
"Iyalah memang ada, sangat ada banget," jawab Fandi.
Rara tampak sedikit terkejut begitu mendengar ucapan Fandi.
"Loe beneran Fandi, Zahra dan Fania ada hubungannya dengan kejadian malam itu?" tanya Rara memastikan sekali lagi pendengarannya.
"Iya gue beneran, jadi kedua preman itu adalah orang suruhannya Zahra dan Fania, mereka di suruh untuk melakukan hal yang tidak baik sama loe Rara, mereka menyuruh kedua preman itu untuk melakukan hal yang sama seperti sekarang video Zahra yang beredar itu, jadi hampir saja loe yang alami itu Rara untung Rafa datang di waktu yang tepat," ucap Fandi sambil bergidik ngeri, dia tidak sanggup berkata apa-apa lagi jika Rara sampai mengalami hal itu.
Rafa yang mendengarnya benar-benar sangat marah, tapi karena Rara yang mengerti dengan apa yang di rasakan Rafa, Rara langsung mencoba menenangkan Rafa.
"Kok loe bisa tahu Fandi?" tanya Rara lagi.
"Karena gue ada di tempat kejadian waktu itu, sebenarnya gue juga ingin menolong loe waktu itu, membantu Rafa hanya saja gue lihat Rafa bisa menyelesaikan itu semua, jadi gue hanya jadi penonton ajah dan menunggu mereka kabur, karena gue ingin memberikan mereka pelajaran juga dan benar-benar ingin mengetahui siapa dalang di balik semuanya" jawab Fandi.
"Gue benar-benar nggak nyangka kalau kedua preman itu orang suruhan Zahra dan Fania, gue pikir mereka hanya preman saja tanpa ada yang menyuruh mereka," ucap Rara.
"Sama aku juga nggak menyangka sama sekali kalau otak jahat mereka sudah sampai kesitu, untung saja kamu tidak apa-apa waktu itu dan aku menolong kamu tepat waktu," ucap Rafa sambil melihat Rara.
"Iya itu sebabnya Rara loe nggak usah terlalu baik sama mereka berdua itu, nggak bagus baik sama mereka, dan gara-gara itu dia yang membuat gue benar-benar benci mereka berdua," ucap Fandi kepada Rara.
"Setelah gue ketemu dengan mereka berdua, gue langsung menanyakan alasan mereka, kenapa mereka melakukan itu sama loe, dan ternyata Zahra dan Fania lah pelakunya, yah langsung gue suruh deh mereka melakukan hal itu pada mereka berdua sambil video karena video itu pasti berguna, jadi sekarang emang video itu sangat berguna," ucap Fandi.
Rara pun langsung diam karena bingung mau bicara apa lagi, dia juga tidak menyangka kalau Zahra dan Fania akan setega itu, Rara mengingat bagaimana takutnya dia pada malam itu, dan kalau tidak ada Rafa yang menolongnya, Rara nggak tahu lagi akan bagaimana nasib dia sekarang yang sudah pasti masa depan dia hancur.
"Kemana kedua preman itu?" tanya Rafa.
"Mereka sudah gue sembunyikan sebaik mungkin, pokoknya kejadian itu hanyalah Zahra yang akan menanggung malu" jawab Fandi.
"Seharusnya waktu itu gue suruh ajah yah preman itu menghamili Zahra biar dia tahu rasa, tapi kayaknya Zahra bakalan menggugurkan anak itu deh," ucap Fandi.
"Fandi loe nggak boleh ngomong seperti itu," ucap Rara cepat.
"Iya,, iya nggak ngomong gitu lagi gue, ya ampun Rara kelewatan baik," ucap Fandi.
Tiba-tiba ponsel Fandi berdering dan ternyata Aldi yang menelepon dirinya dengan segera Fandi mengangkat panggilan telfon dari Aldi.
"Halo Aldi," ucap Fandi begitu sudah mengangkat panggilan telfon dari Aldi.
"Dimana loe Fan?" tanya Aldi.
__ADS_1
"Ini gue lagi di rumah utama Rafa bareng Rara juga nih, kenapa emang?" tanya Fandi.
"Wahh kalian lagi ngumpul tanpa gue, tega kalian yah," ucap Aldi.
