
"Itu kan Rara, tolongin nggak yah" ucap Rafa yang melihat Rara di gangguin dengan dua orang preman.
"Ngapain sih gue tolongin biarin ajah deh" ucap Rafa lagi. Namun Rafa melihat Rara sudah di tarik-tarik masuk ke mobil dengan Rara yang sudah berontak dan berteriak sekencang mungkin.
Jiwa baik Rafa pun timbul akhirnya dia memutuskan untuk menolong Rara.
Fandi hendak menolong Rara juga namun dia melihat Rafa sudah menolong Rara, Fandi pun hanya menjadi penonton yang tidak di tahu, Fandi sudah yakin Rafa akan mengalahkan preman itu sendiri karena mereka berdua jago bela diri tapi lebih jago lagi Rafa jika di bandingkan Fandi.
Dengan satu kali tendangan yang sangat kuat membuat salah satu preman itu tersungkur ke tanah. Dan satunya juga ikut nyusul karena mendapat bogeman mentah dari tangan Rafa membuat bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
"Loe beraninya sama perempuan yah, lawan gue yang sesama jenis loe" ucap Rafa.
"Lebih baik loe nggak usah ikut campur atau loe bakalan menyesal" ucap salah satu preman itu yang sudah kembali berdiri.
"Loe berdua yang bakalan menyesal" ucap Rafa dengan senyuman mengerikannya.
Fandi yang menyaksikan itu hanya tersenyum dingin.
Kalian nggak tahu siapa Rafa, bodoh banget mau lawan dia bentar lagi kalian bakalan babak belur batin Fandi.
Terjadilah perkelahian dengan dua lawan satu dan berakhir dengan dua preman itu yang babak belur bahkan Rafa lecet sedikit pun tidak. Preman-preman itu sudah tidak sanggup lagi menghadapi Rafa mereka memutuskan untuk kabur. Baru Rafa mau mengejar mereka Rara menahan tangan Rafa dan memeluk Rafa dengan erat. Terlihat dengan jelas bahwa Rara sangat ketakutan.
"Rafa gue mohon loe jangan ngejar mereka, gue takut di sini sendiri nanti ada orang jahat lagi" ucap Rara sambil menangis ketakutan dan memeluk Rafa sangat erat.
Rafa bisa merasakan ketakutan pada Rara, Rara bahkan sampai gemetar dan pucat. Rafa pun berusaha menenangkan Rara dan membiarkan preman itu kabur.
"Oke loe tenang dulu, jangan nangis lagi" ucap Rafa berusaha menenangkan Rara yang masih jelas merasa takut atas apa yang barusan dia alami.
Rafa pun membawa Rara duduk di dekat tempat kejadian itu, Rara masih saja memeluk Rafa dan Rafa pun membiarkannya.
Sedangkan tentang preman-preman itu Fandi lah yang turun tangan sendiri, dia yang mengejar sendiri preman-preman itu, Fandi benar-benar naik pitam.
Flashback on
Di saat sedang asik-asiknya Rafa dan Fandi bermain playstation, tiba-tiba Rafa ingin pulang ke kosnya karena perasaannya tidak enak entahlah dia pun tidak tahu penyebabnya.
"Gue mau balik ajah deh, perasaan gue nggak enak nih, jangan-jangan kos gue di masukin maling lagi" ucap Rafa.
"Halahh loe alasan ajah bilang ajah kalau loe takut kalah sama gue kan" ucap Fandi.
"Nggak lah ngapain takut sama loe, loe mainnya nggak jago juga" ucap Rafa meremehkan Fandi.
"Kalau gue nggak jago pasti loe udah ngalahin gue dari tadi nah ini skor masih sama gini, belum di tahu siapa yang bakalan menang" ucap Fandi.
__ADS_1
"Itu karena gue kasihan sama loe kalau gue ngalahin loe dengan cepat" ucap Rafa lalu tertawa.
"Sialan loe, bentar loe balik kita selesaikan dulu nih" ucap Fandi lagi.
"Nanti ajah kita lanjut, gue mau balik dulu perasaan gue benar-benar nggak enak jangan-jangan barang berharga gue udah habis di kos" ucap Rafa. Oh iya beritahu mama gue yah, gue mau balik sekarang ucap Rafa lagi lalu pergi mengambil kunci motor di kamarnya kemudian berjalan ke motornya dan mengendarai motornya untuk pulang ke kosnya.
Sedangkan Fandi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rafa. Tiba-tiba ponsel Fandi berdering. Fandi pun segera mengangkat penggilan telepon dari orang itu setelah melihat nama kontaknya.
"Halo" ucap Fandi.
"Halo bos, saya tidak bisa menjaga nona Rara malam ini saya lagi tidak enak badan bos" ucap orang itu.
Fandi menyuruh orang untuk menjaga Rara setiap pulang kerja kalau sudah larut malam, karena Fandi takut terjadi apa-apa sama Rara, Fandi tahu ada jalan sunyi yang harus di lewati Rara setiap pulang dari kerja makanya dia menyuruh orang diam-diam untuk mengawasi Rara setiap pulang kerja, dan Rara tidak mengetahui itu semua, Fandi sengaja tidak memberitahu Rara supaya Rara tidak merasa canggung karena di awasi.
"Oke baiklah kamu istirahat saja dan minum obat biar saya yang mengawasi Rara malam ini" ucap Fandi.
"Baik bos terima kasih" ucap orang itu.
"Iya" ucap Fandi kemudian Fandi mematikan panggilan teleponnya.
