
"Apa kamu bilang anak dari Rafindra mengejar kamu?" tanya ayah Zahra ulang untuk memastikan pendengarannya.
Selama ini ayah Zahra malas terlalu ikut campur atau mencari tahu tentang kehidupan anaknya semenjak dia tahu anaknya sudah tidak perawan lagi karena telah berhubungan badan dengan pacarnya, disitulah ayahnya sudah malas tahu, dia membiarkan Zahra melakukan sesukanya, apapun yang dia mau karena percuma juga di larang pasti Zahra tidak akan mau di larang, ayahnya tahu Zahra pasti bisa menjaga dirinya sendiri dia tidak akan mau hamil dari cowok tidak kaya, ayahnya sudah tahu betul sifat anaknya itu yang matre walaupun pacarnya juga kaya sebenarnya tapi tentu Zahra akan pilih-pilih yang lebih kaya lagi, itulah ayah Zahra tidak tahu tentang Rafa karena dia tidak mencari tahu lagi tentang anaknya Zahra, ayah Zahra hanya memberikan fasilitas saja kepada Zahra tanpa kekurangan sedikit pun.
"Iya ayah dia mengejar aku waktu itu tapi setelah wanita tidak tahu diri itu muncul, Rafa tidak lagi mengejar aku tapi dia sudah mengejar Rara, karena Rara selalu merayu Rafa ayah, bahkan menjebak Rafa agar tidur dengannya supaya Rafa menikahi dia, dan mereka sudah menikah sekarang, aku hanya ingin membalas dendam ayah sama wanita itu jadi aku mohon ayah jangan menghukum aku," ucap Zahra.
"Kenapa bukan kamu yang menjebak dia, kenapa bukan kamu yang tidur dengan dia supaya kamu dinikahi Zahra, kamu itu tidur dengan pria yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Rafa seharusnya kamu seperti wanita itu yang pintar mendapatkan orang kaya," omel ayah Zahra.
"Aku keduluan ayah sama Rara, tapi ayah tenang saja aku akan berusaha mendapatkan Rafa dan membuat Rafa mengejar aku lagi, tapi ayah tidak boleh menghukum aku," ucap Zahra.
"Lebih baik kamu urus dulu nama baik kamu Zahra, kamu sekarang jangan keluar-keluar dulu atau kamu ke luar Negeri saja dulu sekarang kamu pasti akan di hina habis-habisan," ucap Ayah Zahra.
"Iya ayah aku mau ke luar Negeri saja dulu dan ayah cari preman-preman itu aku ingin ayah membunuh mereka, aku benar-benar sangat dendam pada mereka, ayah aku nggak akan di penjara kan karena video itu?" tanya Zahra takut.
"Tenang saja kalau urusan itu, lebih baik kamu siapkan saja mental kamu itu, ayah takut kamu bakalan gila nanti jika terus di hina," ucap ayah Zahra.
"Aku nggak pernah perduli tentang itu ayah, dan aku juga nggak mau muncul dulu, aku nggak mau ketemu dengan orang dulu jadi ayah nggak usah mikirin tentang itu, aku akan berangkat hari ini juga karena sekarang aku lagi libur juga," ucap Zahra.
"Oke biar ayah yang urus semuanya," ucap ayah Zahra.
"Ayah aku mau pergi bersama teman aku, bisakan?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Oke," ucap ayah Zahra.
Sementara di tempat lain Fandi sedang menuju ke rumah utama Rafa.
Pasti Zahra sekarang sedang kalang kabut, sedang malu dan memutuskan untuk lari, hemm dasar wanita tidak tahu diri, larilah sejauh mungkin supaya kamu tidak dekat-dekat dengan Rafa dan Rara batin Fandi.
Ayah Rafa yang sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rumahan segera turun ke tempat keluarganya sedang berkumpul, lalu dia tersenyum begitu melihat Rafa yang sangat manja pada istrinya padahal Rara sedang memasak tapi Rafa malah datang menggangu.
