
"Halo ada apa sayang?" Tanya Rafa langsung begitu mengangkat panggilan telfon dari Gracia.
"Kamu lagi di mana sayang?" Tanya Gracia.
"Emm lagi di rumah, kenapa memangnya sayang?" Tanya Rafa.
"Rumah dimana sayang?"
"Emm kamu nggak tahu sayang, yang jelasnya bukan di rumah papa aku, aku di rumahku yang kecil" ucap Rafa pelan-pelan takut Rara nanti mendengarkan semuanya.
"Perlihatkan aku nanti"
"Baiklah sayang, apapun yang buat kamu senang" ucap Rafa.
"Kamu masih"
Rara berhenti bicara karena Rafa menyuruhnya diam menggunakan bahasa isyarat. Rara pun langsung terdiam.
"Itu suara siapa sayang?" Tanya Gracia penuh selidik.
"Nggak tahu sayang, suara tetangga kayaknya" ucap Rafa lalu keluar dari dalam kamar Rara tak lupa dia membawa baju Rara yang transparan itu untuk di buangnya.
Rara lagi-lagi sedih mendengar Rafa yang memanggil wanita lain dengan panggilan sayang dan di anggap hanya sebagai pengganggu ketika Rafa berbicara dengan wanita itu yang tentu saja Gracia tetapi Rara tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar, Rara kemudian dengan segera memakai pakaiannya untuk menemui Aldi dan Fandi.
Fandi dan Aldi langsung melihat Rafa yang keluar dari dalam kamar Rara sambil membawa baju Rara tetapi juga sambil telfonan.
"Kamu nggak bohong kan sayang?" Tanya Gracia.
"Nggak sayang mana mungkin aku bohong sama kamu" ucap Rafa.
"Ya udah kalau gitu bawakan aku makanan dong sayang, aku lapar lagi nih" Perintah Gracia karena memang dia benar-benar sangat lapar gara-gara dia tidak suka makanannya tadi dan juga dia sudah memuntahkannya yang secara paksa dia makan di hadapan Rafa.
"Loh bukannya tadi udah makan?" Tanya Rafa.
"Iya, tapi udah lapar lagi, bawakan aku yah" mohon Gracia.
"Baiklah sayang, tunggu saja yah. Aku tutup telfonnya dulu" ucap Rafa.
"Emm tapi jangan makanan yang tadi yah sayang, aku ingin makanan lain"
"Baiklah sayang" ucap Rafa kemudian mematikan panggilan telfonnya.
Rara sudah mendengar sebagian pembicaraan Rafa yang sangat romantis itu.
"Rara aku mau balik dulu" ucap Rafa kepada Rara.
Rara pun menganggukan kepalanya lemas dan itu masih di mengerti oleh Rafa karena sebenarnya dia tidak ingin Rafa menemui wanita lain tapi itu semua hanya bisa dia pendam.
Dan Rafa juga tidak bisa mengabaikan Gracia.
"Hee buat loe berdua jangan mengambil kesempatan yah loe sama istri gue atau lebih baik loe berdua pulang ajah deh" usir Rafa.
__ADS_1
"Loe ajah yang pulang nemuin wanita lain, gue mau disini menemani Rara" ucap Aldi.
"Iya gue juga" ucap Fandi.
Rafa masih ingin mengusir mereka namun dia ingat dengan Gracia jadilah dia harus pergi sambil membawa baju Rara untuk di buang.
"Rara loe nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Fandi yang melihat Rara terlihat sedih dan Fandi sudah tahu itu semua pasti karena Rafa.
"Iya nggak kenapa-kenapa kok Fandi, maaf yah tadi gue ninggalin kalian duduk disini" ucap Rara.
"Nggak kenapa-kenapa kok Rara, lagian itu semua karena Rafa kan, loe habis di gigit sama dia yah, leher loe merah" ucap Fandi dengan polosnya.
Aldi pun langsung melihat ke leher Rara dan itu langsung membuat Rara menutup lehernya lalu segera berlari masuk ke dalam kamarnya untuk memeriksa lehernya.
"Loe **** banget sih, seharusnya loe nggak usah tegur tadi biar Rara sadar sendiri saja, pasti dia malu tuh loe tegur" ucap Aldi kepada Fandi.
"Mana gue tahu kalau Rara bakalan malu, gue kan cuma kasitau ajah abis gue lihat merah banget" ucap Fandi tidak mau kalah.
"Tapi apa tadi mereka habis begituan" ucap Aldi.
