Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Rusak tak tersisa


__ADS_3

"Sudah kok Rara" Jawab Rafa tanpa bertanya kembali pada Rara.


Rara pun bertanya lagi kepada Rafa.


"Rafa kamu ngapain sih seharian ini, aku telfon tapi kamu tidak angkat?" Tanya Rara.


"Aku ada urusan" Jawab Rafa singkat, padat dan jelas membuat Rara bingung mau bicara apa lagi.


Rara pun akhirnya diam juga selama di bonceng Rafa.


Sampai di rumahnya Rafa pun menyimpan motornya pada tempatnya lalu langsung masuk ke dalam rumah dan Rara pun ikut masuk, Rara merasa aneh dengan sikap Rafa yang benar-benar sangat berubah.


Setelah masuk Rafa pun mengunci pintu dan Rara segera pergi mengisi baterai ponselnya karena tadi ponselnya sudah mati.


"Rara ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu, aku tunggu di sofa yah" Ucap Rafa lalu segera keluar kamar.


Rara pun dengan segera menyimpan tasnya dan keluar menuju sofa.


apa yang ingin Rafa bicarakan yah batin Rara.


"Rafa apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Rara setelah duduk di sofa.


"Aku ingin kita pisah rumah dan juga kita nggak perlu dekat lagi seperti dulu Rara, kita kan juga akan cerai setelah satu tahun" Ucap Rafa yang membuat hati Rara benar-benar sakit namun tidak bisa membenci Rafa.


"Kenapa kamu ingin kita pisah rumah, kalau ayah tahu apa dia tidak akan marah dan kalau paman Rafi tahu.." Ucapan Rara terhenti karena Rafa sudah memotong ucapan Rara.


"Mereka nggak akan tahu kalau kamu tidak memberitahu kepada mereka" Ucap Rafa.


"Aku sudah mencarikan rumah untuk kamu dan juga aku akan tetap memberikan kamu uang kok tenang saja" Ucap Rafa.


"Bukan uang yang aku permasalahkan Rafa aku nggak perduli dengan uang kamu, aku bisa kok cari uang sendiri tapi aku sudah mencintai kamu Rafa, itu yang membuat aku susah untuk tinggal jauh dari kamu" Ucap Rara sambil mengeluarkan air matanya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.


Rafa tersentak kaget seakan tak percaya mendengar ucapan Rara.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, kamu mencintai aku?" Tanya Rafa memastikan sekali lagi pendengarannya.


"Iya Rafa aku mencintai kamu semenjak kamu selalu belain aku dan selalu baik padaku serta kamu selalu perhatian padaku, maafin aku yang nggak bisa mengontrol hatiku" Ucap Rara masih dengan tangisannya dan juga perasaan sedihnya.


"Maafin aku Rara seharusnya aku tidak seperti itu sama kamu, aku masih mencintai wanita lain Rara, aku benar-benar minta maaf makanya aku semakin yakin sekarang menyuruh kamu untuk tinggal di tempat lain, aku nggak mau membuat hati kamu semakin sakit nantinya" Ucap Rafa.


"Apa yang kamu cintai itu Gracia?" Tanya Rara yang tepat sasaran membuat Rafa tersentak kaget karena Rara mengetahui tentang Gracia.


"Darimana kamu tahu Rara tentang Gracia? aku belum pernah bilang sama kamu" Tanya Rafa.


"Aku nggak sengaja dengar kamu bicara di telfon tentang Gracia, mantan yang sangat kamu cintai" Ucap Rara walaupun hatinya sedang sakit.


"Iya memang benar dia mantan yang masih sangat aku cintai, maafin aku Rara" Ucap Rafa sambil melihat Rara yang sedang menangis.


"Baiklah Rafa semoga kamu bahagia, nggak usah minta maaf terus aku sudah memaafkan kamu, aku hanya ingin bilang tentang perasaan aku saja sama kamu kok sebelum semuanya tidak bisa aku bilang lagi, jadi kapan aku harus pindah rumah, apakah sekarang?" Tanya Rara dan mencoba untuk tersenyum.


