Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Ganggu


__ADS_3

Rafa pun segera menarik tangan Rara masuk ke dalam kamar dengan salah satu tangannya menutup mulut Rara dan tak lupa dia juga mengunci pintu kamar.


"Loe ngapain sih teriak bikin kaget tahu nggak" ucap Rafa sambil menutup mulut Rara.


Rara pun memberi isyarat supaya Rafa tidak menutup mulutnya lagi namun Rara masih saja menutup matanya.


"Udah pakai baju belum loe?" tanya Rara masih menutup kedua matanya.


"Tunggu" ucap Rafa lalu pergi mencari bajunya untuk segera dia pakai.


"Rara ada apa nak kenapa kamu teriak?" tanya paman Rara dari depan pintu kamar Rara yang di kunci.


Rara dan Rafa pun terkejut mendengar suara paman Rara.


Rara langsung saja mencari alasan.


"Emm nggak kenapa-kenapa kok paman, Rara teriak karena ada kecoak tadi tapi sudah di usir sama Rafa" ucap Rara dari dalam kamar sambil masih menutup kedua matanya.


"Oh paman kira kamu kenapa-kenapa nak" ucap paman Rara.


"Nggak kok paman, paman kembali ajah ke meja makan bentar kita nyusul, Rafa masih pakaian paman" ucap Rara.


"Oh baiklah" ucap paman Rara kemudian kembali ke meja makan.


"Sudah atau belum sih?" tanya Rara karena sudah capek menutup kedua matanya.


"Sudah dari tadi" ucap Rafa.


Rara pun segera membuka kedua matanya dan benar Rafa sudah berpakaian dan Rafa sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


"Haa kenapa loe nggak bilang coba dari tadi, sakit nih mata gue, gue tutup tahu nggak" ucap Rara.


"Siapa suruh juga loe tutup" ucap Rafa kembali.


"Siapa suruh juga loe nggak pakai baju" ucap Rara.


"Gue nggak pakai baju doang loe teriaknya seperti itu, gimana kalau gue nggak pakai celana loe pingsan kali yah" ucap Rafa lalu tertawa.


"Udah deh jangan ngomong sembarangan loe, loe jangan lakuin gitu lagi selama satu tahun ini karena gue sama-sama loe mata gue ini harus terjaga kesuciannya, kalau gue udah nggak sama-sama loe baru loe lakuin seperti itu lagi terserah loe" ucap Rara.


"Iya berlebihan banget loe" ucap Rafa.


"Ya sudah ayo kita ke meja makan, paman dan bibi gue udah nungguin dari tadi" ucap Rara yang mulai membiasakan diri terhadap Rafa karena Rara sebenarnya anaknya cerewet juga tapi hanya sama orang yang sudah kenal betul dengan dia dan sudah berteman akrab.

__ADS_1


"Bentar gue keringin dulu rambut gue" ucap Rafa.


"Haduhh lama tahu nggak, siniin itu handuk" ucap Rara sambil meminta handuk lalu berjalan naik di atas tempat tidur sedangkan Rafa sedang duduk di tempat tidur.


Rafa pun memberikan handuk yang sedang di pegangnya kepada Rara.


"Mau ngapain loe?" tanya Rafa yang melihat Rara sudah ada di belakangnya.


"Udah loe diam ajah gue mau ngeringin rambut loe biar cepat" ucap Rara sambil mengeringkan rambut Rafa dengan cepat.


Rafa pun hanya diam.


"Selesai, cepetan loe sisir rambut loe terus kita keluar" ucap Rara.


Rafa pun segera pergi menyisir rambutnya seperti yang di bilang Rara dengan cepat karena dia juga sudah lapar, Rara pun menyimpan handuk itu pada tempatnya.


"Udah selesai?" tanya Rara kepada Rafa.


"Udah" ucap Rafa.


"Ayo kita ke meja makan" ajak Rara.


Rafa dan Rara pun keluar kamar dan berjalan menuju meja makan.


"Paman dan bibi maaf yah lama, abis Rafa tadi sedang mandi" ucap Rara sambil mendudukan bokongnya di kursi.


