Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Kembali


__ADS_3

Dia cantik juga kalau tersenyum batin Rafa sambil senyum-senyum melihat Rara.


"Rafa loe kenapa?" tanya Rara yang merasa canggung karena dari tadi Rafa memperhatikan dirinya.


"Rafa" ucap Rara lagi.


"Haa iya kenapa?" tanya Rafa gugup.


"Harusnya gue yang tanya loe kenapa, dari tadi loe senyum-senyum gitu, loe nggak gila kan?" tanya Rara.


"Enak ajah nggak lah gue masih waras yah" ucap Rafa.


"Syukur deh kalau loe masih waras" ucap Rara.


"Emang kenapa kalau gue nggak waras?" tanya Rafa sambil berbisik di telinga Rara.


"Gue bawah loe di rumah sakit jiwa lah, terus cari suami baru" bisik Rara kepada Rafa lalu tertawa.


"Wah kita baru nikah loh dan loe udah mikirin suami baru ajah" bisik Rafa lalu mencubit kedua pipi Rara gemas.


"Rafa loe jangan cubit gue gitu nanti teman kelas kita salah paham dan Zahra juga akan salah paham sama loe" ucap Rara.


"Biarin lah kan gue yang lakuin" ucap Rafa santai.


Rara pun hanya diam, dia tidak tahu mau bilang apa lagi karena dia baru banyak bicara dengan Rafa akhir-akhir ini, sejak dulu Rara sekelas dengan Rafa dia sangat jarang berbicara dengan Rafa.


Zahra dan Fania pun masih melihat penuh kebencian kepada Rara dan Rafa.


Tak lama dosen pun masuk ke dalam kelas, membuat semua yang berada di dalam langsung diam memperhatikan dosen menjelaskan.


#####


Setelah semua mata kuliah mereka selesai, Rafa dan Rara pun segera ke rumah Fandi untuk menjenguk Fandi.


Rafa dan Rara buru-buru keluar kelas karena untuk menghindari Zahra, mereka tidak mau kalau Zahra sampai mengikuti mereka.


"Pegangan nanti loe jatuh lagi bahaya bisa-bisa gue di hapus dari daftar anggota keluarga sama ayah gue" ucap Rafa setelah memakai helmnya.


"Nggak akan, udah ayo jalan deh sekarang" perintah Rara setelah dia memakai helm juga.


Rafa pun mulai mengendarai motornya dengan Rara yang berpegang di pundak Rafa.

__ADS_1


Sedangkan Zahra benar-benar kesal karena dia memang sudah berniat ingin menjenguk Fandi dengan mengikuti Rafa, namun dia tidak mengira kalau Rafa dan Rara dengan sengaja keluar cepat-cepat dari kelas untuk menghindari dirinya agar tidak bisa menjenguk Fandi.


#####


Di jalan Rafa sengaja menambah kecepatan motornya membuat Rara ketakutan.


"Rafa loe pelan-pelan ajah bawah motornya, kalau loe bawah motor ngebut gini bisa-bisa kita di bacain yasin sama Fandi, kita nggak jadi jenguk dia tahu nggak" ucap Rara nyaring supaya Rafa mendengarnya.


Rafa pun tertawa mendengar ucapan Rara.


"Kok loe malah tertawa sih Rafa, gue serius nih, loe pelan-pelan ajah bawah motornya" ucap Rara lagi.


"Gue sengaja ngebut supaya gue nggak lama-lama boncengan dengan loe, jadi lebih baik loe pegangan deh daripada loe jatuh dan jangan ganggu konsentrasi gue" ucap Rafa lagi.


Rara pun dengan terpaksa berpegang ke pinggang Rafa.


Rafa pun tersenyum dan dengan sengaja rem mendadak motornya agar Rara memeluk dirinya dan benar saja Rara langsung memeluknya erat karena kaget.


"Rafa loe kalau mau rem motor bilang-bilang dong, kaget gue tahu nggak" ucap Rara masih memeluk pinggang Rafa.


"Rara itu ada mobil di depan, masa gue bilang dulu sama loe kalau mau rem mendadak, bisa-bisa gue tabrak mobil itu tahu nggak" ucap Rafa kepada Rara sambil melihat wajah Rara yang sudah cemberut melalui spion motor.


