
"Apa kamu yakin itu Gracia yang telah meninggal?" tanya Fandi kepada anak buahnya.
"Iya tuan itu memang Gracia, pihak rumah sakit sendiri yang konfirmasi bahwa itu Gracia, dia menyetir mobil sambil mabuk dan akhirnya dia kecelakaan yang mengakibatkan dia meninggal dunia," jawab anak buah Fandi.
"Haa dia mabuk?" tanya ulang Fandi.
"Iya tuan,"
"Terus kenapa selama ini dia sangat susah untuk di temukan padahal dia masih ada waktu untuk mabuk-mabukan," ucap Fandi yang merasa seperti masih ada yang janggal dengan kabar kematian Gracia.
"Dia baru menunjukan dirinya tuan dengan keluar mabuk-mabukan, kami baru mau menangkapnya tapi dia sudah duluan kecelakaan," ucap anak buah Fandi.
"Apa kalian yakin banget itu Gracia yang sedang mabuk-mabukan?" tanya Fandi lagi.
"Iya tuan itu memang dia, dan dia juga tidak menyadari kita tuan mungkin karena dia merasa jauh dari Indonesia makanya dia akhirnya keluar lalu mabuk-mabukan, kami memantaunya di kota tempat ayahnya tinggal, tapi tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan sama sekali dari ayahnya, bahkan dia masih masuk kantor seperti biasanya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali, jadwalnya juga kita tahu, dan Gracia berada jauh dari tempat tinggal ayahnya ternyata, ayahnya tidak tahu apa-apa tentang masalah Gracia yang terakhir ini, bisnis gelapnya juga bukan dia lagi yang pegang tuan, tapi sudah orang lain padahal rencana awalnya kita mau mendapatkan dia lewat transaksi bisnis gelapnya," ucap anak buah Fandi.
"Gracia sudah mengatur semuanya sehingga sangat susah menemukan dia, tapi sayangnya begitu kita sudah tahu keberadaannya dan ingin menangkapnya, dia malah mabuk-mabukan lalu kecelakaan dan akhirnya meninggal," ucap anak buah Fandi lagi.
"Siapa yang pegang bisnis gelapnya?" tanya Fandi.
"Anak buahnya yang sudah bersama dia sangat lama, kita tidak bisa sama sekali mengorek informasi mengenai Gracia sama anak buahnya waktu itu, sepertinya dia sudah sangat waspada karena tahu untuk segala kemungkinan yang terjadi, dia mencurigai semua orang," jawab anak buah Fandi lagi.
"Kamu sudah melihat wajahnya, kamu benar-benar sudah yakin itu Gracia?" tanya Fandi lagi.
"Iya tuan sebelum keluarganya datang aku sudah duluan melihatnya, karena aku ada di belakang mobil Gracia," jawab anak buah Fandi lagi.
"Oke kamu sebaiknya jangan balik dulu, teruslah melihat perkembangan yang terjadi disana, pastikan baik-baik kalau itu memang Gracia," perintah Fandi.
"Aku tutup dulu telfonnya," ucap Fandi lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan anak buahnya.
Fandi segara ke ruangan Rafa, untuk memberitahukan tentang berita yang baru dia dengar mengenai Gracia, sebenarnya Juan masih sedikit tidak percaya tapi sudah begitulah pemberitahuan dari anak buahnya.
Fandi mengetuk pintu terlebih dahulu lalu segera masuk ke dalam ruangan Rafa. Rafa melihat ada ekspresi wajah yang tidak biasanya dari Fandi.
"Ada apa Fandi, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" tanya Rafa sambil menghentikan aktivitasnya.
"Rafa kamu harus tahu kalau sekarang Gracia sudah meninggal," ucap Fandi yang membuat Rafa juga terkejut.
__ADS_1
"Meninggal?" tanya Rafa ulang.
"Iya meninggal, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan, dia mabuk sambil menyetir dan akhirnya kecelakaan, nyawanya tidak tertolong akibat kecelakaan itu," jawab Fandi.
Rafa terdiam sebentar.
"Apa itu benar-benar Gracia?" tanya Rafa.
"Iya, anak buahku bilang itu benar-benar Gracia dia sudah memastikan semuanya, bahkan pihak rumah sakit mengatakan jika itu Gracia," jawab Fandi.
