Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Sembarangan


__ADS_3

Semakin larut maka semakin ramai lah club itu. Setelah beberapa menit menunggu Andre kekasih Zahra pun datang dan langsung duduk di samping Zahra lalu mencium pipinya. Andre sempat mencari-cari keberadaan Zahra tadi namun dengan cepat dia menemukan keberadaan Zahra.


"Sayang kenapa kamu lama banget datangnya?" tanya Zahra sambil bergelayut manja di lengan Andre.


"Nggak lama kok sayang begitu melihat pesanmu, aku langsung datang" ucap Andre.


Zahra pun menuangkan minuman ke gelas dan di berikan kepada Andre.


"Minumlah sayang" ucap Zahra.


Andre pun langsung meminumnya.


"Kalian seperti sedang kesal" ucap Reno.


"Iya memang kita lagi kesal sayang, dan yang paling kesal itu Zahra" ucap Fania kepada Reno.


"Kamu kesal kenapa sayang?" tanya Andre.


"Aku kesal sama pelayan kampungan yang sekelas dengan aku sayang dan juga ada lagi teman sekelas aku yang sangat pelit nggak mau bagi jawabannya tadi waktu ada evaluasi mendadak sama dosen" ucap Zahra.


"Pelayan kampungan kok bisa kuliah di tempat kalian kuliah sayang bukankah di situ hanya anak orang kaya saja?" tanya Andre kepada Zahra.


"Dia mendapatkan beasiswa makanya dia bisa masuk kuliah yang sama dengan aku" ucap Zahra.


"Oh pantas saja, oh iya teman kamu yang pelit itu beri ajah pelajaran sayang" ucap Andre lagi kepada Zahra.


"Iya aku memang sudah memberinya pelajaran sayang dengan menamparnya dua kali" ucap Zahra lalu tertawa.


Fania pun ikut tertawa.


"Tamparan tangan Zahra benar-benar kuat" ucap Fania lagi setelah berhenti tertawa.


"Biar kalian nggak kesal gimana kalau kita" ucap Reno sambil tersenyum mesum. Zahra, Andre dan Fania pun sudah mengetahui maksud Reno.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke kamar yang ada di club itu. Reno bersama Fania dan Zahra bersama Andre.


Mereka pun sudah masuk di kamar masing-masing.


"Sayang kamu pakai pengaman kan?" tanya Zahra kepada Andre.


"Iya sayang tenang saja aku pakai" ucap Andre kemudian mulai mencium bibir Zahra dan tangannya pun tak tinggal diam, Suara desahan Zahra membuat Andre semakin bergairah. Andre pun dengan tidak sabar menuntaskan hasratnya kepada Zahra.


Sedangkan di kamar Reno dan Fania. Fania pun menyuruh Reno supaya memakai pengaman. Reno pun sudah memakainya, Reno selalu membawa pengaman itu.


Dengan tidak sabar dia mencium Fania. Fania hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan Reno karena dia juga menyukainya. Reno pun menuntaskan hasratnya kepada Fania banyak kali, begitupun dengan Zahra yang harus melayani Andre banyak kali.


#####


Zahra dan Fania sudah kembali ke rumah masing-masing dengan baju acak-acakan, pembantu mereka hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat anak majikannya seperti itu, mereka pun melanjutkan tidur di rumah masing-masing karena memang hari ini juga hari minggu. Kedua orang tua Fania dan Zahra hanya sibuk bekerja.


Sedangkan Rara seperti biasa dia masuk kerja dan Rafa yang tidak masuk kerja lagi.


#####


Ayah Rafa pun menghubungi Fandi agar memberi tahu Rafa kalau dia harus pulang hari ini ke rumah ayahnya. Fandi pun segera memberitahu Rafa. Fandi lebih memilih langsung ke kos Rafa karena berhubung ini juga hari minggu untuk memberitahukan pesan ayahnya dengan tidak menghubungi Rafa terlebih dahulu.


Sebelum itu dia sudah menghubungi Rara terlebih dahulu menanyakan apakah Rafa masuk kerja atau tidak dan Rara bilang kalau Rafa tidak masuk kerja lagi.


