
Rara mencoba melepaskan ciuman paksa Rafa namun Rafa terus saja menahannya, padahal banyak orang yang melihat mereka dengan melebarkan kedua matanya.
Gracia dan Zahra benar-benar sangat kesal melihat itu semua apalagi Gracia, sudah tidak bisa lagi di definisikan kemarahannya, dia ingin sekali pergi melabrak Rara dan Rafa namun masih ada Zahra, dan dia juga tidak mau malu.
"Rafa pemaksaan banget sih" ucap Aldi lalu ingin segera turun dari mobilnya namun dia sudah melihat Fandi, jadi Aldi membatalkan niatnya karena tadi Rara sudah melarangnya ikut campur juga.
"Hei Rafa loe kenapa sih ciuman disini, bikin malu Rara tahu nggak, dan loe nggak malu apa" ucap Fandi sambil menarik Rafa.
Gracia lagi-lagi terkejut begitu melihat Fandi.
"Iya nih Fandi, Rafa itu nggak tahu malu banget, kamu tega banget sih Rafa" ucap Rara sambil melihat kesal kepada Rafa dan ingin segera pergi dari hadapan Rafa namun Rafa menahan tangannya.
"Kenapa mesti malu toh kamu istri aku" ucap Rafa.
Rara dengan segera menutup mulut Rafa karena banyak yang sedang melihat mereka.
"Rafa kamu itu kalau bicara bisa pelan-pelan nggak sih"
"Biarin, siapa suruh kamu itu seperti menyimpan perasaan kepada Aldi" ucap Rafa dengan juteknya.
"Haa jangan bilang loe lakuin ini semua karena Aldi?" tanya Fandi kepada Rafa seakan tidak percaya.
"Iya emang" jawab Rafa kesal.
"Dasar loe cemburuan banget, lagian gue dukung Rara mau sama siapapun dia asal Rara bahagia" ucap Fandi sambil menahan tawanya karena melihat ekspresi wajah Rafa yang sudah berubah semakin kesal.
"Fandi loe jangan ngajarin istri gue sembarangan yah, selama Rara masih menjadi istriku dia tidak boleh menyukai pria lain apalagi bersama pria lain"
"Terus loe apa kabar Rafa, loe kan bersama Gracia jadi Rara bersama Aldi ajah"
Rara sudah yakin pasti Fandi banyak mengetahui tentang Rafa dan Gracia.
"Udah deh nggak usah bahas Gracia, iya gue memang bersama Gracia tapi Rara istri gue, dia nggak boleh selingkuh di belakang gue"
"Selagi loe bersama Gracia, Rara boleh dong bersama Aldi"
"Nggak boleh, enak ajah"
"Udah deh, Rafa kamu pilih sekarang aku atau Gracia?" tanya Rara langsung.
Rafa pun tersentak kaget begitu mendengar pertanyaan Rara.
"Rara kok kamu ngomong seperti itu sih" ucap Rafa.
"Terus loe mau Rara gimana ngomongnya Rafa, bagus Rara gue dukung loe" ucap Fandi.
"Loe nggak usah jadi kompor deh Fandi"
"Gue manusia gini loe bilangin kompor, enak ajah loe"
"Udah deh Rafa, cepetan jawab pertanyaan Rara, nggak usah mengalihkan pembicaraan loe" ucap Fandi lagi.
__ADS_1
"Rara kamu sudah tahu kan jawabannya dan loe juga Fandi sudah tahu kan jadi tidak usah pertanyakan itu lagi"
Setelah mendengar ucapan Rafa, Rara langsung pergi begitu saja dengan melepaskan paksa pegangan tangan dari Rafa.
Rara memutuskan untuk ke toilet dulu menenangkan perasaannya.
Fandi hanya geleng-geleng kepala saja sambil pergi meninggalkan Rafa. Rafa pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas mengikuti Fandi.
Sedangkan Gracia memutuskan untuk pergi dari kampus itu setelah menyaksikan semuanya.
Setelah final, Rara langsung keluar kelas tanpa menoleh sedikitpun kepada Rafa, tetapi sebelum itu Rara sudah bilang kepada Fandi kalau dia akan bekerja kepada Aldi sebagai asisten pribadinya dan Fandi pun tampak mengerti serta memberitahu Rara agar bekerja dengan baik dan giat.
Rafa hanya melihat kepergian Rara dengan tatapan seperti tidak ikhlas dengan perlakuan Rara kepada dirinya.
"Gue balik duluan yah Rafa"
"Hemm"
"Gimana kerjaan loe?" tanya Fandi.
"Lagi proses"
"Oh oke, gue balik duluan kalau gitu, jangan ganggu Rara, loe itu yah bisa-bisanya memecat Rara juga"
"Udah deh nggak usah banyak protes, gue kan nggak mau dia bertemu Gracia" ucap Rafa.
"Lupa gue loe punya selingkuhan, gue balik dulu" ucap Fandi lalu segera ke luar ruangan tanpa mau mendengar ucapan Rafa lagi.
#####
"Memang loe tahu bawa mobil Rara?" tanya Aldi.
