Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Antara pria dan wanita


__ADS_3

Mendengar nama Zahra emosi Rafa benar-benar semakin menjadi.


Wanita tidak tahu diri itu, bisa-bisanya dia melakukan itu pada istriku, dia pikir dia siapa, tunggu saja aku buat perhitungan sama kamu Zahra, kamu sepertinya sekarang sangat keenakan karena aku nggak pernah anggap serius semua yang kamu lakukan, tapi kali ini tidak lagi kamu harus aku buat menyesal telah main-main dengan aku, apalagi sengaja mempermalukan istriku,, padahal kamu yang lebih memalukan sangat beda jauh dengan istriku, Zahra kamu wanita menjijikkan batin Rafa.


"Bawa wanita tidak tahu diri itu ke markas," ucap Rafa yang Fandi sudah tahu dimana maksud Rafa, Fandi langsung panik karena pasti kalau seseorang di bawa ke tempat itu tentu dia tidak akan pulang lagi, dia akan kehilangan nyawanya di tempat itu.


Ya ampun apa Rafa benar-benar akan melakukan itu semua, kasian juga si Zahra ini batin Fandi yang masih ada rasa kasihannya dengan teman sekelasnya itu.


"Rafa tidak usah bunuh dia terlalu mudah bagi dia, biar gue yang mengurus Zahra dan loe tidak akan kecewa pada hasilnya nanti, lagian Zahra ini nggak seperti Gracia dia hanya mengikuti amarahnya saja, rasa cemburunya jadi biar aku yang mengurusnya," ucap Fandi.


Rafa mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Fandi, yang lagi membela Zahra padahal saat ini Rafa ingin segera menghabisi Zahra biar dia tidak meresahkan lagi.


"Fandi loe suka sama Zahra, ngaku loe?" kata Rafa.


Fandi benar-benar terkejut mendengar ucapan Rafa yang benar-benar di luar nalar Fandi, Rafa berucap seperti itu sama saja penghinaan buat Fandi, karena Fandi tidak pernah menyukai Zahra bahkan sedikitpun, wanita seperti Zahra sangatlah bukan tipe Fandi, sedikitpun tidak memenuhi tipe cewek Fandi, wanita yang pernah Fandi sukai hanyalah Rara sebelum Fandi tahu Rara akan di jodohkan dengan Rafa tapi setelah Fandi tahu dia mencoba mengikhlaskan dan membuang jauh-jauh perasaan itu, dia menjaga Rara dan mengedepankan kebahagiaan Rara. Memang benar kata orang antara pria dan wanita jarang ada yang akan berteman murni pasti ada salah satunya yang akan mencintai, mempunyai rasa lebih dan itu terjadi antara Fandi dan Rara, Fandi lah yang memiliki rasa lebih yang hanya dirinya saja yang tahu. Dia sudah cukup bahagia melihat Rara bahagia dengan Rafa, apalagi dia tahu Rafa sangat mencintai Rara meskipun ada sedikit perih di hati karena tidak bisa bersama Rara tapi dia mencoba untuk biasa saja, dan terus mencoba ikhlas.


"Hii amit-amit banget Rafa gue suka sama Zahra, ya ampun kayak nggak ada cewek lain ajah mau suka sama dia" ucap Fandi sambil bergidik ngeri.


"Yah siapa tahu kan Fan, terus ngapain loe belain dia?" tanya Rafa penuh selidik.


"Gue itu nggak belain dia hanya kasian ajah gue sama loe, sama tangan loe itu masa harus membunuh wanita seperti Zahra sih yang nggak layak itu, lagian kan gue udah bilang tadi kematian terlalu mudah buat wanita seperti Zahra, jadi serahkan saja urusan dia sama gue, biar gue beri dia sedikit fantasi kehidupan, selama ini dia selalu senang-senang ajah kan menjalani hidupnya, jadi yah harus di beri rasa juga jangan hanya kesenangan saja yang dia rasakan di hidupnya," ucap Fandi.

__ADS_1


Rafa langsung memikirkan ucapan Fandi baik-baik, karena sebenarnya sekarang dia benar-benar ingin menghabisi Zahra.


