
"Rafa berarti orang kaya" ucap Zahra lagi pada dirinya sendiri.
Zahra buru-buru pergi dari restoran itu sebelum ketahuan oleh Rafa dan Fandi.
Zahra tadi sebenarnya tidak mau singgah karena melihat restoran itu tutup namun setelah dia melihat mobil Fandi akhirnya dia memutuskan untuk singgah. Namun dia tidak menyangka sama sekali akan mengetahui kebenaran yang sangat membuatnya terkejut.
"Ya ampun Zahra loe **** banget sih jadi orang, dari dulu loe di kejar-kejar sama Rafa tapi loe nggak pernah mau gubris dia sekarang dia pacaran dengan Rara, sialan pelayan itu bisa-bisanya dia mendapatkan orang kaya seperti Rafa, gue nggak bakalan biarin. Rafa pernah tergila-gila sama gue dan itu belum lama siapa tahu ajah kan sekarang dia masih suka sama gue" ucap Zahra pada dirinya sendiri sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Fania.
Zahra sangat yakin kalau Rafa pastilah sangat kaya karena restoran yang dia tahu milik Rafa sekarang saja sangat bagus dan mewah.
Belum lagi Zahra tahu identitas Rafa yang sebenarnya entahlah apa yang akan terjadi.
"Gue beritahu Fania atau nggak yah" pikir Zahra di dalam mobil.
Lebih baik nggak usah dulu deh, nanti dia suka lagi sama Rafa dan ngejar-ngejar Rafa juga tambah banyak saingan batin Zahra.
"Lebih baik gue fokus mendapatkan hati Rafa lagi, buat dia suka sama gue lagi dan memutuskan hubungannya dengan Rara pelayan miskin itu, Rafa itu cocoknya sama gue, urusan Fandi nanti ajah deh" ucap Zahra lagi.
Sementara di tempat lain Fandi sudah memberikan pelajaran kepada pelayan-pelayan yang memperlakukan Rara secara tidak baik, Fandi juga sangat emosi melihat rekaman CCTV itu.
Dan Rafa memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya, entahlah Rafa tidak semangat bekerja kalau tidak melihat Rara.
#####
Rara di rumahnya sedang bersih-bersih karena Rafa melarangnya keluar.
Rafa sampai di rumahnya dan tersenyum melihat Rara yang sangat rajin dan juga cantik.
Rafa langsung memeluk tubuh Rara dari belakang membuat Rara terkejut dan langsung memukul kepalanya menggunakan sapu sambil menutup matanya.
"Rara kamu tega banget" ucap Rafa sambil meringis kesakitan dan berusaha menahan pukulan dari Rara.
Rara yang mendengar suara Rafa langsung membuka matanya.
__ADS_1
"Ya ampun Rafa ternyata kamu, aku minta maaf aku pikir tadi maling Rafa, maafin aku yah" ucap Rara panik sambil memeriksa kepala Rafa yang di pukulnya tidak menggunakan perasaan.
Baru mau mesra-mesraan dan romantis-romantisan ehh malah di kira maling, heem lebih baik aku kerjain sekalian ajah batin Rafa sambil tersenyum.
"Kamu siapa?" tanya Rafa dengan berpura-pura seperti hilang ingatan.
Rara semakin panik.
"Aku Rara, masa kamu lupa padahal aku cuma mukul kamu dengan pelan Rafa" ucap Rara lagi dengan wajah yang sangat panik.
Pelan apanya, kalau pelan nggak mungkin aku kesakitan kayak gini, tapi dia cantik banget sih kalau lagi panik, dia juga lupa tadi kan aku habis sebutin nama dia jadi mana mungkin aku hilang ingatan batin Rafa sambil tertawa di dalam hatinya.
"Aku benar-benar nggak ingat kamu siapa, aku siapa?" ucap Rafa.
"Kamu Rafa suami aku, Rafa kamu jangan bercanda kamu benar-benar lupa, ayo sekarang kita ke rumah sakit" ucap Rara sambil menarik tangan Rafa.
"Rara aku nggak mau ke rumah sakit, aku cuma bercanda abis kamu ngeselin masa suami sendiri di kira maling" ucap Rafa sambil memasang wajah kesalnya yang dia buat-buat.