"Nggak tahu sih" jawab Rara sambil nyengir.
Aldi pun langsung tertawa begitu mendengar jawaban Rara.
"Gue pikir loe tahu bawa mobil Rara" ucap Aldi setelah menyelesaikan tawanya.
"Heem pokoknya loe santai ajah Rara kalau sama gue nggak usah mikir yang susah-susah dan kita sekarang ke kantor gue, oke jadi loe duduk diam ajah yah" ucap Aldi dengan santainya sambil mengemudikan mobilnya pelan.
"Beneran nggak apa-apa Aldi" ucap Rara lagi.
"Iya nggak apa-apa"
"Emm terus sekarang gue mesti manggil loe gimana, kan loe bos gue sekarang Aldi?"
"Seperti ini saja Rara cantik nggak usah ganti-ganti yah"
"Iish apaan sih gue jelek gini juga"
"Kalau loe jelek Rara nggak mungkin tuh suami loe cemburu terus" ucap Aldi lalu tertawa.
__ADS_1
"Dia itu nggak cemburu cuma egois ajah" ucap Rara dengan kesalnya.
"Gue cowok Rara dan gue lihat dia itu cemburu banget" ucap Aldi lalu tertawa.
Rara pun hanya diam tidak mau lagi menanggapi ucapan Aldi. Rara tidak mau lagi mengharap terlalu banyak karena ujung-ujungnya dia sakit hati.
######
Zahra yang berada di dalam mobil benar-benar masih memikirkan ciuman Rara dan Rafa tadi.
Kenapa Rafa bisa melakukan itu semua sih, bukannya dia itu tergila-gila banget sama gue pernah kok dia bisa-bisanya mencium Rara di depan orang banyak, heem pusing banget gue gimana buat Rafa tergila-gila lagi sama gue. Rara pelayan kampungan itu benar-benar nggak bisa di anggap remeh batin Zahra.
"Zahra loe sadar nggak sih, sepertinya Gracia marah banget melihat kejadian tadi" ucap Fania tiba-tiba.
"Iya sih, tapi bagus deh jadi dia bisa membantu gue memberi pelajaran kepada Rara, dia itu licik Fania hanya loe belum tahu ajah" ucap Zahra lalu tersenyum.
"Iya gue tahu kok" ucap Fania sambil masih fokus mengemudikan mobil.
######
"Rara loe balik duluan ajah yah, gue masih banyak kerjaan banget nih, gue nggak enak kalau loe nungguin gue lama, loe pasti capek kan" ucap Aldi.
"Gue kan asisten loe Aldi jadi nggak apa-apa"
"Tapi ini udah lewat jam kerja, loe balik duluan ajah, gue suruh sopir antarin loe yah, nggak boleh komentar lagi"
Rara pun akhirnya menuruti kemauan Aldi.
######
Aldi yang masih fokus dengan kerjaannya tiba-tiba mendapatkan telfon dari seseorang. Dia pun segera mengangkat panggilan telfon dari orang itu.
"Apa!!!! ucap Aldi benar-benar terkejut setelah mendengar ucapan orang yang meneleponnya, bahkan ponselnya pun sampai jatuh ke lantai.
Aldi segera meninggalkan kerjaannya dan pergi menemui seseorang.
"Aldi loe kenapa?" tanya Rafa langsung ketika melihat Aldi yang datang menemuinya dengan keadaan panik tidak seperti biasanya.
Rafa tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang terjadi, Rafa langsung teringat dengan Rara.
Fandi pun ikut merasakan keanehan setelah melihat Aldi yang tampak sangat panik. Rafa dan Fandi sedang berada di rumah orang tua Rafa.
"Aldi, istriku kenapa?" tanya Rafa sambil menggoyangkan kedua bahu Aldi dan masih berharap bahwa apa yang dia pikirkan itu salah.
"Rafa maafin gue, gue lalai menjaga Rara, sepertinya Rara di culik Rafa, gue benar-benar minta maaf" sesal Aldi dan tampak betul bahwa Aldi benar-benar merasa bersalah dan panik.
"Apa loe bilang, gue udah nyuruh loe buat jagain dia Aldi, kenapa loe bisa lalai begini" bentak Rafa sambil memegang kerah baju Aldi dan terlihat jelas dia benar-benar panik.
"Udah nanti ajah loe marah-marah sama dia, sekarang yang penting Rara" ucap Fandi.
"Gue yakin ini kerjaan Gracia, perempuan gila itu, pasti dia sudah tahu semuanya" ucap Rafa sambil menelepon bawahannya.
__ADS_1
"Cari istriku sampai ketemu tidak boleh ada lecet sedikitpun pada dia, fokus pada perempuan bernama Gracia aku yakin dia ada hubungannya dengan hilangnya istriku, perintahkan semua orang profesional yang kamu kenal untuk mencari istriku" perintah Rafa masih dengan raut wajah khawatirnya.
Fandi pun juga begitu segera menyuruh bawahannya, sedangkan Aldi sudah menyuruh lebih dulu.