
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 113...
“Apa yang kalian bicarakan aku dengar semuanya..” Dengus Dewa Iblis Kegelapan. “Apakah kalian meragukan kemampuanku mengalahkan orang-orang di Selatan ini.” Sambungnya lagi.
“Maafkan kami ketua, bukan begitu maksud kami.” Jawab Jari Pedang gugup.
“Lalu apa yang kalian maksudkan?”
“Kami mengkhawatirkan orang-orang persilatan melakukan perlawanan terhadap partai kita dengan cara bergabung menjadi satu kekuatan. Walau kesudahannya tetap kita yang memenangkannya, namun kerugian tentu tidak kecil yang kita alami. Dan kita tidak bisa memanfaatkan orang-orang dunia persilatan untuk tujuan kita sebenarnya.”
Dewa Iblis Kegelapan mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Jari Pedang. Sedikit banyaknya ia berkesimpulan apa yang dipikirkan Jari Pedang banyak benarnya. Sejenak Lelaki Tua yang bersemayam di jasad seorang pemuda itu terdiam.
“Lalu apa saranmu?” tanya Dewa Iblis Kegelapan?
“Pemilihan Ketua Dunia Persilatan. Kita adakan sebuah pertandingan menentukan siapa yang layak jadi pemimpin dunia persilatan itu. Siapapun yang terpilih wajib di taati.”
“Bagaimana kalau ada pihak yang tidak mau ikut dan tidak mengakui hasil pertandingan?”
“Maka mereka akan dibinasakan. Selain itu kita juga berupaya membujuk partai-partai lain yang haus kekuatan dan harta dengan iming-iming itu semua. Bila perlu kita beberkan rencana kita sebenarnya kepada mereka yang mau loyal terhadap kita. Dengan begitu kekuatan kita akan bertambah.” Tutur Jari Pedang.
“Baiklah aku setuju dengan rencana itu. Tetapkan tiga bulan sesudah hari ini diadakan pemilihan ketua dunia persilatan di Benteng Dewa. Sebarkan undangan-undangan ke semua perkumpulan yang ada di selatan ini. Untuk sementara larang anak buah kita melakukan perampokan dan hal lainnya.
“Baik ketua” seru keempat orang anak buah Dewa Iblis Kegelapan.
Keesokan harinya hampir seluruh anggota tingkat bawah anak buah Dewa Iblis Kegelapan menyebarkan undangan keseluruh partai besar maupun partai kecil perkumpulan silat yang ada di Negara Selatan. Hal ini tentu mengundang kehebohan bagi kaum persilatan. Apalagi mereka mengganti nama partai mereka dengan sebutan Perkumpulan Istana Benteng Dewa.
Sementara itu di tempat lain, Bayu, Nalini, Raja Iblis Kelabang di temani putra dan putri Raja Pulau Es menyeberang ke Pulau Es. Dengan menyewa kapal kecil beserta pengemudinya mereka menyeberangi laut menuju pulau itu. Setelah melakukan perjalanan dua hari dua malam lamanya, akhirnya mereka sudah dekat dengan tujuan.
Di pesisir pantai pulau terlihat puluhan orang berpakaian serba hitam menanti mereka. Diantara mereka satu orang lelaki mengenakan pakaian biru. Setelah kapal kecil yang di tumpangi Bayu dan lainnya mulai mendekati pulau yang diliputi es itu, beberapa orang berpakaian hitam melompat ke air. Tiba-tiba saja mereka menyelam dan tak muncul kepermukaan.
__ADS_1
Deeeshh.. dessh..
Terdengar suara dentuman halus dari bawah kapal. Tak lama kemudian Nampak air mulai masuk ke dalam kapal itu. Rupanya bagian bawah kapal terdapat beberapa lubang yang menjadi tempat masuk air. Sontak hal itu membuat semua orang yang menumpangi kapal panik.
“Bedebah, siapa yang membocorkan lantai kapal?” maki Raja Iblis Kelabang.
Tak berapa lama setelah Raja Iblis Kelabang memaki, tiba-tiba dari dalam air berlompatan enam orang berpakaian serba hitam kedalam kapal kecil yang dinaikinya. Tentu hal ini membuat keadaan kapal semakin cepat karam. Belum lagi orang-orang berpakaian hitam yang menaiki kapal mulai menyerangi orang yang ada di kapal.
Buk.. buk.. byuuurrr..
Beberapa orang penyerang tercebur karena hantaman kepalan Raja Iblis Kelabang. Sedangkan kedua anak Raja Pulau Es begitu repot melayani beberapa orang penyerang mereka. Sementara Bayu menjaga Nalini dari segala kemungkinan, tak satupun penyerang sempat menyerangnya, karena Raja Iblis Kelabang selalu menjaga.
Makin lama kapal makin tenggelam. Kini air masuk sudah hampir separu kapal. Menyadari hal itu Bayu mengantamkan telapak tangan kanannya ke arah ai, sehingga menimbulkan daya dorong kuat yang membuat kapal meluncur cepat ke arah pulau.
“Serang dengan Panah!”
