
"Dasar Zahra kerjaannya marah-marah terus,, aku kan mau fokus ehhh dia marah-marah terus,," ucap Reno lalu segera menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit lagi.
Zahra benar-benar kesal melihat kepergian Reno yang seperti tanpa salah padahal semua ini terjadi karena Reno.
Awas saja kalian,, batin Zahra.
##########
Sementara Ana yang berada di rumah sakit masih berusaha untuk menerima keadaannya,, semua itu karena dia melihat Aldi yang tampak sedih juga,, Ana tidak tega melihat kakaknya yang biasa ceria langsung sedih karena dirinya yang sedih.
Dan juga dia tidak tega melihat orang-orang disekitarnya yang ikutan sedih.
Ana kemudian mengernyitkan keningnya bingung begitu melihat wajah Citra,, karena terlalu sedih dan shock dengan keadaannya sekarang dia tidak menyadari dengan wajah Citra yang tampak memar. Barulah sekarang dia menyadarinya.
"Citra ada apa dengan wajah cantik kamu? kenapa bisa jadi seperti itu? memar seperti itu?" tanya Ana yang membuat Citra tampak tersenyum malu-malu begitu mendengar ucapan Ana karena disitu ada Fandi.
Fandi mengernyitkan dahinya bingung begitu melihat ekspresi wajah Citra.
"Kamu ditanyain tuh,, kenapa malah senyum-senyum seperti orang gila saja," ucap Fandi sambil melihat Citra.
Astaga nih cowok begitu amat sih sama aku,, aku senyum-senyum tuh karena Ana memuji aku di depan kamu,, yah siapa tau aja kan kamu menyadari kecantikan aku,, tapi sepertinya dia nggak menyadarinya,, hmmm gini amat sih suka sama cowok batu,,, tapi tunggu saja aku pasti akan mendekati kamu,, setelah wajah ku kembali seperti dulu,, batin Citra.
"Lah dia malah diam," ucap Fandi lagi terheran-heran dengan Citra.
"Kenapa sih kalau aku diam,, kamu suka yah dengar suara aku makanya kamu nggak suka kalau aku diam," ucap Citra yang diam di tempat,, dia masih belum berani merayu Fandi seperti yang dia lakukan pada anak buah Rafa sebelumnya.
"Isshh kepedean banget sih kamu,, aku bicara seperti itu karena Ana bertanya sama kamu," ucap Fandi lagi sambil terheran-heran dengan tingkah Citra yang aneh menurutnya.
"Oh gitu,, kirain kamu nggak suka kalau aku diam," ucap Citra.
Yang lain hanya melihat mereka berdua saja.
Fandi hanya mencebikkan bibirnya sambil melihat Citra yang sangat kepedean menurutnya.
"Hmmm aku tuh kayak gini,, karena aku habis diculik Ana,, dan penculiknya itu menampar aku makanya aku jadi seperti ini,," ucap Citra yang membuat Ana terkejut.
__ADS_1
"Kok bisa Cit,, kamu diculik? kamu darimana memangnya kenapa bisa diculik? dan apa tujuan mereka menculik kamu? untung kamu sudah terbebas dari penculik itu meskipun kamu memar seperti ini," ucap Ana.
Aldi senang karena Ana sudah mulai mau berbicara begitu pun yang lain ikut merasa senang.
"Yah bisa saja Ana aku di culik,, mungkin karena aku cantik makanya aku di culik,," ucap Citra asal yang malah membuat Fandi menggelengkan kepalanya.
"Dia diculik karena bersama Rara,,, sebenarnya pasti Rara saja yang ingin mereka culik tapi karena ada dia jadi dia ikut di culik deh,, bukan karena cantik,, di lihat dari mana pun kamu nggak cantik," ucap Fandi sambil bergidik ngeri.
"Astaga gitu amat sih kamu pakai bergidik segala bilangin aku nggak cantik,, Aldi aku cantik kan?" ucap Citra sambil melihat Aldi.
