Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Nggak sexy seperti aku,,,,


__ADS_3

Oh jadi itu pacarnya Reno,, duhh kok perasaan aku jadi begini sih,, apaan sih,, nggak penting juga buat aku itu pacar dia,, aku hanya kagum saja sama dia karena dia seperti menyayangi mamanya tipe pria idaman aku,, udah itu aja,, aku nggak mungkin suka sama dia,, sadar Ana dia ini pria menjengkelkan dan udah punya pacar juga,, jadi jangan mikir macam-macam,, batin Ana.


"Kalau dia salah paham bagus dong,, lagian kalau dia mencintai kamu seharusnya dia itu percaya sama kamu,,, mama itu selalu mengerti kamu Reno, hanya kamu saja yang tidak mengerti dengan mama,," ucap Mama Reno.


Kok sepertinya tante nggak suka yah sama Fania pacarnya Reno,, apa cuma perasaan aku aja,, batin Ana lagi-lagi sambil melihat perdebatan ibu dan anak itu.


"Ma,, dia mencintai aku,,, aku percaya itu,, tapi wanita yang percaya pun pasti akan salah paham dan mempertanyakan semuanya kalau melihat wanita lain di rumah pacarnya ma,, iyakan Ana? kamu wanita pasti begitu kan?" ucap Reno sambil melihat Ana.


Isshhh kok dia malah tanya sama aku sih, ngeselin banget,, aku mau jawab apa dong,, memang benar yang dia katakan hanya aku nggak enak sama tante kalau belain Reno,, batin Ana.


"Ana jawab dong,," ucap Reno sambil melihat Ana.


"Emm aku nggak tau juga karena aku belum pernah pacaran,," jawab Ana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,, yang membuat Reno tertawa begitu mendengar ucapan Ana. Dan itu membuat Ana melihat kesal pada Reno.


Ngeselin banget dia tertawakan aku,, emang dia pikir bagus apa tertawakan orang jomblo sejak dulu,, batin Ana kesal.


"Di usia kamu yang sekarang belum pernah pacaran? sungguh tidak bahagia sekali masa muda kamu,," ledek Reno setelah menyelesaikan tawanya.


"Sorry yah aku aja yang nolak cowok karena nggak cocok dengan tipe pria idaman aku,, yang nembak aku banyak kali nggak terhitung lagi sekarang jumlahnya," ucap Ana karena memang itulah kenyataannya hanya saja dia belum menemukan tipe pria idaman dia pada pria-pria yang menembak dan pada Reno saja dia baru melihat itu.


"Bohong banget,, pasti karena nggak ada yang suka sama kamu makanya kamu jomblo sejak lahir," ledek Reno lalu tertawa.


"Nuduh-nuduh lagi,, terserah dehh kamu mau percaya atau nggak yang penting itu kenyataannya,, aku nggak maksa kamu buat percaya," ucap Ana.


"Iya memang terserah aku,," ucap Reno.


Lahh ini kok malah mereka berdebat,, jadi gimana sama Nona ini,, pasti dia marah-marah lagi nih kalau kelamaan,, batin Pak satpam sambil melihat Fania.


Dan benar saja dugaan dia.


"Gimana sih,, kok kamu nggak bicara malah diam aja bukannya kamu lagi menelepon bos kamu,, lebih baik aku langsung masuk saja ke dalam,, ngeselin banget kamu membuang-buang waktu aku saja,, waktu aku itu berharga tau nggak daripada diri kamu,," ucap Fania sambil melihat kesal pada pak satpam.


Suara Fania sudah pasti terdengar oleh Ana,, Mama Reno dan juga Reno tentunya.


Loh kok kasar banget sih ceweknya Reno,, dia kok bicara seperti itu pada pak satpam,, kan kasihan,, padahal aku lihat pak satpamnya sudah tua,, batin Ana.


Reno semakin terlihat panik begitu mendengar Fania bicara,, apalagi pas melihat ekspresi wajah mamanya.


Aduh kenapa Fania berbicara seperti itu sih ya ampun,, dia nggak mikir apa bakalan kedengaran dan mama aku pasti semakin nggak suka sama dia,, padahal aku selalu berjuang supaya dia di suka dengan mama,,, membicarakan yang baik-baik sama mama tentang dia,, tapi dia malah berbicara seperti itu,, dia nggak bisa apa menjaga ucapannya,, ya ampun Fania,, semakin susah nih,, batin Reno.


