Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Salah satu orang


__ADS_3

Rafa langsung menampar pipi Gracia dengan kerasnya karena dia benar-benar sudah sangat emosi setelah melihat Gracia ingin menampar Rara.


Rara benar-benar terkejut melihat Rafa ternyata datang dan dia juga lebih terkejut lagi melihat Rafa yang menampar pipi perempuan yang tidak di tahu Rara.


Sedangkan Gracia masih ada di lantai akibat tamparan keras dari Rafa membuat Gracia sampai terjatuh.


"Jangan pernah kamu menampar pipi istriku dengan tangan kotormu itu Gracia" bentak Rafa.


Rara benar-benar terkejut setelah mendengar Rafa menyebutkan nama wanita itu adalah Gracia, kekasih Rafa yang di tahu Rara.


Apa aku nggak salah dengar wanita ini adalah Gracia, tapi kenapa dia menculik aku lalu bilang aku mengambil Rafa padahal sebenarnya dialah yang mengambil Rafa dan Rafa juga sangat mencintai dia batin Rara.


Di ruangan itu hanyalah mereka bertiga karena Gracia sudah menyuruh bawahannya untuk berjaga. Gracia yakin Rafa sudah pasti mempunyai rencana lain. Karena Rafa punya bawahan dan juga Fandi yang di tahu Gracia pasti mereka tidak akan tinggal diam.


"Rafa kamu tega menampar aku hanya karena wanita itu" teriak Gracia sambil memegang pipinya yang terasa sangat sakit.


"Iya kenapa memangnya, kamu tidak ada artinya buat aku, istriku yang sangat berarti buatku, lagian kamu pasti sudah tahu semuanya kan" ucap Rafa.


Rara hanya bisa terkejut setelah mendengar ucapan-ucapan Rafa dan Gracia, Rara masih bingung dengan apa yang di alaminya sekarang.


Dan juga bagaimana bisa Rafa berbicara seperti itu pada Gracia.


Di sisi lain Fandi, Aldi dan juga bawahan-bawahan mereka sedang menyusun rencana.


"Kita harus hati-hati, orang yang kita hadapi ini sangat cerdik jadi kita harus melebihi dia" ucap Fandi.


Fandi melihat Aldi sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Aldi loe dengar apa yang gue katakan?" tanya Fandi sambil menggoyangkan bahu Aldi.


Aldi sedikit tersentak.


"Iya gue dengar kok" ucap Aldi.


"Loe lagi mikirin apa sih?" tanya Fandi.


"Gue lagi mikirin Rafa dan Rara, apa mereka baik-baik saja disana" ucap Aldi.


"Gue yakin mereka baik-baik ajah kok" ucap Fandi padahal sebenarnya dia juga khawatir terhadap Rafa dan Rara yang berada di tempat Gracia.


"Tapi Rafa kesana tidak ada persiapan apapun, dan dia tidak membawa apa-apa juga, gue benar-benar khawatir sama dia" ucap Aldi.


"Udah nggak usah khawatir Rafa pasti bisa menjaga dirinya dan juga Rara, sekarang kita harus kesana cepat karena Rafa pasti sedang menunggu kita" ucap Fandi.


"Tapi kita harus hati-hati karena di tempat Gracia sangat banyak penjaganya, kita harus masuk dengan menghabisi satu-persatu bawahan Gracia, dan itu tidak muda karena mereka juga orang-orang yang pintar bela diri" ucap Fandi lagi.

__ADS_1


"Kita berarti harus menghadapi mereka bersamaan, karena pasti ribut dan di tahu jika kita melawan satu orang bawahan Gracia" ucap Aldi.


"Tidak, nanti Gracia tahu kalau kita datang membantu Rafa, dan itu bisa membahayakan Rafa dan Rara" ucap Fandi.


"Udahlah kita sudah punya rencananya, makanya loe jangan melamun, nggak konsentrasi kan loe, ayo kita berangkat sekarang" ucap Fandi lagi.


"Emang rencananya apaan?" tanya Aldi.


"Buat mereka pingsan tanpa membuat yang lain curiga" jawab Fandi sambil berjalan menuju mobilnya.


Aldi masih belum paham cara membuat orang-orang itu pingsan tanpa adanya kecurigaan, namun dia tetap mengikuti Fandi lalu segera masuk ke dalam mobil.


"Aldi loe nggak usah ikut deh, loe sepertinya nggak bisa di andalkan" ledek Fandi.


