Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Astaga Citra...


__ADS_3

Fandi melihat heran pada Citra karena tidak biasanya Citra akan diam.


"Kamu kenapa jadi diam? tumben banget biasanya kamu kan nyolot orangnya,,, pasti karena kamu memar-memar yah jadi nggak bisa nyolot," ucap Fandi sambil tersenyum.


Duhh kok dia pakai senyum segala sih,, batin Citra.


"Udah tau pakai nanya lagi," ucap Citra tiba-tiba.


Duh kok aku bilang seperti itu sih,, goblok banget kamu Cit,, batin Citra.


"Untuk memastikan aja," ucap Fandi.


"Kalian jangan ribut dulu yah,," ucap Rara yang menjadi penengah sebelum terjadi keributan.


"Nggak kok Ra,, aku lagi nggak ada tenaga buat ribut,,," ucap Citra.


"Bagus lah,, aku pikir tadi mau ribut lagi kalian," ucap Rara yang masih belum terlalu fokus pada Rafa,, yang masih memukuli Denis karena Rafa terlalu marah.


"Rafa udah,, biar polisi yang urus mereka," ucap Fandi karena melihat Rafa masih terus memukuli Denis meskipun Denis sudah memohon agar Rafa berhenti.


Rara langsung melihat ke arah Rafa yang memang masih memukuli Denis.


"Sayang sudah,, kasian dia benar kata Fandi biar polisi saja yang urus," ucap Rara sambil menghentikan Rafa.


Rafa pun perlahan-lahan menghentikan pukulannya pada Denis yang sudah terlihat sangat lemas dan juga sudah berdarah-darah.


Tak lama polisi pun datang karena Rafa memang sudah melapor kepada polisi begitu sedang dalam perjalanan tadi.


"Tangkap dia pak," ucap Rafa.


Polisi itu segera menangkap Denis beserta anak buahnya sedangkan bos besar Denis sudah lebih dulu berada di kantor polisi. Rafa juga menyuruh anak buahnya sebagian untuk ikut ke kantor polisi karena untuk jaga-jaga jangan sampai mereka punya teman yang lain.


Rafa kemudian memeriksa Rara,, karena takut jika istrinya itu kenapa-kenapa.


"Aku nggak apa-apa kok," ucap Rara.


"Beneran? nggak ada yang memar kan? ada yang sakit?" tanya Rafa lagi.


"Nggak ada kok,, makasih yah kamu udah datang disaat yang tepat aku tadi benar-benar sangat takut,," ucap Rara sambil memeluk suaminya.


"Iya sayang,, aku benar-benar sangat takut tadi akan datang terlambat,,, aku nggak tau lagi apa yang akan aku lakukan jika kamu kenapa-kenapa," ucap Rafa sambil memeluk erat tubuh Rara.


"Maafin aku yang membuat kamu dan yang lainnya susah," ucap Rara merasa bersalah.


"Kamu jangan berbicara seperti itu,, kamu nggak perlu minta maaf sayang ini bukan salah kamu kok,, ini semua karena orang yang tidak suka pada aku,,, jadi kamu juga terbawa-bawa,," ucap Rafa.

__ADS_1


"Iya Ra,, kamu nggak salah apa-apa kok,, jangan salahkan diri kamu yah," ucap Fandi juga.


"Makasih yah Fandi kamu juga sudah membantu Rafa untuk menemukan kita," ucap Rara.


"Udah Ra tidak usah bilang terima kasih segala,, dan ini juga karena bantuan dari Aldi,, sebenarnya dia juga mau ikut tadi tapi kita melarangnya karena dia belum lama ini habis terkena tembakan,," ucap Fandi.


"Iya benar kata Fandi kamu nggak usah bilang terima kasih,,, kamu kan istri aku," ucap Rafa.


Rara tersenyum begitu mendengar ucapan Rafa. Sedangkan Citra hanya menjadi pendengar dan melihat ke arah Rafa,, Rara dan juga Fandi.


"Kamu tau siapa bos besar mereka?" tanya Rara.


"Aku nggak tau,, aku nggak pernah bertemu dengan pria itu sama sekali,, baru tadi aku bertemu dengan dia,," ucap Rafa sambil mengingat wajah bos besar Denis yang memang tidak dikenalnya.


"Tapi sepertinya dia sudah sangat mengenal aku dan juga dia tau kalau kamu itu kelemahan aku," ucap Rafa.


"Sudahlah nggak usah terlalu memikirkan itu,, yang penting dia sudah berada di dalam penjara,,, jadi dia tidak akan bisa ngapain-ngapain lagi," ucap Rara.


"Iya juga sih,, tapi aku akan tetap mengawasi mereka meskipun di dalam penjara,,, siapa tau saja orang yang aku kenal akan datang menemui mereka," ucap Rafa.


