
"Kenapa tidak langsung kamu bawah saja dia, akhirnya dia bertemu Aldi kan" ucap Rafa kesal.
"Saya hanya takut di tuduh penculik tuan, karena tidak mungkin saya bilang kalau saya adalah pengawal tuan, bukannya tuan tidak mau di tahu identitasnya" ucap pria itu mengingatkan Rafa.
"Hem kamu bisa cari alasan lain kan biar dia tidak curiga" ucap Rafa tak mau kalah.
"Maafkan saya tuan" ucap pria itu.
"Baiklah saya maafkan, kamu pulang saja kalau begitu, biar Rara bersama Aldi dulu tidak mungkin saya pergi langsung ke tempatnya bisa-bisa Rara curiga darimana saya mengetahuinya" perintah Rafa.
Rafa benar-benar tidak mau kalau sampai Rara mengetahui identitasnya atau Rara curiga kepada Rafa.
"Dia tidak kenapa-kenapa kan tadi?" tanya Rafa.
"Tidak tuan, dia sudah di pakaikan payung oleh Aldi dan juga jaket"
"Sialan" ucap Rafa.
"Ya sudah kamu pulang saja kalau begitu, Ayah saya tidak tahu mengenai yang terjadi ini kan?" tanya Rafa.
"Tidak tuan"
"Baguslah" ucap Rafa lega karena Ayah Rafa tidak mengetahui tentang kepergian Rara.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan Rafa yang kembali ke rumahnya sendiri bukan ke rumah Rara lagi.
#####
Di rumah Aldi.
Rara sudah di periksa dengan dokter dan di berikan obat agar Rara tidak sakit besoknya.
Rara hanya menatap heran saja, dia tidak pernah di perlakukan seperti itu, karena biasanya kalau Rara terkena hujan dan mengakibatkan dia tidak enak badan, dia hanya minum obat warung saja, dan setelah itu sembuh, tapi kali ini berbeda dia di periksa dengan sangat serius dan di berikan obat pada dokter padahal dia belum merasakan hal-hal aneh seperti akan sakit pada tubuhnya.
Setelah dokter pamit pulang, Aldi pun kembali ke kamar Sesil.
"Istirahatlah" ucap Aldi dengan lembut.
"Emm Aldi gue mau tanya" ucap Rara.
Aldi pun mengernyitkan keningnya.
"Tanya apa?"
"Apa gue harus meminum semua obat itu?" tanya Rara sambil melihat obat-obat itu lalu bergidik ngeri.
"Iya dong Rara, loe takut yah?" tanya Aldi penuh selidik.
"Nggak kok hanya bukannya obat itu terlalu kebanyakan?"
__ADS_1
"Banyak sih tapi itu untuk kesehatan loe juga, jadi loe harus minum yah, nggak boleh kalau tidak. Ingat besok loe mau masuk kerja dan kuliah pasti kan, jadi loe harus sehat selalu" ucap Aldi.
"Iya Aldi, terima kasih yah" ucap Rara.
"Iya Rara tidak usah mengucapkan terima kasih terus, minumlah obat itu lalu loe istirahat yah" ucap Aldi.
"Iya Aldi"
Aldi pun segera ke luar dari kamar Rara dan segera menuju kamarnya juga.
Pagi harinya, Rara bangun pagi sekali, dia pun segera ke luar kamar untuk melihat-lihat sambil menunggu Aldi bangun.
Para pelayan begitu hormat kepada Rara karena mereka melihat bahwa Aldi baru membawa pulang seorang wanita di rumahnya itu, Aldi tidak pernah membawa pulang seorang wanita baru Rara yang dia bawa pulang. Jadi sudah berarti bahwa Rara itu orang yang spesial.
Rara pun hanya tersenyum canggung.
"Dapurnya dimana?" tanya Rara pada akhirnya kepada kepala pelayan yang sedang berjalan ingin melewatinya.
"Buat apa nona?" tanya kepala pelayan itu sambil menghentikan langkah kakinya.
"Emm aku mau memasak buat Aldi, dia sudah sangat baik padaku, jadi aku akan balas perbuatan Aldi, yah walaupun cuma memasak saja sih, tapi aku benar-benar ingin membalas perbuatan baiknya padaku" ucap Rara tulus.
Kepala pelayan itu pun tersenyum.
"Nona tidak perlu melakukan itu, Nona bisa menunggu saja kita menyiapkan semuanya dan kalau kebaikan tuan muda, Nona tidak perlu terlalu memikirkan itu semua, karena tuan muda memang begitu orangnya nona dia memang sangat baik"
Kepala pelayan itu memang sudah di pesan dengan Aldi agar tidak membiarkan Rara kerja sedikit pun, dia harus duduk santai saja selama di rumahnya.
Kepala pelayan itu pun berpikir sejenak.
Tidak apa-apa kali yah, lagian kan Nona Rara hanya lihat-lihat saja batin kepala pelayan itu.
