Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Nggak mau dia tau mengenai kejadian ini,,,


__ADS_3

"Astaga benarkah? kalau tau tadi seperti itu aku ikut juga menyusul mereka,, biar bisa dapat," ucap Fandi.


"Atau aku susul sekarang aja kali yah," ucap Fandi lagi sambil ingin beranjak pergi namun Rafa dengan segera menahan tangan Fandi.


"Ada apa?" tanya Fandi.


"Nggak usah kamu pergi,, biar mereka saja,, kalau mereka nggak bisa dapat suruh pulang saja,, mereka mungkin sudah menyiapkan semuanya,, jangan gegabah dulu," ucap Rafa.


"Iya kamu benar juga,,, kita belum ada persiapan,, dan tadi anak buah kamu bisa di tembak berarti mereka sudah memiliki persiapan banget,,, dan dia sangat tau jalan-jalan tikus di sekitar sini,, anak buah ku tadi lapor seperti itu,, dia lewat yang hanya bisa di lewati motor saja sedangkan mobil tidak bisa lewat,, nah sementara anak buah kita sedikit yang pakai motor," ucap Fandi.


"Berarti banyak yang tidak melanjutkan pengejaran?" ucap Rafa.


"Iya,, tapi ada juga yang masih lanjut kok,, yang naik motor," ucap Fandi lagi.


"Astaga ini benar-benar gawat,, nanti mereka hanya di jebak saja,, mereka sengaja memancing anak buah kita untuk ke markas mereka lalu menghajar atau bisa saja membunuh anak buah kita," ucap Rafa.


"Aku harus menyuruh mereka mundur saja dulu," ucap Rafa sambil mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.


Ketika Rafa ingin menelepon anak buahnya,, Fandi dengan segera menahan Rafa yang hendak menelepon.


"Kenapa Fandi?" tanya Rafa sambil mengernyitkan keningnya bingung.


"Nggak usah kamu menyuruh mereka mundur,, biarkan saja mereka mengejar,, aku sudah beritahukan kepada anak buah ku kalau mereka merasa ada yang aneh,, mereka mundur saja nggak usah di paksakan," ucap Fandi lagi.


"Tapi kalau mereka di jebak kasihan," ucap Rafa.


"Nggak kok,, aku yakin mereka bisa atasi itu," ucap Fandi yang juga sebenarnya khawatir jika anak buahnya di jebak.


Tak lama anak buah Rafa yang terkena tembakan akhirnya datang bersama temannya.


Dokter yang Rafa telfon tadi segera memeriksa anak buah Rafa.


Rara yang sudah tertidur tidak rasa lagi dengan kegaduhan yang terjadi di dalam rumahnya.


"Kenapa dia bisa terkena tembakan?" tanya Rafa pada anak buahnya yang mengantar temannya yang terkena tembakan.

__ADS_1


"Tadi kita hampir mendapatkan orang itu tapi tiba-tiba temannya langsung menembak dia,, dan yang menembak itu cewek,, aku sempat melihat rambutnya tadi yang keluar,," ucap Anak buah Rafa yang langsung membuat Fandi dan Rafa saling pandang.


"Cewek?" ucap Rafa.


"Siapa lagi dia?" ucap Fandi.


"Ini benar-benar di luar dugaan,, apa mungkin Zahra?" ucap Fandi.


"Nggak mungkin dia Zahra,, karena sekarang Zahra sedang berduka atas meninggalnya Fania, lagian apa mungkin cewek seperti Zahra itu bisa memegang senjata," ucap Rafa yang sangat tidak yakin bahwa wanita itu Zahra.


"Iya juga yah, apa jangan-jangan itu hanya anak buahnya juga karena tidak mungkin bosnya langsung bergerak sendiri,, bukan?" ucap Fandi.


"Iya bisa jadi sih,," ucap Rafa.


"Kita tunggu saja anak buah kita,, apa mereka berhasil dapatkan kedua orang itu atau tidak," ucap Fandi lagi.


Mereka pun segera menunggu kabar dari anak buahnya.


"Fandi apa perlu aku pindah rumah saja,, aku nggak takut sama sekali,, aku hanya takut jika istriku kenapa-kenapa,, aku akan pindah ke rumah yang lebih aman lagi,," ucap Rafa tiba-tiba.