"Itu wanita yang kamu cintai Reno,, kelakuan dia seperti itu,, walaupun kamu selalu bilang kalau dia itu baik tapi dengar sendiri kan dia bicara apa tadi,,, itulah mama nggak pernah suka sama dia,,, dia itu nggak sopan sama orang yang lebih tua, dan masih banyak kejelekan dia lagi yang mama sangat tidak suka,," ucap Mama Reno.


Tuh kan tante nggak suka sama Fania, tapi ini urusan keluarga mereka aku nggak boleh ikut campur apalagi tentang perasaan begini,, batin Ana.


"Itu dia hanya kesal saja ma,, makanya dia seperti itu,, aslinya dia tidak seperti itu kok,, percaya sama Reno ma,," ucap Reno lagi.


Wahh Reno sepertinya sangat mencintai Fania,, dia sangat membela Fania walaupun mamanya terlihat sangat tidak menyukai Fania,, batin Ana sambil memperhatikan Reno dan Mama Reno,, dia juga tetap menjadi pendengar saja tanpa mau ikut campur.


"Aslinya dia juga begitu Reno mau lagi kesal ataupun tidak,, percaya sama omongan mama,, karena mama nggak mungkin salah,, tapi mama tau kamu nggak akan mau mendengarkan mama,," ucap mama Reno lagi.


"Hei kenapa kamu malah hanya diam saja sih,, aku langsung masuk saja,, kamu ini membuang-buang waktu aku,," omel Fania lagi kepada pak satpam.


"Maaf Nona,, anda belum bisa masuk karena Nyonya belum bilang anda boleh masuk," ucap Pak satpam itu.


"Ya udah cepat tanyakan,," ucap Fania.


"Ma,, please biar Reno saja yang ketemu dengan dia ma,, dia nggak usah masuk,, please Reno mohon,," mohon Reno.


"Dia harus masuk,," ucap mama Reno.


"Ma,, mengertilah sama Reno ma,, aku mohon,," mohon Reno lagi.


"Mama ini selalu pengertian sama kamu Reno,, jadi biarkan dia masuk saja,, toh dia ingin masuk kan ke sini,, jadi biarkan dia masuk," ucap Mama Reno lagi.


Sementara di kantor Rafa,, Fandi yang baru selesai rapat langsung melihat pesan WhatsApp dari anak buah Rafa,,, Fandi juga menyimpan semua nomor ponsel anak buah Rafa dan juga anak buahnya sendiri,,, dan Fandi benar-benar terkejut serta kesal juga begitu mendengar suara rekaman yang dikirimkan oleh anak buah Rafa,, dari suara itu dia sudah tau bahwa itu pasti suara Citra.


Wah berani sekali wanita ini,, bisa-bisanya dia bilangin aku suka sesama jenis,, jelas-jelas aku masih suka sama wanita hanya nggak bisa bersama saja,, aku sangat mencintai Rara,, awas kamu yah Citra,, batin Fandi.


Fandi segera menelepon anak buah Rafa.


Anak buah Rafa yang mendengar bunyi ponselnya segera melihat nama kontak yang meneleponnya.


Citra dan Rara refleks ikut melihat kepada anak buah Rafa begitu mendengar bunyi ponsel anak buah Rafa.


"Tuan Fandi," ucap anak buah Rafa.


Citra langsung panik seketika begitu mendengar ucapan anak buah Rafa.


Mampus gue,, dia kok baperan sih,,, pasti dia tidak terima nih sama ucapan gue tadi,, yakin banget gue,, batin Citra.


"Hah Fandi,, dia nelfon kamu?" tanya Rara ulang.

__ADS_1


"Iya Nyonya,," jawab anak buah Rara lalu dengan segera mengangkat panggilan telfon dari Fandi.


"Halo tuan,," ucap anak buah Rafa.


"Dimana Citra?" tanya Fandi langsung.


"Ini di depan saya tuan," jawab anak buah Rafa.


"Kamu lagi dimana sekarang? kok bisa merekam suara wanita itu?" ucap Fandi.


"Saya lagi di rumah tuan Rafa,, Nona Citra kesini,, dia sekarang lagi bersama dengan Nyonya di dapur," jawab anak buah Rafa lagi.


"APA!! dia lagi bersama Rara,, bisa-bisanya dia sok akrab begitu sama Rara," omel Fandi.


"Berikan ponsel kamu sama Citra," perintah Fandi.


"Baik tuan,," ucap anak buah Rafa


Anak buah Rafa pun dengan segera memberikan ponselnya pada Citra.


