
"Lihat tuh sesama pelayan lagi duduk berdua" ucap Zahra kepada Fania.
"Iya cocok banget mereka berdua" ucap Fania lalu tertawa.
"Ehh tapi tumben pelayan yang bucin banget sama loe nggak pengen duduk dekat loe lagi, biasanya juga dia selalu saja pengen duduk dekat loe" ucap Fania.
Zahra pun tersadar dengan kelakuan Rafa yang berbeda.
Iya tumben batin Zahra.
"Bagus dong dia udah sadar kalau dia nggak pantas buat gue, jadi nggak ada lagi yang bakalan ganggu ketentraman gue di kelas" ucap Zahra.
"Iya juga sih" ucap Fania lagi.
"Oh iya Fandi kok belum datang yah" ucap Zahra.
"Iya biasanya Fandi selalu datang tepat waktu, coba loe pergi tanya sama Rara" ucap Fania.
"Malas banget gue" ucap Zahra.
"Tanya ajah, sekaligus loe lihat reaksi pelayan yang bucin sama loe itu gimana, kali ajah dia ngejar-ngejar loe lagi, nembak loe lagi kan bagus jadi tontonan" ucap Fania.
"Oke deh supaya loe senang" ucap Zahra.
Zahra pun berjalan menuju tempat duduk Rafa dan Rara yang saling berdekatan. Setelah sampai Zahra sengaja mengeluarkan pesonanya di depan Rafa sambil bertanya kepada Rara.
"Rara, Fandi kemana? tumben dia belum datang jam segini" ucap Zahra dengan wajah sok cantiknya.
"Oh, Fandi nggak datang Zahra, Fandi lagi nggak enak badan dia habis telfon gue tadi" ucap Rara.
"Apa!!! Fandi nggak enak badan, kok bisa tadi pagi dia kan masuk kampus?" tanya Zahra.
"Nggak tahu juga sih kenapa bisa seperti itu, bentar gue dan Rafa mau pergi jenguk dia" ucap Rara lalu tersenyum.
"Oh gitu yah, gue boleh ikut kan bareng kalian gue nggak tahu rumah Fandi masalahnya?" tanya Zahra.
Rara dan Rafa pun saling pandang.
"Emm bukannya kita nggak mau loe ikut Zahra tapi loe tahu kan Fandi kayak gimana orangnya" ucap Rara tidak enak.
Rafa pun mengerti maksud Rara, dan Rafa tahu betul kalau Fandi sangat tidak menyukai Zahra, bisa-bisa mengamuk dia kalau tahu Zahra akan datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Alahh bilang ajah kalau loe nggak mau gue ikut Rara, loe alasan ajah takut loe yah kalau Fandi bakalan bisa baik ke gue, bakalan suka sama gue dan dia pasti nggak akan perduli lagi sama loe, iyakan" ucap Zahra kesal.
"Nggak gitu maksud gue Zahra, loe salah paham, Fandi tuh orangnya beda Zahra, gue takut ajah kalau dia bakalan marah tapi gue telfon dia dulu kalau gitu, gue bakalan tanya langsung ke dia" ucap Rara.
"Udah deh pelayan miskin nggak usah sok jadi orang loe, gue tahu itu cuma alasan loe ajah, nggak tahu malu banget loe" ucap Zahra dan ingin menampar pipi Rara namun Rafa menahannya dengan cepat akhirnya tangan Zahra tidak sampai di pipi Rara.
Rara pun terkejut dengan kelakuan Zahra yang ingin menamparnya.
"Rara itu nggak alasan, dia berkata jujur dan tanpa Rara tanya pun ke Fandi, gue udah yakin kalau Fandi nggak bakalan mau di jenguk sama loe, jadi loe jaga tangan loe jangan sampai nampar Rara" ucap Rafa.
"Wow pelayan miskin membela pelayan miskin yang lainnya" ucap Zahra lalu tertawa.
Mereka pun menjadi tontonan lagi oleh teman-teman kelas yang lainnya.
"Lepasin tangan kotor loe dari tangan gue, nggak sudi gue di sentuh sama loe nanti kulit gue gatal-gatal" ucap Zahra dengan tatapan dan senyum sinisnya.
