
Rafa yang telah selesai mengungkapkan semuanya benar-benar merasa bahagia, dia jadi bisa membawa Rara ke rumah yang sudah dia siapkan untuk Rara dan tentunya sangat bagus dan mewah.
"Sayang kamu kenapa dari tadi diam ajah?" tanya Rafa pada Rara.
"Emm aku malu sekarang tahu nggak, pasti banyak yang sudah mengetahui ini semua, dan aku sangat tidak pantas untuk kamu Rafa masih banyak wanita yang pantas bersama kamu selain aku," ucap Rara yang mengingat dirinya itu hanyalah seorang pelayan saja yang sangat berbeda jauh dengan Rafa sekarang.
"Ya ampun sayang kamu jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, kamulah wanita yang sangat pantas untuk aku tidak ada yang lain lagi, dan kamu jangan pernah merasa malu, kamu tahu nggak sekarang itu pasti sangat banyak yang iri sama kamu, jadi untuk apa kamu malu, aku juga tidak malu bersama kamu, malahan aku sangat bangga seharusnya kamu juga merasa begitu," ucap Rafa.
"Iya Rara sekarang itu pasti banyak banget yang iri sama loe dan kalian mau tahu nggak siapa yang paling iri sekarang?" tanya Fandi.
"Siapa?" tanya Rafa dan Rara bersamaan.
"Zahra lah tahu kan dia itu wanita yang sangat matre banget sudah pasti sekarang dia sedang kesal, sedang iri, sedang menyesal pokoknya semuanya deh yang tidak enak dia rasakan hari ini," ucap Fandi lalu tertawa.
"Fandi loe jangan ngomong seperti itu," ucap Rara yang merasa tidak enak pada Zahra karena Rara tahu akhir-akhir ini Zahra mengejar Rafa namun Rafa memang sangat tidak mau dan selalu menolaknya secara terang-terangan sama dengan yang Zahra lakukan sebelumnya kepada Rafa.
"Gini nih kalau punya istri yang baiknya kebangetan, bikin gemas ajah aku jadi nggak sabar banget nih," ucap Rafa yang membuat Fandi langsung mengerti dengan maksud omongan Rafa melihat dari ekspresi Rafa yang sangat mudah di baca oleh sesama laki-laki berbeda dengan Rara yang tidak mengerti sama sekali.
"Nggak sabar apa?" tanya Rara sambil mengernyitkan keningnya bingung.
"Nggak sabar ingin mencium kamu kalau sudah sampai di rumah abis disini masih ada Fandi sih, nanti dia nangis lagi begitu melihat aku mencium kamu, karena dia nggak bisa cium siapa-siapa efek jomblo," ledek Rafa sambil melihat Fandi dengan senyum sombongnya.
Aduhh pintar banget yah dia ngeles padahal gue tahu banget tadi tuh maksudnya lain pakai bawa-bawa status jomblo gue lagi batin Fandi.
"Iihh kamu kok ngomong gitu sih di depan Fandi, malu tahu," ucap Rara dengan pipi yang sudah merona dan itu membuat Rafa langsung mencium pipi Rara dan itu juga di saksikan oleh Zahra dan Fania.
"Sialan tuh cewek, harusnya gue yang disitu bersama Rafa," ucap Zahra kesal sambil berjalan kepada Rafa, Rara dan juga Fandi yang sedang berdiri berbicara.
"Zahra udah kita nggak usah kesana, lain kali ajah kita nemuin mereka," ucap Fania yang juga kesal dan iri kepada Rara karena mendapat perlakuan seperti itu dari Rafa.
__ADS_1
"Nggak gue bakal kesana, gue pengen banget ngasih pelajaran kepada wanita tidak tahu diri itu," ucap Zahra yang tidak menghentikan langkahnya dan secara otomatis Fania juga ikut dengan Zahra.
"Ya ampun hargailah yang jomblo, ayo pulang woi, ngenes banget gue disini melihat pemandangan yang seperti ini," ucap Fandi sambil ingin berjalan namun dia menghentikan langkahnya begitu melihat Zahra dan Fania sedang berjalan ke arah mereka.