"Iya Rafa itu memang harus kita lakukan," ucap Fandi juga,, dan Citra lagi-lagi hanya melihat kagum pada Fandi.


"Ayo aku antar kamu pulang dulu," ucap Rafa.


"Kompak banget kalian," ucap Rafa.


"Iyalah,, karena kita sama-sama nggak mau,," ucap Fandi.


"Iya benar kata Fandi,, aku bisa mengobati diriku sendiri kok Rafa,," ucap Citra.


"Udahlah nggak apa-apa,, ayo kita ke mobil," ucap Rafa.


Rara pun segera mengikuti suaminya karena Rafa menggandeng tangannya,, dan yang lain pun mengikut termasuk Fandi dan Citra.


"Kamu jangan lihatin aku terus,, nanti tembok itu kamu tabrak," ucap Fandi yang membuat Citra terlonjak kaget dan langsung melihat ke depannya, dan benar saja dia sudah hampir menabrak tembok karena dirinya selalu fokus pada Fandi.


Ya ampun Cit,, kamu itu malu-maluin aja tau nggak, batin Citra sambil merutuki kebodohannya yang selalu melihat Fandi tanpa memperhatikan jalannya.


Begitu sampai mobil Fandi langsung menarik Citra agar duduk di dekatnya,, karena dia ingin mengobati Citra,, dia hanya bercanda saja ketika berucap di dalam rumah tadi tidak mau mengobati Citra,, Fandi masih punya hati yang baik,, makanya dia tidak mungkin tega melihat wanita terluka.


Citra benar-benar terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Fandi.


"Kamu mau ngapain?" tanya Citra sambil berusaha menjauh dari Fandi karena dia akan selalu merasa deg-degkan jika berada di dekat Fandi,, namun Fandi menahan Citra.


"Aku mau mengobati kamu jadi diam lah,, bisa kan?" ucap Fandi sambil membuka kotak P3K yang selalu dia bawa.

__ADS_1


"Nggak usah aku bisa sendiri kok," ucap Citra.


Please kalau kamu seperti itu,, jantung aku deg-degkan terus,, batin Citra.


"Biar aku saja yang lakukan,, nggak usah berisik deh,, bisa kan? bisa dong pasti," ucap Fandi sambil mulai mengobati Citra.


Citra sesekali meringis kesakitan.


Fandi benar-benar tidak habis pikir kalau ada pria yang bisa berbuat seperti ini pada wanita yang tidak salah apa-apa dan juga lemah.


"Kamu harus ke rumah sakit,, dia nampar kamu pakai kekuatan penuh banget ini,, sampai-sampai parah banget gini," ucap Fandi.


"Iya aku memang mau ke rumah sakit kok sebentar," ucap Citra.


"Cit maafin aku banget,, gara-gara aku,, kamu jadi seperti ini," ucap Rara yang benar-benar semakin merasa tidak enak begitu dengar Citra akan ke rumah sakit.


"Udah Ra nggak usah minta maaf ini bukan salah kamu kok,, santai aja," ucap Citra.


"Iya sayang nggak usah menyalahkan diri kamu sendiri,, ayo kita ke rumah sakit mengantar Citra,," ucap Rafa.


Tiba-tiba ponsel Rafa berdering. Rafa langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.


Begitu dia melihat Aldi yang meneleponnya,, dengan segera Rafa mengangkat panggilan telfon dari Aldi.


"Halo Rafa,, gimana Rara dan Citra sudah bersama kamu kan? mereka nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Aldi yang sejak tadi merasa tidak tenang begitu tau Rara dan Citra di culik.


"Iya Aldi mereka sudah bersama aku sekarang,, hanya Citra perlu di bawa ke rumah sakit dulu karena dia memar,, di siksa dengan Denis,, ucap Rafa sambil melihat Citra.


Aldi terkejut begitu mendengar ucapan Rafa.


"Ya ampun,, dia parah banget?" tanya Aldi.


"Nggak juga kok kalau dari luar,, nggak tau di dalam,, tapi semoga saja dia nggak parah,," ucap Rafa.


"Iya semoga saja,, kalau Rara gimana?" tanya Aldi juga karena Citra saja memar bisa-bisa Rara juga ikut memar.


"Dia nggak kenapa-kenapa," jawab Rafa.


"Loh kok bisa Citra memar? berarti Citra dong yang mereka incar,,, ada musuh juga tuh anak," ucap Aldi.


"Nggak gitu,, memang istriku yang mereka incar,, hanya Citra bilangin Denis banci makanya Denis marah dan menyiksa Citra," ucap Rafa.


"Astaga Citra,, Citra,, ya udah kalian bawa dulu dia ke rumah sakit,, atau langsung pulangkan saja biar dokter pribadi aku yang memeriksa dia," ucap Aldi.


"Nggak usah biar Fandi yang membawa dia ke rumah sakit,," ucap Rafa.

__ADS_1


__ADS_2