan jauh dari gangguan. Kelak negeri ini akan dikenal sebagai negerinya para pendekar sakti.


Keesokan harinya negeri Ganendra kedatangan seorang tamu yang sangat spesial. Ia pun langsung diantar bertemu Bayu. Seorang Raja baru dari negeri barat yang tak lain adalah pamannya sendiri. Saudara tiri dari ibunya Bayu yang bernama Eka Wirendra.


Eka Wirendra disambut baik ditempat itu. Semua orang sudah melupakan kejadian lalu yang dianggap begitu memilukan. Banyak korban yang berjatuhan di berbagai pihak. Mereka ingin melupakan semuanya dan hidup damai bahagia.

__ADS_1


Kedatangan Eka Wirendra ke negeri Ganendra bertujuan untuk menyampaikan amanat terakhir Chandra Darpa yang merupakan kakeknya Bayu. Sebelum berperang orang tua itu sempat berpesan kepada anaknya apabila ia tewas dalam peperangan, ia ingin dimakamkan di tempat asalnya lembah neraka.  Bayu sendiri tidak keberatan dan akan menyiapkan semuanya. Tentu saja Eka Wirendra sangat senang mendengar hal itu.


Setelah di sepakati, pemakaman Raja Barat Chandra Darpa akan dilaksanakan sepekan lagi. Hal ini terkait pengambilan jasad orang tua itu yang masih berada di kerajaan Barat. Walau sudah lama meninggal dan belum disemayamkan, jasad orang tua itu masih utuh tidak membusuk. Hal ini dikarenakan ilmu pancasona yang pernah dipelajarinya walau sebagian besar sudah tersedot kedalam pedang penguasa naga, juga berkat ramuan-ramuan khas negeri barat.


Sementara itu di Kuil Agung pangeran Mandaka dan orang-orangnya berniat meninggalkan tempat itu. Mereka merasa tempat itu sudah tidak aman lagi mereka tempati. Hanya saja yang membuat mereka belum juga beranjak, adalah tujuan mereka yang belum tercapai.


“Yang Mulia, orang tua itu masih keras kepala tidak mau mengatakan kitab Ilmu Hati Suci dan juga rahasia Cakram dewa. Apakah kita habisi saja orang tua itu?”


Seorang  resi yang merupakan murid utama manusia suci kuil agung menanyakan pendapat pangeran Mandaka akan tindakan yang harus diambilnya. Resi itu adalah resi yang pada waktu lalu menyamar sebagai manusia suci kuil agung. Namanya Resi Danuraksa.


“Bagaimana kita paksa dengan cara kekerasan saja orang tua itu untuk menyerahkan kitab pusaka  dan rahasia senjata cakram dewa itu?” ucap seorang lelaki yang merupakan orang kepercayaan pangeran Mandaka menimpali pembicaraan mereka.


“Tidak semudah itu Radrasta. Kau tau sendiri, meski kita mencekokinya racun pelemah tenaga, tapi kita masih belum bisa mendekatinya. Tenaga sakti Hati Suci masih bisa muncul melindunginya dari gangguan luar. Orang tua itu hanya tidak bisa mengendalikan tubuhnya karena lemah, namun tenaga saktinya tidak sedikitpun menghilang.”


Jawaban pangeran Mandaka itu menyadarkan mereka  akan keadaan itu. Memang sudah beberapa kali mereka mencoba melakukan kekerasaa terhadap si orang tua, selalu  saja ada kekuatan sakti yang melindungi. Untuk mencekoki racun pelemah tenaga saja mereka memasukkannya lewat minuman dan makanan yang dibawakan oleh pendeta kecil yang merawat orang tua itu. Seolah-olah kekuatan ataupun niat jahat  tidak bisa mendekatinya.

__ADS_1


“Lalu apa yang harus kita lakukan yang mulia? Apakah kita tinggalkan begitu saja orang tua itu ditempat ini?” tanya Resi Danuraksa.


“Mungkin sebaiknya seperti itu. Kita pikirkan cara lain untuk bisa menguasai istana itu walau hanya sebentar untuk mengambil harta yang di simpan di sana. Aku dengar kabar sepasang pemuda yang mengaku dewa dan Dewi api telah mengumpulkan kekuatan dan memiliki banyak pengikut, mungkin kita bisa memikirkan cara untuk mengajak mereka bekerjasama.”


Setelah sepakat, akhirnya pangeran Mandaka dan orang-orangnya meninggalkan tempat itu.  Mereka melakukan pembantaian besar-besaran di kuil agung. Hampir seluruh resi dan pendeta yang menghuni di sana dihabisi kecuali yang berpihak pada mereka. Hingga di tempat itu tersisa manusia kuil agung dan juga pendeta kecil yang menemani orang tua itu. Mereka tak bisa menyentuhnya karena perlindungan kekuatan manusia suci kuil agung.


Sementara itu di negeri kecil Ganendra dilaksanakan prosesi pemakaman raja barat. Di tempat itu juga di hadiri Prabu Raga Lawing dan Maha Patih Pranggala. Kerajaan Barat sendiri sepakat untuk menjalin persahabatan dan kerjasama dengan kerajaan Nagendrapura. Mereka berkomitmen untuk saling menjaga kedamaian dan ketentraman kedua negara.


Keesokan harinya setelah prosesi pemakaman usai, seluruh tamu kembali ke tempatnya masing-masing. Termasuk Raja barat dan Prabu Raga Lawing. Maha Patih Pranggala sendiri telah lebih dulu meninggalkan Negeri kecil berbentuk pulau itu.


“Kak Bayu, apakah rencana pergi ke kuil agung akan tetap kita lakukan?” tanya Intan kepada Bayu saat menikmati pemandangan sungai buatan yang diberi nama sungai Tabukan itu.


“Besok kita akan kesana. Berita yang tersebar mengenai pembantaian di kuil itu menjawab semua pertanyaanku akan peristiwa besar di sana. Saat aku di penjarakan di kuil agung, sering kali tubuhku digunakan untuk menyerang seorang tua yang tak berdaya. Namun setiap kali tubuhku akan membentur orang tua itu,  setiap kali itu juga sebuah kekuatan muncul membentenginya. Aku harap orang tua itu akan baik-baik saja,” sahut Bayu.


Bersambung..

__ADS_1


 


__ADS_2