
Rara terkejut melihat wajah Zahra dan Fania yang selalu terawat tetapi sekarang benar-benar banyak memar walaupun mereka berusaha menutupinya.
Rafa sudah mengetahui kalau ini pasti perbuatan Fandi.
Rara pun mendekati Zahra dan Fania.
"Kalian berdua nggak kenapa-kenapa kan, kenapa wajah kalian seperti ini?" Tanya Rara dengan perhatiannya.
"Loe nggak usah sok baik dan sok perhatian sama kita, loe senang kan lihat kita seperti ini" ucap Zahra kemudian mendorong Rara.
Beruntung Rara tidak jatuh karena di tahan oleh Rafa.
"Loe nggak usah main dorong-dorong yah" ucap Rafa kemudian membawa Rara kembali ke tempat duduknya.
Zahra dan Fania pun pergi duduk ke tempat kosong.
Mereka sebenarnya tidak ingin masuk ke kampus namun karena mereka harus final jadilah mereka masuk walaupun wajah yang benar-benar memiliki banyak memar.
"Rara lain kali kamu nggak usah perhatian sama mereka" ucap Rafa.
"Iya Rara" ucap Fandi juga.
Rara pun menganggukan kepalanya karena tidak ingin berdebat.
Setelah final mereka pun pulang ke rumah masing-masing karena memang hari ini mereka cuma final saja.
#####
Rara begitu bersemangat untuk ke rumah barunya bersama Rafa begitupun juga dengan Rafa.
Fandi pun ikut ke rumah baru mereka dengan menggunakan mobilnya, dia tersenyum melihat kedekatan Rafa dan Rara.
Tiba di rumah barunya Rara terdiam seakan tidak percaya.
"Ada apa Rara?" tanya Rafa yang melihat Rara hanya diam membisu.
"Rafa ini beneran rumah yang kamu beli?" tanya Rara.
"Iya, nggak bagus kan, kecil juga tapi setidaknya ini bukan kos lagi" ucap Rafa.
Fandi pun berpikir seperti Rafa.
"Ya ampun siapa bilang ini nggak bagus dan kecil, ini bagus dan besar banget Rafa, aku suka banget" ucap Rara bahagia.
Rafa dan Fandi benar-benar terkejut dengan ekspresi Rara yang terlihat sangat bahagia.
"Kamu beneran suka?" tanya Rafa seakan tak percaya.
"Iya Rafa, ayo kita masuk" ajak Rara.
Ya ampun Rara rumah begini kamu anggap bagus, gimana dengan rumah yang versi Rafandra Alexander batin Rafa.
__ADS_1
Mereka pun masuk bersama.
#####
Zahra dan Fania sepulang dari kampus langsung ke dokter lagi untuk meminta obat yang paling bagus dan mahal untuk kulit mereka.
"Kenapa sih setiap kita ingin memberi pelajaran kepada pelayan itu selalu kita saja yang kena sial" ucap Zahra kepada Fania setelah mereka mengambil obat.
"Iya heran gue tapi kita harus membalasnya" ucap Fania.
"Iya dong" ucap Zahra.
#####
Setelah Fandi pulang, Rafa pun duduk santai di sofa sambil melihat Rara yang asik membersihkan dengan senyum bahagianya.
"Rara apa kamu sebahagia itu mempunyai rumah yang sederhana seperti ini?" tanya Rafa.
"Ya ampun Rafa ini itu nggak sederhana tahu, ini itu udah bagus banget dan aku sangat suka" ucap Rara melihat Rafa sambil tersenyum kemudian melanjutkan bersih-bersihnya lagi.
Rafa tersenyum mendengar jawaban Rara.
"Rara udah dulu kamu bersih-bersihnya" ucap Rafa setelah bosan menunggu Rara yang membersihkan.
"Tunggu dikit lagi nih Rafa" ucap Rara.
Setelah selesai Rara pun mendekati Rafa yang sedang duduk di sofa.
"Iya udah" jawab Rara.
"Sini duduk" ucap Rafa sambil menyuruh Rara duduk di sampingnya.
Rara pun mengikuti ucapan Rafa.
"Gimana tadi finalnya, kamu nggak minta jawaban sama sekali sama aku padahal aku udah nunggu kamu minta bantuan" ucap Rafa sambil nyengir kuda.