Fandi sudah tahu pasti Rafa ada di kosnya kalau dia tidak masuk kerja, mau kemana lagi pikir Fandi selain Rafa ada di kosnya sambil galau.


Fandi pun sudah sampai di depan kos Rafa, dia melihat pintu kos Rafa yang tertutup tapi motornya masih ada terparkir membuat Fandi semakin yakin kalau Rafa sedang berada di dalam kosnya. Fandi pun segera turun dari dalam mobil menuju pintu kos Rafa. Di ketuknya pintu kos itu namun tak kunjung di buka juga oleh Rafa. Membuat Fandi khawatir jangan-jangan Rafa bunuh diri.


Jangan-jangan Rafa bunuh diri lagi di dalam ucap Fandi panik sendiri di depan pintu kos Rafa. Fandi pun terus mengetuk pintu kos itu tapi belum ada jawaban hampir saja Fandi mau pergi ke tempat ibu kos dengan bertanya kepada penghuni kos lain untuk meminta kunci cadangan namun pintu kos Rafa sudah terbuka.


"Ngapain sih loe ribut-ribut Fandi pagi-pagi begini?" tanya Rafa dengan wajah baru bangun tidurnya. Ribut tahu nggak loe gangguin gue tidur ajah ucap Rafa lagi.


Fandi pun lega melihat Rafa sudah membuka pintu kosnya.

__ADS_1


"Pagi loe bilang, lihat nih jam udah jam berapa dasar loe pemalas banget" ucap Fandi memperlihatkan jam yang ada di tangannya kepada Rafa lalu berjalan masuk ke kos Rafa.


"Baru juga jam segitu" ucap Rafa santai lalu mengunci kembali pintu kosnya.


"Loe itu yah gue kirain loe bunuh diri tahu nggak tadi tapi untung saja loe nggak bunuh diri tenang gue" ucap Fandi sambil mengelus dadanya.


"Loe kalau ngomong sembarangan ajah, atas dasar apa coba gue mau bunuh diri, nggak jelas banget loe" ucap Rafa lalu berbaring kembali di tempat tidurnya.


"Siapa tahu ajah kan gara-gara loe patah hati jadi loe memutuskan untuk bunuh diri, bikin malu keluarga ajah tuh kalau loe sampai lakuin itu tahu nggak" ucap Fandi kemudian duduk di tempat tidur Rafa.


"Walaupun gue patah hati, gue nggak kepikiran tuh buat bunuh diri, patah hati itu soal biasa kalau buat cowok" ucap Rafa.


"Bagus deh kalau loe nggak kepikiran" ucap Fandi lagi.


"Ada apa loe datang ke kos gue ini?" tanya Rafa.


"Emang salah kalau gue datang terserah gue dong, tapi kali ini gue mau menyampaikan pesan kalau bokap loe nyuruh loe pulang lagi ke rumah bentar" ucap Fandi.


"Ngapain lagi sih?" tanya Rafa tidak bersemangat. Karena kalau dia pulang pasti yang di bahas tentang pernikahannya dengan Rara.


"Nggak tahu juga, tentang pernikahan loe kali" ucap Fandi dengan santainya.


"Gue benar-benar malas banget tahu nggak" ucap Rafa.


"Udah nggak usah ngebantah loe lagian Zahra juga udah nolak cinta loe, kan sesuai perjanjian" ucap Fandi lagi yang tak kalah santainya.


"Tapi gue benar-benar belum siap buat menikah dengan Rara" ucap Rafa.


"Siap nggak siap loe harus tetap menikah dengan Rara, ayah loe pasti tidak main-main dengan kata-katanya dan juga keinginannya" ucap Fandi.


"Iya bentar gue balik, ribut banget loe kayak emak-emak" ucap Rafa lalu tertawa.


"Sembarangan loe kalau ngomong, gue ganteng gini juga, udah ahh mau pulang gue" ucap Fandi lalu berjalan keluar kos Rafa.

__ADS_1


__ADS_2