Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Masih seperti itu


__ADS_3

Gracia tampak mengernyitkan keningnya.


"Kenapa dengan Zahra ayah?" tanya Gracia.


"Dia terkena skandal dan buat malu keluarga besar kita," jawab ayah Gracia.


"Haa maksudnya skandal? buat malu keluarga besar?" ucap Gracia.


"Skandal apa?" tanya Gracia penasaran.


"Videonya sedang bercinta dengan preman tersebar di sosial media,, dan itu sangat memalukan Gracia,, mana premannya kotor banget lagi,, ayah nggak habis pikir dengan Zahra itu,, bisa-bisanya dia berhubungan badan dengan preman yang tampak menjijikkan," ucap ayah Gracia sambil bergidik ngeri.


"Haa Zahra seperti itu," ucap Gracia seakan tidak percaya.


"Iya sepupumu itu begitu,, buat malu keluarga, sekarang dia sedang sembunyi pasti,,, karena sudah jelas jika dia keluar,, hinaan dan cacian yang dia dapat,, kalau urusan polisi pasti ayahnya sudah turun tangan langsung," ucap ayah Gracia.


"Seberapa menjijikkannya preman itu?" tanya Gracia penasaran karena melihat ayahnya begitu jijik ketika berbicara.


"Ini lihat sendiri saja videonya,, ayah sengaja menyimpannya untuk kamu lihat,, sepupumu itu benar-benar buat malu keluarga," ucap ayah Gracia sambil memberikan ponselnya pada Gracia.


Dengan segera Gracia menonton video Zahra yang sedang bercinta dengan preman,, dan memang benar yang ayahnya katakan preman itu sangat menjijikkan, Gracia saja bergidik ngeri begitu melihat semuanya.


"Apa Zahra sudah gila,, sangat menjijikkan," ucap Gracia sambil memberikan ponsel ayahnya kembali.


"Iya mungkin dia memang sudah gila," ucap ayah Gracia.


"Kenapa dia begitu sih,, dia juga terlihat sangat menikmatinya,, antara mabuk dan gila tuh anak," ucap Gracia kesal.


"Mungkin dua-duanya," ucap ayah Gracia lagi.


Gracia ingin sekali memarahi Zahra,, tapi sekarang dia belum di tahu tentang kematian palsunya oleh Zahra,, jadi dengan terpaksa dia undur dulu untuk memarahi Zahra karena sudah buat malu keluarga.


############


Sementara di tempat persembunyian Zahra dan Fania,, mereka juga sedang membahas Gracia.


"Zahra udah dong kamu sedihnya,, aku tahu kok kamu sangat menyayangi Gracia tapi mau bagaimana lagi dia telah meninggal dunia Zahra,,, mending kita bahas ajah tentang siapa kemungkinan kekasih Gracia di keluarga Alexander,, aku benar-benar penasaran tentang siapa pria itu," ucap Fania.


"Buat apa sih,, kita juga nggak akan tahu,, yang penting sekarang buat aku itu membalas dendam pada Rara dan juga mendapatkan Rafa,, udah itu ajah yang penting buat aku," ucap Zahra.


"Nah gitu dong,, nggak usah kamu menangis lagi,, Gracia nggak mungkin juga hidup kembali,,,," ucap Fania.


"Berisik banget kamu, udah deh kamu lanjut ajah pacarannya,, aku mau ke tempat lain ajah,, aku benar-benar malas melihat kalian mesra-mesraan di depanku," ucap Zahra karena sejak tadi Reno duduk di samping Fania dengan tangan yang sudah kemana-mana bahkan dia juga mencium-cium Fania di depan Zahra.


"Iri ajah kamu Zahra," ledek Reno.


"Kenapa nggak telfon pacar kamu sih," ucap Reno.


"Aku udah putus dengan dia,," ucap Zahra.


"Haa beneran kamu udah putus dengan dia,, kok bisa?" tanya Reno.


"Jangan bilang karena vidoe itu," ucap Reno lagi.


"Iya memang karena video itu,, dia mutusin aku," ucap Zahra kesal.


"Loh kok dia gitu sih,, aku pikir Andre bakalan terima ajah,, toh dia juga selalu tidur dengan kamu," ucap Reno.


"Pantasan saja tadi aku mengajak dia tapi dia nggak mau," ucap Reno.


"Dia nggak terima semua itu,," ucap Zahra.


"Hemm gaya banget sih tuh anak,, bukannya dia juga yang dapat pertamanya," ucap Fania.

