
Seminggu kemudian di mana ini adalah hari pernikahan Rara dan Rafa, baik Rara, Rafa maupun Fandi sama-sama izin tidak masuk kuliah pada hari itu membuat Zahra dan Fania merasa bingung dan curiga.
"Ehh tumben tuh pelayan nggak masuk" ucap Fania.
"Iya tumben banget, dan ini di ikuti sama pelayan cowok miskin itu juga dan Fandi pun nggak masuk juga" ucap Zahra.
"Udahlah berdoa saja supaya mereka nggak masuk kampus lagi kan bagus mata kita jadi nggak sakit lihat mereka" ucap Fania lalu tertawa.
"Enak ajah loe, gue kan masih mau ngejar Fandi, kalau dia nggak masuk kampus gimana gue ngejarnya" ucap Zahra.
"Maksud gue dua pelayan miskin itu Zahra" ucap Fania.
"Oh kalau untuk mereka berdua emang cocok loe ngomong gitu" ucap Zahra lalu tertawa.
"Gimana rencana kita buat balas pelayan itu, kapan kita lakuinnya?" tanya Fania.
"Nanti deh kita mesti nyusun rencana yang matang, loe nggak mau kan seperti pernah" ucap Zahra.
"Iya loe benar juga" ucap Fania.
Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan sampai dosen masuk ke ruangan mereka untuk mengajar.
#####
Di rumah bibi Rara sudah berkumpul orang-orang yang akan menyaksikan pernikahan Rara dan Rafa, dan yang datang pun hanya sedikit cuma orang-orang penting saja.
Teman mereka berdua pun yang datang hanya Fandi, Rara dan Rafa pun memang tidak ingin di tahu, Rafindra pun datang bersama istrinya tapi penampilan mereka benar-benar berubah, dan mereka menjadi orang tua Rafa, pokoknya semua sudah di atur oleh Rafindra agar Rara tidak curiga dan tidak tahu.
Rara pun terlihat bersedih karena paman Rafi dan istrinya tidak datang padahal dia ingin paman Rafi dan istrinya datang tapi apa boleh buat kalau mereka sedang ada urusan penting di luar Negeri.
Yah itulah alasan Rafindra kepada Rara.
"Kenapa loe sedih gitu, nyesal kan loe mau nikah sama gue, masih bisa di batalin kok sebelum ijab kabul nih" bisik Rafa yang melihat wajah Rara sedang bersedih.
"Nggak kok siapa yang menyesal malahan gue pengen cepat nikah sama loe, gue sedih karena paman Rafi nggak bisa datang" bisik Rara balik kepada Rafa.
__ADS_1
Dasar bodoh paman yang loe maksud tuh sudah ada di sini dan dia orang yang paling bahagia hari ini sedangkan gue orang yang paling sial mulai hari ini batin Rafa.
Dan pada akhirnya mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri baru. Fandi pun mengucapkan selamat kepada Rara dan Rafa dengan senyumannya yang sangat bahagia.
Acara pun selesai semua orang sudah pulang, tinggal Rara, Rafa beserta paman dan bibinya saja.
Bibi Rara pun terlihat ingin membersihkan apa-apa saja yang masih berhamburan di rumah itu namun Rara menahannya, Rara menyuruh bibinya beristirahat dan dia yang akan membersihkan semua itu.
Sedangkan Rafa ingin segera mandi.
"Kamar dimana nih, gue pengen mandi" ucap Rafa kepada Rara.
Rara pun mengantarkan Rafa, dan di dalam kamar sudah ada baju Rafa sebagian, itu semua Fandi yang menyiapkan tanpa Rafa sadari.
Rara sudah tahu tentang itu.
Rafa pun segera mandi, dia memang agak terkejut melihat pakaiannya sudah ada namun dia sadar pasti itu sudah di urus semuanya.
Rara kembali membersihkan rumah, setelah mandi Rafa berganti pakaian lalu mengambil kunci motor untuk segera pergi dari rumah bibi Rara. Rara pun melihat Rafa.
