Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Jadi apa rencana loe?


__ADS_3

"Dia memang cantik," ucap pria itu sambil tersenyum.


#########


Fandi akhirnya sampai di rumah sakit.


"Ehh Ana kamu belum pulang?" tanya Fandi begitu melihat Ana masih setia menjaga kakaknya dan Aldi juga belum tidur.


"Kak Fandi udah datang," ucap Ana senang karena dia sudah bisa pulang begitu Fandi datang.


"Iya belum pulang nih kak, aku memang sengaja menunggu kak Fandi datang baru aku pulang, kan kasian kalau kak Aldi sendirian disini, pasti dia jadi tambah kesepian," ucap Ana.


"Kan banyak penjaga di luar suruh ajah masuk dua orang biar Aldi nggak kesepian," ucap Fandi sambil menahan tawanya.


"Mereka nggak asik kali, kan mereka datar semua percuma saja kalau mereka ada di dalam sini, malah semakin sepi" ucap Aldi.


"Udah ahh nggak usah ribut kalian, aku mau pulang dulu sekarang," ucap Ana sambil mengambil tas dan ponselnya yang berada di sofa.


"Ana apa perlu aku antar?" tanya Fandi.


"Emm nggak usah kak, kasian loh kak Fandi baru datang ehh mau pergi lagi mengantar aku, aku bisa kok pulang sendiri kak, lagian kan ada sopir juga, jadi bisa pulang sendiri dengan pak sopir," ucap Ana.


"Iya Fandi nggak usah khawatirin si Ana, dia itu bisa balik sendiri," ucap Aldi walaupun di dalam hatinya dia juga selalu mengkhawatirkan adiknya tapi dia tidak pernah menunjukannya.


"Ya udah kamu hati-hati yah dek," ucap Fandi.


"Oh iya kemana tuh teman kamu yang ngeselin itu?" tanya Fandi pada Ana.


Orang yang dia maksud adalah Citra.

__ADS_1


"Citra kak?" tanya Ana.


"Mungkin, aku lupa namanya," ucap Fandi.


Ana dan Aldi langsung menggelengkan kepalanya, Aldi tahu betul Fandi akan bersikap seperti itu pada orang yang dia tidak suka sama sekali.


"Dia udah balik duluan kak, jadi dia lagi di rumah sekarang," ucap Ana.


Ana mengerti yang di maksud Fandi adalah Citra, Ana melihat Fandi sangat tidak suka pada Citra, tapi Ana juga mengerti kenapa Fandi bisa bersikap seperti itu pada Citra, karena Citra memang menjengkelkan.


"Oh gitu yah, kamu jangan terlalu dekat sama wanita kayak dia, yah boleh sih kamu dekat hanya kamu nggak boleh mengikuti sifat dia," ucap Fandi.


"Iya kak nggak bakalan sih aku mengikuti sifat dia, aku mengerti kok kak Fandi itu nggak suka banget sama dia karena dia emang menjengkelkan sih, aku ajah heran kenapa dia seperti itu," ucap Ana.


"Baguslah, ya udah kamu pulang sana, ini udah mau larut, hati-hati yah," ucap Fandi lagi.


Aldi dukung-dukung saja apa yang di katakan Fandi kepada Ana, karena Aldi tahu pasti semua itu sudah Fandi pikirkan.


"Beres kak, aku balik dulu," ucap Ana lalu segera ke luar dari ruang rawat Aldi dan berjalan menuju mobil.


########


"Zahra gue mau balik ke rumah gue dulu deh, masa gue harus sembunyi juga sih, malas banget," ucap Fania.


Zahra tidak jadi ke luar Negeri dan dia lebih memilih untuk bersembunyi saja sampai gosip itu menghilang dengan sendirinya.


"Ehh enak ajah loe, pokoknya loe disini ajah, gue malas banget kalau sendiri dan juga loe pasti akan di tanya-tanya tentang gue, mau loe di kejar-kejar wartawan, kan loe pasti di tahu teman dekat gue," ucap Zahra.


