Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Kehilangan konsentrasi,,,


__ADS_3

Fania terus melihat jam tangannya,, dan juga merasa kesal karena Ana sangat lama di rumah Reno.


"Ini parah banget sih,, bisa-bisanya dia lama banget di rumah pacar aku,, nggak ada malu banget tuh cewek,, padahal jelas-jelas tadi dia melihat aku datang dan marah-marah sama dia,, seharusnya dia mengerti dong kalau aku nggak suka dia ada di rumah Reno,, seharusnya dia pulang lebih cepat,, wanita nggak tau diri banget kamu Ana," ucap Fania dengan perasaan kesalnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan Fania segera melihat nama kontak yang meneleponnya. Senyumnya langsung hilang begitu melihat nama kontak yang meneleponnya karena tadi dia pikir Reno lah yang menelepon dirinya namun ternyata dugaan dia salah.


"Aku pikir tadi Reno ternyata Zahra,," ucap Fania lalu segera mengangkat panggilan telfon dari Zahra.


"Ada apa Zahra?" tanya Fania begitu mengangkat panggilan telfon dari Zahra.


"Kamu lagi dimana sekarang? gimana rencana kamu berjalan lancar nggak?" tanya Zahra.


"Lagi di jalan nungguin Ana pulang,, kenapa?" tanya Fania balik.


"Hah,, Ana belum pulang juga? lama banget dia balik,, aku pikir kamu udah singkirkan dia loh Fania,, ternyata kamu masih menunggu," ucap Zahra lalu tertawa.


"Senang yah kamu aku menunggu begini,,," ucap Fania kesal.


"Nggak tau diri banget itu Ana,, bisa-bisanya dia lama-lama di rumah pacar aku Zahra,, udah jelas banget dia itu mau menggoda pacar aku tau nggak," ucap Fania kesal.


"Iya sih,, seharusnya yah dia udah balik sejak tadi,, kenapa coba dia lama-lama di rumah Reno kalau bukan untuk menggoda Reno, nggak nyangka yah pacar kamu itu ada juga yang suka selain kamu, padahal dia nggak berguna tuh,, kuliah aja nggak selesai-selesai,," ucap Zahra lalu tertawa.


"Kamu kok bicara seperti itu sih Zahra,, Reno itu berguna tau nggak dan dia juga ganteng jadi cewek seperti Ana itu sudah jelas akan jatuh cinta pada Reno,, apalagi begitu melihat Reno yang kaya raya seperti itu,, sudah pasti dia semakin ingin mendapatkan Reno,, makanya dia goda deh Reno,, jadi sebelum mereka tidur bersama aku akan melenyapkan Ana duluan," ucap Fania dengan penuh keyakinan.


"Iya juga kamu benar banget Fania, ya udah kalau gitu semangat yah nungguin Ana,," ucap Zahra.


"Iya walaupun aku juga udah kesal sedikit ini,, tapi untuk menyingkirkan dia aku tetap semangat kok," ucap Fania.


"Nah gitu dong,,, aku tutup dulu panggilan telfonnya kalau gitu,," ucap Zahra.


"Oke," ucap Fania.


"Ingat yah lakukan dengan hati-hati Fania,, jangan sampai kamu ketahuan loh,," ucap Zahra lagi mengingatkan Fania.


"Iya Zahra,, nggak bakalan ketahuan kok tenang saja, kalau aku anggap bakalan ketahuan aku nggak bakalan melakukannya,, aku bakalan menunda dan menunggu waktu yang tepat jadi kamu tenang aja,," ucap Fania lagi.


"Oke deh,, aku deg-degkan loh sejak tadi nungguin kabar dari kamu," ucap Zahra.


"Kamu kabarin aku yah kalau udah selesai," ucap Zahra lagi.


"Iya sudah pasti itu," ucap Fania.


"Oke,, aku tutup dulu panggilan telfonnya,," ucap Zahra.


"Iya,, Zahra," ucap Fania.


Zahra pun langsung menutup panggilan telfonnya dengan Fania begitu mendengar ucapan Fania.


#############


"Syukur banget yah,, kalian nggak ada luka yang serius," ucap Fandi sambil melihat Rara dan Citra.


"Iya,, aku juga senang banget Citra nggak ada luka yang serius," ucap Rara.