"Enak ajah loe remehin gue, Rafa menyuruh gue menjaga Rara karena gue bisa di andalkan tahu nggak" sewot Aldi.


"Iya santai ajah loe, gue tahu kok, tapi sekarang itu loe banyak melamun jadi lebih baik loe nggak usah ikut daripada loe merusak rencana kita" ucap Fandi.


"Gue itu cuma khawatir sama Rara dan Rafa tahu nggak, jadi lebih baik cepat kita berangkat dan loe bisa jelasin rencana kita sambil mengemudikan mobil" ucap Aldi.


Fandi segera mengemudikan mobilnya menuju tempat Gracia.


######


Zahra meneleponnya juga tidak di angkat padahal nomor ponsel Gracia sudah aktif.


"Zahra loe bisa duduk nggak sih" ucap Fania kesal.


"Nggak bisa, ini udah jadi kebiasaan gue kalau lagi panik" ucap Zahra sambil masih mondar-mandir seperti setrika.


"Berlebihan loe, emang apa sih yang loe panikan?" tanya Fania.


"Ya ampun Fania loe masih nanya lagi apa yang gue panikan, tentu saja Gracia sepupu gue yang gue panikan, dia itu belum pulang-pulang sampai sekarang Fania, gimana gue mau nggak panik coba kalau sampai dia kenapa-kenapa gimana" ucap Zahra.


"Terus dengan loe panik begitu bisa menyelesaikan masalah emang, loe telfon dong biar jelas" ucap Fania.


"Udah gue telfon tadi nomor ponselnya nggak aktifkan, sekarang ponselnya udah aktif, ehh dia nggak angkat telfon dari gue" ucap Zahra.


"Berarti dia nggak kenapa-kenapa loe bisa tenang, mungkin dia hanya malas saja bicara dengan loe dan lihat wajah loe" ucap Fania lalu tertawa.


"Fania gue itu nggak lagi bercanda tahu nggak, gue lagi serius nih, dan dia itu nggak mungkin seperti itu yang gue tahu" ucap Zahra.


"Yah terus sekarang kita mau gimana lagi coba" ucap Fania.


"Nggak tahu" ucap Zahra.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan dia lagi mengerjakan bisnisnya sekarang" ucap Zahra lagi.


"Bisnis apa emang?" tanya Fania penasaran.


"Ada deh rahasia, dia larang gue buat beritahu orang lain mengenai bisnisnya itu"


"Terus ngapain loe bilang, buat penasaran ajah loe" ucap Fania kesal.


"Sengaja pengen buat loe penasaran" ucap Zahra sambil nyengir.


"Sialan, kalau begitu lebih baik kita tidur deh, gue yakin sepupu loe nggak pulang malam ini dan dia juga pasti baik-baik saja sekarang mungkin seperti dugaan loe dia lagi ngurusin bisnisnya" ucap Fania.


Zahra pun menuruti ucapan Fania.


#######


"Fandi bawahan kita yang lain mana?" tanya Aldi begitu mereka sudah dekat dengan tempat Gracia.


"Ngurusin bawahannya Gracia lah, gimana sih loe, mereka yang urus tugas kita masuk ke dalam" ucap Fandi.


Belum terlalu jauh mereka berjalan, ternyata ada yang mengetahui kedatangan mereka terjadilah aksi saling baku pukul dimana 6 lawan 2 orang.


######


Sementara di dalam ruangan terjadi juga aksi baku pukul antara Rafa dan Gracia.


Rara lagi-lagi terkejut melihat Gracia yang sangat pandai bela diri bahkan dia bisa menahan pukulan dari Rafa.


Rara tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan dan kakinya diikat rantai.


Sejak tadi belum ada yang kalah di antara mereka hingga Rafa akhirnya mendapatkan celah dengan menendang perut Gracia dengan sangat kuat membuat Gracia terlempar jauh.


Fandi dan Aldi akhirnya sampai ke ruangan tempat Rafa, Rara dan Gracia berada.


"Dia pingsan" ucap Fandi sambil melihat Gracia.


Mereka pun segera ingin mendekati Rara.


"Mati kau Rara" teriak Gracia yang pura-pura pingsan tadi dan sudah siap-siap ingin melepaskan satu tembakan pada Rara.


"Rara" ucap ketiga pria itu sambil berlari bersama ingin melindungi Rara.


Dorrr....


Peluru itu melesat dengan cepatnya mengenai salah satu orang di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2