
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 184...
Pendekar Halilintar yang masih kurang yakin dengan apa yang ia lihat semakin mendekat kearah pertempuran. Di sebelah kanan di lihatnya seorang lelaki tua menggunakan pakaian serba merah sedang menyerang dan membunuhi para prajurit kerajaan.
“Iblis Merah, berarti mereka memang benar-benar orang-orangnya Dewa Iblis Kegelapan.”
Setelah memastikan siapa pihak yang datang memberi bantuan, Pendekar Halilintar kembali masuk ke dalam hutan Pengecoh Arwah.
“Eyang, di luar yang memberi bantuan adalah orang-orangnya Dewa Iblis Kegelapan yang menamakan kelompok mereka sebagai kelompok Benteng Dewa.” Ucap Jaka.
“Apa? Orang-orang Dewa Iblis Kegelapan? Bagaimana bisa? Apa tujuan mereka membantu kita?” seru Pertapa Sakti Tanpa Nama dalam kekagetannya.
Bukan hanya Pertapa Sakti Tanpa Nama yang kaget mendengar itu, seluruh pendekar yang berada di sana dibuat heran.
“Apa maksud mereka datang membantu kita?” gumam Pertapa Sakti Tanpa Nama.
“Munduuuur..”
Belum terjawab pertanyaan Pertapa Sakti Tanpa Nama tiba-tiba saja terdengar teriakan perintah untuk mundur di luar. Terdengar perlahan-lahan suara ratusan kaki terdengar meninggalkan kawasan Hutan Pengecoh Arwah. Kembali Jaka berniat untuk keluar. Namun baru saja ia hendak beranjak, terdengar suara puluhan orang memasuki Hutan Pengecoh Arwah.
“Salam hormat kepada para pendekar. Maaf kalau kedatangan kami tidak diundang.” Ucap lelaki tua berpakaian serba merah yang tak lain Iblis Merah orangnya. “Ketua mengutus kami untuk datang karena mendengar akan adanya serangan dari pihak kerajaan. sekarang semuanya telah aman, pihak kerajaan sudah mundur meninggalkan tempat ini” Tambah Iblis Merah lagi.
Semua orang yang ada di situ dibuat serba salah. Mereka bingung tak tau harus berkata apa? Seharusnya mereka mengucapkan terima kasih atas pertolongan orang. Hanya saja siapa yang memberikan pertolongan merupakan pihak yang mereka anggap sebagai musuh dan ancaman. Terutama sekali bagi murid-murid perguruan Tangan Dewa, pihak Dewa Iblis Kegelapan adalah orang-orang yang telah membunuh guru besar mereka.
“Terima kasih atas pertolongan tuan, sampaikan salam kami kepada ketua anda.” Ucap Jaka Berbasa-basi sambilmenjura.
“Baiklah, kami mohon diri dulu.” Ucap Iblis Merah singkat.
__ADS_1
Kemudian orang-orang Benteng Dewa anak buah Dewa Iblis kegelapan pun meninggalkan tempat itu. Sekali lagi para pendekar dibuat serba salah oleh keadaan. Mereka bingung menanggapi orang-orang yang menjura kepada mereka. Sehingga dengan lemas mereka pun balas menjura.
Setelah Iblis Merah dan anak buahnya benar-benar meninggalkan tempat itu suasana menjadi riuh menanggapi apa yang sedang terjadi.
“Tidak disangka kita akan kalah selangkah dengan mereka.” Ucap Jari Malaikat.
“Apa maksud ucapanmu kita telah kalah selangkah?” tanya Pertapa Sakti Tanpa Nama kurang senang.
“Tak perlu kujelaskan tetua. Semua orang di sini tau apa maksudnya.”
Setelah menjawab pertanyaan Pertapa Sakti Tanpa Nama, Jari Malaikat murid-muridnya berlalu dari tempat itu. Ia meninggalkan tempat itu menggunakan kuda lalu menuju kediamannya. Setelah cukup jauh meninggalkan Hutan Pengecoh Arwah mereka singgah di salah satu rumah makan sebuah desa yang bernama desa Paring Tatakan.
Tiba di depan rumah makan mereka langsung disambut oleh seorang pelayan yang mengambil kekang kuda-kuda mereka untuk ditambatkan pada tempatnya. Kemudian Jari Malaikat dan empat orang muridnya masuk ke dalam penginapan. Semua tempat hampir penuh, tinggal dua buah meja yang letaknya berada di tengah-tengah rumah makan. Kelimanya pun menuju ke meja yang masih kosong itu.
“Silakan tuan-tuan, mau pesan apa?” tanya seorang pelayan yang langsung menghampiri mereka.
“Sediakan kami empat porsi makanan khas tempat ini. Lima buah teh jahe bersama seguci arak.” Sahut Jari Malaikat sambil duduk di kursi yang sudah tersedia.
