
"Bagus deh kalau kamu sudah menyadari juga atas kelakuan Citra,, aku senang kamu bergerak cepat," ucap Fandi yang sudah melihat pesan yang dikirimkan Rafa buat Aldi dan Ana.
"Iya dong,, aku ini suami idaman tahu,," ucap Rafa dengan bangganya.
Fandi hanya mencebikan bibirnya saja begitu mendengar ucapan Rafa.
"Iya deh yang suami idaman," ucap Fandi sambil fokus menyetir mobilnya.
"Ehh tapi yah aku beritahu kamu untuk jangan terlalu membenci Citra,, karena kalau sampai kamu nanti jatuh cinta pada dia,, bisa-bisa kamu malu sendiri untuk mengakuinya nanti," ucap Rafa.
Fandi langsung tertawa begitu mendengar ucapan Rafa yang sangat tidak masuk akal buat dia.
Mana mungkin dirinya akan jatuh cinta pada Citra,, Fandi tidak pernah memikirkan akan jatuh cinta pada Citra karena dia sangat membenci Citra, begitu pikir Fandi.
"Ehh malah tertawa lagi,, di bilangin juga,, kamu tahukan pernah aku nggak menyukai Rara dan sangat menolak perjodohan aku dengan Rara, tapi sekarang aku jatuh cinta dengannya, jangan sampai deh kamu seperti aku juga,, jadi yah saran aku benci Citra itu seadanya ajah jangan berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan akan sangat tidak bagus," ucap Rafa lagi.
"Aku itu nggak mungkin seperti itu,, aku kan nggak di jodohkan dengan dia, udah deh nggak usah ngawur yah Rafa kamu lama-lama sama dengan Aldi tahu nggak,, ngeselin dan semakin ngawur ajah," ucap Fandi lagi.
"Aku cuma beritahu kamu ajah,, nggak usah baper dehh, lagian yah walaupun kamu itu tidak di jodohkan tapi cinta itu bisa datang dari arah mana saja,, hati-hati yah sama ucapan kamu sendiri," ucap Rafa lagi.
"Aku nggak bakalan suka sama wanita jahat," ucap Fandi.
"Berarti kalau dia baik kamu suka dong," ucap Rafa lagi.
"Yah nggak juga lah,, apa yang membuat aku akan menyukai dia,, nggak ada yang spesial pada Citra,, kalau ngeselin iya,, dia itu ngeselin pakai banget," ucap Fandi.
"Itu yang spesial dari Citra,, yaitu ngeselinnya kali," ucap Rafa lalu tertawa.
"Aneh banget kamu,, kalau gitu kamu ajah yang bersama Citra,, biar aku yang bersama Rara," ucap Fandi yang langsung membuat Rafa menghentikan tawanya.
"Apa tadi kamu bilang?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Kamu sama Citra,, aku sama Rara,, mau nggak?" tanya Fandi.
"Enak ajah kamu,, mana mungkin aku akan menukar istri yang sangat aku cintai," ucap Rafa cepat.
Hemm baguslah Rafa, kamu sangat mencintai Rara,, aku senang dengarnya dan kamu juga nggak mau menukar dia, batin Fandi.
"Bercanda doang, kamu serius amat sih, aku tahu kok kamu nggak bakalan menukar Rara dengan siapapun,, makanya kamu nggak usah sebut-sebut Citra karena bawaannya aku tuh kesal melulu tahu nggak kalau dengar nama dia," ucap Fandi lagi.
Rafa pun akhirnya diam dan Fandi tetap fokus pada menyetir mobilnya.
#########
Di tempat Zahra dan Fania.
"Zahra aku benar-benar bosan nih,, lebih baik aku keluar rumah dulu deh,, nanti aku balik, lagian kan video kamu yang tersebar bukan vidoe aku,,, jadi aku aman-aman ajah kalau aku keluar,, gimana sih kamu malah melarang aku keluar,, aku bisa mati karena bosan tahu nggak," ucap Fania kesal.
