Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Apa tadi ada yang mengikuti kalian?


__ADS_3

"Akkhh... teriak Aldi begitu peluru itu mengenai dirinya."


"Aldi" ucap Rara terkejut karena dia melihat di depan matanya seseorang terkena tembakan dan itu juga untuk menolong dirinya.


"Aldi" ucap Rafa dan Fandi bersamaan yang tak kalah paniknya.


Aldi memegangi tempat dirinya terkena tembakan tak lama dia pun pingsan.


Gracia kesal karena orang lain yang terkena tembakan bukan Rara, dia pun segera lari sebelum bawahan Rafa datang menuju ke jalan rahasia yang hanya dia saja yang tahu, itu sudah dia persiapkan buat jaga-jaga apabila terjadi hal yang tidak dia inginkan.


"Aldi, Aldi" ucap Rafa khawatir sambil memberikan pertolongan pertama sebisanya.


"Ayo kita bawa Aldi cepat ke rumah sakit" ucap Fandi.


"Loe urus Rara dulu biar gue yang bawah Aldi" ucap Fandi begitu menyadari tadi mereka bertiga ingin menolong Rara sambil melihat Rara yang sudah menangis sambil ingin mendekati Aldi namun tidak bisa karena dia di rantai.


"Sialan mana Gracia" ucap Rafa begitu melihat ke tempat Gracia tadi, karena dia ingin mengambil kunci untuk membuka rantai Rara tapi Gracia sudah tidak ada.


"Sudah nanti kita urus itu, gue bawa Aldi dulu. Loe cari cara buat buka rantai Rara yah" ucap Fandi.


"Loe nggak akan bisa angkat dia sendirian Fandi" ucap Rafa.


Fandi pun mengiyakan.


"Itu sepertinya kunci" ucap Rara yang masih menangis namun dia masih bisa melihat kunci di lantai.


Fandi dan Rafa segera melihat ke arah pandangan Rara, dan Rafa langsung berlari sambil mengambil kunci itu dan berharap itu bisa membuka kunci rantai Rara.


Dan memang benar itu kunci buat membuka rantai Rara.


"Sial, kemana kunci rantai Rara kok nggak ada, pasti jatuh nih semoga mereka tidak menemukannya biar mereka bingung mau menolong siapa" ucap Gracia lalu tertawa dan melanjutkan lagi pelariannya.


"Sayang kamu tidak apa-apakan?" tanya Rafa begitu sudah membuka rantai yang mengikat Rara semuanya.


"Iya nggak apa-apa, ayo kita bawa Aldi" ucap Rara sambil berjalan ke dekat Aldi, padahal sebenarnya tangan Rara banyak memarnya namun dia tidak memperdulikan itu.


Rafa dan Fandi pun langsung mengangkat Aldi yang sudah tidak sadarkan diri.


"Aldi bertahanlah" ucap Rara sedih dan juga khawatir.

__ADS_1


Rafa dan Fandi juga tak kalah khawatirnya dan mereka berdoa di dalam hati masing-masing.


"Ya ampun kita harus hati-hati untuk keluar dari sini, jangan sampai masih ada bawahan Gracia" ucap Fandi yang baru teringat dengan bawahan Gracia yang mengelilingi tempat itu dan belum tahu apakah mereka masih ada atau sudah di bereskan dengan bawahan mereka.


Tak lama habis mengucapkan itu, bawahan mereka pun datang dan terkejut melihat Aldi yang sudah berdarah dan juga sedang tidak sadarkan diri.


"Maaf, tuan kami terlambat" ucap salah satu pria itu kepada Rafa dan Fandi.


Rara tidak perduli sama sekali dengan apa yang terjadi, karena dia hanya melihat ke Aldi dan sangat khawatir dengan Aldi.


"Tidak apa-apa, gimana di luar sudah aman?" tanya Fandi.


"Sudah tuan, kita sudah membereskannya walaupun masih ada sebagian yang berhasil kabur"


"Nanti saja kita pikir itu, ayo kita bawah Aldi dulu ke rumah sakit" ucap Rafa.


"Ayo sayang" ucap Rafa kepada Rara.