"Makanya loe nggak usah ngebut-ngebut bawah motornya Rafa untung loe nggak nabrak" ucap Rara lagi.


"Loe" jawab Rara.


"Ya udah berarti loe duduk diam ajah di belakang nggak usah banyak komentar" ucap Rafa.


"Iya-iya ribut banget sih" ucap Rara sambil mau melepaskan pelukannya di pinggang Rafa.


"Kenapa loe mau lepas pegangan loe, mau loe jatuh nyungsep di aspal" ucap Rafa lagi.


"Nggak mau lah" ucap Rara lalu memeluk pinggang Rafa lagi.


Rafa pun memelankan mengendarai motornya membuat Rara ingin melepaskan pelukannya namun belum sampai Rara melepaskan pelukannya Rafa pun ngebut lagi mengendarai motornya membuat Rara memeluknya lagi.


Begitu terus sampai di rumah Fandi, membuat Rara benar-benar kesal karena ulah Rafa yang membawa motor tidak jelas kadang pelan kadang ngebut.


#####


Begitu masuk di halaman rumah Fandi, Rafa pun segera memarkirkan motornya.

__ADS_1


Rafa pun mau langsung masuk saja membuat Rara menahan tangannya.


"Rafa loe mau kemana?" tanya Rara.


"Mau masuk lah ke dalam jengukin Fandi, loe mau disini ajah" ucap Rafa.


"Yah nggak lah, tapi loe nggak nelfon Fandi dulu biar suruh orang buat antar kita masuk ke dalam" ucap Rara.


Rafa pun mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Rara.


"Ngapain kita di antar buat masuk ke dalam?" tanya Rafa dengan ekspresi wajah bingungnya.


"Yah gue takut nanti kita kesasar Rafa kalau masuk sendiri di dalam rumah Fandi, rumah Fandi ini besar banget" ucap Rara sambil melihat rumah Fandi yang sangat besar di matanya.


Rafa pun tertawa mendengar ucapan polos Rara.


Rumah Fandi sudah besar menurutnya bagaimana kalau dia melihat rumahku yang jauh lebih besar dari rumah Fandi batin Rafa.


"Rafa kok loe nertawain gue sih" ucap Rara kesal karena Rafa menertawakannya padahal dia lagi serius berbicara.


Padahal Rara benar-benar takut kesasar.


"Karena lucu" ucap Rafa sambil masih tertawa.


"Ya udah loe tertawa ajah sampai puas, gue mau nelfon Fandi dulu" ucap Rara.


Rafa pun langsung berhenti tertawa.


"Nggak usah telfon dia, ayo sini loe ikut gue, gue udah biasa datang ke rumah ini jadi kita nggak bakalan kesasar tenang ajah" ucap Rafa sambil menarik tangan Rara untuk masuk ke dalam rumah Fandi.


Rara pun hanya mengikut saja, begitu masuk dia benar-benar takjub melihat isi di dalam rumah Fandi yang sangat mewah, untuk pertama kalinya Rara masuk ke dalam rumah yang sangat mewah dan bagus menurutnya.


Pelayan-pelayan di rumah Fandi hanya tersenyum ramah begitu melihat Rafa karena Fandi menyuruh mereka agar bersikap biasa saja kepada Rafa jika dia datang karena Rafa akan datang bersama istrinya.


Rara yang melihat pelayan-pelayan di rumah Fandi langsung saja tersenyum ramah kepada mereka semua.


"Istri tuan Rafa cantik dan ramah yah" ucap salah satu pelayan di rumah Fandi.


"Iya dia sangat cocok dengan tuan Rafa" ucap pelayan yang lainnya.


"Dan pastinya dia bukan cewek mata duitan karena dia mau menerima tuan Rafa apa adanya" ucap pelayan lagi.

__ADS_1


"Iya" ucap pelayan yang lain bersamaan.


Setelah berbicara tentang Rafa dan Rara, pelayan-pelayan itu pun kembali bekerja seperti biasanya.


__ADS_2