__ADS_1


"Iya emang dia yang dapat awalnya,, udahlah malas bahas dia,, biarin ajah lah,, aku mau ke tempat lain ajah deh,, malas jadi obat nyamuk kalian berdua," ucap Zahra.


"Zahra kamu jangan ngapain-ngapain yah," ucap Fania.


Zahra pun mengernyitkan keningnya bingung begitu mendengar ucapan Fania.


"Ngapain-ngapain? maksud kamu?" tanya Zahra.


"Jangan sampaikan kamu mau bunuh diri Zahra,, pokoknya jangan yah," ucap Fania yang benar-benar khawatir dengan mental Zahra sekarang,, karena masalah datang bertubi-tubi pada Zahra.


"Yah nggak lah,, apaan sih yang kamu pikirkan,, mana mungkin aku mau melakukan itu,, aku itu masih ada dendam pada Rara dan juga masih ingin mendapatkan Rafa,, jadi mana mungkin aku mau melakukan hal bodoh seperti itu,, nggak mungkin tahu nggak," ucap Zahra.


"Bagus deh,, aku akan selalu mendukung kamu kok,," ucap Fania.


"Kalian itu sejak tadi bahas Rara dan Rafa,, mereka itu siapa sih?" tanya Reno.


"Rafa itu adalah Rafandra Alexander,, anak dari Rafindra Alexander dan Rara itu istri dari Rafa,, wanita tidak tahu diri itu yang telah mengambil Rafa dari aku," ucap Zahra.


"APA!!!! ucap Reno terkejut seakan tidak percaya.


"Apa kurang jelas yang aku bilang tadi,, ngeselin banget sih kamu," ucap Zahra.


"Kamu kenal dengan Rafa,,, anak konglomerat itu,, dan bahkan kamu dekat dengan dia,, aku benar-benar nggak menyangka Zahra," ucap Reno.


"Itulah kenyataannya,, hampir saja aku yang menikah dengan Rafa tahu nggak tapi Rara wanita tidak tahu diri itu malah merayu Rafa sehingga dialah yang dinikahi dengan Rafa,, pasti dia menggunakan cara licik biar bisa mendapatkan Rafa,, membuat Rafa mau menikahi dia," fitnah Zahra kepada Rara.


"Masa sih Zahra,, aku melihat wanita itu wanita baik-baik kok,, kalem gitu orangnya,, aku nonton sewaktu Rafa memperkenalkan istrinya mereka pasangan yang cocok,, Rara itu tidak ada tipe cewek penggoda sama sekali,, malahan aku melihat dia itu wanita polos," ucap Reno.


"Kamu kali yang goda Rafa tapi Rafa nggak mau dan lebih memilih Rara," ucap Reno lalu tertawa tapi itu membuat Zahra kesal setengah mati.


"Kamu nggak percaya sama ucapan aku?" tanya Zahra.


"Bukannya nggak percaya Zahra,, hanya saja kayak aneh gitu kalau wanita polos begitu jadi wanita penggoda, apalagi yang dia goda itu sekelas Rafandra dan juga yang aku lihat Rafa itu sangat mencintai Rara kok,,, jadi sepertinya Rafa lah yang menggoda Rara,," ucap Reno lagi lalu melanjutkan tawanya.


"Rafa itu memang menyukai Zahra waktu itu,, tapi Zahra menolak Rafa jadi Rafa pacaran deh dengan Rara dan ternyata diam-diam mereka telah menikah,, hanya kita ajah yang nggak tahu," ucap Fania jujur.


"Tuh ternyata kamu yang menolak Rafa,, wahh salut aku sama kamu Zahra dan benar-benar nggak nyangka," ucap Reno.


"Kenapa kamu menolaknya terus sekarang kamu ingin mendapatkan dia lagi, malahan kamu dendam sama istrinya,, aneh banget kamu," ucap Reno.


"Yah karena Zahra tidak tahu kalau Rafa waktu itu orang kaya jadi gitu deh,, Zahra kan nggak mau sama orang miskin,, waktu itu Rafa hanya menjadi pelayan," ucap Fania lagi.


"Astaga nggak beruntung banget kamu Zahra,, menolak Rafa sama saja menolak rezeki," ledek Reno.


"Udah deh sayang nggak usah bilang seperti itu terus pada Zahra,, lebih baik kamu bantuin rencana kita juga biar Zahra bisa dapatkan Rafa lagi,, dan bisa menyingkirkan Rara," ucap Fania.