Rafa menepis pegangan tangan Rara.
"Bukan urusan loe, nggak usah berlagak jadi istri sungguhan gue mau menikah sama loe karena terpaksa, ingat itu" ucap Rafa lalu mengendarai motornya entah kemana.
Rara pun melihat kepergian Rafa dengan perasaan sedih, namun dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja karena dia mengingat di rumah itu ada paman dan bibinya.
Sedangkan bibi dan paman Rara melihat semua kejadian itu, mereka merasa sedih melihat Rara di perlakukan seperti itu, namun mereka mencoba terlihat seperti tidak mengetahui apa-apa.
"Paman, bibi udah lama kalian di sini?" tanya Rara terkejut ketika masuk ke dalam rumah melihat paman dan bibinya yang lagi melihat ke arahnya.
"Nggak kok nak, barusan kami datang, oh yah suami kamu mana nak?" tanya bibi Rara pura-pura tidak mengetahui apa-apa.
"Oh tadi dia keluar sebentar bi, Rafa lagi ada urusan sebentar" ucap Rara kepada bibinya berusaha memberi alasan kepada bibinya.
"Oh begitu yah nak, ya udah bibi bantuin yah kamu beres-beresnya" ucap bibi Rara.
__ADS_1
"Iya paman juga bantuin yah nak" ucap paman Rara.
"Nggak usah paman dan bibi kalian istirahat lah di kamar biar Rara yang bereskan ini, sebentar lagi beres kok" ucap Rara sambil mengantar paman dan bibinya ke kamar untuk mereka beristirahat.
Paman dan bibinya pun terpaksa mengikuti kemauan Rara. Sedangkan Rara mulai lagi pekerjaannya dengan masih merasa sedih ketika mengingat ucapan Rafa kepada dirinya.
#####
"Kasian Rara" ucap bibi Rara kepada suaminya.
"Iya kasian Rara, padahal aku ingin sekali melihat Rara bahagia, selama ini dia selalu saja nggak bahagia" ucap paman Rara.
"Kita berdoa saja semoga suatu saat nanti Rara akan bahagia" ucap bibi Rara.
"Iya semoga saja suatu saat nanti anak pak Rafindra bisa menyayangi Rara" ucap paman Rara juga.
#####
Rara pun selesai dengan bersih-bersihnya, dia pun menyiapkan makan buat mereka termasuk untuk Rafa tapi sampai sekarang Rafa belum juga pulang-pulang.
Sementara Rafa berada di kosnya dia sedang tidur di kosnya dia sangat malas berada di rumah bibi Rara, dia malas melihat wajah Rara.
Lagi enak-enaknya tidur, pintu kos Rafa pun di ketuk oleh orang membuat Rafa terbangun dari tidurnya.
"Hai Rafa gue bawah istri loe nih, tega banget loe ninggalin dia di rumah bibinya bersih-bersih sendiri dan loe enak-enakan tidur di sini" ucap Fandi dengan senyumnya lalu menyelonong masuk sambil menarik tangan Rara untuk masuk juga.
"Ngapain kalian kesini?" tanya Rafa dengan kesalnya. Dan loe ngapain loe masuk ke kos gue ucap Rafa lagi dengan sinisnya kepada Rara.
Rara pun hanya tertunduk.
"Dia kan istri loe lupa yah loe, kalian bakal tinggal berdua juga tuh di sini kenapa mesti dia nggak boleh masuk" ucap Fandi.
"Rara duduk lah anggap saja kayak di rumah sendiri" ucap Fandi mempersilahkan Rara duduk walaupun di kos itu tidak ada kursi maklum hanya kos-kosan anak kuliah yang ekonomi ke bawah yang di sewa Rafa.
Rara pun duduk mengikuti ucapan Fandi karena nggak mungkin dia berdiri terus di kos Rafa, Rara duduk sambil tertunduk dia tidak mau melihat wajah Rafa yang sedang kesal kepadanya.
__ADS_1
"Loe jangan gitu sama istri loe, kasian dia takut sama loe" ucap Fandi.