Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Pamit


__ADS_3

Di saat Fandi sudah sampai di kamarnya dia pun segera memutar video dari preman itu. Senyum sinisnya langsung terukir di bibirnya setelah melihat siapa pelakunya.


Jadi benar kalian Zahra dan Fania, dasar wanita nggak tahu diri ucap Fandi.


Fandi pun menyimpan video itu.


#####


Ketika jam masuk kampus Zahra maupun Fania tidak masuk, Rafa khawatir pada Zahra sedangkan Fandi sudah mengetahui alasan mereka tidak masuk dan itu sangat nggak penting buat Fandi.


Zahra dan Fania berada di rumah Fania. Mereka memutuskan untuk tidak masuk kuliah karena tubuh mereka yang masih banyak bekas-bekas kissmark dari kedua preman itu.


"Mau sampai kapan kita nggak masuk kampus nih" ucap Zahra.


"Sampai sudah nggak ada bekas menjijikan ini di tubuh kita" ucap Fania.


"Obat yang kita beli ini manjur nggak sih?" tanya Zahra kepada Fania.


"Semoga saja manjur kalau nggak bisa lama kita nggak ngampus" ucap Fania.


"Duh padahal gue pengen banget ketemu Fandi" ucap Zahra.


"Loh tahan ajah dulu, gue ajah tahan-tahan nih nggak ketemu pacar gue karena ini, nanti pacar gue ngamuk lagi kalau liat bekas ini semua" ucap Fania.


"Tinggal loe beri dia bagiannya juga pasti dia nggak bakal ngamuk lagi" ucap Zahra.


"Sialan loe badan gue ajah masih berasa sakit ini, gue mau melayani Reno lagi bisa mati mendadak gue, Reno itu kalau main nggak puas kalau cuma satu kali" ucap Fania.


Ketika sedang berbicara tiba-tiba ponsel Zahra berdering, Zahra berharap itu dari orang yang dia inginkan namun ternyata dari kekasihnya yang dia tidak cintai. Zahra pun terpaksa mengangkat panggilan telepon itu karena kalau tidak pacarnya itu pasti akan menelepon terus atau kalau tidak dia akan mencari keberadaan Zahra.


"Halo sayang" terdengar suara pacar Zahra dari balik telepon setelah Zahra mengangkat panggilan teleponnya.


"Iya, ada apa sayang?" tanya Zahra kepada Andre.


"Kamu ada waktu nggak sayang ketemu yuk, aku kangen kamu" ucap Andre.


Zahra sudah mengetahui maksud kangen Andre itu pasti menginginkan dirinya untuk melayaninya.

__ADS_1


"Aku lagi sibuk sayang ngerjain tugas kampus" ucap Zahra memberi alasan.


"Masa kamu nggak ada waktu sayang kita ketemuannya kan hanya sebentar sayang, aku benar-benar rindu nih dan pengen" ucap Andre.


"Beneran sayang nanti aku cari waktu buat ketemu kamu yah sayang" ucap Zahra.


"Ya udah kalau gitu" ucap Andre kemudian mematikan panggilan teleponnya langsung.


"Dasar cowok ini kalau udah pengen nggak di kasih pasti marah" ucap Zahra setelah Andre mematikan panggilan teleponnya.


"Mungkin dia udah pengen banget kali" ucap Fania lalu tertawa.


"Iya emang gue tahu tuh dari cara bicaranya, biarin ajah nanti juga dia baik sendiri kalau pengen lagi" ucap Zahra.


"Sekarang lebih baik kita mikirin cara buat balas Rara" ucap Fania.


"Lebih baik kita cari kedua preman brengsek itu dulu" ucap Zahra.


"Kalau kita cari dan ketemu kita mau apain juga mereka, loe nggak takut kalau mereka ulangi perbuatan mereka semalam" ucap Fania.


"Gampang kalau itu tersebar, kita pindah ke luar Negeri ajah, gitu ajah repot" ucap Fania.


"Loe nggak takut sama orang tua loe kalau mereka tahu itu semua?" tanya Zahra.


"Nggak lah mereka itu sibuk, kenapa loe takut, tumben banget" ucap Fania.