Zahra melihat Fania dengan tatapan kesalnya juga.
"Yah tapi aku keluar sebentar ajah dong, pergi belanja, pergi perawatan, pergi ketemu pacar aku, biar nggak terlalu membosankan hidup aku, biar aku senang juga karena biasanya aku kalau udah ketemu dengan pacar aku baru aku bisa senang bahkan semakin senang," ucap Fania lagi.
"Iyalah kamu senang,, karena kamu kalau ketemu, pasti bercinta lagi dengan dia kan,, jadi sudah pasti kamu akan senang," ucap Zahra.
"Iya dong Zahra,, lagian aku rindu banget nih sama belaian dia," ucap Fania.
"Kamu mengerti juga dong sama perasaan aku,, yang benar-benar sangat merindukan pacarku, dan pacarku juga sangat merindukan aku tahu," ucap Fania lagi.
"Nggak usah dulu kamu rindu-rinduan, aku nggak mau disini sendirian, nggak ada teman cuma pelayan ajah,, aku benar-benar nggak mau," ucap Zahra.
"Lagian kalau kamu rindu sama dia,, yah video call ajah dengan dia,, kenapa di ribetin sih," ucap Zahra lagi.
"Emang bisa bercinta lewat video call,, kamu ini biasanya pengertian Zahra,, biarin aku ketemu dulu dengan pacarku juga, yah bercinta dikit lah,, nanti aku balik lagi kok," ucap Fania.
__ADS_1
Yang ada kamu nggak bakalan mau balik lagi,, dan aku nggak mau dulu keluar-keluar rumah batin Zahra.
"Kamu beritahu pacarmu saja supaya datang kesini,, biar kamu ketemu dan bercintanya disini saja sampai kamu puas,, aku nggak bakalan ganggu kok tenang ajah," ucap Zahra.
"Apa kamu gila aku nggak mau menyuruhnya kesini,, kalau kita ketahuan gimana,, bisa-bisa nama aku jelek juga," ucap Fania.
"Dan kamu pasti bakalan iri tahu nggak kalau aku bercinta dengan dia," ucap Fania.
"Udah deh kamu percaya sama aku, kalau kita nggak bakalan ketahuan dan nggak bakalan ada yang curiga juga,, karena anak buah ayah aku pasti sudah mengantisipasi semua itu,, aku nggak pengen keluar kan karena aku belum siap untuk bertemu orang-orang, menerima hinaan mereka dan juga dikejar-kejar dengan wartawan,, makanya aku cari aman saja dulu,, jadi beritahu pacarmu agar datang kesini saja," ucap Zahra.
"Aku nggak bakalan ganggu dan iri kok kalau kamu bercinta dengan pacar,, tenang ajah," ucap Zahra lagi.
"Hmm oke deh,, aku beritahu pacarku dulu," ucap Fania.
Fania segera menghubungi pacarnya agar datang ke tempatnya dengan Zahra,, awalnya dia tidak mau karena akan terganggu tapi begitu Fania bilang kalau mereka akan bebas untuk bercinta dia pun segera datang dengan senang hati.
##########
Sementara di rumah Aldi.
Rara,, Citra dan juga Ana berada di dalam kamar Ana,, mereka sedang rebahan santai, sedangkan Aldi berada di dalam kamarnya untuk beristirahat.
Citra terus mengingat Fandi yang sangat menjengkelkan, dia benar-benar tidak terima Fandi menghinanya.
"Bosan banget nih," ucap Ana tiba-tiba membuat Rara dan juga Citra menoleh kepada Ana.
"Kalian nggak bosan emang, berada di dalam kamar terus?" tanya Ana kepada Rara dan Citra.
"Iya nih aku juga bosan," ucap Citra.
"Kak Rara nggak bosan?" tanya Ana.
__ADS_1
"Emm aku mengikut saja sama kalian, kalau kalian bosan ya berarti aku bosan juga," jawab Rara yang membuat Ana dan Citra langsung tertawa begitu mendengar jawaban Rara.