
"Duh loe bicara nggak usah pakai teriak-teriak ini gue dekat loe dan gue juga nggak tuli, gue dengar kok Rafa" ucap Rara gemas.
"Sorry-sorry habis gue kaget loe mau bawah motor dan ternyata loe cuma tahu sedikit bawah motornya, loe mau kita langsung ke rumah sakit atau kuburan" ucap Rafa sambil menggelengkan kepalanya heran.
"Aduh Rafa loe percaya ajah deh sama gue yang penting yakin" ucap Rara.
"Nggak mau ahh gue masih pengen hidup" ucap Rafa.
"Udah deh nggak usah bawel, sini kunci motornya gue yang bawah pokoknya nggak boleh ada penolakan" ucap Rara sambil mengambil kunci motor dari Rafa.
Rafa pun mengikuti kemauan Rara. Dia pun duduk di belakang Rara dengan membaca doa terlebih dahulu agar di beri keselamatan.
Rara pun mulai mengendarai motornya. Setelah cukup jauh Rafa sudah merasa yakin kalau Rara bisa membawanya sampai ke kos mereka dengan selamat.
Rafa pun mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan memeluk Rara sambil tersenyum di belakang Rara.
"Rafa kok loe peluk gue sih?" tanya Rara yang sedikit terkejut dengan kelakuan Rafa yang tiba-tiba memeluknya namun Rara tetap berkonsentrasi mengendarai motor Rafa.
"Biar loe nggak dingin dan badan gue juga nih benar-benar sakit, gue takut kalau gue nggak berpegang gue bakalan jatuh" ucap Rafa dengan alasan yang di buat-buatnya.
"Oh gitu yah, ya udah deh nggak apa-apa" ucap Rara.
Rafa pun semakin senang dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Rara. Hingga sampai di kos Rafa masih saja memeluk Rara.
"Rafa kita udah sampai, loe nggak niat buat turun" ucap Rara kepada Rafa.
"Oh udah sampai yah, putar lagi yuk" ajak Rafa yang membuat Rara terkejut.
"Loe kayaknya jadi gila gara-gara habis di pukulin preman-preman itu" ucap Rara.
"Nggak kok, ayo putar lagi" ucap Rafa sambil tersenyum.
"Rafa loe jangan ngomong sembarang deh, ayo turun gue obatin luka loe itu" ucap Rara.
Rafa pun mengikuti ucapan Rara. Masuk ke dalam kos barang-barang Rara sudah teratur di dalam kos Rafa.
Rara pun segera mendudukan Rafa lalu mengambil kotak p3k dan segera mengobati luka Rafa. Rafa pun meringis kesakitan ketika Rara mulai mengobatinya.
"Tahan yah Rafa" ucap Rara.
"Iya tapi pelan-pelan" ucap Rafa.
__ADS_1
"Iya ini udah pelan kok" ucap Rara dan akhirnya selesai juga.
"Rafa gue siapin air hangat yah biar loe mandi dulu supaya badan loe nggak terlalu sakit besoknya, loe nggak usah basahin wajah loe" ucap Rara.
"Boleh deh tapi loe mandiin gue yah, gue nggak sanggup nih mandi sendiri" ucap Rafa dengan santainya.
"Apa!!! nggak mau gue" ucap Rara yang wajahnya sudah merona mendengar ucapan Rafa.
"Gue nggak telanjang kok, otak loe mesum banget sih ngarep banget gue telanjang yah" goda Rafa.
"Ihhh apaan sih loe Rafa, asal ngomong ajah siapa juga yang mengharapkan loe telanjang" ucap Rara sambil cemberut.
"Loe lah, itu wajah loe nggak bisa bohong seperti lidah loe, merona banget tuh wajah" ledek Rafa lagi.
Rara pun merasa malu dan menutup wajahnya tanpa berbicara apapun Rara langsung pergi menyiapkan air hangat buat Rafa.
Rafa pun tertawa melihat Rara yang tampak malu.
"Rara kalau loe benar-benar pengen gue telanjang, gue mau kok lagian kita suami istri jadi hak loe buat liat" teriak Rafa yang membuat Rara benar-benar bertambah malu dan tidak habis pikir dengan ucapan Rafa.
