
"Kamu ke perusahaan ayahmu saja,, belajar sedikit-sedikit gitu,, daripada kamu mikirin Fania melulu,, bagus kan ide dari aku," ucap Tasya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Reno langsung lemas seketika begitu mendengar ucapan Tasya.
"Ide lain aja,," ucap Reno.
"Aku itu malas ke kantor,,, nanti saja lah,," ucap Reno.
"Aku juga malas berhadapan dengan dokumen-dokumen bikin pusing tau nggak," ucap Reno lagi.
"Kamu itu udah di kasih ide juga,, bagus kok itu ide pacarku,, kamu nggak lihat aku sekarang bisa,, malahan aku itu suka banget tau nggak kerja di kantor,, kamu juga harus seperti itu Reno,, mikirin kerja,, kuliah,, supaya hidup kamu lebih bermanfaat lagi,, jangan mikirin senang-senang melulu aja,, mikirin Fania, nggak ada manfaatnya sama sekali," ucap Andre.
"Iya benar itu,," ucap teman Reno juga yang lain.
Reno melihat kesal pada Tasya,, Andre dan juga pada teman-temannya yang lain.
"Kalian tuh kasih ide yang bagusan dong,, nanti saja itu mahh," ucap Reno.
"Terserah kamu lah,, kita cuma punya ide itu saja,,," ucap Tasya.
"Intinya nggak usah mikirin Fania terus,, biarpun kamu nggak terima ide kita barusan,," ucap Tasya lagi.
"Iya lagi usaha ini,," ucap Reno sambil meminum minumannya.
Sementara di waktu yang sama di tempat Zahra dan Fania.
Zahra mengernyitkan dahinya begitu melihat Fania yang bolak-balik seperti setrika.
"Kamu kenapa sih Fania bolak-balik seperti itu? seperti setrika aja,, kenapa lagi kamu?" tanya Zahra sambil melihat Fania.
Fania langsung menghentikan aktivitasnya lalu melihat Zahra juga.
"Apa Reno nggak telfon kamu lagi?" tanya Fania pada Zahra.
Zahra langsung melihat kesal pada Fania begitu mendengar pertanyaan Fania.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanyakan itu sih?" tanya Zahra balik.
"Bukannya tadi kamu lagi marah,, gimana sih kamu nggak jelas banget,," ucap Zahra lagi.
"Yah aku memang lagi marah,, tapi biasanya dia nelfon terus kok,, atau melakukan sesuatu gitu biar aku nggak marah lagi,, kamu tau sendiri kan Reno itu gimana kalau aku sudah marah sama dia," ucap Fania.
"Gimana dia mau nelfon sih Fania sementara ponsel kamu saja nggak aktif,,, terus dia pasti mikir dong kalau mau telfon aku terus,, secara dia pasti udah tau aku gimana orangnya," ucap Zahra.
"Terus tadi Reno mau kesini,, bukannya kamu nggak mau dan malah mengancam dia,, jadi menurut aku dia itu udah usaha juga sih,, hanya kamu nggak mengerti dengan usaha dia,,, kasihan juga yah si Reno itu kalau aku ingat-ingat,,," ucap Zahra lalu tertawa.
"Yah seharusnya dia itu kesini aja dong,, bujuk aku itu,, ini malah nggak,, terus dia nggak nelfon lagi,, ngeselin banget si Reno,, nggak peka banget kalau aku itu maunya di perjuangkan gitu,," ucap Fania.
"Astaga Fania,, kurang perjuangan apa lagi si Reno sama kamu,, dia itu udah berjuang banget tau nggak,, nelfon aku dan mau kesini juga,, hanya kamu tuh yang susah malah ngambek segala,, sekarang dia nggak nelfon kamu galau juga, panik kayak gini juga," ucap Zahra sambil menggelengkan kepalanya.
"Sekarang daripada kamu galau lebih baik kamu telfon dia aja deh,, suruh dia kesini,, nggak usah malu-malu kalau memang kamu itu sebenarnya mengharapkan dia buat datang kesini,, kalau sebenarnya kamu itu rindu sama dia,, aku nggak enak loh kalau kamu begini dengan Reno,, nggak apa-apa kok yang masalah Reno itu belain Rara,, lagian siapa tau aja dia itu khilaf doang kan,, setelah kamu marah sama dia,, mungkin saja dia itu sudah sadar dan nggak akan belain Rara lagi,," ucap Zahra lagi.