Sayup-sayup terdengar perintah orang yang berada di pantai memerintahkan untuk menyerang dengan panah. Tak berapa lama orang-orang berpakaian hitam mengeluarkan busur dan anak panahnya. Kemudian merekapun menembakkan panahnya ke arah kapal kecil yang di tumpangi Bayu dan yang lainnya.
“Hati-hati tuan, jangan sampai menggunakan tenaga kuat untuk melawan musuh, bisa-bisa kapal kita hancur tak mampu menahan gelombang kekuatan yang tercipta”
Ratusan anak panah meluncur cepat kearah kapal mereka. Baru berhasil menghabisi ke enam orang penyerang, kini mereka harus menghadapi serangan lain.
Blamm...
Bayu menghantamkan telapak tangan kanannya kearah ratusan anak panah yang melesat. Seketika ribuan butiran embun tercipta dan meluncur kearah ratudan anak panah itu. Sungguh menakjubkan embun itu berhasil menahan laju anak panah dan membuatnya membeku hingga berjatuhan ke dalam air.
Braaakkkk..
Byuuurrr..
Benar saja Kapal kecil mereka yang hampir tenggelam itu tak mampu menopang gelombang tenaga dahsyat yang dimiliki Bayu. Kapal itu seketika hancur berantakan. Raja Iblis Kelabang dan kedua anak Raja Pulau Es jatuh tercebur ke dalam air.
__ADS_1
Bayu sendiri sudah melayang di udara menggendong Nalini. Pemuda itu lalu menluncur kedaratan. Bagaikan Dewa langit yang turun dari khayangan, pemuda itu turun ke tanah dengan penuh keangkeran.
“Mundurrr!!”
Melihat kehebatan lawan, orang berpakaian biru segera memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Dalam waktu singkat, orang-orang yang tadinya berada di pantai itu lenyap. Bayu sendiri masa bodoh saja, tak ada niat untuk mengejar orang-orang yang mengganggu perjalanan mereka.
“Manusia-manusia pengecut. Setelah dekat kabur semua.” Rutuk Manika putri Raja Pulau Es yang kesal dengan keadaannya yang sempat tercebur ke air.
“Siapa mereka itu tuan putri?” tanya Bayu.
"Jangan panggil aku tuan putri, panggil Manika saja." tegur putri pulau es yang tak suka dipanggil Bayu dengan sebutan Tuan Putri. Mungkin Umur mereka tak berbeda jauh, hanya selisih dua atau tiga tahun saja lebih tua gadis asal pulau es itu.
"Mereka orang-orang Partai Iblis Berkabut. Sedangkan yang berbaju biru tadi merupakan penduduk pulau es yang sudah membelot" Ungkap Manika.
"Apakah masih banyak orang-orang partai Iblis Berkabut itu yang tinggal di sini." tanya Raja Iblis Kelabang.
"Entahlah, mungkin mereka masih menyisakan beberapa orang anggota, dan orang tangguh untuk berjaga-jaga di tempat ini." sahut Pangeran Pulau Es.
"Mari kita lanjutkan perjalanan masuk ke dalam pulau."ajaknya lagi.
Ke lima orang itupun beranjak dari pantai menuju ke dalam pulau. Nampak tempat itu sejauh mata memandang warna putih membentang luas. Namun yang luar biasa, di tempat itu masih terlihat banyak pepohonan yang tumbuh. Bahkan bunga-bunga yang indah terlihat menghias di sisi-sisi jalan.
Kini mereka memasuki jalan setapak yang di kanan kirinya dipenuhi bunga berwarna biru. Bahkan dedaunannya pun berwarna kebiruan. Hampir seluruhnya di sekitar tempat itu ditutupi bunga-bunga kebiruan.
"Awas hati-hati terkena duri dari bunga itu. Hanya dalam waktu sepeminuman teh siapa yang terkena akan mati dengan kondisi darah membeku. Tumbuhan berwarna biru itu bernama Bunga Salju. Sekilas nampak biasa, namun racun bunga salju sangat mematikan" Ucap Manika sambir terus berjalan menyusuri jalan setapak lalu diikuti empat orang yang lainnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepeminuman teh, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat lapang yang sejauh mata memandang hanya terlih warna putihnya salju.
"Tempat ini bernama gurun salju. Walau terlihat hanya seperti hamparan salju biasa, namun ada beberapa jebakan di dalamnya. Salah satunya aroma penyesat jiwa, siapa saja tercium aroma ini dia akan menjadi linglung dan kebingungan menentukan jalan. Sehingga lama kelamaan akan mati kedinginan." terang Pangeran Pulau Es.
"Tapi yang lebih berbahaya adalah manusia salju. mereka.."
__ADS_1
Ucapan Pangeran Pulau Es terhenti saat mendengr bunyi keras dari bawah. Sesaat tempat itu seperti bergetar bagai di landa gempa. Tak lama kemudian dari dalam salju bermuncula kepala-kepala manusia berkulit sama dengan warna salju. Jumlah mereka sangat banyak. Bukan ratusan, bahkan ribuan.
Bersambung...