
"Sudahlah nggak usah bahas itu dulu, gue tutup yah telfonnya" Ucap Rafa lalu langsung mematikan panggilan telfonnya.
Fandi hanya menggelengkan kepalanya.
"Gue sih lebih senang kalau Rafa bersama Rara sekarang yang jelas-jelas baik, emang Gracia juga baik tapi dia sudah meninggalkan Rafa dulu masa dengan seenaknya dia mau datang kembali" Gumam Fandi sendiri di dalam kamarnya.
Rafa yang duduk di luar terus saja mengingat kembali kenangannya bersama Gracia, Rafa benar-benar senang Gracia ternyata masih mengingat dirinya bahkan masih menyimpan nomor ponselnya, memang Rafa tidak mau mengganti nomor ponselnya sejak dulu dia patah hati, hanya supaya suatu saat nanti Gracia bisa menghubunginya.
Rafa tidak menyangka kalau harapannya itu bisa terwujud sekarang.
Sedangkan Rara yang berada di kamarnya terus berusaha memperbaiki perasaannya, menahan sedihnya, dia harus terlihat baik-baik saja di hadapan Rafa.
Setelah Rara rasa sudah cukup lama Rafa berada di luar, Rara pun pergi memanggil Rafa lagi buat masuk tidur karena sudah mulai larut juga.
"Rafa" panggil Rara yang melihat Rafa sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri.
Rara yakin pasti Rafa senyum-senyum seperti itu karena mengingat Gracia.
"Rafa" Ucap Rara lagi sambil menggoyangkan bahu Rafa.
Rafa pun terlonkak kaget.
"Rara kamu ngagetin aku tahu nggak" Ucap Rafa sambil mengelus dadanya.
"Maaf, abis aku panggil dari tadi, tapi kamu nggak dengar malahan kamu sibuk melamun" Ucap Rara.
"Aku nggak melamun kok, oh iya ada apa kamu memanggilku?" Tanya Rafa.
"Aku mau suruh kamu masuk, angin malam nggak baik buat kesehatan" Ucap Rara.
Rafa pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Rara langsung masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk tidur. Rafa sempat bingung dengan sikap Rara dan tumben Rara tidak belajar padahal besok mereka akan final lagi.
Pagi harinya mereka ke kampus seperti biasa dan mereka ada final lagi, Rara benar-benar susah belajar semalam karena mengingat ucapan Rafa mengenai Gracia.
Zahra lagi-lagi mengambil kesempatan buat mendekati Rafa tapi selalu saja di abaikan oleh Rafa, apalagi sekarang Gracia sudah kembali tambah tidak perdulilah Rafa kepada Zahra.
__ADS_1
Rara melihat Rafa yang sedang sibuk dengan ponselnya, Rara tahu pasti Rafa sedang sibuk dengan Gracia, dan memang benar dugaan Rara, Rafa sedang bertukar pesan dengan Gracia.
Fandi pun memperhatikan Rafa yang sedang sibuk dengan ponselnya sendiri dan hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Rara loe udah belajar belum?" Tanya Fandi kepada Rara.
"Udah, kalau loe?" Tanya Rara balik.
"Udah juga kok" Jawab Fandi.
Rara berbohong kepada Fandi, karena sebenarnya Rara sejak semalam tidak belajar.
Setelah mereka final yang syukurnya Rara bisa menjawab dengan baik, Rafa pun menyuruh Rara pulang sendiri dulu karena dia ada urusan.
"Lebih baik loe antarin Rara dulu" Ucap Fandi.
"Gue nggak bisa, gue buru-buru banget" Ucap Rafa kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Rara pun mencoba mengerti, dia tidak lagi terlalu mengharapkan Rafa.
Zahra langsung senang melihat Rafa yang memperlakukan Rara seperti itu sekaligus dia penasaran dengan Rafa yang sepertinya buru-buru banget dan juga terlihat jelas bahwa dia sedang bahagia.
"Nggak usah Fandi gue bisa pulang sendiri kok, lagian gue kan harus masuk kerja" Ucap Rara.