"Kayaknya nggak deh, soalnya dari tadi kita nggak dengar suara apa-apa" ucap Fandi.
"Tapi tadi gue dengar"
"Telinga loe salah dengar, gue ajah nggak dengar apa-apa" ucap Fandi lagi.
"Iya deh terserah loe"
Fandi dan Aldi masih setia menunggu Rara lalu tiba-tiba ponsel Fandi bunyi menandakan ada pesan masuk, Fandi pun dengan segera melihat ponselnya dan ternyata Rafa yang mengirimkan dia pesan.
"Ngapain Rafa ngirimin gue pesan" ucap Fandi sambil membuka pesan dari Rafa, dan Aldi pun ikut kepo.
Mereka berdua langsung tertawa setelah membaca pesan dari Rafa yang tak lain melarang mereka untuk dekat dengan berlebihan kepada Rara.
Fandi pun dengan sengaja tak membalas pesan dari Rafa.
"Kalian tertawakan apa?" Tanya Rara begitu keluar dari dalam kamarnya dan melihat Fandi dan Aldi tertawa.
"Bukan apa-apa kok Rara" jawab Aldi.
Aldi dan Fandi pun melihat leher Rara yang di tutupi dengan syal. Hanya itulah ide yang muncul di kepala Rara, yang bisa menutupi leher Rara.
"Oh iya kalian ngapain datang kesini?" Tanya Rara lagi yang sudah berulang kali dia tanyakan.
"Emang salah yah Rara kita kesini?" Tanya Fandi.
"Nggak kok" jawab Rara cepat.
"Ya udah nggak usah tanya alasannya kalau gitu" ucap Fandi.
#####
__ADS_1
Di tempat lain Rafa lagi kesal karena pesannya tidak di balas oleh Fandi tapi sambil mengendarai motornya ke rumah Gracia untuk membawakan dia makanan.
Gracia langsung dengan senang hati mengambil makanan yang di bawakan oleh Rafa dan menyuruh Rafa masuk ke dalam rumahnya.
Rafa pun masuk ke dalam rumah Gracia.
"Sayang aku mau makan dulu tapi suapin aku yah" ucap Gracia manja.
Rafa pun tersenyum melihat Gracia yang bersikap manja kepadanya.
"Baiklah sayang" ucap Rafa sambil mengusap rambut Gracia.
Mereka pun segera ke meja makan.
Rafa pun mulai menyuapi Gracia.
Gracia lagi-lagi ingin memuntahkan makanan yang di belikan oleh Rafa karena rasanya benar-benar tidak enak.
"Kenapa sayang?" Tanya Rafa khawatir karena Gracia langsung seperti kesusahan mengunyah makanannya.
"Sayang makanan ini kamu beli dimana sih?" Tanya Gracia sambil berusaha tersenyum.
"Rumah makan di pinggir jalan tadi sayang" Jawab Rafa.
Pantas saja rasanya seperti sampah, ini salahku menyuruhnya untuk membelikan aku makanan harusnya tadi aku suruh bibi saja menyiapkan aku makanan dan aku nggak perlu memakan makanan sampah ini batin Gracia.
"Kenapa sayang nggak enak yah?" Tanya Rafa.
"Enak kok sayang, enak banget" Jawab Gracia sambil memaksakan senyumnya.
"Oh baguslah sayang, iya memang makanan ini sangat enak aku sengaja membelikannya untuk kamu, karena ini juga makanan kesukaan aku" ucap Rafa dengan senangnya lalu menyuapi Gracia lagi.
Lagi-lagi Gracia terpaksa memakannya.
Di tengah-tengah keterpaksaannya makan, ponsel Gracia berdering ternyata Zahra yang meneleponnya dan nama itu sempat di lihat oleh Rafa meskipun Gracia dengan cepat mengambil ponselnya.
"Aku angkat telfon dulu yah sayang" ucap Gracia lalu menjauh sedikit dari Rafa.
"Kenapa Zahra?" Tanya Gracia langsung.
"Loe masih jalan dengan pacar loe? gue mau ke rumah lu nih udah lama nggak kesitu, kita mau nginap di rumah loe dengan Fania, sekarang gue udah menuju rumah loe jadi loe jangan ke rumah gue kalau pulang bentar" ucap Zahra.
#################
Mampir ke novelku yang lain juga yah judulnya...
-Takdirku bersamamu
-Cinta presdir tampan
klu nggak nemu di pencarian,, tinggal klik fotoku ajah,,semuanya novelku ada di profil
__ADS_1
Makasih sebelumnya buat yang sudah baca😊😊😊