
"Rafa kamu jangan seperti itu, ini di restoran loh, kamu nggak malu dan kalau kita sampai di lihat nanti kita bakalan di pecat" ucap Rara panik sendiri.
"Siapa yang mau memecat kita, aku bosnya mana mungkin bisa di pecat" ucap Rafa serius namun Rara hanya menganggap itu candaan Rafa.
Rara hanya tersenyum lalu pergi bekerja ke tempat lain.
Pelayan-pelayan wanita yang tadi iri dengan Rara berjalan mendekati Rara.
"Loe itu kalau kerja yah kerja ajah nggak usah sambil tebar pesona" ucap salah satu pelayan itu dan yang lain melihat keadaan, mereka tidak mau kalau sampai ketahuan oleh Rafa.
Rara tersentak dan merasa bingung mendengar ucapan pelayan itu.
"Gue nggak tebar pesona kok" ucap Rara.
"Nggak tebar pesona loe bilang, terus ngapain loe dekat-dekat dengan Rafa haa" ucap pelayan itu lagi sambil mendorong Rara namun untung Rara tidak sampai jatuh ke lantai.
"Gue emang dekat dengan Rafa kan gue sekelas dengan dia dan juga dia lagi nggak terlalu sehat sekarang" ucap Rara menjelaskan.
"Nggak usah banyak alasan loe, dengar yah loe nggak usah terlalu dekat dengan Rafa loe nggak layak tahu nggak" ucap pelayan itu lagi.
Rara semakin bingung setelah mendengar ucapan pelayan itu.
Pelayan-pelayan itu tidak memberitahu Rara karena memang mereka sudah di larang. Yang dekat dengan Rafa tidak boleh tahu identitas Rafa.
"Kenapa loe diam ajah, mengerti nggak loe?" tanya pelayan itu lagi sambil mencengkram kuat tangan Rara.
"Gue nggak mengerti, tapi loe nggak berhak buat larang gue dekat dengan Rafa" ucap Rara sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan pelayan itu dari tangannya.
Pelayan itu benar-benar marah mendengar ucapan Rara, dia langsung menampar pipi Rara membuat pelayan yang lain terkejut.
"Kok loe nampar dia sih" ucap pelayan yang satunya.
"Karena gue emosi banget tahu nggak sama ini perempuan gatal" ucap pelayan yang menampar pipi Rara.
"Udah ayo kita pergi ke tempat lain nanti ada yang tahu lagi" ajak pelayan yang satunya.
Mereka pun pergi dan berusaha terlihat seperti tidak habis terjadi apa-apa.
Rara hanya memegang pipinya yang benar-benar sakit karena pelayan itu menamparnya dengan sekuat tenaga.
Rafa yang tidak melihat Rara pergi mencarinya di belakang.
__ADS_1
Rara berusaha terlihat baik-baik saja setelah melihat Rafa berjalan mendekatinya.
"Hei istriku kamu ngapain disini, bukannya tadi kamu itu perhatian banget sama aku nggak mau lihat aku kecapean" bisik Rafa di telinga Rara.
"Emm iya kamu memang nggak boleh terlalu capek dulu, biar aku yang gantiin kerja kamu yah, kamu istirahat dulu belum terlalu banyak juga pelanggan yang datang" ucap Rara berusaha terlihat baik-baik saja dan ingin pergi dari Rafa namun Rafa menahan tangan Rara.
Rafa melihat baik-baik pipi Rara.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Rafa dingin sambil menyentuh pipi Rara.
Rara sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi Rafa.
"Aku nggak sengaja tadi tabrak tembok waktu jalan" ucap Rara dengan memberi alasan seadanya.
Rara pun merutuki kebodohannya di dalam hatinya.
"Rara mana mungkin tabrak tembok sampai berbekas lima jari seperti ini, aku itu nggak bodoh" ucap Rafa masih dengan ekspresi dinginnya bahkan semakin dingin.
Rara pun hanya diam sambil tertunduk tidak berani melihat Rafa. Dia juga masih memikirkan alasan lain yang lebih masuk akal.
Rara istriku kamu itu terlalu baik untuk orang-orang yang tega sama kamu batin Rafa.
Rafa pun menggendong Rara ala bridal style membuat Rara benar-benar terkejut.
Bahkan pelayan yang menamparnya dan teman-temannya ikut melihat kejadian itu dan semakin iri.
