Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Rumit banget yah


__ADS_3

"Heem masa sih hanya gara-gara itu doang" Ucap Fandi seperti masih belum yakin.


"Emang iya terus mau gara-gara apa lagi coba" Ucap Rara.


"Tapi sebelum dari toilet mood dia nggak semengerikan itu" Ucap Fandi.


"Yah nggak tahu juga sih Fandi" Ucap Rara bingung.


"Loe ketemu Rafa nggak tadi di toilet?" Tanya Fandi.


"Iya ketemu sih" Jawab Rara.


Baru Fandi mau bicara lagi tiba-tiba dosen masuk dan membuat Fandi tidak jadi berbicara karena perhatian Rara sudah pada dosen sedangkan Zahra sudah duduk ke tempat lain di dekat Fania dan jauh dari Rafa.


Rafa kenapa yah marah-marah seperti itu, tapi Rafa kalau marah mengerikan juga yah batin Rara.


Rafa pun hanya melihat Rara saja yang duduk di depan berdekatan dengan Fandi tanpa memperdulikan Zahra yang sedang kesal dan juga merasa malu.


Rafa kok bisa setega itu sih sama gue padahal dulu dia begitu mengemis cinta dari gue batin Zahra.


Dosen pun memulai ujian final di ruangan mereka, Zahra benar-benar tidak tahu mau mengisi apa sedangkan Fandi, Rara dan Rafa santai saja mengerjakan semua soal itu.


Setelah selesai final, Rafa pun langsung menghubungi Gracia. Sedangkan Zahra sudah pulang duluan di paksa oleh Fania, karena Fania tidak mau melihat Zahra yang lagi-lagi akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Halo sayang" Ucap Gracia langsung begitu mengangkat panggilan telfon dari Rafa yang sudah di tunggu-tunggunya sejak tadi.

__ADS_1


"Iya halo sayang, kamu lagi di mana sekarang?" Tanya Rafa.


Ucapan Rafa itu masih terdengar jelas di telinga Rara begitupun dengan Fandi karena keadaan kelas yang sudah sunyi, tinggal mereka bertiga saja yang belum keluar karena Rara masih menunggu Rafa yang keluar duluan sedangkan Fandi masih menunggu Rara juga untuk keluar bersama.


"Aku lagi di rumah sepupu aku sayang, kamu lagi dimana?" Tanya Gracia.


"Aku lagi di kampus sekarang sayang lagi final tapi udah selesai, sekarang saja kita keluar jalan-jalannya, alamat rumah sepupu kamu dimana nanti aku jemput" Ucap Rafa.


Sebaiknya aku ketemu dengan Rafa di tempat lain ajah jangan disini, ini kan rumah Zahra dan kalau mereka bertemu bisa gawat walaupun Zahra belum tahu juga tentang Rafa tapi tetap ajah bahaya, malas banget kalau mesti saingan sama sepupu sendiri dan kalau Zahra tahu Rafa ini adalah orang yang dia tunggu-tunggu juga, bisa-bisa dia mengancam aku atau bahkan langsung membongkar rahasia aku sama Rafa demi keuntungan pribadi dia batin Gracia yang sudah mengetahui betul sifat Zahra.


"Biar aku ajah yang ke kampus kamu sayang, kamu nggak usah repot-repot kesini lagian aku nggak mau di kira cewek manja loh sama kamu" Ucap Gracia.


"Nggak kok sayang, aku nggak mungkin berpikiran kamu itu cewek manja dan aku nggak akan merasa repot sama sekali, jadi sebutin ajah alamat sepupu kamu biar aku jemput" Ucap Rafa lagi.


"Nggak usah sayang biar aku saja yang ke kampus kamu, sebutin alamat kampus kamu dimana biar aku kesitu naik taksi online ajah" Ucap Gracia.


Mereka mungkin satu kampus tapi nggak mungkin satu jurusan kan jadi santai ajah Gracia, hanya nggak boleh saja kamu sampai di lihat oleh Zahra batin Gracia.


"Emm ya sudah sayang aku kesana sekarang yah, nanti aku hubungi kalau udah sampai disana" Ucap Gracia lagi.


"Iya sayang kamu hati-hati yah, oh iya ada yang mau aku bilang sama kamu sebelumnya" Ucap Rafa.


