
Sedangkan di tempat lain lagi-lagi Zahra dan Fania harus menerima kenyataan kalau mereka gagal lagi membalas perbuatan Rara dan Rafa.
"Sial kenapa kita gagal terus sih" ucap Fania kesal.
"Iya nih, ternyata Rafa si pelayan miskin itu jago bela diri, preman banyak begitu dia bisa lawan, ini salah kita terlalu menganggap enteng pelayan miskin itu" ucap Zahra yang tak kalah kesalnya.
Zahra dan Fania tahu kalau Rafa yang melawan preman-preman itu sendirian karena preman-preman itu menyebutkan ciri-ciri dan juga nama Rafa yang sempat mereka dengar di sebut oleh Rara.
"Iya gue benar-benar nggak nyangka kalau dia bisa bela diri dan dia belajar dimana juga dia kan miskin tapi kok bisa jago bela diri sih, kalau dia orang kaya wajar pintar bela diri karena dia pasti di ajar oleh orang yang sudah ahli dan sudah tentu bayarannya mahal, nah ini dia itu hanya seorang pelayan tahu nggak" ucap Fania merasa bingung.
"Dia belajar sendiri kali atau dia memang ahli bela diri" ucap Zahra.
"Tapi Zahra preman yang kita bayar itu banyak loh" ucap Fania.
"Sudahlah kita nggak usah mikirin itu yang intinya kita gagal lagi sekarang" ucap Zahra.
"Iya juga sih kesal banget gue tahu nggak" ucap Fania.
Mereka pun duduk sama-sama meratapi nasib yang gagal lagi membalas dendam.
#####
Di kos Rafa, Rara telah selesai mandi. Rara keluar dari kamar mandi sambil masih mengeringkan rambutnya.
Rafa pun memperhatikan Rara yang sedang asik mengeringkan rambutnya.
Rara ini cantik sebenarnya walaupun tidak dandan bahkan mengalahkan cantiknya Zahra dan dia juga baik nggak sombong kok gue baru sadar sekarang yah batin Rafa.
Setelah Rara selesai mengeringkan rambutnya, Rara pun teringat dengan Fandi karena Fandi biasanya menelepon dirinya apalagi tadi mereka habis ke rumahnya.
"Rafa tadi Fandi nelfon nggak?" tanya Rara kepada Rafa.
"Iya dia nelfon dan gue angkat" ucap Rafa.
"Oh" ucap Rara sambil mengambil ponselnya dan menunggu telfon dari Fandi.
"Nggak usah loe tungguin dia nggak bakalan nelfon lagi karena tadi dia hanya menanyakan kalau kita udah sampai atau belum dan gue udah bilang kalau kita udah sampai" ucap Rafa yang mengerti bahwa Rara pasti menunggu telfon dari Fandi lagi.
"Oh, loe nggak bilang kan tentang kita yang di hadang sama preman-preman?" tanya Rara serius.
"Nggak, memangnya kenapa kalau gue bilang?" tanya Rafa balik.
"Syukur deh loe nggak bilang, gue nggak mau ajah dia itu khawatir bahkan mungkin bisa saja dia datang kesini, dia kan lagi sakit" ucap Rara yang paham betul sifat Fandi.
__ADS_1
"Loe perhatian banget sama dia yang sakit cuma gitu doang, gue loh ini yang parah sakitnya habis di pukulin preman tapi loe nggak khawatir, nggak perhatian sama gue" ucap Rafa dengan cemberutnya.
"Mana ada gue nggak perhatian sama loe, kalian berdua itu sahabat gue jadi pasti gue perhatiannya sama. Apa masih sakit?" tanya Rara bercanda sambil memegangi wajah Rafa penuh perhatian.
"Nggak usah berlebihan ngeselin banget, sana pergi sisir rambut loe terus kita ngerjain tugas" ucap Rafa mengingatkan Rara.
"Oh iya hampir gue lupa" ucap Rara.
Rara pun segera menyisir rambutnya setelah itu dia mulai mengambil apa-apa saja yang dia butuhkan termaksud laptop kemudian dia duduk di dekat Rafa.
"Rafa loe mau gue bikinin minum nggak?" tanya Rara.
"Emm boleh deh" ucap Rafa.
Rara pun segera pergi membuatkan minum buat Rafa dan juga dirinya.
Enak juga yah punya istri apa-apa di tanyain, terus dia yang urus semua batin Rafa mengingat kalau dirinya masih sendiri pasti dia bikin sendiri minuman.
Rara pun telah selesai membuatnya dan membawa ke tempat mereka akan mengerjakan tugas.
"Rafa loe suka coklat yah?" tanya Rara karena melihat banyak minuman coklat instan.