"Loe kan lagi sakit, nanti loe sehat baru kita ngumpul lagi, makanya cepetan deh loe sehat biar kita ngumpul-ngumpul," ucap Fandi.
"Oh iya loe nelfon kenapa sih?" tanya Fandi lagi.
"Gue mau nanya loe datang kesinikan?" tanya Aldi.
"Iya gue mau datang kok nggak usah bawel loe, siapa teman loe disitu?" tanya Fandi.
"Ana teman gue disini, buruan deh loe datang, adek gue mau pulang nih ke rumah," ucap Aldi.
"Oh Ana mau pulang, oke deh gue kesana sekarang," ucap Fandi lalu menutup panggilan telfonnya dengan Aldi.
Isshh nih anak yah padahal gue masih mau bicara dengan Rafa dan Rara, ehh dia main tutup-tutup telfon ajah batin Aldi.
"Kak Fandi dimana sekarang?" tanya Ana.
"Di rumah Rafa, tapi dia udah mau balik kok, kamu pulang duluan saja, aku nggak apa-apa disini sendirian," ucap Aldi.
"Aku nungguin ajah sampai kak Fandi datang," ucap Ana.
"Kapan sih aku bisa pulang?" tanya Aldi.
"Perusahaan sudah berhari-hari aku tinggal, nggak ada yang urus," ucap Aldi lagi.
"Besok kak Aldi udah bisa keluar kok, dan kalau perusahaan ada ayah, kakak nggak usah terlalu mikirin perusahaan siapa yang akan urus kita punya keluarga kok, yang penting kak Aldi sehat dulu, urusan perusahaan nanti di belakang," ucap Ana.
"Iya ini udah sehat kok," ucap Aldi.
"Masih kurang sehat, pokoknya harus sehat betul," ucap Ana.
"Iya adek bawelku," ucap Fandi sambil mengacak rambut Ana.
#######
"Kenapa Fan?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Ini si Aldi nanyain gue lagi dmana sekarang, gue mau ke rumah sakit dulu karena Ana mau pulang ke rumahnya," jawab Fandi.
"Oh gitu, oke deh hati-hati loe," ucap Rafa.
"Iya Fandi loe hati-hati yah," ucap Rara juga.
"Iya, gue ke rumah sakit dulu," ucap Fandi lalu segera berjalan ke luar dari dalam rumah menuju mobilnya.
#########
"Ayo sayang kita tidur," ucap Rafa.
"Duluan ajah, aku mau nonton dulu," ucap Rara.
"Ya udah kamu nonton di dalam kamar ajah sayang," ucap Rafa.
Rara segera mengikuti ucapan Rafa. Mereka segera berjalan menuju kamar.
Rara segera menonton televisi dengan Rafa yang rebahan santai di sampingnya, Rara memang sengaja menonton siaran televisi agar Rafa tidak mau yang aneh-aneh lagi.
"Ya ampun sayang aku lupa tanya Fandi tentang bulan madu kita, dia udah urus atau belum," ucap Rafa.
Rara langsung menoleh kepada Rafa.
"Sayang kita nggak perlu pergi bulan madu nggak apa-apa kok, kasian Fandi terlalu banyak yang dia urus," ucap Rara.
"Nggak bisa dong sayang pokoknya harus bulan madu," ucap Rafa.
"Nggak usah yah sayang," rayu Rara yang langsung manja kepada suaminya.
Bisa-bisa aku seharian penuh begituan, haa nggak mau, lagian Fandi juga kasihan terlalu banyak yang dia urus batin Rara.
"Ya udah nggak usah, tapi kalau aku minta jatah kamu harus selalu mau yah," ucap Rafa sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Isshh sama ajah batin Rara, tapi dia teringat lagi dengan Fandi yang mempunyai banyak urusan.
"Iya," ucap Rara pada akhirnya dan itu membuat Rafa senang.
"Nontonlah sayang, aku mau tidur dulu malam ini," ucap Rafa lalu mengecup kening istrinya dan segera tidur.
__ADS_1
Rara melanjutkan nontonnya.
Sedangkan di tempat lain ada seorang pria yang sedang duduk sambil memandang foto Rara.