"Hemm aku nggak mau ikut-ikutan sayang,, aku nggak mau ada urusan dengan keluarga Alexander,,, aku masih menyayangi hidupku,, lebih baik kalian juga nggak usah deh melanjutkan rencana kalian,," saran Reno.


"Dan kamu Zahra lebih baik tidak usah mengharapkan Rafa lagi,, cari saja pria lain,, atau kamu kejar lagi Andre,, aku yakin dia itu masih ada perasaan sama kamu kok,, dan nggak usah deh kamu balas Rara atau mau memisahkan mereka berdua,, menurut pandangan aku sebagai pria,, Rafa itu sangat mencintai Rara,, jadi percuma saja usahamu dan niat jahatmu itu,,," saran Reno lagi.


"Kamu nggak usah ceramah deh Reno,, bikin tambah pusing tahu nggak," ucap Zahra kesal.


"Hemm siapa juga yang ceramah sih Zahra,, aku itu hanya memberikan saran saja sama kamu yang lagi di butakan dengan sifat irimu itu,, lebih baik kamu biarkan saja Rafa bersama Rara ikhlaskan saja Rara mendapatkan Rafa,, mereka menikah berarti mereka memang berjodoh nggak usah kamu mencari masalah,, perbaiki saja hidupmu," ucap Reno lagi.


"Sudahlah malas aku dengarnya,, bikin kesal ajah kamu, bukannya mendukung aku seperti Fania ehh malah menceramahi aku dan menyuruhku mundur,, mengikhlaskan Rafa sumber kekayaan," ucap Zahra lalu segera pergi dari hadapan Reno dan juga Fania.


Reno menggelengkan kepalanya begitu melihat Zahra yang tetap pada pendiriannya.


"Si Zahra itu kenapa jadi seperti itu sih,, nggak baik tahu nggak,, mana dia begitu sama Rafa dan Rara lagi,,, hemm cari masalah ajah,, kalau dia mengejar Andre kan lebih bagus,, lagian mana mungkin sih Rafa itu masih mau sama dia,, secara video dia udah kesebar gitu yang sudah pasti Rafa juga melihatnya,, dan dia masih mengharapkan Rafa benar-benar sudah gila tahu nggak," ucap Reno.


"Aku yakin pasti Rara nggak seperti Zahra kan? jawab jujur sama aku," ucap Reno.


"Iya dia memang tidak ada gosip,, dan tidak senakal Zahra,, tapi dia itu bermuka dua tahu nggak,, dia hanya pura-pura polos saja biar orang lain selalu menganggap dia itu wanita baik, padahal sih pasti dia gila harta juga,, sekarang dia pasti senang banget bisa mendapatkan Rafa,, pasti sekarang dia menertawakan Zahra tuh," ucap Fania kesal.

__ADS_1


"Aku sih yakin Rara itu tidak seperti itu,, kelihatan kok dari pembawaan dia,, aku melihatnya juga di televisi waktu dia di perkenalkan dengan Rafa dan aku melihat mereka cocok,, ternyata di luar dugaan aku kalau kalian berdua mengenal Rafa dan Rara,, kenapa kamu nggak pernah curhat sama aku sih sayang?" tanya Reno.


"Malas tahu nggak curhat sama kamu,, kamu juga kan selalu sibuk,, toh kamu juga malah membela Rara jadi buat apa juga,, ngeselin banget kamu,, seharusnya itu kamu membela kita,, nah ini nggak pakai memuji Rara lagi di depan aku dan Zahra,,," ucap Fania kesal.


"Nggak bermaksud membela sih,, cuma aku lihat saja dari segala sisi Rara lah yang benar,, kalian yang salah berniat menganggu hubungan rumah tangga orang lain,,, lebih baik kamu beritahu Zahra baik-baik deh untuk mundur saja,, nggak usah mengejar Rafa,, karena Rafa pasti tidak akan pernah menjadi milik dia,, menghabiskan waktu dia tahu nggak,, gimana kalau dia nggak nikah-nikah nanti hanya karena mengejar Rafa yang pada akhirnya tidak bisa dia dapatkan juga, membenci Rara yang tidak pantas untuk di benci,, karena Rafa yang memilih Rara,,, Rafa yang memperkenalkan Rara ke publik dengan bangganya,, nggak mikir banget kalian berdua ini,,, terlalu kebanyakan dandan dan menghayal sih,," ucap Reno lagi.