"Aku mau bawah kamu pulang, nggak usah mikirin bos" ucap Rafa santai sambil masih menggendong Rara.
"Rafa kamu jangan bercanda" ucap Rara.
"Aku nggak bercanda" Kata Rafa.
Begitu sampai dekat motor Rafa menurunkan Rara. Rara pun ingin berjalan kembali masuk ke dalam restoran namun tangannya di tahan oleh Rafa.
"Naik di motor kita pulang" ucap Rafa serius membuat Rara takut membantah.
Dia pun menuruti kemauan Rafa.
Kenapa sih Rafa tiba-tiba langsung menakutkan begini batin Rara.
Rafa pun mengendarai motornya sambil berusaha menahan amarahnya, dia tidak ingin Rara takut terhadap dirinya tapi dia benar-benar marah melihat pipi Rara ada bekas tamparan dan Rara masih berusaha untuk tidak memberitahukan kepada dirinya dengan menggunakan alasan yang sangat tidak masuk akal.
__ADS_1
"Cewek itu benar-benar gatal yah" ucap pelayan yang habis menampar pipi Rara.
"Loe masih mikirin itu lagi, gue takut nih kalau sampai dia lapor sama Rafa gimana nasib kita nanti, loe nampar dia tadi kuat banget lagi ada bekasnya tahu" ucap pelayan yang satunya yang sudah keringat dingin.
"Loe nggak usah takut dia pasti nggak bakalan lapor sama Rafa, loe santai ajah jangan sampai karena sikap loe yang kayak gini buat Rafa curiga nanti, lagian mereka itu cuma teman sekelas mana mungkin Rafa mau pusing-pusing memikirkan bekas tamparan itu sih" ucap pelayan yang menampar pipi Rara.
"Terus tadi itu mereka mau kemana, loe nggak lihat Rafa seperti perduli banget sama Rara sampai digendong gitu" ucap teman pelayan yang menampar pipi Rara.
"Paling itu akal-akalan Rara lagi yang pura-pura terlihat lemah nggak bisa kerja supaya Rafa kasian dan dia di bawah pergi dari sini padahal gue cuma menampar pipinya dia tahu nggak" ucap pelayan itu.
"Kayaknya nggak seperti itu deh Rara kan nggak tahu tentang Rafa" ucap pelayan yang satunya lagi.
"Kalian disini di bayar untuk bekerja bukan menggosip" ucap manajer tiba-tiba membuat pelayan-pelayan itu terkejut kemudian dengan segera mereka kembali bekerja.
#####
Tiba di rumah mereka, Rafa dan Rara pun masuk ke dalam rumah.
Rafa langsung menyiapkan air untuk mengompres pipi Rara.
"Rafa biar aku ajah" ucap Rara.
Namun Rafa tidak mau, dia tetap ingin mengompres pipi Rara.
Rafa pun mulai mengompres pipi Rara.
"Rafa ini sebenarnya nggak sakit kok lebih baik kita kembali bekerja saja" ucap Rara lagi.
Rafa pun langsung mencium bibir Rara yang sejak tadi tidak mau diam dan Rara langsung diam tidak banyak bicara lagi setelah Rafa menciumnya.
Dia imut banget sih makanya jangan cerewet istriku, heem pokoknya yang menyentuhkan tangannya di pipimu tidak akan aku biarkan begitu saja tunggu saja bagianmu sebentar yah, tidak ada yang boleh menyakiti istri Rafandra Alexander, batin Rafa.
"Kenapa diam?" Tanya Rafa setelah mengompres pipi Rara.
"Kalau aku ribut nanti kamu cium lagi" ucap Rara dengan polosnya.
"Itu tahu, aku kembali kerja dulu yah, kamu di rumah saja" ucap Rafa sambil mengelus wajah Rara lembut.
"Ikut" mohon Rara dengan wajah kasiannya.
"Udah di rumah saja menurut sama suami biar aku yang bicara sama bos, oke dan jangan kemana-mana" ucap Rafa lalu mencium kening Rara kemudian bibir Rara cukup lama.
__ADS_1
Setelah itu dia dengan cepat keluar rumah menuju motornya dan dengan cepat mengendarai motornya menuju restoran sebelum Rara merengek lagi kepadanya bisa-bisa dia tidak tega.