Syukurlah mereka sangat dekat, aku sangat senang melihat pemandangan ini, anak aku sudah bersama dengan wanita yang tepat, wanita yang mencintai dia dengan tulus tanpa memandang harta, untung saja sekarang mereka sudah saling mencintai batin ayah Rafa karena mengingat pernikahan awal-awal anaknya, bagaimana Rafa yang sangat menolak perjodohan itu, sangat menolak Rara sekarang menjadi pria yang tidak bisa jauh dari Rara.
"Rafa manja banget sama istrinya, kasian tuh istrimu yang lagi memasak pasti sekarang dia lagi menahan malu banget punya suami manja," ucap ayah Rafa sambil duduk di kursi.
"Udah lama pulang pa?" tanya mama Rafa.
"Lumayan karena sudah sempat mandi tadi," jawab ayah Rafa.
"Ayah juga manja kan sama mama, nggak usah bohong ayah, aku tahu kok," ucap Rafa.
"Behh kalau ayahmu jangan tanyakan lagi manjanya itu over dosis nak, dan menurunlah kepada anaknya sekarang," ucap mama Rafa lalu tertawa.
"Tuhkan apa aku bilang, ayah mahh di luar ajah ganas tapi di rumah langsung jadi hello kitty apalagi sama mama," ledek Rafa lalu tertawa.
__ADS_1
"Mama jangan buka-buka kartu dong, kan malu sama menantu," ucap ayah Rafa dan Rara pun tersenyum.
"Udah terlanjur pa, menantu kita sudah dengar juga dan dia juga pasti tahulah kalau sifat manja suaminya itu pasti menurun dari ayahnya," ucap mama Rafa.
"Tidak semua kali ma, bisa ajah kan sifat manjanya mama yang menurun kepada Rafa," ucap ayah Rafa yang sedang membela diri.
"Nggak dong, sifat manjanya Rafa lebih cocok dengan sifat manjamu pa, mama mana pernah manja sambil peluk-peluk di tambah ngendus-ngendus di leher gitu, itu kan kelakuan papa banget," ucap mama Rafa lagi lalu kembali tertawa.
Ayah Rafa pun tertawa karena memang itu juga kebiasaan dia sewaktu masih muda dan pengantin baru.
"Laki-laki emang gitu ma," ucap ayah Rafa.
"Emang dan ini si Rafa ini nggak bisa nahan banget, istrinya di dekati melulu, nggak ada yang bakalan ambil dan menggoda istrimu disini anakku sayang, kalau mau dekat-dekat nanti di kamar ajah lanjutnya, jadi sana duduk dekat ayahmu biar Rara konsentrasi memasaknya," ucap mama Rafa lagi sambil melihat anaknya itu yang hanya nyengir kuda saja.
"Istriku ini seperti ada magnetnya ma, jadi yah gitu deh bawaannya aku dekat-dekat dia melulu nggak bisa jauh-jauh karena akan ketarik juga," ucap Rafa yang langsung mendapatkan pelototan mata dari sang istri.
"Benar kata mama sayang, udah sana duduk di dekat ayah biar cepat kelar masakannya ini, biar cepat makan juga, kamu nggak lapar emang kasian tuh ayah pasti udah lapar banget," ucap Rara.
"Nggak sayang aku udah kenyang kok habis makan kamu tadi," ucap Rafa lalu mencium pipi istrinya dan segera berjalan untuk duduk di dekat ayahnya. Sedangkan Rara wajahnya sudah merona karena ucapan Rafa yang asal ceplos saja.
Ya ampun suamiku ini memang urat malunya sudah putus kali yah, apa kurang bicara begitu di depan mama, sekarang di depan ayah juga dia berbicara seperti itu, hemm aku nggak kasih jatah kamu sayang, biar bibirmu itu bisa di rem juga kalau bicara jangan main asal bunyi saja batin Rara.
__ADS_1