"Maaf Rafa aku pikir tadi itu beneran maling loh, aku panik banget langsung aku pukul deh, tapi beneran kamu nggak kenapa-kenapa Rafa, kamu masih ingat aku kan, kamu juga masih ingat diri kamu sendiri kan?" tanya Rara.
"Sini kepalamu aku periksa jangan sampai berdarah lagi" ucap Rara.
"Iya periksa nih jangan sampai keluar nasi lagi dari kepala aku" ucap Rafa asal.
Rara pun tertawa mendengar ucapan Rafa dan membawa Rafa duduk.
"Untung deh nggak berdarah" ucap Rara setelah memeriksa kepala Rafa.
"Tapi masih sakit nih aku butuh pelukan" ucap Rafa dan langsung memeluk manja tubuh Rara.
"Rafa kamu manja banget sih, katanya kamu cowok" ucap Rara tapi tetap membiarkan Rafa memeluknya.
"Iya memang aku cowok kamu mau aku kasih lihat buktinya" ucap Rafa dengan senyum mesumnya.
__ADS_1
"Ihhh apaan sih bukan itu maksud aku" ucap Rara sambil menahan malu.
"Merona banget sih ini pipi" ucap Rafa sambil melihat kedua pipi Rara lalu menciumnya.
Baru Rara mau bicara lagi namun Rafa sudah mencium bibir Rara lembut dan perlahan-lahan bibir Rafa turun ke leher jenjang Rara tangannya pun sudah kemana-mana.
Rara kegelian mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rafa dan dia mendapatkan sensasi aneh pada tubuhnya, Rafa semakin menjadi-jadi karena Rara tidak melarangnya hingga terdengar suara seseorang.
"Rafa, emm aku tidak lihat apa-apa kalian lanjutkan saja" ucap Fandi lalu berbalik badan dengan perasaan kaget melihat kelakuan Rafa.
Rara dan Rafa langsung terlonjak kaget mendengar suara itu, Rara langsung kalang kabut dan Rafa langsung membantu mengancingkan baju Rara.
Fandi tidak melihat tubuh istriku kan, pokoknya nggak boleh awas saja kalau sampai dia lihat aku bakalan buka kedua matanya batin Rafa.
"Tunggu disini yah jangan ikut keluar ini pembicaraan sesama pria" ucap Rafa setelah mengancingkan baju Rara kemudian Rafa mencium bibir Rara yang lagi diam membisu menahan malu lalu Rafa berjalan ke luar menemui Fandi sebelum Fandi pulang.
Padahal tanpa Rafa suruh pun Rara tidak akan keluar dia benar-benar malu sekarang untuk bertemu dengan Fandi. Rara bingung apa yang harus dia lakukan dia hanya duduk diam di sofa.
"Mau kemana loe?" tanya Rafa kepada Fandi sambil menahan tangan Fandi yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Mau pulang, menyesal gue datang tahu nggak" ucap Fandi.
"Kenapa muka loe merona seperti itu, loe lihat yang bukan-bukan yah, loe lihat tubuh istri gue yah" ucap Rafa penuh selidik.
"Gue nggak lihat kali, loe nggak lihat tuh posisi sofa loe gimana, gue cuma lihat loe dan gue kaget ternyata kelakuan loe di rumah seperti itu" ucap Fandi sambil bergidik ngeri.
"Hem bilang ajah loe iri, lagian dia istri gue dan loe tahu nggak loe itu mengganggu" ucap Rafa kesal.
Heem untung Fandi nggak melihat tubuh istriku batin Rafa.
"Salah loe sendiri ngapain mau begituan di sofa kayak nggak ada tempat tidur ajah, pintu nggak di kunci lagi terus emang loe nggak bisa gitu nunggu sampai malam, kasian gue sama Rara" ucap Fandi juga dengan kesalnya karena melihat hal seperti itu di saat dia belum menikah.
Baru mau bicara lagi tiba-tiba ponsel Rafa bunyi, dia pun melihat siapa yang meneleponnya.
__ADS_1
"Zahra" ucap Rafa setelah melihat nama kontak yang meneleponnya.