"Duhh kenapa jadi gini sih, gue benar-benar malas Zahra kalau harus begini terus, gue kan pengen ketemu pacar gue juga, udah lama gue nggak ketemu dengan dia, gue juga pengen pergi belanja, dan masih banyak lagi yang mau gue lakukan, masa gue harus tinggal begini sih, sia-sia banget hidup gue tahu nggak kalau gitu," ucap Fania.

__ADS_1


"Ya ampun Fania ini hanya sementara ajah kok kita dalam persembunyian nanti setelah itu kita keluar lagi, yah walaupun nanti pasti tetap saja ada yang menghina gue tapi setidaknya tidak akan separah sekarang, kalau sekarang loe harus temani gue disini, gue nggak mau sendiri dan kita bisa menyusun rencana lagi buat balas Rara," ucap Zahra.


Dan gue juga bakalan mikirin cara buat dapatin Rafa batin Zahra yang masih belum menyerah untuk mendapatkan Rafa meskipun telah beredar video tidak pantasnya.


"Gue malas banget Zahra kalau mesti menyusun rencana bareng loe tahu nggak, karena loe bawaannya mengikuti kemarahan loe dan akhirnya rencana gagal lagi, loe sadar nggak sih semua rencana loe itu sia-sia tahu nggak, sia-sia banget, seharusnya kalau mau buat rencana itu harus benar-benar matang" ucap Fania kesal.


"Gue bakalan ikuti rencana loe deh Fania, nggak usah gitu amat loe ngomongnya," ucap Zahra.


"Nanti gini ajah baru loe mau ikuti rencana gue, seharusnya dari dulu loe itu ikuti rencana gue, kalau sekarang kan kita nggak bisa menjalankan rencana kita karena mesti diam dulu begini, coba loe nggak membuat Rafa marah pasti nggak kayak gini kan," ucap Fania masih dengan kekesalannya pada Zahra karena memang benar yang dia katakan gara-gara Zahra yang terlalu mengikuti kemarahannya dan kecemburuannya pada Rara jadilah video Zahra menyebar, padahal Fania juga sebenarnya sangat kesal dan iri pada Rara tapi dia berusaha untuk menahannya karena dia tahu siapa yang dia hadapi.


Orang yang dia hadapi orang yang berpengaruh dan juga berkuasa, jadi Fania tahu kalau dia membutuhkan rencana yang sangat matang.


"Iya Fania gue salah, gue bakalan mengikuti rencana loe sekarang, udah deh nggak usah berisik dan marah-marah melulu, mau loe cepat tua dan pacar loe nggak suka lagi sama loe," ucap Zahra.


"Cari yang lain lah kalau dia nggak suka lagi sama gue, lagian gue udah tergetin Rafa, kalau gue bisa bersama dengan Rafa, gue bakalan dengan senang hati membuang pacar gue pada tempatnya," ucap Fania.


Zahra terlihat tidak terima dengan itu.


"Fania Rafa itu buat gue, loe nggak boleh mengincar Rafa, kalau gue dapatin Rafa gue nggak bakalan lupain loe, gue bakalan membuat loe senang juga loe tahukan gue nggak pernah lupain loe, jadi lebih baik loe bantuin gue untuk mendapatkan Rafa dan menyingkirkan Rara," ucap Zahra.


Fania tampak berpikir dan akhirnya menyetujui itu semua.


"Oke, gue bantuin loe buat dapatin Rafa," ucap Fania.


"Nah gitu dong, itu baru Fania teman gue, tenang ajah gue nggak bakalan lupa dengan ucapan gue kalau gue berhasil dapatin Rafa," ucap Zahra.


"Jadi apa rencana loe?" tanya Zahra penasaran.


"Loe harus berubah baik kepada Rara, dan gue juga bakalan berubah baik kepada Rara, kita harus bisa melakukan itu," ucap Fania yang membuat Zahra mengernyitkan keningnya bingung dengan rencana Fania.

__ADS_1


__ADS_2