Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Hanyalah Rara...


__ADS_3

"Sayang kamu kenapa? aku benar-benar sangat khawatir,, tadi kamu makan apa? kok bisa muntah-muntah seperti ini," ucap Rafa khawatir.


Rara terus muntah-muntah tanpa menggubris pertanyaan Rafa,, Rara juga bingung dengan dirinya sendiri mengapa dia muntah-muntah seperti ini dan juga merasa pusing.


Rafa semakin bertambah khawatir,, Rafa dengan segera menghubungi Fandi.


Fandi yang ingin melanjutkan kembali tontonannya terpaksa menundahnya dulu begitu mendengar ponselnya berdering,, dengan segera Fandi melihat nama kontak yang menelepon dirinya. Fandi mengernyitkan keningnya begitu melihat Rafa lah yang meneleponnya malam-malam seperti ini,, sangat tumben menurut Fandi,, biasanya Rafa menelepon malam-malam begini pasti ada sesuatu yang terjadi dan itu langsung membuat Fandi khawatir dan langsung teringat pada Rara.


"Rara nggak kenapa-kenapa kan?" ucap Fandi sambil mengangkat panggilan telepon dari Rafa.


"Halo,, Rafa ada apa? Rara nggak kenapa-kenapa kan? dia sedang bersama kamu sekarang kan?" tanya Fandi khawatir.


Rafa terkadang heran terhadap perhatian Fandi kepada istrinya,, namun Rafa tak pernah kepikiran sama sekali bahwa Fandi akan mencintai istrinya selama ini.


"Rafa,, kok malah diam? ada apa?" ucap Fandi lagi lalu tak sengaja mendengar Rara yang sedang muntah-muntah.


"Halo,, Rafa,, Rara kok muntah-muntah? ada apa? dia nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Fandi benar-benar khawatir.


"Kamu dimana sekarang? aku ke sana sekarang," ucap Fandi lagi sambil berjalan mengambil jaket dan juga kunci motornya.

__ADS_1


Fandi memilih akan membawa motor saja dibandingkan mobil,, karena Fandi ingin segera cepat sampai kepada Rara.


"Aku juga nggak tau Fan,, sejak tadi dia muntah-muntah,, kamu kesini lah segera,, aku lagi di rumah," ucap Rafa.


"Oke,, aku ke sana," ucap Fandi lalu segera menutup panggilan telepon nya.


Rafa sengaja memanggil Fandi agar Fandi bisa mengawasi dirinya,, Rafa tak akan mau lengah lagi,, Rafa selalu berjaga-jaga ketika keluar rumah,, mengingat musuhnya selalu saja ada,, tapi dengan kondisi Rara yang seperti ini tentu membuat Rafa tak akan konsentrasi,, jadi dia akan mengandalkan Fandi.


Rafa tak memanggil dokter karena dokter pribadinya tak ada di Indonesia saat ini. Rafa tak sembarangan memanggil dokter,, dokter pribadinya itu sudah tentu telah melalui berbagai tes. Karena Rafa tau bisa saja dokter juga menjadi bagian dari penjahat.


Fandi sebelum mengendarai motornya segera menghubungi Aldi untuk memberitahukan kabar Rafa dan Rara.


"Kak Aldi kok belum pulang-pulang yah?" ucap Ana begitu melihat jam.


"Iya nih,, tumben banget yah,, ayo hubungi dia Ana,, aku khawatir,," ucap Citra karena Aldi tak biasanya seperti ini tanpa kabar.


Ana pun segera menghubungi Aldi.


Dan Ana terkejut ketika mendengar kabar dari Aldi,, Citra pun ikut terkejut dan sangat khawatir pada Rara.

__ADS_1


"Kak Aldi,, aku dan Citra ke sana yah? kami sangat khawatir pada kak Rara,," ucap Ana yang meminta izin terlebih dahulu.


"Baiklah,, tapi sopir harus mengantar kalian,, dan juga akan ada anak buah ku yang mengikuti kalian," ucap Aldi yang juga tak mau lengah dalam menjaga Ana dan Citra.


Ana dan Citra pun mengiyakan.


###################


Di perjalanan...


Di lampu merah,, mobil yang mengantar Ana dan Citra tanpa sengaja bersampingan dengan motor Fandi.


"Cit,, itu sepertinya kak Fandi?" ucap Ana begitu melihat Fandi di samping mobil mereka,, yang tampak sangat keren menggunakan motor.


Citra pun segera menoleh dan memang benar itu adalah Fandi,, jantung Citra berdetak sangat kencang begitu melihat Fandi yang sangat keren karena jarang-jarang melihat Fandi menggunakan motor.


Ya ampun pacar orang ganteng banget woi,, batin Citra sambil melihat Fandi yang tampak jelas sedang khawatir saat ini.


Di pikiran Fandi hanyalah Rara.

__ADS_1


##############


__ADS_2