Rafa pun ikut duduk di dekat Rara.


"Nggak apa-apa nak" ucap bibi Rara dengan senyumnya.


"Ya udah ayo kita makan" ucap Rara lalu Rara pun mengambilkan makan di piring Rafa dan di piringnya juga.


Rafa pun hanya diam saja sambil bingung karena ini pertama kalinya buat dia biasanya juga dia ambil sendiri.


"Ayo makan ngapain loe bengong" bisik Rara di telinga Rafa, Rara melihat Rafa yang bengong.


Rafa pun tersadar lalu mulai memakan masakan Rara untuk pertama kalinya.


Enak ini benar-benar masakan rumahan batin Rafa.


Mereka semua makan dalam diam. Setelah makan Rara pun membereskan piring-piring kotor.


"Paman dan bibi masuklah ke kamar buat istirahat, ini biar Rara yang bereskan" ucap Rara.

__ADS_1


"Loe juga masuk ke kamar" ucap Rara juga kepada Rafa.


Rafa pun mengikuti ucapan Rara, dia segera masuk ke kamar.


#####


Sedangkan Fandi yang berada di rumahnya tepatnya di dalam kamarnya sedang memikirkan ucapan Rara tadi kepada Rafa.


"Kenapa harus seperti ini, kenapa Rara bilang seperti tadi heem ini semua karena Rafa, awas saja nanti loe kalau sampai jatuh cinta sama Rara, heran gue cewek model seperti Zahra dia suka, itu sama saja loe membuang berlian yang berkilauan demi sampah yang nggak berguna" ucap Fandi.


"Lebih baik gue telfon Rara deh buat nanyain kabar dia jangan sampai Rafa bikin susah Rara lagi dan buat Rara sedih" ucap Fandi.


Fandi pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas kemudian dia segera menghubungi Rara.


Ponsel Rara pun berdering di dalam kamar namun Rara lagi berada di dapur sedang membersihkan piring kotor, hanya Rafa yang berada di dalam kamar dan Rafa sedang melihat panggilan telfon dari Fandi.


"Ngapain nih anak nelfon jam segini" ucap Rafa, namun Rafa tak juga mengangkat telfon dari Fandi.


Fandi pun terus menelepon Rara. Rafa yang tidak tahan mendengar ponsel Rara yang terus bunyi akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya lagian dia liat Fandi juga yang menelepon Rara.


"Ngapain sih loe nelfon jam segini Fandi, ganggu gue yang mau istirahat tahu nggak" ucap Rafa kepada Fandi setelah mengangkat panggilan telfon dari Fandi.


"Yee udah biasa kali gue nelfon Rara jam segini, mana Rara kasih ke dia gue mau bicara sama dia" ucap Fandi.


"Rara lagi di dapur, dia lagi cuci piring kotor nanti ajah loe nelfon gue mau tidur" ucap Rafa.


"Oh oke kasitau Rara bentar kalau gue habis nelfon dia" ucap Fandi.


"Loe telfon ajah lagi dia sebentar karena gue mau tidur" ucap Rafa.


"Oke, jengkelin banget sih loe, buat amal nggak mau" ucap Fandi.


"Malas gue buat amal lagian gue ngantuk, udah matiin deh panggilan telfon loe ini, gue mau tidur" ucap Rafa.


Fandi pun mematikan panggilan telfonnya dengan perasaan jengkel.


"Dasar yah tuh anak ngeselin banget tapi sepertinya dia nggak buat Rara sedih karena Rara sedang berada di dapur" ucap Fandi di kamarnya.


Sedangkan Rafa yang berada di kamar Rara juga sedang kesal.


"Ngeselin banget sih Fandi ganggu orang istirahat tahu nggak, seharusnya kalau telfonnya nggak di angkat sekali tuh berarti orangnya lagi sibuk, dia nggak usah nelfon lagi" ucap Rafa.


Rara yang berada di dapur sudah selesai dengan beres-beresnya dia pun segera ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2