"Nggak lah mereka mana perduli dengan gue" ucap Zahra.


"Bagus deh jadi kita nggak perlu perduli juga dengan mereka dan video itu" ucap Fania. Sekarang kita harus mikirin cara buat balas Rara ucap Fania lagi.


Mereka pun rebahan santai memikirkan cara buat balas Rara lagi padahal Rara tidak tahu apa-apa.


#####


Sedangkan Rara pergi menjenguk bibinya di rumah sakit setelah pulang dari kampus di antar oleh Fandi.


Rara baru mengetahui kalau bibinya ternyata sekarang lagi di obati dengan pengobatan yang sangat mahal dan juga sangat bagus ada kemungkinan bibinya akan segera sembuh. Dan bibinya di rumah sakit yang bisa di jangkau oleh Rara.

__ADS_1


Rara mengetahui karena dia menelepon pamannya tadi untuk menanyakan kabar bibi dan pamannya sekaligus rencananya dia juga mau mengirim uang lagi. Dia hanya bisa mengirim saja karena dia sibuk kerja dan kuliah. Namun ternyata pamannya memberitahukan kalau bibinya sekarang lagi di rumah sakit yang sangat bagus dan juga di obati dengan baik semua itu karena Rafi.


#####


Setelah masuk di ruangan tempat bibinya di rawat, Rara benar-benar terkejut karena ruangan bibinya sangat bagus dan sangat lengkap bahkan di siapkan juga tempat tidur untuk pamannya dan itu sangat bagus.


Fandi hanya tersenyum saja melihat ekspresi Rara, Fandi memang sudah yakin pasti bibi Rara akan di rawat sebaik-baiknya.


Ya ampun sebenarnya seberapa kaya paman Rafi itu, sampai-sampai bibi saya saja di rawat di tempat yang sangat bagus seperti ini, paman Rafi benar-benar sangat baik batin Rara.


Selesai dengan keterkejutannya Rara pun mendekat ke tempat tidur bibinya lalu duduk, Fandi pun mengikuti Rara namun dia hanya berdiri saja.


"Bagaimana sekarang kondisi bibi apakah sudah lebih enakan?" tanya Rara.


"Iya nak bibi sudah merasa enakan ini semua karena pak Rafi yang sangat baik sama kita" ucap bibi Rara. Oh iya dia siapa nak? tanya bibi Rara yang pura-pura tidak tahu Fandi padahal mereka sudah pernah bertemu dan Fandi juga sudah berjanji kepada paman dan bibi Rara kalau dia akan menjaga Rara.


"Oh iya kenalin bibi dan paman, ini Fandi teman aku yang sangat baik, yang suka menolong aku kalau benar-benar lagi kesusahan dan butuh pertolongan dia pasti menolongku" ucap Rara lalu tersenyum melihat Fandi.


"Rara kamu berlebihan banget, kita kan teman dan sesama teman memang harus saling tolong menolong kalau temannya lagi susah" ucap Fandi lalu tersenyum.


Fandi pun salam kepada paman dan bibi Rara sambil menyebutkan ulang namanya.


"Syukurlah nak, ada Fandi yang menjadi temanmu dan Fandi terima kasih banyak telah menolong Rara" ucap paman Rara.


"Iya paman tidak perlu bilang terima kasih saya senang kok menolong Rara" ucap Fandi lalu tersenyum.


"Fandi ini sama baiknya dengan paman Rafi, mereka orang-orang baik yang selalu menolongku" ucap Rara.


"Emm boleh tahu nggak paman Rafi itu siapa Rara?" tanya Fandi pura-pura tidak tahu.


"Dia itu majikan ayah dan ibu gue, waktu kedua orang tua gue masih hidup, dan dia juga orang yang sangat baik sama kayak loe, paman Rafi juga mengenal ayah Rafa" ucap Rara kepada Fandi.


"Oh majikan kedua orang tuamu, Rara gue biasa ajah kok jangan terlalu memujiku, gue malu nih" ucap Fandi.


"Apaan sih loe berlebihan banget, loe emang baik kok" ucap Rara dengan senyumnya.


Mereka pun berbincang-bincang setelah itu Rara dan Fandi pun pamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2