Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Nggak usah


__ADS_3

Zahra pun berusaha meminta jawaban ke Rafa, Rafa pun mengerti maksud Zahra namun Rafa tidak menggubrisnya, Rafa berpura-pura tidak mengerti maksud Zahra.


Rafa tidak mau kalau nanti Zahra ketahuan dan dia bisa-bisa di beri nilai yang tidak dia inginkan, karena Rafa tidak mungkin di beri nilai yang tidak dia inginkan, dosen sudah tahu kepintaran Rafa dan juga identitas Rafa.


Zahra pun merasa sangat kesal begitupun Fania, sampai waktu selesai pun Zahra hanya mengisi satu nomor itupun belum tentu benar, itu cuma hasil pikiran acak-acakan dia. Sedangkan Fania hanya mengisi dua nomor itupun sama dengan Zahra hasil pikiran acak-acakan saja. Dia memilih lebih baik mengisi walaupun belum tentu benar daripada kosong sama sekali.


Setelah mengumpulkan kertas jawaban itu, dosen pun keluar. Zahra menatap kesal kepada Rafa, namun Rafa tidak menyadari tatapan kesal Zahra.


Nggak ada gunanya duduk dekat dengan pelayan ini, bagi jawabannya pun dia tidak mau batin Zahra.


Zahra pun bergegas ingin keluar ruangan namun tangannya di tahan oleh Rafa.


"Zahra tunggu ada sesuatu yang gue pengen bilang ke loe" ucap Rafa.


"Gue malas dengar Rafa, gue mau balik" ucap Zahra sambil melepaskan pegangan tangan Rafa.


Zahra pun segera berjalan keluar bahkan Fania pun tidak dia tunggu. Rafa yang melihat Zahra sudah mau keluar benar-benar langsung mengungkapkan saja perasaannya, segala persiapan yang sudah dia siapkan tadi malam tidak jadi dia lakukan.


"Zahra gue cinta sama loe, loe mau nggak menikah sama gue" teriak Rafa yang membuat orang yang masih ada di dalam ruangan itu langsung melihat semua ke Rafa sekaligus mereka melihat juga Zahra termasuk Rara dan Fandi yang masih berada di dalam ruangan itu. Mereka merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, Fandi pun tersenyum kecut dan diam-diam ingin memvideo kejadian ini, kejadian yang akan membuat Rafa kecewa.


Zahra yang hendak berjalan keluar tiba-tiba berhenti mendengar ucapan Rafa, Zahra merasa sangat malu di depan teman-teman kelasnya, Bagaimana mungkin dia di lamar oleh seorang pelayan miskin seperti Rafa.


Zahra berbalik kembali kemudian dia berjalan mendekat ke Rafa, Rafa sangat bahagia melihat Zahra berjalan kembali mendekat kepada dirinya. Rafa pun hendak mengeluarkan cincin yang sangat mahal untuk Zahra, namun belum sempat Rafa mengeluarkan cincin itu tangan Zahra sudah duluan menampar pipi Rafa dengan sangat kencang.


Semua orang yang berada di situ benar-benar tambah terkejut, Rafa pun tidak jadi mengeluarkan cincin yang sempat mau di keluarkan tadi. Rara dan Fandi tidak kalah terkejutnya.


"Hee pelayan miskin, loe nggak malu yah melamar gue, siapa yang mau hidup susah bareng loe haa, nggak sudi gue tahu nggak" ucap Zahra dengan marahnya.


Akhirnya loe kasih keluar juga sifat asli loe Zahra, dasar perempuan bodoh batin Fandi.


"Tapi Zahra gue benar-benar cinta sama loe dari pertama kali gue lihat loe, gue masuk ke kampus ini karena gue tahu loe kuliah di sini" ucap Rafa.


Ternyata wanita yang di cintai Rafa adalah Zahra batin Rara.

__ADS_1


Zahra pun menampar lagi pipi Rafa setelah mendengar ucapan Rafa yang tambah membuatnya malu.


"Loe jangan pernah bilang cinta sama gue pakai bibir kotor loe itu gue benar-benar nggak sudi. Dengar baik-baik yah gue nggak cinta sama loe pelayan, loe nggak pantas buat gue" ucap Zahra lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan malu yang luar biasa.