Rafa pun melepaskan tangan Zahra.
"Loe jangan sampai main kasar sama Rara" ucap Rafa.
"Emang kenapa apa urusannya sama loe pelayan?" tanya Zahra.
Entah di mana perasaan cinta Rafa kepada Zahra yang dulu sangat besar.
"Pelayan-pelayan kalian memang cocok berteman sama-sama miskin, gue nggak perduli loe mau suka atau tidak yang jelasnya gue bakalan seperti itu terus sama dia" ucap Zahra sambil menunjuk Rara.
"Kalau gitu loe bakalan berurusan sama gue" ucap Rafa.
"Emang loe pikir gue takut, sakit hati loe yah sama gue karena gue tolak loe terus, pengemis cinta" ucap Zahra dengan ekspresi wajah meledeknya.
"Zahra kok loe ngomong gitu sih, lebih baik loe kembali ke tempat duduk loe deh, keterlaluan banget sih loe" bentak Rara yang sudah tidak tahan mendengar Zahra yang menghina Rafa padahal dirinya juga di hina namun dia sudah terbiasa akan hinaan.
"Berani banget loe yah bentak gue, emang loe pikir loe siapa haa" ucap Zahra yang juga sudah marah karena di bentak oleh Rara.
"Zahra lebih baik loe kembali ke tempat loe" ucap Rafa menahan emosinya.
Baru Zahra mau bicara lagi namun Fania sudah memanggilnya.
"Zahra udah sini nanti dosen masuk, nggak usah cari masalah dulu sekarang, lihat jam berapa sekarang" teriak pelan Fania.
Zahra pun melihat jam tangannya dan memang benar kalau tidak lama lagi biasanya dosennya akan masuk.
__ADS_1
Zahra pun mengikuti ucapan Fania.
"Kita belum selesai yah pelayan-pelayan miskin" ucap Zahra kepada Rara dan Rafa sambil menunjuk mereka lalu dengan segera dia berjalan ke tempat duduknya semula.
Teman-teman kelas yang lain pun kembali duduk menunggu dosen masuk sambil bercerita kepada teman mereka masing-masing.
Kenapa bisa gue menyukai wanita seperti itu batin Rafa.
"Sialan tahu nggak pelayan dua orang itu" ucap Zahra kepada Fania sambil mencoba menahan emosinya.
"Iya kita balas mereka berdua" ucap Fania.
"Iya itu lebih bagus" ucap Zahra lagi.
"Tapi Rafa pelayan miskin itu sepertinya nggak suka sama loe lagi Zahra, dia belain Rara terus" ucap Fania.
"Itu nggak penting kalau gue mau, gue bisa buat dia bertekuk lutut lagi sama gue, ngemis-ngemis cinta gue lagi hanya gue benar-benar nggak sudi, loe tahu kan dia itu seperti kuman" ucap Zahra.
"Sadis banget loe" ucap Fania lalu tertawa.
#####
"Rafa loe nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Rara kepada Rafa karena melihat Rafa yang duduk di sampingnya dan hanya bengong saja dari tadi. Namun Rafa tidak menggubrisnya.
"Rafa loe nggak apa-apa kan" ucap Rara lagi sambil menggoyangkan bahu Rafa.
Rafa pun tersadar dari lamunannya.
"Nggak apa-apa kok Rara" ucap Rafa.
"Beneran?" tanya Rara lagi memastikan.
"Iya beneran" ucap Rafa.
"Maafin gue yah Rafa, gara-gara gue loe jadi di hina kayak gue juga, padahal Zahra adalah cewek yang loe cintai, pokoknya gue minta maaf banget" ucap Rara sungguh-sungguh dan benar-benar merasa bersalah.
"Udah loe nggak usah mikirin itu, santai ajah" ucap Rafa.
"Tapi gue juga mau bilang terima kasih untuk pertolongan loe" ucap Rara lagi lalu tersenyum.
Rafa pun memperhatikan Rara yang lagi tersenyum kepadanya.
__ADS_1