
"Kalian itu ada-ada ajah,, Rafa itu biasa ajah kok nggak bucin sama aku," ucap Rara yang tidak menyadari sama sekali kalau Rafa itu sangat bucin padanya.
"Menurut penglihatan kita beda,, kak Rafa itu sangat bucin sama kak Rara," ucap Ana.
"Iya menurut aku juga begitu,, jadi ayo telfon dan aktifkan speaker ponselmu," ucap Citra juga.
"Hemm baiklah," ucap Rara yang akhirnya mengikuti kemauan Citra dan Ana. Dia segera menelepon Rafa.
Rara sebenarnya tidak enak mengganggu waktu kerja Rafa,, tapi dia juga memerlukan izin dari Rafa,, dan apabila dia sudah merayu Rafa tapi Rafa tetap tidak mengizinkan,, dia dengan terpaksa tidak ikut dan menunggu Citra dan Ana saja pulang dari belanja.
Rafa langsung melihat ponselnya begitu dia mendengar ponselnya berdering. Seketika dia tersenyum begitu melihat ternyata istrinya yang menelepon dirinya.
Tumben nih dia nelfon,, ada apa yah,, batin Rafa bertanya-tanya.
Rafa segera mengangkat panggilan telfon dari istrinya.
"Halo sayang, ada apa?" tanya Rafa begitu sudah mengangkat panggilan telfon dari Rara.
Ana dan Citra tampak senyum-senyum begitu mendengar ucapan Rafa kepada Rara,, karena Rara sudah mengaktifkan speaker ponselnya,, jadilah Citra dan Ana bisa mendengarkan ucapan Rafa.
Rara tampak ragu untuk meminta izin,, dia belum bersuara juga semenjak Rafa mengangkat panggilan telfon dari dirinya.
Rafa yang berada di kantornya mulai sedikit panik karena belum mendengar suara Rara,, dia benar-benar takut jika terjadi apa-apa pada istrinya,, walaupun tidak ada laporan macam-macam dari Aldi sejak tadi.
"Sayang kamu dengarkan suara aku?" tanya Rafa.
"Kenapa kamu nggak bersuara, kamu nggak kenapa-kenapakan sayang?" tanya Rafa lagi.
Rara pun tersadar dari lamunannya.
"Emm nggak kok," jawab Rara,, dan membuat Rafa merasa lega karena sudah mendengar suara istrinya.
"Terus kenapa diam sayang?" tanya Rafa.
"Kamu ada apa nelfon? tumben banget,, kamu pengen sesuatu bilang ajah sayang," ucap Rafa lagi.
__ADS_1
"Emm iya aku memang pengen sesuatu," ucap Rara.
Rafa langsung tersenyum begitu mendengar ucapan Rara.
Pantas saja dia diam,, pasti dia nggak enak lagi nih mau minta sesuatu sama aku,, hemm istriku,, istriku kok kamu begitu banget sih,, sementara semua yang aku punya ini milik kamu juga batin Rafa.
"Pengen apa sayang? bilang ajah," ucap Rafa.
"Atau kamu pengen anak yah,, nanti pulang yah baru kita bikin lagi," ucap Rafa yang membuat pipi Rara langsung merona sedangkan Citra dan Ana hanya senyum-senyum sambil menahan tawa mereka.
Apaan sih Rafa biar di telfon dia bahas itu juga,, kan malu sama Ana dan Citra,, batin Rara.
"Bukan itu ihh," jawab Rara.
"Lalu apa sayang?" tanya Rafa lagi.
"Aku pengen keluar belanja bareng Ana dan Citra,, boleh yah sayang?" ucap Rara yang mulai menggunakan panggilan sayangnya pada Rafa.
Seketika itu senyum di bibir Rafa langsung hilang,, Rafa langsung diam karena sedang berpikir,, sedangkan Ana,, Citra dan juga Rara hanya saling pandang karena Rafa yang langsung diam.
Mengetahui Rafa yang langsung diam, membuat Rara benar-benar merasa pesimis bahwa dia akan di izinkan,, Rara sudah pasrah saja akan menunggu Ana dan Citra pulang dari belanja.