"Oke gue serahkan sama loe urus wanita tidak tahu diri itu, dan bersihkan nama istriku," kata Rafa.


Rafa memutuskan untuk membiarkan Fandi yang mengurus Zahra, karena kalau dia membunuh takutnya Rara akan curiga atau bahkan tahu jika dia pelakunya, Rafa yakin istrinya itu tidak akan setuju jika dirinya melakukan hal itu karena Rafa tahu betul hati istrinya itu sangat baik dan lembut sekalipun Rara sudah sering disakiti sama orang itu, Rara pasti tidak akan dendam dan akan memaafkan orang itu.


"Oke itu masalah gampang," ucap Fandi yakin.


"Ya udah gue tutup dulu telfonnya, mau ketemu istri kangen gue" ucap Rafa.


"Rara kemana emang?" tanya Fandi panik.


"Dia ada yang jagakan?" tanya Fandi lagi.


"Rafa ingat Gracia masih nggak jelas keberadaannya sekarang, loe jangan tinggalin Rara," ucap Fandi lagi.


"Ya ampun Fandi iya gue tahu itu, loe nanyanya pelan-pelan dong, gue nggak mungkin lengah pengawasan terhadap istri gue, gue lagi di rumah utama nih dan Rara lagi sama mama mertuanya sedang masak, sekarang gue lagi nonton sambil nunggu telfon dari loe tadi, jadi gue kangen nggak lihat wajah dalam beberapa menit ini," ucap Rafa.


Fandi langsung merasa lega mendengar jawaban Rafa, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menjitak kepala Rafa karena telah membuatnya panik tadi.


"Gue pikir loe ninggalin Rara tahu nggak, loe lebay banget sih dasar bucin," ledek Fandi.

__ADS_1


"Hemm loe bakalan bucin juga nanti kalau sama wanita yang sangat loe cintai jadi nggak usah gangguin gue loe, kena karma baru tahu rasa loe," ucap Rafa.


"Nggak bakal," ucap Fandi.


"Fandi lebih baik loe cari wanita juga yang bisa buat loe semangat biar nggak sendiri terus loe, kasihan gue tahu nggak sama loe takutnya loe akan jadi nggak normal nanti dan malahan langsung jeruk makan jeruk," ledek Rafa sambil bergidik ngeri.


"Ihh amit-amit tahu nggak, gue malas cari wanita yang jelasnya gue nggak bakalan jeruk makan jeruk," ucap Fandi sambil bergidik ngeri juga membayangkan kalau dia akan suka sesama jenisnya.


"Terserah deh yah gue cuma mau ngasih saran ajah karena takut loe bakalan jeruk makan jeruk, tapi bagus kalau loe nggak bakalan jeruk makan jeruk," ucap Rafa.


"Iyalah,, terima kasih sarannya yah, gue belum bisa menyukai wanita karena gue pernah mencintai tapi wanita itu sudah bahagia sekarang dengan pria lain yang jauh lebih baik dari gue dan gue turut bahagia tapi gue belum bisa mencintai wanita lain," ucap Fandi yang membuat Rafa sedikit terkejut karena setahu dia Fandi tidak pernah mencintai seseorang, Fandi juga tidak pernah cerita tentang wanita. wanita yang dekat dengan dia pun bisa dihitung dengan jari.


"Wanita itu istri gue?" tanya Rafa langsung karena mengingat Fandi yang sangat dekat dengan Rara istrinya.


Fandi sedikit terkejut karena Rafa bisa langsung menebak dan benar pula.


"Yah nggak lah, apaan sih asal ngomong ajah mana mungkin Rara, wanita itu nggak pernah gue dekati gue hanya lihat dia ajah dari jarak jauh," jawab Fandi.


"Nggak usah bahas itu, lebih baik loe temuin Rara katanya kangen," ucap Fandi mengalihkan pembicaraan.


"Iya emang, udah dulu kalau gitu, loe urus yah Zahra gue pengen malam ini lihat hasil kerja loe," ucap Rafa.

__ADS_1


__ADS_2