"Aku juga Ra,, senang kamu nggak kenapa-kenapa," ucap Citra.


"Ayo kita pulang kalau gitu," ucap Fandi.


"Emm aku telfon Rafa dulu,," ucap Rara.


"Oh iya Ra telfon dia dulu," ucap Fandi.


Rara pun segera menelepon Rafa.


Rafa yang mendengar bunyi ponselnya segera melihat nama kontak yang meneleponnya dan dia pun tersenyum begitu melihat istrinya yang menelepon dirinya,, dengan segera dia mengangkat panggilan telfon dari Rara.


"Halo sayang,, udah periksa nya?" tanya Rafa langsung begitu mengangkat panggilan telfon dari Rara.


"Udah,, kamu gimana,, udah selesai urusannya?" tanya Rara balik.

__ADS_1


"Udah juga kok sayang,, aku ke sana yah," ucap Rafa.


"Suamiku mau kesini," ucap Rara pada Fandi dan Citra.


"Nggak usah Ra,, beritahu Rafa biar kita yang ke sana,, kan kantor polisi lebih dekat dengan rumah kalian,, kalau dia kesini lagi jauh," ucap Fandi.


"Oh iya juga benar kata kamu Fan,," ucap Rara kepada Fandi.


"Emm kamu nggak usah kesini,, biar kita aja yang ke sana,, kamu tunggu aja yah disitu," ucap Rara lagi.


"Oh ya udah, hati-hati yah sayang,, beritahu Fandi nggak usah balap," ucap Rafa.


"Iya,,, Fandi nggak balap kok," ucap Rara.


"Aku tutup dulu yah panggilan telfonnya,, kita mau ke sana sekarang," ucap Rara.


"Oke sayang,," ucap Rafa.


Rara pun segera menutup panggilan telfonnya dengan Rafa begitu mendengar ucapan Rafa.


###########


"Kamu Citra,, gimana? mau kita antar langsung ke rumah Aldi aja,, dekat kebetulan nih," ucap Fandi.


"Emm nggak usah deh,, kan mobil aku ada di rumah Rara," ucap Citra yang mengingat ketika datang ke rumah Rara dia membawa mobil.


"Oh iya Fan," ucap Rara.


"Ya udah kita ke rumah Rara aja kalau gitu," ucap Fandi.


"Ayo kita ke mobil," ucap Fandi lagi.


#############


Rafa segera ke mobil begitu tau Fandi sudah datang.


Rafa tersenyum begitu melihat Rara,, dan begitu pun Rara.


"Iya aku nggak kenapa-kenapa," jawab Rara sambil tersenyum.


"Syukurlah," ucap Rafa.


"Citra kamu gimana?" tanya Rafa juga kepada Citra.


"Aku juga nggak kenapa-kenapa kok,, udah ada juga obatnya nih,," ucap Citra sambil memperlihatkan obat yang dipegangnya.


"Syukurlah,," ucap Rafa.


"Oh iya gimana penjahat-penjahat itu Rafa?" tanya Citra.


"Mereka sudah di dalam penjara,, dan aku nggak kenal sama sekali pria itu,, dia juga sepertinya suruhan saja,,, tapi dia tidak mau mengaku,, aku pastikan mereka nanti sudah tua baru bisa keluar dari dalam penjara," ucap Rafa.


"Aku juga menyimpan mata-mata disekitaran situ,, siapa tau saja ada yang datang menjenguk mereka, dan kita bisa mencari tau atau mungkin kita mengenalnya,," ucap Rafa lagi.


"Iya Rafa,, benar juga,, pokoknya sekarang harus lebih hati-hati lagi," ucap Fandi.


"Terutama kamu Rara harus lebih hati-hati lagi yah,, karena sangat banyak orang yang ingin berbuat jahat pada kamu," ucap Fandi.


"Iya Ra,, benar kata Fandi,, dan yang menculik kamu sangat mengerikan, kejam banget,,, pokoknya jangan sampai kamu di culik lagi Ra," ucap Citra.


"Iya,, makasih yah kalian sudah khawatir sama aku,," ucap Rara.


"Iya Ra,, kamu nggak usah bilang terima kasih gitu dong," ucap Citra.


"Udah terlanjur aku bilang," ucap Rara sambil tersenyum.


Mereka hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Rara.


