
"Kenapa kita harus baik sama dia sih, loe tahukan itu hal yang sangat susah untuk gue lakukan," ucap Zahra kesal.
"Ya ampun gue juga sama kali Zahra, tapi ini itu memang harus kita lakukan, kita harus pura-pura baik sama dia biar kita bisa menjalankan rencana kita, kalau kita pakai cara kekerasan kita nggak akan menang karena Rara punya Rafa yang akan melakukan apapun untuk menjaga dia, jadi kita harus pakai cara lembut," ucap Fania.
"Gue benar-benar bingung dengan ide loe tahu nggak, ngapain juga gue mesti baik nggak menghasilkan apa-apa juga, malahan gue bakalan melihat mereka mesra-mesraan nanti, dan gue harus berpura-pura nggak kenapa-kenapa gitu, gue mana bisa," ucap Zahra yang belum menerima rencana Fania.
"Loe harus bisa, loe bayangin ajah kalau kita udah bisa mendapatkan kepercayaan Rara dan juga Rafa beserta Fandi, kita akan mudah membuat rumah tangga Rara dan Rafa hancur bahkan kita mau mencelakai Rara pun akan banyak peluang buat kita," ucap Fania yang membuat Zahra tampak berpikir baik-baik karena memang ada benarnya juga yang di katakan Fania, kalau dia bisa di percaya maka akan mudah dia melakukan semuanya tapi dia juga benar-benar sangat susah untuk baik pada Rara, karena kebencian Zahra pada Rara benar-benar susah untuk di rubah, Zahra jika melihat Rara bawaannya ingin menghina Rara terus.
"Setuju nggak loe?" tanya Fania.
"Iya deh gue setuju demi mendapatkan Rafa gue setuju ajah," ucap Zahra.
"Oke bagus, jadi kita mesti belajar dari sekarang untuk baik kepada Rara," ucap Fania.
"Iya, loe bisa kan bermuka dua sama dia?" tanya Zahra.
"Bisa banget gue, loe itu yang mengkhawatirkan tahu nggak, jangan sampai rencana kita rusak hanya gara-gara loe yang nggak bisa mengontrol emosi loe," ucap Fania yang tahu betul dengan sifat Zahra.
"Bisa kok gue, tinggal gue ingat ajah ini semua gue lakukan buat Rafa jadi gue pasti bisa," ucap Zahra.
"Oke deh kalau loe berpikiran begitu bagus banget," ucap Fania.
"Jadi kapan kita lakukan itu?" tanya Zahra.
"Ngapain lagi loe nanya itu sudah jelas kalau bukan dalam waktu dekat ini, kita lagi libur sekarang dan juga loe lagi kena masalah gini," ucap Fania.
"Sekarang kita lagi libur kuliah kan, jadi nanti masuk kuliah lagi baru kita mulai rencana kita, dan gue yakin sih mungkin Rafa nggak kuliah lagi kan dia udah ungkap identitas dia" ucap Fania.
__ADS_1
"Yah gue nggak tahu lagi masalah kuliah ini, apa gue bisa lanjut atau nggak, loe tahukan masalah gue ini, kayaknya gue nggak lanjut kuliah lagi, dan loe benar juga kayaknya Rafa nggak bakalan melanjutkan lagi kuliahnya, dia bakalan memimpin perusahaan kan" ucap Zahra.
"Nah itu dia yang bagus jadi kita bisa deketin Rara, berpura-pura baik sama dia, dan loe harus lanjut Zahra sayang banget tahu kita kan nggak lama lagi mau selesai," ucap Fania.
"Bahkan sekarang sudah pengajuan judul dan loe nggak mau lanjut, kita juga libur nggak lama ini," ucap Fania.
"Gue pengen lanjut tapi loe tahu sendirikan masalah gue ini, gue pasti udah di keluarkan dari kampus tahu nggak," ucap Zahra.
"Emang ayah loe nggak bisa bantu loe masalah kampus," ucap Fania.