Rara dan Rafa pun sama-sama mengernyitkan keningnya bingung begitu melihat Zahra yang sepertinya sedang kesal.
Mau ngapain kedua mak lampir ini sih batin Fandi.
Zahra yang sudah di dekat Rara tiba-tiba ingin menjambak rambut Rara namun Rafa dengan cepat menahan tangan Zahra dengan tatapan yang benar-benar tidak suka.
"Mau ngapain tangan loe itu?" tanya Rafa dingin.
"Mau menjambaknya, Rafa loe sadar nggak sih loe itu nggak pantas bersama dia Rafa sangat nggak pantas," ucap Zahra.
"Benarkah?" ucap Rafa.
"Yah loe pantasnya sama gue Rafa, sama-sama orang kaya, cantik, nggak seperti cewek ini sudah jelek, pelayan lagi, dan juga loe dulu cinta banget sama gue kan," ucap Zahra dengan kepedeannya.
Rafa pun langsung tertawa setelah mendengar ucapan Zahra yang benar-benar seperti orang gila saja menurut Rafa.
"Zahra loe punya kaca di rumah?" tanya Rafa setelah menghentikan tawanya.
"Ada," jawab Zahra.
"Lebih baik loe pulang bercermin dan lihat baik-baik dirimu, loe itu nggak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan istriku," ucap Rafa dengan menekankan kata istriku sambil merangkul pinggang Rara posesif.
"Lebih baik kalian pulang sebelum kesabaran gue benar-benar habis, dan ingat jangan pernah banding-bandingkan dirimu yang kotor itu dengan istriku karena kamu tidak pantas sama sekali," ucap Rafa.
Baru Zahra mau bicara lagi namun Fania malah menghentikannya.
__ADS_1
"Udah Zahra ayo kita pulang dulu," ucap Fania sambil menarik tangan Zahra agar segera pergi karena dia melihat Rafa benar-benar berbeda sekarang, dia terlihat semakin menakutkan.
"Loe kenapa sih narik tangan gue Fania," ucap Zahra kesal.
"Loe nggak lihat Rafa itu menakutkan banget, nanti kita kenapa-kenapa lagi, udahlah ayo kita pulang dulu, jangan lakukan apa-apa dulu sekarang, loe harus ingat seberapa menakutkannya keluarga Alexander," ucap Fania.
"Ayolah loe jangan terlalu bar-bar, kita harus main halus Zahra, yah kalau gue nggak bisa mendapatkan Rafa setidaknya gue bisa menyiksa Rara atau bahkan membunuh dia, gue benar-benar nggak suka sama cewek sok baik itu, gue yakin sekarang dia pasti lagi senang banget dan juga pasti dia meremehkan kita tadi" ucap Fania.
"Itu sudah pasti," ucap Zahra lalu mereka pun segera masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah Zahra.
"Hemm banyak banget sih orang gila," ucap Fandi yang membuat Rara langsung melihat ke sekeliling mereka.
"Mana?" tanya Rara yang sudah takut dan itu membuat Rafa dan Fandi langsung tertawa.
"Kok malah tertawa sih?" tanya Rara sambil cemberut.
"Karena kamu lucu, kamu mau tahu orang gilanya itu yah Zahra dan Fania," ucap Rafa sambil mencubit hidung istrinya gemas.
"Iya benar banget mereka itu orang gila Rara," ledek Fandi lalu tertawa.
Rara pun hanya geleng-geleng kepala saja.
"Ayo kita ke rumah sakit untuk melihat kondisi Aldi," ucap Rara yang membuat Rafa langsung cemberut.
Fandi pun hampir tertawa begitu melihat ekspresi Rafa, Fandi sudah tahu apa yang ada di pikiran Rafa itu.
"Sayang sekarang aku lelah banget, kita pulang ke rumah saja dulu yah, aku ingin istirahat sekaligus kamu pijitin aku dulu," ucap Rafa.
Behh alasanmu ferguso gitu amat batin Fandi.
__ADS_1