"Masa wanita seperti Gracia meninggal hanya karena mabuk, sebanyak apa minuman yang dia minum sampai-sampai dia mabuk dan mengalami kecelakaan, bukannya dia itu wanita yang sudah bersahabat baik dengan minuman," ucap Rafa.
Fandi yang ingin berbicara tiba-tiba mendapatkan telfon lagi dan ternyata itu dari anak buahnya. Fandi dengan segera mengangkat panggilan telfon dari anak buahnya.
"Iya ada informasi apa?" tanya Fandi langsung.
"Gracia juga mengonsumsi obat-obatan terlarang dengan dosis yang sangat tinggi," ucap anak buah Fandi.
"Ada lagi?" tanya Fandi.
"Tidak ada lagi tuan," jawab anak buah Fandi.
"Baik tuan," ucap anak buah Fandi.
Fandi segera menutup panggilan telfonnya dengan anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Rafa begitu dia melihat Fandi sudah menutup panggilan telfonnya.
"Gracia juga mengonsumsi obat-obatan terlarang dengan dosis yang sangat tinggi," jawab Fandi.
"Itu juga pasti salah satu penyebab kematiannya," ucap Fandi.
"Haa kenapa dengan wanita itu, apa dia memang sudah mempunyai niatan untuk mengakhiri hidupnya dan mengonsumsi obat-obatan terlarang dengan dosis yang tinggi," ucap Rafa heran sendiri.
"Itu juga yang aku bingungkan, apa karena dia terlalu patah hati kamu tinggal hingga menjadi seperti itu," ucap Fandi.
"Ya ampun itu nggak mungkin, udahlah nggak usah mikirin dia, tapi suruh saja anak buahmu untuk memastikan baik-baik, dan kalau memang Gracia telah tiada beneran, syukurlah aku sangat bahagia," ucap Rafa.
__ADS_1
"Tega banget kamu, tapi aku juga senang sih," ucap Fandi lalu tertawa.
"Kamu itu sangat berdosa," ucap Rafa.
"Kamu juga, kan kamu yang mulai," ucap Fandi.
"Udahlah kita sama ajah," ucap Rafa.
"Apa kita perlu memberitahukan Aldi kabar tentang Gracia, kamu tahukan Aldi juga sempat jadi korbannya Gracia," ucap Rafa lagi.
"Iyalah kita perlu memberitahukan Aldi, karena dia juga pasti sangat bahagia setelah mendengar kabar ini dan kamu tahukan gimana Aldi juga sangat tidak menyukai Gracia," ucap Fandi.
"Iya aku tahu, makan siang sebentar aku akan ke rumah Aldi, kamu juga harus ikut," ucap Rafa.
"Tumben kamu yang bucin ini tidak makan siang dengan istri malah makan siang di rumah Aldi," ledek Fandi.
"Iyalah aku mau makan siang di rumah Aldi, karena disana ada istri aku," ucap Rafa sambil tersenyum.
"Hemm ternyata ada Rara disana, pantas saja," ucap Fandi.
"Kapan Rara ke rumah Aldi?" tanya Fandi.
"Tadi pagi, kamu ikut kan ke rumah Aldi?" tanya Rafa.
"Iyalah, kan makan siang gratis jadi aku pasti ikut ke rumah Aldi," jawab Fandi sambil nyengir.
"Kamu itu punya banyak uang, sok senang makan gratis, padahal sebenarnya kamu mau mendekati Citra kan, ayo jujur kamu," goda Rafa pada Aldi.
Fandi langsung bergidik ngeri, Fandi sangat tidak menyukai Citra.
"Aku nggak pernah ada niat sedikitpun untuk mendekati Citra," ucap Fandi.
"Udah ahh aku mau balik kerja, selamat bekerja juga untuk bos, fokus kerja dulu jangan mikirin istri melulu" ucap Fandi lalu segera berjalan keluar dari ruangan Rafa.
Rafa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Fandi lalu segera melanjutkan lagi aktivitasnya.
##########
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
"Selamat datang dunia baru, wajah baru, identitas baru," gumam Gracia sambil bercermin dan tersenyum licik.