#############

__ADS_1


"Ana kamu udah mau pulang yah sayang?" ucap mama Reno seakan tidak mau Ana pulang karena dia akan merasa kesepian lagi jika Ana pulang.


"Iya tante,, nanti aku datang lagi," ucap Ana sambil tersenyum.


"Benar yah,, kamu datang lagi nanti," ucap mama Reno.


"Ya ampun Mama jangan gitu dong,, jangan sampai Ana punya urusan lain kan nggak enak,," ucap Reno.


"Kalau kamu ada urusan jangan sayang,, Tante nggak enak kalau ganggu," ucap Mama Reno akhirnya.


"Emmm nggak kok tante,," ucap Ana.


"Aku pasti datang tante disaat nggak ada urusan,, sekarang aku balik dulu,," ucap Ana sambil salam kepada mama Reno.


"Reno antarin Ana," ucap mama Reno.


"Emm nggak usah Tante,, aku bawa mobil loh," ucap Ana cepat sambil tersenyum.


Ana tidak mau kalau sampai Reno mengetahui rumahnya yang sangat mewah dan juga Ana tidak mau Reno mengetahui latar belakang dirinya.


"Reno ngikutin dari belakang," ucap Mama Reno.


"Nggak usah Tante,, kak Reno pasti capek,, jadi aku pulang sendiri aja," ucap Ana.


"Ya udah kamu hati-hati yah sayang," ucap mama Reno.


"Iya tante," ucap Ana.


"Ana kamu hati-hati," ucap Reno juga.


"Iya," ucap Ana.


Ana pun pamit pada Reno dan Mama Reno lagi,, lalu dia berjalan keluar menuju mobilnya. Tak lupa Ana membunyikan klakson mobilnya begitu akan pulang.


"Ana baik kan Reno,, coba kalau yang begitu kamu bawa ke rumah,, sudah pasti mama akan merestui hubungan kamu,, mau langsung nikah pun mama setuju banget," ucap Mama Reno.


Reno langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapan Mamanya.


"Mama ini ada-ada aja tau nggak,, Ana memang baik ma,, tapi Reno nggak ada perasaan apa-apa pada Ana,, dan Ana juga begitu nggak ada perasaan apa-apa pada Reno,, jadi Reno mau ke kamar dulu yah sekarang mamaku sayang," ucap Reno lalu segera berjalan cepat menuju kamarnya.


Dasar anak itu,, batin Mama Reno sambil melihat Reno yang sedang berjalan menuju kamarnya.


Fania sudah sangat senang begitu melihat mobil Ana keluar dari gerbang rumah Reno,, dengan senang hati dia mengikuti mobil Ana.


Ana merasa aneh begitu melihat ada mobil yang mengikuti dirinya dan juga dia tau pasti itu bukan anak buah kakaknya,, karena perbedaan mobil mereka dan juga terkadang anak buah kakaknya menggunakan motor.


"Itu siapa yang mengikuti aku,, kok mobilnya kayak nggak asing," ucap Ana.


Ana menambah kecepatan mobilnya supaya dia tidak diikuti lagi. Namun Fania juga ikut menambah kecepatan mobilnya. Ana menjadi panik seketika.


"Hahaha keadaan mendukung sekali untuk aku melenyapkan kamu Ana,," ucap Fania begitu melihat Ana melewati jalan yang sunyi.


Aku harus menelepon kak Aldi, batin Ana sambil mengambil ponselnya,, namun ponselnya terjatuh akibat Fania menabrak belakang mobil Ana.


Ana benar-benar shock,, tapi masih berusaha untuk konsentrasi menyetir.


"Apa-apaan orang itu, dia sepertinya ingin mencelakai aku,,," ucap Ana.


Ana terkejut begitu melihat yang menyetir mobil adalah Fania.


"Itu kan Fania,, apa dia sudah gila,, dia sudah bosan hidup apa," ucap Ana.


Ana memilih untuk tidak singgah karena dia yakin Fania akan berbuat yang lebih gila lagi.


Fania terus menyenggol-nyenggol mobil Ana karena dia ingin membuat Ana jatuh ke jurang.


Kamu harus mati Ana,, batin Fania.


Ana yang kehilangan konsentrasi tiba-tiba.

__ADS_1


"Ddwaarrr,,"


__ADS_2