"Nggak," jawab Aldi lalu tertawa.
"Hmmm aku salah tanya orang,, Rara aku cantik kan?" ucap Citra sambil melihat Rara.
"Iya kamu cantik karena kamu wanita," ucap Rara yang membuat tawa di dalam ruangan itu langsung pecah lagi.
"Ya ampun Ra,, gitu amat," ucap Citra.
"Bercanda kok,, Citra itu cantik coba deh kalian perhatikan baik-baik makanya sangat rugi kalau Fandi nggak suka sama Citra," ucap Rara.
Mereka hanya menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapan Fandi.
"Berarti nih wajah kamu Cit seperti itu,, memang benar-benar karena habis di tampar sama penculik?" tanya Ana lagi yang masih belum percaya.
"Iya Ana,, makanya kamu jangan seperti aku yah kalau di culik,, tapi semoga saja kamu nggak akan pernah di culik,,, ada Aldi yang akan menjaga kamu," ucap Citra.
"Iya dong,, aku akan lebih menjaga adikku lagi,, karena aku nggak mau terjadi seperti ini lagi," ucap Aldi.
Ana hanya mencebikkan bibirnya karena sudah tau dengan maksud kakaknya.
"Oh iya siapa yang menculik kalian?" tanya Ana.
"Nggak tau lah,, mungkin orang yang nggak ada kerjaan," jawab Citra asal lalu tertawa.
"Dasar nih anak,, aku tanya serius loh," ucap Ana lagi.
__ADS_1
"Kita juga nggak tau mereka musuh baru,, aku nggak kenal sama mereka sebelumnya,, kita curiganya ada orang di belakang mereka lagi," ucap Rafa pada akhirnya.
"Ya ampun kalau gitu berarti harus lebih hati-hati lagi kak Rafa dan juga kak Rara,, karena jangan-jangan ada yang lagi diam-diam menyusun rencana sekarang untuk menyakiti kalian," ucap Ana.
"Iya dek makasih yah sudah perhatian pada kita,, kamu juga harus semangat yah supaya bisa sembuh," ucap Rafa sambil tersenyum pada Ana.
"Iya Ana kamu semangat yah,, jangan sedih-sedih," ucap Rara juga
"Iya kak,, maaf yah tadi aku udah buat kalian khawatir dengan teriak-teriak," ucap Ana lagi.
"Nggak apa-apa kok dek massa kamu minta maaf sih, itu kan karena kamu sangat shock,," ucap Aldi.
Ana pun tersenyum pada Aldi. Kemudian Ana menoleh kepada mama Reno.
"Tante maaf yah karena Ana kecelakaan jadi merepotkan tante sampai-sampai tante kesini," ucap Ana lagi.
"Ya ampun nggak usah minta maaf sayang kamu nggak merepotkan sama sekali," ucap mama Reno cepat.
"Tetap aja aku nggak enak," ucap Ana.
"Yah dikasih enak dong," ucap Mama Reno sambil tersenyum.
Ana pun ikut tersenyum begitu mendengar ucapan Mama Reno.
"Aldi lebih baik kamu urus administrasi nya dulu,, lalu kita pindahkan Ana ke rumah sakit ku saja,,, di sana Ana akan mendapatkan perawatan sebaik-baiknya sampai dia sembuh," ucap Raka.
"Iya memang begitu rencana aku," ucap Aldi.
"Gratis kan kalau di rumah sakit kamu?" ucap Aldi sambil menahan tawanya.
"Iyalah gratis,, tapi karena kamu banyak uang nggak usah gratis ajalah,,, bayar aja yah," ucap Rafa.
"Nggak mau lah,, biarpun banyak uang tapi yang gratis jauh lebih enak," ucap Aldi lalu tertawa.
Dan mereka lagi-lagi tertawa begitu pun dengan Ana.
__ADS_1
"Aku mau urus administrasi nya dulu kalau gitu,," ucap Aldi lalu segera berjalan keluar dari dalam ruangan Ana.