"Aku rasa nggak usah Rafa,, kamu tinggal disini saja karena disini dekat dengan aku juga dan disini ada ruang bawah tanah juga kan," ucap Fandi.


"Apa perlu aku mengurung istriku dulu di rumah,, jangan keluar-keluar biar dia tetap aman?" ucap Rafa lagi.


"Aku rasa jangan juga Rafa,, nanti Rara merasa sedih karena di kurung,, apalagi sudah nggak lama kita akan aktif kuliah,, bahkan sebenarnya kan sekarang sudah aktif kita ini tapi Rara nya mungkin yang belum mau menyusun proposal nya,, jadi aku rasa kamu nggak usah melarang dia,, karena Rara pasti tipe cewek yang mau melanjutkan kuliah nya," ucap Fandi.


"Lalu aku harus gimana untuk menjaga istriku supaya tetap aman?" ucap Rafa lagi.


"Siapkan saja anak buah sebanyak-banyaknya kalau gitu," ucap Fandi.


"Aku nggak bisa percaya lagi Fandi,, kita sudah banyak kali kecolongan, ide lain ada nggak?" ucap Rafa.


"Nggak ada,, itu ide satu-satunya,, aku akan mencari anak buah yang sudah terlatih kalau gitu,, supaya kamu bisa yakin," ucap Fandi lagi.


"Hmm ya udah aku percayakan sama kamu dan aku juga akan ikut mencari," ucap Rafa pada akhirnya.

__ADS_1


"Iya,, atau bisa kita tanyakan pada Aldi,, kamu tau sendirikan dia punya banyak anak buah yang bisa di andalkan dan cekatan kalau masalah begini," ucap Fandi yang tiba-tiba teringat dengan Aldi.


"Oh iya kamu benar juga,, kenapa aku bisa lupa dengan Aldi,, aku akan menanyakan sama dia kalau gitu," ucap Rafa lalu segera ingin menelepon Aldi namun lagi-lagi langsung ditahan oleh Fandi.


"Ada apa lagi Fandi?" tanya Rafa.


"Kamu nggak usah nelfon dia sekarang dulu,, kamu tau kan dia lagi sedih dengan keadaan Ana dan juga sedang sibuk menjaga Ana," ucap Fandi.


"Oh iya kamu benar juga,, aku terlalu panik jadi lupa kalau Ana tadi habis kecelakaan," ucap Rafa yang langsung membatalkan niatnya untuk menelepon Aldi.


"Berarti Aldi nggak tau dong dengan yang terjadi sekarang?" ucap Rafa lagi.


"Iya dia nggak tau,,, kalau dia tau sudah pasti dia juga akan menyuruh anak buahnya,, hanya aku nggak mau dulu mengganggu dia," ucap Fandi.


Lalu tiba-tiba ponsel Rafa berdering dengan segera Rafa melihat nama kontak yang menelepon dirinya.


"Siapa?" tanya Fandi.


"Anak buah ku,," ucap Rafa lalu segera mengangkat panggilan telfon dari anak buahnya.


"Halo ada apa? kalian sudah menangkap orang itu?" tanya Rafa langsung begitu mengangkat panggilan telfon dari anak buahnya.


"Sudah tuan,, mereka mau di bawa kemana tuan,, kesitu atau ke tempat lain?" tanya anak buah Rafa itulah dia menelepon Rafa karena jangan sampai Rafa menginginkan ke tempat lain.


"Bawa kesini saja," ucap Rafa karena dia tidak mungkin meninggalkan istrinya.


"Baik tuan," ucap anak buah Rafa.


"Oke,, kalian hati-hati jangan sampai mereka memiliki teman,," ucap Rafa.


"Iya tuan," ucap anak buah Rafa lagi.


Rafa pun segera menutup panggilan telfonnya dengan anak buahnya begitu mendengar ucapan anak buahnya.


"Aku ke kamarku dulu yah memastikan istriku,, aku nggak mau dia tau mengenai kejadian ini," ucap Rafa.

__ADS_1


"Iya Rafa,, Rara memang nggak boleh tau tentang kejadian ini karena dia pasti akan ketakutan dan khawatir,,," ucap Fandi.


Rafa pun segera ke kamarnya dan betapa terkejutnya dia begitu melihat Rara tidak ada di tempat tidurnya.


__ADS_2