"Benarkah Rara kamu nggak kenapa-kenapa?" Tanya Rafa lagi.


"Maafin aku Rara karena menyakiti hati kamu demi wanita lain, tapi aku memang benar-benar masih mencintai Gracia" Ucap Rafa.


"Iya Rafa nggak apa-apa kok, yang penting Gracia juga mencintai kamu dan kamu mencintai Gracia bukankah itu yang di inginkan setiap orang, percuma kamu bersama aku tapi kamu nggak mencintai aku, kita hanya akan sama-sama tersakiti" Ucap Rara.


Rara kamu benar-benar wanita yang baik, aku benar-benar minta maaf batin Rafa.


"Jadi kapan aku harus pindah Rafa?" Tanya Rara lagi.


"Besok aku akan antar kamu pindah ke rumah baru kamu Rara" Ucap Rafa.


"Baiklah, kalau gitu aku mau bersih-bersih dulu yah, kamu istirahatlah" Ucap Rara kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar mandi Rara menangis sejadi-jadinya hatinya benar-benar sakit namun apalah daya jika Rafa memilih wanita lain di bandingkan dirinya yang terpenting Rara sudah mengungkapkan perasaannya walaupun bertepuk sebelah tangan.


Sedangkan Rafa memutuskan untuk tidur di sofa sambil memikirkan Rara yang pasti benar-benar sakit hati tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ini yang terbaik untuknya dan Rara.

__ADS_1


Rara yang telah selesai menangis dan juga mandi melihat Rafa yang tidak ada di dalam kamar kemudian Rara melihat di luar, dia melihat Rafa yang sedang tidur tidak menggunakan bantal dan selimut, Rara pun mengambilkan bantal dan selimut buat Rafa.


"Rafa" Ucap Rara sambil menggoyangkan bahu Rafa namun Rafa tidak bangun juga, Rara pun mencoba membangunkan Rafa lagi dan berhasil Rafa terbangun.


"Kenapa?" Tanya Rafa begitu membuka matanya dan melihat Rara yang matanya agak sedikit bengkak dan hidungnya juga memerah, Rafa tahu pasti Rara habis menangis.


"Ini pakailah selimut dan bantal" Ucap Rara sambil memberikan selimut dan bantal kepada Rafa.


"Terima kasih Rara" Ucap Rafa sambil mengambil bantal dan selimut dari tangan Rara.


"Iya, kamu nggak usah bilang terima kasih itu sudah kewajiban aku kok memperhatikan kamu, kalau gitu aku masuk dulu yah" Ucap Rara lalu berjalan masuk ke dalam kamar, Rara tidak mau melihat Rafa lama-lama karena pasti dia akan menangis lagi.


Rara juga tahu pasti Rafa tidak mau tidur sekamar dengan dia karena menjaga perasaan Gracia.


Kamu sangat beruntung Gracia bisa di cintai oleh Rafa sampai segitunya dia menjaga perasaan kamu batin Rara.


Rara pun mencoba untuk tidur namun di tengah malam ponsel Rara berdering ternyata Fandi yang meneleponnya. Rara pun langsung mengangkat panggilan telfon dari Fandi.


"Halo Rara loe dimana?" Tanya Fandi langsung karena dia baru ingat kalau Rafa tidak masuk kerja tadi.


"Gue di rumah Fandi, ada apa?" Tanya Rara balik.


"Rafa tadi jemput loe kan?" Tanya Fandi.


"Iya dia jemput" Jawab Rara.


"Oh baguslah, ya sudah gue tutup yah, loe istirahat deh" Ucap Fandi lega dia pikir Rara masih di restoran atau Rara pulang sendiri ternyata Rafa menjemputnya.


"Iya Fandi" Ucap Rara.


Fandi pun mematikan panggilan telfonnya dan melanjutkan tidurnya.


Di tempat lain Zahra, Fania dan Gracia benar-benar terkejut melihat mobil Zahra sudah rusak tak tersisa, benar-benar hancur.

__ADS_1


__ADS_2