Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Akhirnya membantu Citra,,,


__ADS_3

"Hei aku bertanya sama kamu?" ucap Fandi sambil melihat Citra.


"Emang nggak salah sih kalau kamu jomblo terus,, aku mengerti sekarang bahkan sudah sangat mengerti," ucap Citra.


"Kamu ini nggak jelas banget yah,, aku tanya tentang peka ehh kamu malah bahas status aku,, emang kenapa kalau aku jomblo terus,, aku nggak kenapa-kenapa kok,, aku bahagia dengan status aku,, aku juga masih bisa bernafas ini walaupun aku jomblo,," ucap Fandi.


Haduhh dia bahagia dengan status jomblo dia,, kode tau tadi itu kode bapak Fandi yang ganteng,,, ya ampun gimana mau mendapatkan hatinya kalau begini,, tapi nggak apa-apa Citra nggak apa-apa,, santai semua butuh proses dan kesabaran,, batin Citra sambil melihat Fandi.


"Iya deh yang bahagia dengan status jomblo,, aku turut berbahagia yah, tapi percayalah nanti kamu akan merasa kesepian dan merasa ingin ditemani dengan seseorang juga,, disitulah kamu sadar kalau kamu nggak mau jomblo terus,," ucap Citra sambil menahan tawanya.


"Hmmm kamu pikir aku anak kecil kamu bilang seperti itu, sekarang cepat katakan apa itu peka?" ucap Fandi dengan wajah polosnya.


Citra langsung menepuk jidatnya begitu mendengar ucapan Fandi.


"Udahlah anak kecil nggak usah tau kalau gitu,, belum cukup umur masalahnya," ucap Citra lagi.


Fandi benar-benar melongo begitu mendengar ucapan Citra.


"Yang kamu maksud anak kecil itu aku?" tanya Fandi.


"Iya disini kan hanya ada kita berdua aja," ucap Citra lagi.

__ADS_1


"Sembarangan aja kamu kalau bicara yah,, aku bukan anak kecil kamu nggak lihat aku besar begini,," ucap Fandi.


"Haa sudahlah nggak ada manfaatnya juga bicara dengan kamu menghabiskan waktu aku aja,, aku udah lapar gini juga,, lebih baik aku masuk ke dalam ruangan Rafa,, kamu duduk tenang disitu aja yah,,," ucap Fandi sambil ingin beranjak dari hadapan Citra,, namun Citra dengan cepat menahan tangan Fandi.


"Issh apaan sih pegang-pegang aku," ucap Fandi sambil menjauhkan tangan Citra.


"Ya ampun abang kayak anak perawan aja sih,," ucap Citra lalu tertawa.


"Sembarangan sekali kamu yah," ucap Fandi yang semakin kesal pada Citra.


"Abang jangan galak-galak,, adek takut," ucap Citra lagi.


"Citra itu memar di wajah kamu masih belum sembuh loh,, takutnya nanti malah bertambah karena kamu suka bicara sembarangan sama aku," ucap Fandi yang hanya mengancam Citra saja,, karena dia tidak akan mungkin melakukan itu pada wanita kecuali wanita itu sudah kelewatan batas.


"Citra kok belum balik-balik yah,," ucap Rara.


"Iya nih sayang,, kemana lagi tuh dia tuh,," ucap Rafa sambil melihat ke pintu...


Sementara Citra dan Fandi masih berdebat..


"Astaga abang tega sekali kamu bicara seperti itu sama aku ini yang hanya seorang wanita lemah dan juga tak punya salah apa-apa," ucap Citra lagi sambil memasang wajah sedih pura-pura nya.

__ADS_1


"Gila kamu yah gila," ucap Fandi yang sudah pusing menghadapi Citra,, Fandi lebih memilih menghadapi penjahat daripada harus menghadapi wanita seperti Citra.


Citra benar-benar menahan tawanya melihat Fandi yang seperti itu.


"Aku gila karena kamu," ucap Citra lagi


Fandi benar-benar semakin takut pada Citra,, dia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Citra masih setia duduk dilantai.


Namun lagi-lagi Citra menahan tangannya.


"Kenapa lagi sih?" ucap Fandi sambil melepaskan pegangan tangan Citra.


"Bantuin aku dong,,, please," ucap Citra sambil memasang wajah kasihannya.


Fandi pun akhirnya membantu Citra karena kasihan juga.


Namun...


"Ekhhemm begini yah kalian berdua romantis-romantisan dibelakang kita," ucap Rafa yang lagi senyum-senyum penuh makna dan Rara pun ikut senyum-senyum juga.


Fandi dengan refleks melepaskan kembali Citra hingga akhirnya Citra kembali jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Aww,, ya ampun nasib-nasib,," ringis Citra.


__ADS_2