"Tolong lindungi istri saya" perintah Rafa karena takut jika terjadi seperti tadi lagi.


Mereka pun segera ke luar dari tempat itu.


"Tidak sama sekali tuan"


"Sialan kabur kemana dia" ucap Rafa kesal.


"Nanti saja kita pikirin itu" ucap Fandi.


Begitu sampai di mobil, Rafa pun segera meminta kunci mobil pada Fandi karena dia ingin mengemudikan mobil, biar cepat sampai.


Fandi pun memberikan kunci mobil kepada Rafa karena percuma di larang sekarang, pasti Rafa tidak akan mau di larang melihat dari ekspresi wajah Rafa yang benar-benar panik.


"Hati-hati Rafa" ucap Fandi yang sudah duduk di belakang bersama Rara dan Aldi yang sudah di pangkuannya sedang tidak sadarkan diri.


Sedangkan Rara baru mulai tersadar bahwa ada keanehan sekarang tapi dia tidak mau terlalu memikirkan dulu karena dia hanya fokus pada Aldi yang sedang tidak sadarkan diri dan juga sudah pucat.


Rafa mulai mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi namun tetap fokus.


"Rafa hati-hati loe" ucap Fandi.

__ADS_1


"Iya, jangan ganggu konsentrasi gue, Aldi butuh pertolongan secepatnya, gue nggak mau kehilangan dia" ucap Rafa.


######


Gracia yang sudah sampai di tempat persembunyiannya yang lain benar-benar emosi karena rencananya gagal untuk menghabisi Rara dan bahkan dia belum sempat melukai Rara.


Gracia menunggu bawahannya untuk datang tapi belum ada juga yang datang.


"Kenapa mereka tidak ada yang datang biar satu orang, apa mereka sudah mati semua" ucap Gracia kesal.


"Perutku sakit lagi karena Rafa menendangnya" ucap Gracia sambil memeriksa perutnya dan disitu ada memar karena kerasnya tendangan Rafa, bahkan Gracia sempat mengeluarkan darah dari mulutnya tadi.


Tak lama Gracia mendengar ada yang mengetuk pintu, Gracia memeriksa terlebih dahulu dan dia melihat yang mengetuk pintu adalah bawahannya.


"****** banget sih gue, jelaslah itu pasti bawahan gue karena dia mengetuk pintu kalau bukan bawahan gue pasti dia tidak mengetuk pintu" ucap Gracia sambil membuka pintu dan menyuruh bawahannya masuk.


"Cuma kalian saja?" tanya Gracia begitu bawahannya sudah masuk dan dia sudah mengunci pintu kembali.


"Iya bos, yang lain sudah pingsan atau mati sepertinya, kita lumayan susah melarikan diri tadi bos"


"Sialan"


"Obati luka kalian dulu, gue mau memikirkan cara lain" ucap Gracia lalu segera berjalan ke ruangan khusus buat dia.


Mereka pun segera masuk ke dalam suatu ruangan untuk mengobati luka-lukanya.


"Rara loe harus mati, pokoknya harus Rara" ucap Gracia pada dirinya sendiri.


Gracia teringat sesuatu lalu dengan cepat dia berjalan ke ruangan pengobatan buat bawahannya dan dirinya apabila sedang terluka.


Di ruangan itu sudah ada dokter yang Gracia pekerjakan khusus buat mengobati mereka.


"Apa tadi ada yang mengikuti kalian?" tanya Gracia sedikit panik.


"Tidak ada bos, saya bisa menjamin tidak ada karena tadi mereka tidak melihati kita yang menyelinap untuk kabur, kita memutuskan untuk kabur karena banyak sekali bawahan mereka dan kita juga tahu pasti bos bisa kabur sendiri di saat genting" ucap salah satu bawahannya yang sudah mengerti betul dengan Gracia, karena sudah banyak kali mereka melakukan kejahatan.


"Baguslah kalau tidak ada" ucap Gracia lalu tersenyum licik.


#######

__ADS_1


"Selamatkan sepupuku" ucap Rafa panik begitu sudah sampai di rumah sakit milik ayahnya.


__ADS_2