Fania pun ikut Zahra keluar dari ruangan itu, sedangkan teman-temannya yang lain masih menatap kasihan kepada Rafa. Rara pun mencoba mendekati Rafa.


"Rafa apa loe nggak apa-apa, ikut gue, gue kompres pipi loe" ucap Rara.


"Nggak usah sok baik loe" ucap Rafa sinis lalu berjalan keluar dari ruangan.


Fandi pun mendekati Rara.


"Rara tumben loe perhatian sama Rafa?" tanya Fandi pura-pura, padahal dia sudah tahu Rara pasti bersikap seperti itu karena sudah mengetahui kalau Rafa adalah calon suaminya.


"Ada yang pengen gue omongin dengan loe Fandi, tapi bentar yah selesai gue kerja, sekarang gue masuk kerja dulu" ucap Rara.


Rara pikir mungkin saatnya dia memberitahu Fandi.


"Baiklah, loe telfon ajah kalau loe udah selesai bentar kerjanya yah" ucap Fandi.


"Ya sudah kita barengan ajah, loe naik mobil gue ajah nanti gue turunin di tempat kerja loe" usul Fandi.


"Boleh deh" ucap Rara lalu tersenyum.


Mereka pun berjalan bersama ke luar ruangan menuju parkiran, Fandi pun mengemudikan mobilnya, sampai di depan tempat kerja Rara, Fandi pun memberhentikan mobilnya kemudian Rara turun untuk bekerja. Fandi pun mengemudikan mobilnya lagi tak tahu dia mau kemana.


#####


Rara berjalan masuk ke dalam restoran dengan terburu-buru mencari-cari Rafa. Namun Rara tak melihat Rafa sama sekali, dia pun bertanya kepada salah satu pelayan yang juga sama dengannya, kata pelayan itu Rafa belum datang.


Kemana perginya Rafa, bukankah dia seharusnya ke restoran, apa dia segitu patah hatinya sampai-sampai dia tak masuk kerja, kalau dia di pecat bagaimana batin Rara.


Rara pun mulai bekerja sambil masih memikirkan Rafa dan melihat-lihat siapa tahu Rafa masuk kerja walaupun terlambat namun Rafa tak kunjung datang.

__ADS_1


#####


Di tempat lain Zahra benar-benar kesal dan masih merasa malu atas apa yang terjadi pada dirinya di kampus tadi.


"Zahra loe sadar nggak tadi loe itu nampar dua kali pipi Rafa?" tanya Fania.


"Iya gue sadar banget, dia itu cowok nggak punya malu tahu nggak" ucap Zahra masih dengan perasaan kesalnya.


"Loe nggak takut gitu kalau nanti nggak ada lagi yang ngerjain tugas loe" ucap Fania.


"Nggak perduli gue, masih banyak yang bisa di suruh buat ngerjain tugas gue" ucap Zahra dengan santainya.


"Iya juga yah, nggak ada malu banget tuh pelayan melamar loe" ucap Fania kemudian tertawa.


"Udah nggak usah bahas itu, gue benar-benar malu tahu nggak, bentar malam kita ke club, mau nggak?" tanya Zahra kepada Fania.


"Mau lah" ucap Fania.


"Ya sudah loe ke rumah gue ajah yah, nggak usah pulang dulu ke rumah loe" ucap Zahra.


"Oke. Loe masih punya banyak stok baju kan?" tanya Fania.


"Masih lah, loe pikir gue gembel kayak Rara" ucap Zahra lalu tertawa.


"Nggak lah, mana mungkin juga loe bisa jadi gembel" ucap Fania lalu ikut tertawa juga. Mau ketemu pacar loe dulu nggak? tanya Fania.


"Bentar di club ajah deh, lagian dia cuma pacar buat senang-senang ajah, gue nggak pakai hati buat dia" ucap Zahra.


"Oke deh" ucap Fania.


Fania pun mengemudikan mobilnya menuju rumah Zahra.


#####

__ADS_1


Sedangkan Fandi teringat dengan Rafa, dia sebenarnya kasian juga kepada Rafa karena tadi di tampar oleh Zahra dan dia di tolak mentah-mentah tambah di hina pula. Fandi pun menghubungi ponsel Rafa.


"Dimana loe?" tanya Fandi langsung setelah Rafa mengangkat teleponnya.


__ADS_2