“Tidak di sangka kesaktian Rajawali Merah benar-benar sulit diukur, bahkan sulit diterima akal kita. Belakangan berita menggemparkan tersebar bahwa dia telah mempecundangi dua ribu lebih prajurit yang mencoba menyerang ke Lembah Neraka. Konon katanya tanpa melakukan gerakan sedikitpun separu lebih pasukan langsung binasa.”
Terdengar seorang lelaki berpakaian abu-abu sedang berbincang-bincang membicarakan kehebatan Rajawali Merah di salah satu meja yang tak jauh dari tempat Jari Malaikat dan murid-muridnya berada. Lelaki itu sedang duduk bersama dua orang lelaki lainnya yang berpakaian serba putih dengan ikat kepala berlambang teratai. Walaupun kata-kata yang di ucapkan tidak terlalu keras tapi cukup jelas terdengar ditelinga Jari Malaikat.
“Ahh.. pemuda itu sangat berjasa kepada perguruan kami. Walaupun secara kasat matanya dia telah membunuh ketua kami, tapi pada hakekatnya dia telah membebaskan kami dari pemimpin yang jahat. Sejak itu perguruan kami Teratai Putih dipimpin seorang guru yang bijaksana walau kesaktiannya masih di bawah ketua yang terdahulu.” Sahut salah satu lelaki berpakaian putih yang ternyata murid perguruan teratai putih itu.
Pembicaraan terus berlanjut, tak henti-hentinya mereka memuji Rajawali Merah. Bahkan mereka menambahkan kata-kata pendekar saat menyebutkan gelar ketua Istana Lembah Neraka tersebut. Di tempatnya Jari Malaikat nampak puas mendengar pujian terhadap Rajawali Merah, walau terkadang mereka juga menyebutkan kebrutalan pemuda itu saat menghadapi lawan. Jari Malaikat merasa bangga dan beruntung menjadi salah satu orang yang diselamatkan pemuda itu.
Tak lama berselang, datang seorang pemuda berpakaian serba merah masuk kedalam rumah makan. Selain pakaian yang serba merah, di punggung pemuda itu menggantung jubah semacam mantel berwarna merah terlihat dari belakang, sedang hitam terlihat dari depan. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling mungkin mencari-cari tempat yang kosong.
Beberapa orang pendekar di sana yang kebetulan mengenali siapa pemuda itu sontak mengeluarkan pekikan kecil tertahan. Apalagi Jari Malaikat yang begitu mengenali pemuda yang sudah sangat menjadi idolanya itu langsung berdiri senang.
__ADS_1
“Ahh.. Ternyata rezekiku begitu besar bertemu Pendekar Rajawali Merah di sini.” Seru Jari Malaikat sambil berdiri dari kursinya lalu menghampiri Bayu yang sedang berdiri di tengah-tengah rumah makan itu.
Bukan hanya Jari Malaikat yang tidak menyangka akan kehadiran pemuda yang ramai diperbincangkan oleh dunia persilatan. Bahkan sebagian besar merekayang berada di sana tanpa sadar berdiri seolah memberi penghormatan kepada bayu yang baru datang.
“Mari pendekar muda, kalau kau tidak keberatan duduklah bersama kami yang rendah ini.” Ajak Jari Malaikat dengan tulus dan merendah.
Bayu hanya tersenyum ramah. Ia pun mengikuti ajakan Jari Malaikat. Murid-murid Lelaki separubaya itupun menyiapkan kursi untuk sang pendekar muda. Melihat itu Bayu agak kurang leluasa.
“Ah, jangan terlalu berlebihan. Aku tak bedanya seperti kalian.” Ucap pemuda itu melihat perlakuan yang sebegitunya kepada dirinya.
“Mari Pendekar Rajawali Merah, silakan duduk.” Ucap Jari Malaikat.
“Panggil aku Bayu saja paman. Aku tak terbiasa dipanggil sebagai seorang pendekar seperti itu.” Ucap bayu terlihat seperti agak risih.
“Ahhh.. mana bisa seperti itu. Kau memang layak disebut sebagai pendekar, Pendekar Rajawali Merah.”
“Kalau kau masih memanggilku seperti itu, aku akan pergi dari sini paman.” Ucap Bayu sambil berdiri dari tempat duduknya. Ia memang tidak terbiasa dan tidak ingin disebut sebagai pendekar.
“Baiklah kalau begitu. Kalau kau maunya seperti itu, tentu aku merasa senang bisa memanggilmu dengan sebutan nak Bayu. Kau duduklah kembali, jangan sampai membuat aku yang tua ini merasa bersalah” ucap Jari Malaikat.
Kekaguman Jari Malaikat dengan pemuda itu semakin bertambah setelah mengetahui sang pendekar idola memiliki sifat rendah hati bertolak belakang dengan penampilannya yang terkesan sombong dan angkuh. Beberapa kali lelaki separuh baya itu menunjukkan senyum kepuasan dan perasaan bangga. Ia pun merasa tak sedikitpun salah membela Rajawali Merah di hadapan pendekar-pendekar yang berkumpul di Hutan Pengecoh Arwah kala itu.
Bersambung..
sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
__ADS_1
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.