"Gue telfon ayah gue dulu deh," ucap Zahra sambil mengambil ponselnya dan ingin menghubungi ayahnya tapi ayahnya duluan yang menelepon Zahra.
"Ayah gue nelfon duluan ternyata, ada apa yah," ucap Zahra lalu segera mengangkat panggilan telfon dari ayahnya.
"Halo ayah, ada apa?" tanya Zahra begitu dia sudah mengangkat panggilan telfon dari ayahnya.
"Ayah serius kampus itu milik keluarga Alexander?" tanya Zahra memastikan ulang, sedangkan Fania lagi-lagi terkejut mendengar kenyataan itu.
Pantas saja Rafa gampang berada di kampus itu batin Fania setelah mengingat-ngingat semuanya, Rafa yang hanya seorang pelayan bisa masuk dengan mudah di kampus bergengsi itu dan terbilang kampus itu tempat-tempatnya orang kaya, sedangkan Rara bisa masuk ke kampus itu melalui jalur beasiswa, itulah dia bisa kuliah di kampus itu tapi sebenarnya Rara juga bisa mendapatkan bantuan dari ayah Rafa hanya ayah Rafa tidak membantu Rara karena Rara berhasil masuk dengan usaha dia sendiri.
Fania menyesal tidak menyadari itu lebih awal malah dia terlambat menyadarinya.
"Iya Zahra, sejak kapan ayahmu suka bercanda, ucapkan saja selamat tinggal pada kuliahmu karena sekarang kamu sudah di keluarkan dari kampus itu dan ayah tidak bisa membantumu untuk tetap berada di kampus itu, alasannya sudah kamu tahu sendiri kan?" ucap ayah Zahra.
Setelah mengucapkan itu, Ayah Zahra segera menutup panggilan telfonnya dengan Zahra, dia benar-benar semakin pusing dengan masalah yang di buat anaknya.
"Fania gimana ini, aku benar-benar nggak bakalan lanjut kuliah lagi di kampus itu, aku di keluarkan secara tidak hormat dan lagi kalau aku masuk di kampus lain, sudah pasti tidak akan mudah," ucap Zahra semakin pusing.
__ADS_1
"Gimana juga sama rencana kita, gimana gue bisa dapatin Rafa kalau begini jadinya," ucap Zahra lagi.
"Tenang dulu Zahra, sebenarnya loe bisa masuk lagi di kampus itu dengan bantuan Rara," ucap Fania.
"Haa kok dengan bantuan dia sih, gue yakin dia bakalan sombong sama gue nantinya, atau bahkan dia bakalan menghina gue karena minta bantuan sama dia," ucap Zahra kesal.
"Zahra dia itu nggak sama kayak kita, dia itu bodoh tahu nggak, udah tenang ajah gue yakin loe bakalan masuk kampus lagi karena Rara, gue yang bakalan lakuin duluan rencana kita biar loe bisa masuk kampus, walaupun ini agak menyakitkan loe dengarnya tapi kalau Rafa mencintai Rara dia pasti lakukan apa yang Rara inginkan termasuk membuat loe masuk kembali ke kampus," ucap Fania.
Zahra terpaksa setuju dengan perkataan Fania.
#########
Pagi harinya
Rara yang sudah terbiasa bangun pagi langsung ke dapur begitu sudah selesai mencuci muka, Rara membiarkan Rafa tidur lebih lama, Rara akan membuat sarapan pagi dulu baru dia membangunkan Rafa.
Rara melihat mertuanya sudah berada di dapur juga.
"Mama," ucap Rara sambil tersenyum.
"Ehh menantuku, suami kamu mana?" tanya mama Rafa sambil tersenyum pada Rara.
"Dia masih tidur ma, Rara biarin ajah dulu dia tidur nanti sarapannya udah siap baru Rara bangunin," jawab Rara.
"Pasti sengaja yah biar nggak di gangguin," goda mama Rafa.
"Nggak kok ma," ucap Rara sambil membantu mertuanya membuat sarapan di temani dengan pelayan juga.
__ADS_1