"Boleh yah?" tanya Rara dengan wajah memohonnya.
"Tentu saja boleh nona" ucap kepala pelayan itu lalu tersenyum.
"Ayo ikutlah denganku" ajak kepala pelayan itu.
Rara pun segera mengikutinya menuju ke dapur.
Ya ampun bagaimana bisa mereka tidak tersesat berada di dalam rumah ini, kalau aku pasti sudah tersesat, sekarang ajah aku benar-benar bingung. Heem untung aku tinggal di rumah yang sempit nggak akan membuatku bingung batin Rara.
Begitu sampai di dapur para pelayan lain ikut tersenyum dan menyapa Rara begitupun Rara. Kemudian mereka melanjutkan aktivitasnya dengan Rara yang memperhatikan mereka dengan tatapan kagum karena para pelayan itu bekerja dengan sangat rapi dan juga cepat.
Rara bingung semua sarapan itu untuk siapa saja, karena Rara tidak melihat keluarga Aldi semenjak datang yang dia lihat hanya pelayan saja yang berada di rumah Aldi.
"Ini sarapannya untuk siapa saja, apakah keluarga Aldi baru datang sebentar atau mereka masih tidur karena aku tidak melihat siapa-siapa semenjak datang selain kalian?" tanya Rara kepada kepala pelayan dengan penasarannya.
Kepala pelayan itu pun lagi-lagi tersenyum setelah mendengar pertanyaan dari Rara.
__ADS_1
"Ini itu sarapan buat tuan muda, buatmu dan juga buat semua yang kerja di rumah ini itulah banyak, kalau keluarga tuan muda sedang berada di luar Negeri Nona, dan mereka adalah orang yang baik makanya kami sangat betah bekerja di rumah ini, apalagi tuan muda sangat baik"
"Nona tahu wanita yang pertama datang kesini adalah Nona selain saudara perempuan tuan muda" ucap kepala pelayan itu lagi.
"Begitukah, apa dia tidak memiliki kekasih?" tanya Rara penasaran.
"Tidak Rara, diriku ini jomblo" ucap Aldi tiba-tiba dan membuat Rara serta yang berada disitu tersentak kaget begitu mendengar suara Aldi dari arah belakang mereka.
"Sudah kalian nggak usah kaget begitu karena kedapatan bergosip" ucap Aldi sambil mengambil air minum dari dalam kulkas lalu meminumnya.
"Apa loe marah Aldi?" tanya Rara dengan wajah merasa bersalahnya yang membuat Aldi langsung tersenyum setelah meneguk air minumnya.
"Nggak dong mana bisa gue marah sama loe" ucap Aldi sambil memeriksa suhu tubuh Rara dengan menempelkan telapak tangannya ke jidat Rara.
"Nggak panas, syukurlah" ucap Aldi lalu memegang tangan Rara dan berjalan ke luar dapur, untuk menunggu sarapan di meja makan saja dan Rara pun hanya mengikut.
Para pelayan hanya bisa senyum-senyum melihat kelakuan tuan mudanya itu.
#####
"Rara kerjaan loe itu hanya menjadi asisten pribadiku saja, jadi loe hanya perlu mengikuti gue kemanapun gue pergi" ucap Aldi di dalam mobil yang sedang mengantar Rara ke kampus.
Rara pun tampak terkejut karena dia tidak memiliki pengalaman menjadi asisten pribadi sebelumnya.
"Aldi apa loe nggak salah, gue nggak punya pengalaman sedikit pun" ucap Rara.
"Nggak kok malahan gue yakin banget dan mulai sekarang loe sudah di terima kerja, jadi loe harus bersama gue terus" ucap Aldi.
"Oh begitu yah. Baiklah"
Aldi pun tersenyum bahagia.
#####
Di kampus Rafa sudah menunggu Rara sejak tadi, Rafa yakin Rara pasti datang ke kampus.
Dia pun melihat mobil Aldi yang membuat Rafa berdecak kesal.
Rara dan Aldi juga sudah melihat Rafa.
Rara menyuruh Aldi tidak usah turun biar dia menyelesaikan masalahnya dengan Rafa. Aldi pun menurut dan masih terus memperhatikan Rara yang sedang berjalan.
Rara sudah berpikir pasti Rafa sengaja menunggunya karena dia pergi dari rumahnya semalam tanpa bilang-bilang. Walaupun Rara juga masih ragu, apa mungkin Rafa memikirkan itu atau tidak.
Rafa segera pergi menarik tangan Rara, membawanya menjauh dari mobil Aldi, karena Rara berjalan terlalu lama.
Mereka pun tampak berbicara sedangkan Zahra, Fania dan Gracia baru datang dan mereka melihat itu termasuk Gracia.
Loh itu kan Rafa batin Gracia.
__ADS_1
"Nah itu Gracia cewek yang gue jengkel banget, dan itu pacarnya Rafa yang gue kejar-kejar" ucap Zahra.