"Masa aku sih Zahra yang mau nelfon dia kan lagi marahan,, nggak mau banget,, Reno dong seharusnya yang nelfon aku,, dia kan cowok masa aku cewek nelfon dia duluan,, malas banget ihh,," ucap Fania.
"Nggak apa-apa kali,, sekali-kali kamu nelfon dia Fania pas lagi marahan gini,, biar dia makin cinta," ucap Zahra.
"Ya udah selamat menunggu saja telfon dari Reno kalau begitu,,, yang nggak tau kapan dia bakalan nelfon,, semoga saja cepat yah,," ucap Zahra sambil tersenyum.
"Kamu udah aktifkan ponsel kamu?" tanya Zahra lagi.
Fania menggelengkan kepalanya.
"Belum sih,, abis malas aja," ucap Fania.
"Ya ampun terus maksud kamu ini,, Reno bakalan nelfon sama aku lagi terus aku angkat lagi panggilan telfon dari Reno,, gitu maksud kamu?" tanya Zahra.
"Iya Zahra,, beritahu dia supaya lebih usaha lagi gitu,, supaya aku nggak marah lagi dengan dia,, usaha dia sekarang masih kurang tau nggak," ucap Fania.
"Malas,, aktifkan saja ponsel kamu terus bicara sendiri sama dia,, oke. Gitu aja yah," ucap Zahra lalu segera berjalan meninggalkan Fania.
Namun Fania malah menahannya.
__ADS_1
"Please Zahra," mohon Fania.
"Astaga iya kalau dia nelfon aku bakalan bilang sesuai dengan yang kamu inginkan,, puas?" tanya Zahra.
"Iya puas banget," ucap Fania sambil tersenyum.
"Kalau dia nggak nelfon aku jangan kecewa yah,," ucap Zahra lalu tertawa.
"Fania jangan sampai deh Reno bertemu dengan wanita lain dan dia melupakan kamu,, nggak usah marah lagi sama dia,, baikan aja,, nanti kamu menyesal lagi,, karena yang aku lihat kamu itu sebenarnya mencintai Reno kan?" ucap Zahra lagi.
"Udahlah nggak akan itu terjadi,, aku memang sangat mencintai dia Zahra,,, dan aku pasti akan bersama dia walaupun ada yang nggak suka,, lagian Reno juga kaya,, itu salah satu yang membuat aku mencintai dia juga,,," ucap Fania.
"Aku cuma saran aja sama kamu Fania,, nggak usah deh kamu begini terus meskipun Reno nggak akan bersama wanita lain menurut kamu,," ucap Zahra lagi.
"Iya deh,, aku aktifkan ponselku dan nungguin dia nelfon aku,," ucap Fania sambil mengaktifkan ponselnya.
"Nah gitu dong,, sejak tadi kamu seperti itu kan bagus,, nggak merepotkan aku,, udah ahh aku mau nenangin diri dulu sambil memikirkan rencana selanjutnya untuk membalas Rara dan mendapatkan Rafa,," ucap Zahra lagi sambil berlalu dari hadapan Fania.
Di rumah Andre.
"Aku telfon Fania dulu deh, siapa tau aja nomor ponsel dia sudah aktif,," ucap Reno yang langsung di cegah dengan Andre dan Tasya secara bersamaan.
Reno langsung melihat Tasya dan Andre.
"Nggak usah kamu telfon dia,,, gimana sih tadi katanya mau usaha supaya nggak terlalu memikirkan dia lagi,," ucap Tasya kesal.
"Iya benar yang dikatakan pacar aku,, kamu jangan telfon Fania biar Fania saja yang telfon kamu duluan,, lagian kamu sudah usaha kan tadi buat berbicara dengan dia,, buat baikan sama dia,, jadi biar dia saja yang duluan menelepon kamu,," ucap Andre juga.
Reno pun membatalkan niatnya untuk menelepon Fania.
Sedangkan di rumah Aldi,, Citra sedang bosan ketika tidak ada Ana ataupun Aldi,, karena dia tidak ada teman untuk berbicara.
Citra memutuskan untuk menelepon Rara saja,, Citra berencana untuk ke rumah Rara,, supaya dia ada teman ngobrol.
Sementara Rara berencana menyiapkan makan siang untuk Rafa,,, dia ingin mengantarkan makan siang itu untuk suaminya.
__ADS_1