"Kenapa? kamu mau kasih gratis ponsel kamu ke aku,, aku masih punya ponsel kok," ucap Citra.


"Tidak Nona tapi tuan Fandi ingin bicara dengan Nona,,"


"Isshh ngapain aku nggak mau bicara dengan dia," tolak Citra.


Dia pasti mau marah-marah tuh sama aku, malas banget mau dengar dia marah-marah,, batin Citra.


"Maaf tuan Nona Citra tidak mau bicara dengan Tuan,," ucap anak buah Rafa.


"Ya udah aku akan ke situ sekarang,," ucap Fandi.


"Oh tuan mau kesini,, baik tuan," ucap anak buah Rafa lagi.


"Ehh tunggu-tunggu sini aku bicara dengan dia,," ucap Citra cepat sambil mengambil ponsel anak buah Rafa.


Daripada bertemu dengan dia langsung lebih baik melalui telfon saja,, ngeri banget kalau ketemu dengan dia,, batin Citra.


"Halo kenapa kamu mau bicara dengan aku?" tanya Citra seperti tidak salah apa-apa.


"Masih tanya kamu yah,,, ehh tapi mungkin kamu belum tau kalau tuduhan kamu itu yang tidak benar sudah di rekam dengan anak buahnya Rafa,, makanya kamu seperti ini,, masih sok banget,," ucap Fandi.


Tuh kan pasti dia mau marah-marah nih,, padahal aku cuma bercanda doang,, bercanda,, batin Citra.


"Yang baru-baru kamu ucapkan,, masa kamu nggak tau," ucap Fandi lagi.


"Iya aku nggak tau," ucap Citra cepat.


"Oh berarti jangan-jangan kamu menuduh aku banyak yah,,, sampai-sampai kamu udah nggak tau tuduhan yang mana," ucap Fandi.


"Ehh nggak kok,," ucap Citra cepat.


"Berarti kamu tau kan apa yang aku maksud?" ucap Fandi.


"Iya tau kok,,, aku cuma bercanda doang,, aku tau kok kamu nggak mungkin begitu jadi kita damai saja nggak usah di perpanjang,," ucap Citra.


"Bercanda kamu itu kelewatan,, bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu tanpa ada bukti lagi," ucap Fandi.


"Yah aku bilang seperti itu karena kamu belum pernah pacaran,,, berarti kamu belum pernah jatuh cinta sama wanita,,, makanya aku bercanda tadi kamu suka sama pria," ucap Citra sambil nyengir.


"Walaupun aku nggak pernah pacaran tapi ada wanita yang aku cintai sampai saat ini jadi kamu jangan pernah bicara sembarangan lagi," ucap Fandi serius.


Hah ternyata ada toh wanita yang dia cintai,, tapi siapa wanita itu kok aku kepo yah,, batin Citra.


"Siapa?" tanya Citra refleks karena dia kepo.


"Nggak usah tanya-tanya siapa wanitanya karena itu rahasia aku,, jadi intinya jangan ngomong sembarangan kamu,, dan juga lebih baik kamu pulang saja jangan dekat-dekat dengan Rara karena kamu ini nggak bisa dipercaya,, kamu ini berbahaya,," ucap Fandi lagi.


"Isshh nggak mau,, ngapain juga aku pulang,, kamu juga nggak boleh kali menuduh orang sembarangan tanpa bukti,, lagian Rara baik-baik aja sampai sekarang," ucap Citra sambil melihat Rara sedangkan Rara hanya menggelengkan kepalanya karena dia sudah tau pasti Fandi mengkhawatirkan dirinya lagi.


"Yah sekarang dia nggak apa-apa,, mungkin sebentar,,, udah kamu pulang aja," usir Fandi.


"Ra,, aku di usir nih dengan Fandi,, ngeselin banget nih orang," lapor Citra.


Dasar tukang lapor,, pasti dia di bela nih dengan Rara,, Rara kan polos banget dan baik,, dia nggak tega pasti nih sama Citra,, batin Fandi.


Dan Rara pun segera mengambil ponsel anak buah Rafa dari Citra lalu bicara dengan Fandi.


"Halo Fan,, ini aku Rara,," ucap Rara terlebih dahulu.


Iya tau kok Ra,,, suara kamu paling aku tau,, batin Fandi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya Ra,, nggak usah belain Citra dong," ucap Fandi.


"Aku nggak belain dia kok,, hanya masa kamu usir dia,, lagian dia nggak ngapain-ngapain kok,, dia nggak seperti yang kamu pikirkan,," ucap Rara.