"Rafa loe jangan ngomong sembarangan deh" teriak Rara balik.
Setelah selesai menyiapkan air hangatnya Rara pun membantu Rafa untuk membersihkan diri.
"Rara beneran gue nggak usah telanjang nih, loe nggak merasa rugi" goda Rafa lagi.
"Udah deh Rafa jangan gangguin gue terus, ayo sini gue bantuin loe" ucap Rara.
Rafa pun mengikuti ucapan Rara.
"Rara loe nggak mandi?" tanya Rafa yang sedang melihat Rara yang merawat dirinya yang sedang pura-pura kesakitan.
"Bentar selesai loe baru gue mandi" ucap Rara sambil masih fokus ke tubuh Rafa.
"Barengan ajah" goda Rafa lagi.
"Iihh Rafa jangan banyak bicara deh loe ini lagi sakit jadi diam dan nggak usah mikir macam-macam" ucap Rara.
"Baiklah Nyonya Rafandra Alexander, gue diam sesuai perintahmu" ucap Rafa.
Rara pun hanya tersenyum mendengar ucapan Rafa.
__ADS_1
Seandainya dia tahu nama yang gue sebut tadi itu adalah nama yang akan sangat membuat orang lain iri kepadanya karena bisa menjadi istrinya, gimana reaksi dia yah batin Rafa sambil tersenyum.
"Udah selesai Rafa, keluar loe gue juga mau mandi" usir Rara.
"Tega banget loe ngusir gue" ucap Rafa dengan cemberutnya.
"Nggak ngusir kok, cuma kasitau ajah gue mau mandi cepat terus ngerjain tugas, kita kan ada tugas Rafa" ucap Rara memberi penjelasan.
"Iya deh" ucap Rafa kemudian keluar dari kamar mandi.
Rara pun segera mandi.
Ponsel Rara berbunyi ketika Rara sedang mandi, Rafa pun melihatnya ternyata Fandi yang menelepon Rara. Rafa pun langsung mengangkat telfon dari Fandi.
"Kenapa loe telfon istri orang malam-malam" ucap Rafa langsung setelah mengangkat panggilan telfon dari Fandi.
"Ehh kok suami orang yang angkat" ucap Fandi sambil merasa senang mendengar Rafa menyebut Rara istrinya.
"Udah deh langsung saja pada intinya" ucap Rafa lagi.
"Gue mau bicara sama Rara, Rara kemana?" tanya Fandi.
"Rara lagi mandi biasa habis olahraga malam" ucap Rafa ambigu.
Fandi pun langsung melotot tak percaya mendengar ucapan Rafa.
"Serius kalian habis olahraga malam?" tanya Fandi ulang.
"Kepo banget sih loe sama urusan suami istri, ayo cepat ngomong ngapain loe telfon istri gue?" tanya Rafa lagi.
"Gue mau nanya kalau kalian udah sampai atau belum di kos, gue khawatir ehh ternyata kalian udah selesai olahraga malam" ucap Fandi.
Fandi tidak tahu apa-apa tentang Rafa dan Rara yang di keroyok karena Fandi sudah menghentikan orang buat mengawasi Rara, Fandi pikir sudah ada Rafa yang akan menjaga Rara. Karena Rafa juga bisa bela diri.
"Iya udah dari tadi kok kita sampai malahan udah olahraga malam dua kali, Rara pasti kecapean banget tuh karena rencana gue mau tambah lagi maklum masih hangat-hangatnya jadi loe nggak usah nelfon lagi atau kalau loe mau telfon, telfon gue ajah jangan istri orang" ucap Rafa.
"Iya-iya tukang pamer, nyebelin banget sih loe, udah gue matiin telfonnya. Selamat olahraga malam" ucap Fandi lalu langsung mematikan panggilan telfonnya.
Rafa pun tersenyum puas mendengar ucapan Fandi.
Sedangkan Fandi merasa senang dan berharap kalau Rafa dan Rara tidak akan pernah bercerai, dan Fandi juga tahu kalau Rafa berbohong tentang olahraga malam yang dia katakan, Fandi tahu betul sifat Rafa.
__ADS_1