"Oh iya yah, yah sudah ayo sini gue antarin loe ke tempat kerja" Ucap Fandi sambil menarik tangan Rara keluar ruangan menuju mobilnya.
Rara pun terpaksa hanya mengikuti Fandi saja.
Zahra dan Fania semakin kesal melihat Rara yang selalu saja, ada yang perhatian kepada dirinya.
"Gue kesal banget tahu nggak, gue pikir pelayan miskin itu bakalan pulang sendiri terus kita bisa ngerjain dia" Ucap Zahra.
"Iya tadinya juga gue mikir gitu sih, ya sudah ayo kita pulang ngapain kita di ruangan terus" Ucap Fania.
"Langsung pulang nih, seharusnya tadi kita ngikutin Rafa dulu, dia mau kemana yah tumben banget dia ninggalin Rara" Ucap Zahra penasaran.
__ADS_1
"Iya tumben banget, tapi sudahlah nggak usah pikirin itu nggak penting banget, ayo kita pulang ajah deh" Ucap Fania lagi.
Zahra pun mengikuti ucapan Fania.
#####
Rafa sudah berada di jalan menuju tempat janjiannya dengan Gracia. Gracia sampai terlebih dahulu dan menunggu Rafa di cafe.
Rafa benar-benar merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat sekarang ketika dia sudah sampai dan sudah memarkirkan motornya.
Rafa sangat senang akan bertemu dengan Gracia lagi setelah sekian lama dan Rafa sangat penasaran bagaimana sekarang Gracia yang dulu di kenalnya dengan wanita baik, lemah lembut dan juga sangat cantik.
Rafa pun berjalan masuk ke dalam cafe, dia mencari-cari keberadaan Gracia, dan dia melihat Gracia sedang duduk dengan membelakanginya dan Rafa sudah yakin kalau itu pasti Gracia, walaupun sekarang Gracia sedang duduk membelakanginya tapi Rafa masih ingat betul postur tubuh wanita yang sangat dia cintai itu dulu.
"Gracia" Ucap Rafa dengan perasaan bahagianya begitu dia berada di depan Gracia.
Gracia yang melihat Rafa tak kalah bahagianya juga.
"Rafa" Ucap Gracia sambil berdiri memeluk tubuh Rafa yang begitu dia rindukan.
Rafa pun membalas pelukan dari Gracia karena dia juga benar-benar sangat merindukan Gracia yang memutuskan untuk meninggalkan dia pergi pernah tanpa alasan yang jelas.
"Maaf Rafa aku begitu merindukan kamu sampai-sampai aku memeluk kamu sangat lama seperti ini di tempat umum" Ucap Gracia lalu melepaskan pelukan dari Rafa.
"Nggak apa-apa kok, aku juga sangat merindukan kamu Gracia" Ucap Rafa lalu mengelus rambut Gracia lembut.
"Ayo duduk" Ucap Gracia.
Rafa pun duduk. Mereka pun memesan makanan terlebih dahulu dengan makanan kesukaan masing-masing dan semua itu Gracia yang memesan, Rafa hanya tersenyum saja begitu mengetahui bahwa Gracia masih mengingat makanan kesukaannya.
"Rafa kamu masih menyukai makanan yang aku pesan tadi itu kan?" Tanya Gracia setelah pelayan itu pergi.
"Iya masih kok Gracia, aku masih sangat menyukai makanan itu" Ucap Rafa lalu tersenyum lembut kepada Gracia.
"Oh bagus deh, oh iya kamu darimana sih kok pakaian kamu seperti ini seperti bukan Rafa yang dulu" Ucap Gracia setelah memperhatikan baik-baik penampilan Rafa yang berubah, Rafa terlihat seperti orang miskin padahal Gracia sendiri tahu sejak dulu kalau Rafa itu anak orang kaya dan Gracia sendiri tahu seberapa kayanya Rafa.
__ADS_1
"Oh ini panjang ceritanya sih, yang jelasnya sekarang aku lagi kuliah dan nggak ada yang tahu dengan identitas asli aku kecuali Fandi dan orang-orang penting yang ada di kampus" Ucap Rafa.
Gracia langsung mengernyitkan keningnya bingung mendengar ucapan Rafa.