"Sayang kamu benar-benar pengen pergi?" tanya Rafa pada akhirnya setelah selesai berpikir dan menimbang-nimbang segala kemungkinan.
Seketika Rara tersenyum begitu mendengar pertanyaan Rafa.
"Iya aku pengen banget pergi,, bersama Ana dan juga Citra," jawab Rara.
"Kalian mau belanja apa memangnya,, biar aku sediakan saja semuanya," ucap Rafa.
"Mau yah sayang?" tanya Rafa lagi.
Ana dan Citra langsung memberikan isyarat agar Rara jangan mau,, karena mereka ingin pergi belanja sendiri dan memilih sendiri.
"Aku pengennya pergi belanja bersama Ana dan Citra sayang,, terus milih sendiri,, kita juga bosan berada di dalam rumah,, jadi kita berniat untuk pergi belanja,, kalau kamu menyiapkan semuanya,,, jadi nggak bisa dong menghilangkan kebosanan kita," ucap Rara.
__ADS_1
Rafa tampak berpikir lagi.
"Boleh yah sayang?" rayu Rara lagi.
"Aldi dimana sekarang?" tanya Rafa.
"Lagi di kamarnya,, dia lagi istirahat kan baru keluar dari rumah sakit," jawab Rara.
Hemm iya juga yah,, nggak mungkin aku menyuruh Aldi untuk menjaga Rara sedangkan dia baru keluar dari rumah sakit,, batin Rafa yang hendak menyuruh Aldi tadi untuk menemani Rara, Ana dan Citra belanja.
"Ya udah boleh,," ucap Rafa.
Rara langsung bahagia begitu mendengar Rafa mengizinkan dia,, begitupun dengan Ana dan Citra ikut senang.
"Tapi harus ada bodyguard yang menjaga kalian yah, aku nggak mau kalian pergi bertiga ajah,, kalian itu wanita semua,, jadi aku nggak mau kalau sampai terjadi apa-apa,, apalagi sama kamu sayang," ucap Rafa yang membuat Rara,, Ana dan Citra langsung kehilangan kesenangan mereka.
"Sayang kita nggak bebas dong kalau pakai bodyguard,, dan juga pasti di lihatin,, di ikutun,,,, hemm nggak usah yah sayang,, lagian kita nggak bakalan kenapa-kenapa kok sayang,, kan disana ramai,," ucap Rara lagi.
Iya aku mikirin itu kok istriku,, tapi keselamatan kamu jauh lebih penting,, batin Rafa.
"Mereka dari jarak jauh kok sayang ngawasinnya,, aku hanya nggak mau terjadi apa-apa saja,, kita nggak tahu ada berapa orang yang sedang merencanakan rencana jahat,, jadi aku harus selalu berjaga-jaga,, kamu juga bakalan jalan-jalan bebas kok sayang tapi nanti kalau sekarang jangan dulu yah masih kurang aman," ucap Rafa lagi.
"Mau yah?" tanya Rafa lagi.
"Iya aku mau kok sayang,," ucap Rara pada akhirnya,, yang mengerti dengan kekhawatiran Rafa pada mereka semua.
"Oke sayang aku izinin,, tapi kalian izin sama Aldi dulu yah,, jangan sampai Aldi pusing mencari kalian nanti," ucap Rafa.
"Iya itu sudah pasti kita akan izin dulu," ucap Rara.
"Baguslah,, hati-hati yah,, pakai saja kartu yang ada di dompetmu,, pokoknya harus pakai itu jangan pakai uangmu,," ucap Rafa lagi yang tahu betul sifat Rara.
Rara sedikit terkejut begitu mendengar ucapan Rafa,, karena sejak tadi rencana dia akan memakai uangnya sendiri yang dia punya selama ini untuk belanja kalau ada yang ingin dia beli,, karena dia juga sebenarnya hanya ingin jalan-jalan saja menemani Citra dan Ana untuk menghilangkan kebosanan dan supaya lebih akrab lagi dengan Citra dan Ana.
"Sejak kapan ada kartu di dompetku?" tanya Rara karena dia tidak pernah melihat Rafa menyimpan kartu di dompetnya.
__ADS_1