Fandi pun segera keluar rumah juga tapi dia izin terlebih dahulu kepada ayah dan kedua orang tua Rafa serta memberitahukan bahwa Rafa tidak jadi tidur di rumah ayahnya karena ada urusan mendadak begitupun dengan dirinya.
Fandi pun mengemudikan mobilnya menuju restoran tempat Rara bekerja dia mengintai dari jauh menunggu Rara keluar dari restoran tapi Rara tak kunjung keluar membuat Fandi yakin kalau Rara pasti sudah pulang. Dia pun mengemudikan mobilnya pelan-pelan.
Fandi yang melihat Rara di gangguin preman benar-benar sangat marah baru dia mau turun menolong ternyata dia sudah melihat Rafa yang hendak menolong Rara, Fandi pun mengurungkan niatnya dan hanya menjadi penonton saja dalam keadaan marah melihat kedua preman itu.
Begitu preman-preman itu sudah babak belur akibat pukulan dari Rafa, mereka pun melarikan diri, Fandi yang melihat Rafa yang membiarkan preman itu kabur karena di tahan oleh Rara membuat Fandi dengan segera mengejar preman-preman itu.
Rafa dan Rara tidak menyadari mobil Fandi yang melewati mereka karena Rafa fokus menenangkan Rara.
Flashback off
"Sial kita gagal menjalankan tugas, kalau nggak ada laki-laki itu tadi pasti sekarang kita sudah bersenang-senang" ucap salah satu preman itu sambil meringis kesakitan.
"Iya, kita harus ngomong apa sama bos" ucap preman satunya lagi.
"Kita beritahu yang sebenarnya dong" ucap teman preman itu.
"Sepertinya mobil itu ngikutin kita" ucap preman itu. Apa orang yang tadi sambung preman itu lagi.
"Sepertinya yang tadi naik motor deh, perasaan loe ajah kali" ucap preman yang satunya lagi sambil fokus menyetir.
Namun tak lama mobil Fandi menghadang mobil preman itu tepat di depannya membuat preman itu rem mendadak mobilnya.
__ADS_1
"Sialan tuh orang cari mati kali dia" umpat preman itu.
Kedua preman itu pun turun dari mobil beserta dengan Fandi yang juga turun dari mobilnya, Fandi tidak bicara apapun langsung saja menghajar kedua preman itu secara membabi buta seperti orang kesetanan dia benar-benar emosi.
Kedua preman itu pun bahkan tidak bisa melawan karena pukulan Fandi yang benar-benar kuat dan kemarahannya yang benar-benar mengerikan.
Fandi mengangkat kerah baju salah satu preman itu.
"Kenapa kalian mengganggu Rara?" tanya Fandi dengan dinginnya.
Preman itu pun mengerti pasti yang di maksud Fandi adalah perempuan yang mereka mau culik tadi tapi tidak jadi.
"Kita di suruh" ucap preman itu terbata-bata.
Preman yang satunya pun berusaha bangun untuk menghajar Fandi namun belum sepenuhnya bangun dia sudah di beri tendangan oleh Fandi membuatnya tersungkur kembali.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Fandi dengan aura dinginnya.
"Saya tidak tahu nama mereka namun mereka dua orang perempuan" ucap preman itu lagi masih terbata-bata karena kesakitan.
Preman itu tidak bohong dia memang tidak mengetahui nama Zahra dan Fania.
"Oh yah" ucap Fandi dengan senyum mengerikannya. Apa yang akan kalian lakukan terhadap Rara setelah kalian membawanya?" tanya Fandi lagi lebih dingin dari yang tadi.
Preman itu pun menceritakan semua rencana Fania dan Zahra kepada Fandi. Fandi benar-benar semakin marah mendengar rencana jahat kedua wanita itu. Fandi sudah kepikiran kemungkinan kedua wanita itu adalah Zahra dan Fania namun dia tidak mau menuduh sembarangan karena dia tidak memiliki bukti apapun.
"Kalian tahu Rafindra Alexander?" tanya Fandi.
Kedua preman itu pun langsung gemetar mendengar nama itu, siapa yang tidak tahu Rafindra Alexander dan kekuasaannya beserta kekejamannya.
"Tahu" ucap preman itu dengan terbata-bata dan takutnya.
"Bagus" ucap Fandi dengan senyumnya yang tidak ada manis-manisnya sedikitpun yang ada hanya senyum menakutkan.
"Lakukan apa yang ingin kalian lakukan terhadap Rara kepada kedua wanita itu, lagian kalian dua orang kan jadi pas. Aku tunggu videonya besok pagi di XXXX, kalau kalian tidak membawa video itu besok siap-siap saja kalian berhadapan dengan bawahan Rafindra Alexander yang kejam dan tidak berbelas kasihan" ucap Fandi dengan aura kekejamannya.
"Baik kami akan lakukan dan membawa video itu besok pagi" ucap preman itu dengan ketakutan.
"Bagus, kalian pergi sekarang temui dua wanita itu dan berikan mereka kesenangan" ucap Fandi dengan senyum sinisnya.
Kedua preman itu pun pergi dengan cepat. Fandi pun kembali ke rumahnya yang kedua karena Fandi menyebutkan alamat rumah keduanya kepada preman-preman itu, Fandi tidak suka memberitahukan alamat rumahnya dengan ayahnya kepada orang-orang yang tidak penting jadilah dia memberikan alamat rumah keduanya.
Begitulah sifat Fandi yang sangat di takutkan oleh ayahnya, Fandi yang baik dan terlihat pendiam bisa berubah jadi monster jika orang-orang yang dia sayang dan yang sangat dia lindungi di ganggu oleh orang lain.
__ADS_1