"Apa kamu bilang coba ulangi lagi,," ucap Fania sambil melototkan matanya pada Reno.


"Beritahu Zahra untuk mundur saja dan mencari pria lain,, atau bersama Andre saja nggak usah mengejar Rafa lagi yang sudah bahagia,, hanya akan menghabiskan waktu dia saja," ucap Reno lagi.


"Kamu pulang ajah deh sana,, kamu itu menjengkelkan banget," usir Fania.


"Yah kok pulang sih,, tega banget kamu sayang," ucap Reno lagi.


"Emang aku tega sama orang yang nggak membela aku,, seharusnya tuh kamu bela aku dan Zahra berikan masukan gitu untuk menjalankan rencana,, nah ini kamu malah ceramah,, jadi lebih baik kamu pulang ajah deh,," usir Fania lagi.


"Yah sayang aku masih pengen nih mesra-mesraan sama kamu,, masa kamu suruh pulang,, tega banget," ucap Reno lagi.


"Aku udah nggak mau lagi,, pulang ajah deh sana,, aku malas melihat wajah kamu sekarang," ucap Fania.


"Beneran nih kamu suruh pulang?" tanya Reno.


"Iyalah beneran,, emang kamu lihat wajah aku ini sedang bercanda," ucap Fania lagi.


"Ya udah deh aku balik,, tapi dengerin yah kata-kata aku tadi barusan,, beritahu Zahra untuk tidak mengejar Rafa lagi karena percuma saja, dan kamu sayang tidak usah ikut-ikutan Zahra yah,, nanti kamu akan menyesal juga,, ingat loh kalian itu ada niat tidak baik sama Rafa,, jadi aku mohon dengarkan perkataan aku, kali ini ajah,, untuk kebaikan kalian juga" ucap Reno lagi.


"Udah selesaikan bicaranya,, sekarang pulang sana, bikin kesal ajah kamu," usir Fania.


"Hemm iya aku pulang,,," ucap Reno lalu segera berjalan keluar menuju mobilnya.


Hemm apes-apes aku malah di usir pulang,, di beritahukan buat kebaikan mereka berdua juga nggak mau dengar,, nanti kalau ada apa-apa gimana coba,, batin Reno sambil berjalan ke mobilnya.


Reno yang sudah berada di dalam mobilnya tiba-tiba mendapatkan telfon dari mamanya. Dengan segera dia mengangkat panggilan telfon dari mamanya.


"Iya ma,, ada apa?" tanya Reno langsung begitu sudah mengangkat panggilan telfon dari mamanya.


"Kamu lagi dimana Reno?" tanya mama Reno.


"Lagi di rumah teman ma, ada apa?" tanya Reno lagi..


"Di rumah teman atau di rumah pacar kamu itu yang mama tidak suka?" tanya mama Reno lagi.


Hemm memang nggak bisa banget aku bohong pada mama aku ini,, dia pasti tahu kebohongan aku,, batin Reno.


"Kenapa diam Reno?" tanya mama Reno lagi.


"Emm nggak kok ma,, aku nggak bermaksud diam,, baru aku mau bicara tapi mama udah bicara duluan ajah," ucap Reno.


"Aku lagi di rumah teman kok ma,, tapi ini udah di dalam mobil mau balik ke rumah,," ucap Reno lagi.


"Video call,, masuk kembali ke rumah temanmu,, aku mau bicara dengan dia," ucap mama Reno.


"Oke aku ketahuan,, aku habis ketemu dengan Fania ma," ucap Reno pada akhirnya.


"Itukan,, kamu memang nggak akan bisa bohongi mama Reno, sudah berapa kali mama bilang,, kamu jangan dengan dia lagi,, dia itu bawa pengaruh buruk untuk kamu,, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan mama," omel mam Reno.


"Dia nggak begitu kok ma,, udah yah nggak usah marah-marah ma,, nanti semakin tua loh,," ucap Reno.


"Mama akan terus marah-marah,, kalau kamu masih seperti itu," ucap mama Reno.


"Sekarang jemput mama di mall XXX,, telfon kalau kamu sudah sampai disini,, nanti kita bertemu baru mama lanjutkan marah-marah sama kamu," ucap mama Reno lagi lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan Reno.


Habislah aku,, pasti aku akan dengar mama aku marah-marah sampai di rumah,, batin Reno.

__ADS_1


Reno segera mengemudikan mobilnya menuju mall tempat mamanya berada.


__ADS_2