"Iya suka banget, kenapa loe nggak suka yah kita bisa keluar cari minuman yang loe suka" ucap Rafa.
"Boleh kok tapi nggak gratis yah" ucap Rafa.
"Perhitungan banget sih loe Rafa" ucap Rara sambil cemberut.
"Nggak usah cemberut gitu, gue cuma bercanda, kalau habis loe tambah deh terserah loe, mau loe makan dengan plastiknya juga gue ikhlas" ucap Rafa lalu tertawa.
"Itu sih kelebihan ikhlas, ayo kita ngerjain tugas lagi semangat gue nih" ucap Rara.
Mereka pun mulai mengerjakan tugas dengan Rafa yang meminta soalnya terlebih dahulu kepada Rara karena Rafa tidak memperhatikan sewaktu mereka di beri tugas.
Rara yang merasa tugasnya sangat susah biarpun sudah mencari di internet juga, malah heran melihat Rafa yang sangat santai mengerjakan tugasnya seperti tidak ada beban sama sekali.
"Rafa loe lagi ngerjain tugas kan?" tanya Rara.
Rafa pun mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Rara.
"Iya mau ngerjain apa lagi emangnya selain tugas" ucap Rafa.
"Terus kenapa loe santai banget kayak gitu, emang itu nggak susah yah?" tanya Rara.
__ADS_1
"Nggak lah ini gampang banget" ucap Rafa santai.
"Benarkah, ajarin yang gue nggak ngerti dong Rafa" mohon Rara memasang wajah terkasiannya.
"Bisa sih gue ajarin loe tapi ada syaratnya" ucap Rafa sambil tersenyum penuh makna.
"Loe niat bantu nggak sih, gue kerjain sendiri ajah deh pasti gue tahu yang penting yakin" ucap Rara lalu melanjutkan mengerjakan tugasnya.
"Terserah, gue sih yakin loe pasti bakalan nggak tahu" ucap Rafa meremehkan lalu tertawa.
Rara pun hanya diam tidak menggubris ucapan Rafa, Rara mencoba mengerjakan lagi tugasnya yang sangat susah menurutnya. Sebenarnya kalau bukan besok mau di kumpulkan mungkin Rara bakalan bisa mengerjakannya dengan pergi mencari buku tapi sayangnya tugasnya besok sudah di kumpulkan membuat Rara tak punya waktu untuk mencari buku lagi.
Rafa pun telah selesai mengerjakan tugasnya lalu dengan santainya dia duduk sambil meminum minumannya yang habis di buatkan oleh Rara. Rafa terus memperhatikan Rara yang tampak kebingungan lalu diam-diam tersenyum.
Dasar keras kepala batin Rafa.
Rafa yang masih memperhatikan Rara di kejutkan dengan bunyi ponselnya yang mendadak. Di lihatnya siapa yang menelepon dirinya. Dan ternyata yang meneleponnya Zahra.
Rafa pun tanpa pikir panjang langsung mematikan panggilan telfon dari Zahra. Rafa sudah tahu maksud Zahra meneleponnya pasti tentang tugas.
Namun Zahra seakan tidak punya malu, dia terus saja menelepon Rafa, dengan terpaksa Rafa mengangkatnya karena tidak mau kalau bunyi ponselnya mengganggu konsentrasi Rara.
"Halo Zahra kenapa loe nelfon gue?" tanya Rafa langsung.
Rara yang mendengar nama Zahra berbalik sebentar kepada Rafa lalu melanjutkan lagi mengerjakan tugasnya.
"Emm gue mau minta tolong sama loe Rafa, loe bisa nggak ngerjain tugas gue, gue minta maaf atas kelakuan gue sama loe akhir-akhir ini" ucap Zahra yang berpura-pura baik dan meminta maaf.
Zahra tidak punya pilihan lain selain meminta Rafa mengerjakan tugasnya karena orang yang dia suruh kerjakan tugasnya lagi sibuk dengan urusannya juga.
"Nggak bisa, udah yah gue sibuk" ucap Rafa lalu menonaktifkan ponselnya.
Rafa pun memperhatikan Rara lagi yang kelihatan sekali semakin pusing melihat soal itu.
"Rafa syarat loe apa? gue nggak sanggup lagi, gue udah cari di internet juga tapi tetap ajah gue masih bingung" ucap Rara sambil melihat Rafa.
Rafa pun tersenyum penuh kemenangan.
"Benar kan yang gue bilang, syarat gue nggak susah kok" ucap Rafa sambil melihat bibir Rara.
"Iya apa syarat loe?" tanya Rara lagi tidak sabaran.
"Cium bibir gue" ucap Rafa sambil menunjuk bibirnya.
__ADS_1