"Karena aku tahu jawabannya, aku akan mencoba sebisa mungkin untuk tidak minta jawaban sama kamu karena pasti ada syaratnya" ucap Rara.
Rafa pun tertawa mendengar ucapan Rara.
"Kamu itu berpikiran buruk terus sama aku, padahal aku nggak mikirin itu loh aku cuma mau bantu kamu sebagai istri yang butuh bantuan suami" ucap Rafa sambil mencolek dagu Rara.
"Iihh apaan sih kamu Rafa colek-colek dagu aku" ucap Rara sambil menghindar dari Rafa.
"Heem baru juga dagu" ucap Rafa.
"Oh iya Rafa, wajah Zahra dan Fania kok bisa gitu yah tadi, aku kasian banget loh" ucap Rara yang tiba-tiba mengingat wajah Zahra dan Fania yang penuh dengan memar dan sangat kasian.
"Itu pasti akibat dari perbuatan mereka" ucap Rafa santai.
"Memang mereka habis berbuat apa?" tanya Rara bingung.
__ADS_1
"Nggak tahu, sudahlah jangan memikirkan mereka lebih baik kamu pijitin kepala aku yang lagi sakit ini" ucap Rafa kemudian baring di pangkuan Rara.
"Benarkah Rafa, kamu minum obat yah" ucap Rara dengan khawatirnya.
"Nggak usah Rara nanti juga sembuh sendiri kalau kamu pijitin kepala aku" ucap Rafa.
Rafa sebenarnya tidak sakit kepala dia hanya sengaja saja supaya Rara perhatian kepadanya.
Rafa pun baring di pangkuan Rara sambil bermain game dan Rara yang memijit kepalanya.
"Ponsel di simpan dulu Rafa kalau lagi sakit kepala nanti sakit kepala kamu semakin bertambah" ucap Rara sambil mengambil ponsel Rafa.
Rafa pun berusaha mengambil lagi namun dia mendapat tatapan tajam dari Rara dia pun menyimpannya kembali dan baring di pangkuan Rara lagi.
Begitu yah tatapan tajam istri, haduh ngeri banget sih tapi dia perhatian banget sama aku batin Rafa.
"Rafa apa masih sakit?" tanya Rara setelah agak lama memijit kepala Rafa.
"Udah nggak, aku lapar sekarang, masakan aku yah" ucap Rafa manja.
"Ya udah kamu tunggu di sini aku masakan kamu dulu" ucap Rara kemudian berjalan menuju dapur.
Rafa hanya senyum-senyum tidak jelas melihat Rara.
Tak lama Rara keluar kembali dari dapur.
"Ada apa? sudah selesai kamu memasaknya cepat banget" tanya Rafa yang melihat Rara datang kepadanya.
"Di dapur nggak ada apa-apa tuh" jawab Rara dengan cemberutnya.
"Ya sudah kita pergi belanja sekarang kalau gitu" ucap Rafa.
"Kamu mau antarin aku, tapi kamu kan lagi sakit biar aku pergi sendiri saja yah" ucap Rara merasa tidak enak.
"Ya ampun Rara aku ini laki-laki loh jadi sakit gini ajah nggak ngaruh, ayo sini kita pergi belanja" ucap Rafa lagi.
"Tapi kamu nggak kenapa-kenapa kamu kan laki-laki" ucap Rara.
"Nggak kenapa-kenapa kok, aku lebih baik antarin kamu daripada kamu bawah motor sendiri" ucap Rafa.
Rara pun mengikuti keinginan Rafa yang mau mengantarnya.
"Rara dimana nih kita mau belanja?" tanya Rafa setelah mengendarai motornya.
"Di pasar ajah Rafa, kamu tahu kan pasar di sekitar sini" ucap Rara.
"Apa di pasar, kamu yakin Rara?" tanya Rafa seakan tidak percaya.
"Iya yakin banget" jawab Rara.
Ya ampun dia ini cewek yang benar-benar sederhana, mau ajah belanja di pasar padahal banyak tempat yang bagus batin Rafa.
__ADS_1
Ketika mereka sedang berboncengan ternyata ada yang melihat mereka berdua.