"Apa sayang?" Tanya Gracia.


Rafa pun melihat Rara dan berjalan keluar dari dalam ruangan karena tak ingin di dengar oleh Rara pembicaraannya. Rafa keluar tanpa menoleh lagi kepada Rara dan juga Fandi, sedangkan Rara hanya melihat Rafa yang keluar dengan tatapan yang benar-benar sakit dan Fandi melihat serta menyadari itu semua tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berada terus di dekat Rara karena semuanya Rara yang inginkan, Rara yang menyuruh Fandi agar mengerti dengan keputusannya.

__ADS_1


"Gini sayang aku tuh ke kampus naik motor karena aku lagi menyembunyikan identitas aku, nggak apa-apakan kalau kita jalan menggunakan motor ajah?" Tanya Rafa.


Ya ampun aku malas banget bisa-bisa kulit aku gosong kalau kena sinar matahari dan belum lagi debu-debu oh my god, tapi kalau aku bilang nggak mau pasti dia akan berpikiran kalau aku cewek yang hanya memandang hartanya saja dan nggak mau susah dengan dia, padahal emang iya sih tapi gue harus selalu bersikap bagai malaikat sama dia batin Gracia kesal.


"Tentu saja nggak apa-apa sayang malahan aku sangat bahagia kalau naik motor berdua dengan kamu sayang, biar makin romantis kan" Ucap Gracia sambil berusaha seperti tidak apa-apa sama sekali jika naik motor.


"Kamu memang wanita yang pengertian sayang" Ucap Rafa namun ucapan Rafa itu di dengar oleh Fandi dan Rara yang sudah berjalan keluar dari ruangan.


Oh jadi Gracia itu wanita yang pengertian, mungkin selama ini aku nggak pengertian sama Rafa, selalu merepotkan dia makanya dia tidak bisa mencintai aku seperti dia mencintai Gracia, kenapa sih rasanya sakit banget ya Allah, mendengar orang yang sangat kita cintai memuji wanita lain padahal sebenarnya Rafa masih suami aku batin Rara yang benar-benar merasakan sakit pada hatinya namun dia juga tidak bisa berhenti mencintai Rafa, jadilah Rara menjadi wanita yang pura-pura tidak tersakiti dengan sikap Rafa kepada dirinya.


"Rafa" Teriak Fandi sambil berjalan mendekati Rafa.


Rafa pun sedikit tersentak mendengar teriakan Fandi.


"Sayang udah dulu yah, aku di panggil teman nih, kamu hati-hati yah kalau kesini" Ucap Rafa kemudian langsung menutup panggilan telfonnya dengan Gracia.


"Kenapa?" Tanya Rafa begitu dia sudah menyimpan ponselnya.


"Loe yang kenapa Rafa memanggil wanita lain dengan panggilan sayang-sayang dan di dengar sama istri loe, sadar nggak sih loe kalau itu bisa menyakiti perasaan Rara walaupun nantinya kalian bakalan cerai atau jangan-jangan semua yang terjadi ini karena wanita lain yah" Ucap Fandi yang sebenarnya mengira bahwa yang telfonan dengan Rafa itu pastilah Gracia.


"Fandi udah ini bukan salah Rafa dan semua yang terjadi ini bukan karena wanita lain tapi sudah menjadi keputusan gue, lagian wajar kok kalau Rafa begitu kepada wanita lain mungkin saja itu orang yang sangat di cintai Rafa, kita menikah kan bukan karena cinta jadi kalau gue dan Rafa cerai nanti dia bisa menikah dengan wanita itu" Ucap Rara yang masih terus membela Rafa walaupun hatinya hanya Allah dan dia yang tahu betapa sakitnya itu semua.


Rara maafin aku batin Rafa karena melihat wajah Rara, Rafa tahu kalau hati Rara pastilah sangat sakit sekarang tapi mau bagaimana lagi, dia memang harus begitu agar Rara menjauh darinya karena dia bersama Gracia.


"Rumit banget yah tapi kok aku bahagia melihat dan mendengar semuanya" Ucap Aldi pada dirinya sendiri sambil tersenyum.

__ADS_1


Yah semua pembicaraan mereka di dengar oleh Aldi. Aldi segera berjalan menuju ke Rara dengan tersenyum bahagia.


__ADS_2