"Yah tapi bisa aja kan dia lagi berpura-pura Ra,, dia itu mukanya banyak,, jangan terlalu percaya deh sama dia," ucap Fandi.


"Nggak kok,, dia nggak seperti itu,, percaya sama aku,, jangan mikir gitu lagi,, kasihan tau Citra,, kamu tuduh begitu terus,," ucap Rara.


"Oh iya maaf yah tadi itu kita menggosip sembarangan sampai bilang sembarangan,, jangan marah yah Fandi,," ucap Rara lembut.


Mana bisa aku marah sama kamu Ra,, nggak akan bisa,, sampai sekarang aku masih mencintai kamu dalam diam,, yang penting kamu bahagia dan selalu baik-baik saja aku nggak apa-apa walaupun tidak bisa memiliki kamu,, batin Fandi.


"Iya nggak apa-apa kok Ra asal kamu,,, tapi kalau Citra bawaannya aku kesal aja," ucap Fandi.


"Maafin dia lah,, kasihan tau,, dia benar-benar hanya bercanda aja kok nggak ada maksud apa-apa,," ucap Rara lagi.


"Oke baiklah aku maafkan karena kamu yang minta,, tapi bisa tidak kamu suruh saja dia pulang," ucap Fandi.


"Jangan gitu dong,, nggak apa-apa kok aku jadi ada teman juga,,, jangan mikir macam-macam please,," mohon Rara.


"Iya deh tapi kamu hati-hati yah sama dia,, aku serius loh Ra,," ucap Fandi.


"Iya,," ucap Rara sambil tersenyum.


"Ya udah aku tutup dulu yah telfonnya,," ucap Fandi.


"Oke Fan,," ucap Rara.


Setelah mendengar ucapan Rara,, Fandi pun langsung menutup panggilan telfonnya.


Dan Rara segera memberikan kembali ponsel anak buah Rafa.


"Sudah Ra?" tanya Citra.


"Iya udah," jawab Rara.


"Dia masih mengusir aku dan nggak maafin aku?" tanya Citra.


"Udah nggak kok,, santai aja dia udah maafin kamu juga," ucap Rara.


Fandi kalau Rara yang bicara,, dia itu sepertinya cepat banget luluh,, padahal tadi dia pengen banget aku pulang dan juga marah-marah sama aku,, tapi tiba-tiba udah nggak,, apa wanita yang dia suka itu adalah Rara? bisa aja kan,, batin Citra.


Sementara di waktu yang sama di rumah Reno.


"Ma,, please nggak usah dia masuk," mohon Reno.


"Pak suruh dia masuk,," ucap mama Reno kepada pak satpam di rumahnya.


"Baik Nyonya,," ucap pak satpam itu.


Duh Fania pasti semakin marah nih,, batin Reno panik.


"Matikan Reno panggilan telfonnya," ucap Mama Reno yang langsung dituruti oleh Reno.


"Nona silahkan masuk," ucap pak satpam itu yang sebenarnya sudah tidak tahan mendengar omelan Fania yang sangat ribut dan juga heran bisa-bisanya Reno pacaran dengan wanita seperti Fania ini.


Fania pun segera masuk ke dalam.


"Ayo kita sambut Fania," ucap Mama Reno sambil tersenyum.


"Ana kamu disini aja," ucap Reno.


"Dia ikut dong,, nggak mungkin dia ditinggal disini,," ucap Mama Reno.


"Tapi ma..."


"Nggak ada bantahan,," ucap mama Reno cepat sambil melotot kan kedua matanya pada Reno dan Reno langsung menelan saliva nya lalu pasrah saja dengan keinginan mamanya.


Fania benar-benar kesal begitu melihat Ana.


Ternyata benar tega banget kamu Reno yah,,, jadi ini wanita yang membuat kamu mengabaikan aku Reno,, nggak ada apa-apanya dengan aku,, nggak sexy seperti aku,, apa yang kamu lihat dari dia,,, tapi tetap saja dia bermain-main denganku dengan menggoda kamu,,, batin Fania dengan penuh kemarahannya.


Fania langsung datang ingin memberi tamparan pada Ana tidak perduli dengan mama Reno,, tapi tangan Fania di tahan cepat oleh seseorang,, sehingga tidak jadi mengenai pipi Ana.


##########


Mampir ke novel author yang baru yee....


"Dendam dan Cinta"


klik profil aku aja

__ADS_1


mksh sebelumnya🙏😊


__ADS_2