
"Tolong jangan seperti itu pada Citra,, aku mohon,," ucap Rara kepada anak buah Denis.
"Nggak usah Ra memohon sama orang yang tidak punya hati seperti orang ini,, aku nggak apa-apa kok, biarkan saja,," ucap Citra.
"Cit,, sudah kamu jangan seperti itu lagi,, aku mohon Cit,, kamu sudah memar-memar seperti ini,, aku mohon jangan pancing kemarahan mereka lagi,," ucap Rara pada Citra sambil melihat Citra dengan wajah sedihnya.
Citra pun diam karena kasihan melihat Rara yang terus menangis.
Anak buah Denis kembali ke tempatnya lalu dia kembali duduk di sofa.
Sementara Denis langsung menyambut bos besarnya,, dia sedikit mengernyitkan keningnya bingung begitu melihat bosnya yang tampak sangat tertutup.
"Bos tidak apa-apa kan?" tanya Denis.
"Bos lagi sakit gigi tapi dia ingin menemui wanita-wanita itu,, jadi bawa saja langsung bos untuk menemui mereka," ucap salah satu anak buah yang sejak tadi mengikuti bos besar Denis.
"Bukannya bos tadi tidak apa-apa, sewaktu mau kesini," ucap Denis karena sempat bicara dengan bosnya.
"Kamu mau mati yah,, bos lagi sakit gigi tapi kamu malah banyak bicara,, apa kamu tidak tau kalau orang yang lagi sakit gigi akan sensitif,"
Denis pun langsung setuju dengan ucapan anak buah bos besarnya,, karena dia tau pasti sakit gigi sangat tidak enak dan membuat emosi orang menjadi lebih meningkat.
"Maaf,, ayo bos saya antar kepada kedua wanita itu," ucap Denis yang tidak mau banyak tanya lagi karena masih menyayangi nyawanya.
Mereka pun segera berjalan mengikuti Denis menuju ke tempat penyekapan Rara dan Citra.
Rafa benar-benar terkejut begitu melihat istrinya yang diikat sangat kuat,, serta melihat matanya yang sudah bengkak akibat menangis,, dan juga dia terkejut melihat Citra yang sudah memar-memar di wajahnya.
Rafa telah menangkap bos Denis beserta anak buahnya yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat penyekapan Rara semua itu tidak luput dari bantuan Aldi juga sehingga mereka cepat menemukan pelakunya. Rafa hanya membawa satu orang untuk menunjukkan mereka jalan.
__ADS_1
Rafa sengaja berpakaian tertutup dan menyamar karena tidak mau membahayakan Rara dan Citra apabila mereka langsung masuk,, dia tidak mau Rara dan Citra menjadi tameng mereka.
Sedangkan Fandi yang berada di antara anak buahnya terkejut melihat Citra yang memar-memar dan dia juga sangat khawatir melihat Rara.
Untung kalian tidak kenapa-kenapa,, tapi kenapa tuh Citra seperti itu,, padahal aku sangat yakin yang mereka ingin culik itu adalah Rara tapi kenapa Citra yang memar seperti itu,, apa dia mencoba melawan? batin Fandi.
"Bos sengaja datang untuk melenyapkan mereka langsung kan,, jadi silahkan bos di lenyap kan,, kalau bisa wanita ini duluan bos,, karena dia sangat menjengkelkan,, dia bilang kalau kita banci karena menculik wanita,, berani sama wanita saja bukan sama laki-laki," ucap Denis sambil melihat Citra penuh dendam.
Oh jadi gara-gara itu,, pantas saja dia jadi seperti itu,, benar-benar berani juga dia ngatain orang seperti itu disaat dirinya seperti ini,, batin Fandi.
Sedangkan Rara merasa lega karena mau Rafa bagaimana pun dia tetap tau suaminya,, dia tetap tau postur tubuh suaminya bahkan cara berjalannya.
Akhirnya kamu datang,, aku benar-benar lega sekarang,, batin Rara sambil melihat Rafa.
Citra merasa sedikit aneh begitu melihat bos besar Denis. Dia pun melihat satu persatu anak buah bos besar Denis.
"Tangkap mereka semua," perintah Rafa yang langsung membuat Denis tampak kebingungan dan juga terkejut begitu mendengar bukan suara bos besarnya melainkan suara Rafa.
Dalam hitungan menit mereka sudah di bawa kendali Rafa.
Di luar rumah juga sudah di jaga baik-baik oleh anak buah Rafa dan Fandi.
"Kamu siapa?" tanya Denis meskipun dia sudah tidak asing lagi dengan suara yang barusan dia dengar.
Rafa pun membuka penyamarannya yang membuat Denis terkejut.
"Kaget?" ucap Rafa.
"Berani sekali kamu menculik istriku," ucap Rafa lalu memukuli Denis berkali-kali hingga Denis tampak sangat kesakitan.
__ADS_1
"Terus Rafa pukuli dia,, dia itu sudah sangat kurang ajar pada Rara tadi,, dan dia juga bilangin Rara cantik loh,," ucap Citra yang sangat dendam pada Denis.
Fandi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum begitu mendengar ucapan Citra.
Tau saja Citra ini cara menambah emosi Rafa,, batin Fandi.
Benar saja Rafa semakin emosi begitu mendengar ucapan Citra. Denis semakin di pukuli dengan Rafa. Denis tidak bisa berbicara apa-apa lagi karena bibirnya benar-benar sakit dan juga dia tidak punya kesempatan untuk berbicara karena Rafa terus memukuli dirinya.
"Cit,, kamu kok bicara seperti itu,, kasihan pria itu, jangan buat Rafa semakin emosi," ucap Rara yang sangat ngeri melihat Rafa ketika sedang emosi,, dia bahkan takut berbicara pada Rafa,, karena Rafa terlihat sangat marah.
"Biarin aja Ra memang dia berbicara seperti itu tadi, kamu lupa kalau Rafa tidak datang kita pasti akan di bunuh oleh mereka jadi biarkan dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan,, kamu jangan terlalu baik,, baiklah sama orang yang pantas mendapatkan kebaikan kamu,, kalau dia nggak pantas mendapatkan kebaikan kamu yah kamu nggak usah baik,," ucap Citra pada Rara yang membuat Rara hanya melongo.
Fandi langsung berjalan membuka pengikat Rara dan Citra.
"Ra,, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Fandi sambil melihat Rara dengan ekspresi wajah khawatirnya.
Aku Fandi yang kenapa-kenapa disini,, kamu nggak lihat apa,,, aku memar-memar begini,, bisakah kamu juga khawatir pada aku? sepertinya nggak akan mungkin itu terjadi,, batin Citra sambil melihat Fandi.
"Iya Fan aku nggak kenapa-kenapa kok,, Citra yang kenapa-kenapa tuh,,, dia kasihan banget," ucap Rara sambil melihat Citra.
Fandi pun melihat ke arah Citra dan mendekati Citra.
Deg...
Jantung Citra benar-benar berpacu dengan cepat begitu Fandi sangat dekat kepadanya.
"Meskipun yang kamu katakan itu benar,, mereka banci karena berani menculik perempuan yang tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawan,,, tapi kamu harus melihat situasi juga,, supaya kamu tidak terluka seperti ini,," ucap Fandi lembut untuk pertama kalinya pada Citra sambil memeriksa wajah Citra.
Aku sudah melihat situasi makanya aku katakan seperti itu,, tolong jangan sedekat ini padaku,, aku bisa kena penyakit jantung, batin Citra karena dia tidak bisa mengucapkan langsung,, bibirnya terasa sangat susah untuk berucap.
__ADS_1