
Note...
Baca BAB sebelumnya karena ada sambungannya,, biar nyambung dengan BAB ini
#############
"Citra nih sejak tadi bengong aja,, kadang melirik Fandi juga, ada hati sama Fandi? kalau ada bilang aja Fandi lagi disini nih,, jadi langsung ungkapkan aja nggak apa-apa kali cewek duluan yang ungkapkan perasaannya kayak istriku ini," ucap Rafa sambil melihat Rara yang sedang tersenyum malu.
Fandi langsung melihat Citra ketika mendengar ucapan Rafa.
"Apaan lihat-lihat,, aku nggak suka kamu," ucap Citra cepat.
"Aku juga nggak," ucap Fandi lalu kembali lanjut makan.
"Dan jangan sampai deh kamu beneran suka sama aku,, karena kamu pasti akan sakit hati,," ucap Fandi lagi.
"Isshh kepedean banget sih,, yah nggak bakalan lah aku suka sama kamu," ucap Citra lagi.
"Iya tau santai aja,, aku cuma mengingatkan, nanti kamu sakit hati mewek-mewek lagi,, udah jelek jadi tambah jelek," ledek Fandi.
"Hemm kayak kamu nggak jelek aja sih,, kamu kan juga jelek,," ucap Citra tak mau kalah.
"Hah,, lihat baik-baik wajahku ini,, katakan darimana nya jelek?" ucap Fandi sambil menatap Citra.
Deg,,,.
Citra benar-benar merasa deg-degkan di tatap oleh Fandi dan dengan jarak yang sangat dekat.
"Ayo katakan?" ucap Fandi lagi sambil mendekati Citra.
Fandi biasa saja kalau seperti itu pada Citra,, berbeda lagi kalau dengan Rara.
"Apaan sih,, jauh-jauh sana kamu,, ambil kesempatan dalam kesempitan banget," ucap Citra.
"Idihh siapa juga yang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan sama kamu,, kamu mahh bukan tipe aku," ucap Fandi lalu kembali melanjutkan makannya.
Sedangkan Rafa dan Rara menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran Fandi dan Citra setiap kali bertemu.
"Kamu juga bukan tipe aku sama sekali,, huff nggak usah kegeeran," ucap Citra tak mau kalah.
__ADS_1
"Syukurlah," ucap Fandi.
Mereka pun lanjut makan dalam keheningan.
#############
Sementara di tempat Zahra mereka lagi menyusun rencana untuk membalas Ana padahal Ana tidak salah sedikit pun pada Fania.
"Fania sepertinya bakalan susah deh kalau kamu melakukannya hari ini,, kita belum menyusun rencana secara matang,, aku nggak mau aja kalau sampai kamu tertangkap," ucap Zahra yang khawatir dengan rencana Fania.
"Udahlah kamu nggak usah takut seperti itu Zahra,, aku tau kok apa yang harus aku lakukan,, lagian cuma segitu doang sih gampang,," ucap Fania.
"Lalu kamu akan menunggu dia dimana?" tanya Zahra.
"Sedikit jauh dari rumah Reno,, karena jangan sampai ada yang melihat aku,, bisa gawat kan," ucap Fania.
"Maksud aku kamu mau celakain dia dimana Fania? kita belum terlalu matang nih nyusun rencananya,, masa kamu langsung mau lakukan hari ini sih,, sabar aja dulu dong tunggu waktu yang tepat,, lagian aku nggak mau kamu jangan sampai celaka juga nantinya kalau gegabah,, jangan sampai deh Ana itu nggak sepolos yang kamu bayangkan,, bisa gawat kan," ucap Zahra.
"Itu nggak akan mungkin Zahra,, dia itu lemah banget,, benar-benar lemah,, aku tampar aja dia nggak berani melawan,," ucap Fania sambil mengingat bagaimana tadi dia menampar Ana.
"Yah siapa tau aja kan dia lagi berpura-pura Fania,, dia lagi berpura-pura lemah di hadapan Reno dan mamanya," ucap Zahra lagi.
"Lebih baik kita cari tau dulu tentang Ana,, latar belakang dia,, barulah kita bertindak," ucap Zahra.
"Haduh kelamaan,, tinggal mencelakai dia aja lalu beres nggak usah pakai lama," ucap Fania.
"Jadi dimana?" tanya Zahra.
"Di jalan,, aku akan mengikuti dia sampai menemukan tempat yang tempat,," ucap Fania sambil tersenyum jahat.
"Oke,, kapan kamu akan menunggu dia?" tanya Zahra.
"Sekarang,, aku akan ke dekat rumah Reno lagi,, aku mau memastikan dulu,, kalau dia udah pulang berarti dia selamat untuk sementara,, tapi kalau dia belum pulang berarti nyawanya berada di dalam bahaya," ucap Fania yang sudah terbakar api cemburu.
"Jadi kamu mau pergi lagi nih sekarang?" tanya Zahra.
"Iya dong,," ucap Fania.
"Sendiri atau aku siapkan anak buah ku?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Sendiri aja nggak usah pakai anak buah kamu,, aku akan menyelesaikan dengan cepat,, kalau sudah menemukan tempat dan waktu yang tepat,, Ana harus tiada di dunia ini sebentar siapa suruh dia berani mengganggu aku,,, mengganggu Reno yang jelas-jelas pacar aku,, sengaja mengambil simpati dari mamanya Reno,," jawab Fania.
"Oke,,, kamu hati-hati aja," ucap Zahra.
"Iya, aku pergi dulu,," ucap Fania lalu segera berjalan ke luar rumah menuju mobilnya lagi.
###########
Reno terus menemani Mamanya dan juga Ana karena dia tidak tau juga harus ngapain,, dia juga malas keluar jalan-jalan karena tadi dia sudah ke rumah Andre juga.
Reno pun teringat dengan Fania yang pulang marah-marah tadi.
Aduh Fania gimana kabarnya yah? aku kan belum telfon dia sejak dia pulang,, kira-kira dia masih marah nggak yah,, hemm tapi pasti dia masih marah lah bahkan semakin marah,, batin Reno.
Reno pun memutuskan untuk ke kamarnya karena dia mau menelepon Fania. Sedangkan mama Reno tidak memperhatikan Reno karena dia fokus dengan Ana dan juga bunga-bunga yang lagi mereka rawat bersama.
Fania yang sedang menyetir mobilnya langsung melihat nama kontak yang meneleponnya begitu mendengar bunyi ponselnya berdering.
"Hemmm ingat juga dia sama aku,, apa jangan-jangan Ana sudah pulang makanya dia nelfon aku, kalau benar seperti itu awas saja kamu Reno," ucap Fania lalu segera mengangkat panggilan telfon dari Reno.
"Iya,, ada apa? selingkuhan kamu sudah pulang makanya kamu nelfon aku sekarang," ucap Fania langsung begitu mengangkat panggilan telfon dari Reno membuat Reno langsung menggelengkan kepalanya heran.
"Fania dia itu bukan selingkuhan aku,, kenapa sih kamu selalu bicara seperti itu,," ucap Reno.
"Hmm terus kenapa kamu baru nelfon aku sekarang?" ucap Fania.
"Yah karena tadi aku mengompres pipi Ana,, terus makan,," jawab Reno lancar seperti air yang mengalir lalu dia kembali merutuki kebodohannya karena telah mengucapkan itu.
Reno kamu benar-benar sangat bodoh,, kenapa harus kamu bilang kalau mengompres pipi Ana,, haduhh bakalan kesal lagi dia nih,, dan salah paham tentunya,, batin Reno.
Fania mencengkram stir mobilnya sangat kuat begitu mendengar ucapan Reno.
Dia benar-benar terbakar api cemburu.
"Begitu yah kamu,, giliran Ana kamu perdulikan,, giliran aku kamu nggak perdulikan sama sekali,, padahal aku juga kena tamparan tadi Reno,, dan yang kamu lakukan benar-benar membuat hatiku sakit,," omel Fania.
"Aduhh kamu jangan mikir macam-macam dulu,, kan kamu nggak ada di rumah tadi,, kamu udah pulang seandainya kamu ada pasti aku kompres juga,, dan Ana seperti itu kan karena kamu yang menampar dia padahal dia tidak salah apa-apa Fania,, kamu hanya salah paham saja," ucap Reno.
"Ahhh sudahlah,," ucap Fania lalu langsung menutup panggilan telfonnya dengan Reno.
__ADS_1
Kamu benar-benar menjengkelkan Ana,, kamu harus aku singkirkan sebentar,, batin Fania yang sudah cemburu buta.